
"Kau lihat itu? " aku bisa dengan mudah menyentuh paha mulus wanita itu, sekarang mana uang kalian. aku memenangkan taruhan ini, jadi kalian harus memberi aku uangnya.
Maxim mengepalkan kedua tangannya ,dia semakin bertambah geram akan pernyataan pria yang tadi menabrak meja yang di tempati Maggie bersama dirinya.
Tanpa aba aba Maxim melenggang maju, ia menarik kerah pria itu dari belakang. Maxim memberi bogem di pipi pria itu, Maxim menghajarnya tanpa ampun.Pria itu kewalahan dan dari raut wajahnya ia terlihat kebingungan akan serangan dari Maxim.Semuanya terjadi begitu cepat.
Maxim semakin kesal, karena pria ini menjadikan Maggie objek taruhan sialan. Maxim meluapkan emosinya dengan terus menerus memukuli pria itu.
Bughh...
Berani nya kau menyentuh wanita demi taruhan seperti itu! " Maxim memukuli pria itu hingga tersungkur menyentuh lantai, suasana Toilet jadi tidak tenang".
Beberapa pengunjung ingin melerai, namun melihat Maxim pengusaha ternama itu yang wara wiri di televisi membuat semuanya hanya menjadi penonton.
Tak hanya menonton, banyak dari mereka yang merekam kejadian perkelahian itu. Maggie mengernyit heran, saat melihat beberapa orang berlarian ke arah toilet.
"Nona tunggu, mengapa semua orang pergi ke arah toilet?" Maggie mencoba mencari tahu apa yang terjadi dari wanita penjaga toilet yang akan melintasinya.
"Seorang pengusaha terkenal tiba tiba memukul seseorang di dalam kamar mandi, mereka kini terlibat perkelahian".
Maggie mengerutkan dahi ,pikiran Maggie semakin penasaran, ia lantas melangkah ke arah kerumunan. Maggie teringat jika Maxim tadi berpamitan ke Toilet.
Maggie semakin mempercepat langkahnya saat mendengat bariton yang tidak asing untuknya.
''Apa Kau tahu siapa wanita yang kau jadikan bahan taruhan itu? ".
Pria itu menggeleng lemah.
"She is My Wife " .Kembali Maxim melayangkan bogem untuk pria kurang ajar itu.
Bugh...
Bugh...
Maggie tertegun, dia mematung di tempat .Hatinya menghangat mendengar pernyataan Maxim, setidaknya pria itu mengakui dirinya di depan semua orang bukan?.
Entah disadari atau tidak Sudut bibir Maggie melengkung nyaris sempurna.
Maxim kembali memukul pria itu, bahkan Maxim akan memelintir tangan pria itu. Maxim menoleh pada tangan yang mendadak melingkari lengan kirinya .Maxim memicingkan matanya saat melihat si empunya tangan.
Kak Maxim cukup! "Suara Lembut Maggie menyeruak ke dalam gendang telinga Maxim disertai gelengan kepala gadis itu" .
Maxim menoleh, matanya bersirobok dengan mata sewarna madu milik Maggie. Maxim merasakan sentuhan Maggie di lengannya, seketika elusan itu sedikit meredakan amarahnya.
Cekalan tangan Maxim melonggar pada pria itu,Maxim lalu membuat pria itu berlutut dengan menendang satu kakinya .
Minta Maaf lah padanya ! Jika ia mengampuni mu,aku akan membiarkan kau pulang dengan utuh." Maxim menatap tajam pada pria itu,pria itu memegangi sepatu Maggie dan memohon maaf pada Maggie".
Pergi lah ! sebelum aku meminta suamiku untuk mematahkan lehermu ."Maggie menekuk kedua tangannya di depan dada ,Seketika Maxim menoleh.Maxim mengulum senyum saat Maggie berlagak seperti wanita tangguh".
Astaga !"wanita Cengeng ini,ada ada saja "gumam Maxim.
Kau bilang apa tadi ? aku tidak bisa mendengarnya .Maggie memiringkan kepalanya menatap wajah Maxim dari depan.
Maxim memasang wajah garang.ia mengabaikan Maggie meninggalkan Maggie begitu saja,Maggie mendengus sebal. dengan setengah hati, ia kembali mengikuti Maxim dari belakang. Maggie yang masih kesal, terus mengekor di belakang Maxim.Maxim mendadak berhenti ia tahu Maggie akan menabraknya, dan
Dugh....
Maxim terkekeh. lalu Maxim mendengar ringisan dari Maggie.tebakannya benar bukan?
Aww... Maggie memegangi dahinya."Kenapa Kau senang sekali berhenti secara mendadak? "Maggie menggerutu pada Maxim.
Maxim kembali berjalan tanpa menoleh sedikitpun pada Maggie,Maggie yang kesal menghentakkan kakinya ke lantai.
🔥🔥🔥
Maggie kini berada di balkon kamar Hotel, ia tersenyum mengingat kejadian siang tadi. Maggie kini menatapi Bulan yang selalu mengingatkan nya akan Maxim,pemandangan indah yang ia sukai.Maggie dulu selalu menganggap Maxim adalah Bulan yang hanya ada satu di bumi ini. Maggie bahkan kini dapat memeluk Bulan itu setiap malam.
Dulu Maxim layaknya Bulan,yang sangatlah jauh untuk ia gapai. kini sedikit harapan yang pernah punah sedikit memiliki nyala api kembali.
Maggie memejamkan matanya, hatinya bergumam. Bisakah aku meminta sesuatu Tuhan? Tolong buat Maxim mencintaiku-
Sebuah suara membuat Maggie sontak membuka matanya dan menoleh ke arah pria yang sedang ia pikirkan.Maggie tertegun melihat Maxim berdiri di ambang pintu balkon, ia takut Maxim mendengar gumaman nya tadi.
Apa aku menganggu?" Maxim bertanya seraya melepaskan kancing kemejanya satu persatu"
Maggie sempat berpikir jika mungkin Maxim bisa membaca suara hati seseorang. dan itu sangatlah konyol,bukankah hal seperti itu hanya ada dalam sinetron.
Maggie berusaha bersikap tenang.
Kak Maxim kau sudah kembali rupanya?
"Maggie menelan kasar saliva nya, rasanya Maggie ingin sekali mengusap rahang kokoh Maxim dengan tangannya".
Bisakah kau membuatkan aku kopi? aku sedang membutuhkan itu untuk saat ini. Maxim melenggang ke kamar mandi,Maggie bergegas teringat jika ia tak memiliki bahan jadi Maggie memutuskan memesan kopi,tidak lama kopi pesanan Maggie datang.
Tepat saat itu bersamaan dengan Maxim keluar dari kamar mandi, Maggie meletakan kopi itu di nakas. Maggie melirik ke arah Maxim yang meraih kembali Laptop dan beberapa file di tangannya.
Maxim mungkin akan lembur, dia melihat jam sudah menunjukkan pukul 10 malam tapi Maxim malah berkutat kembali dengan tumpukan berkas di tangannya.
Mau aku bantu? Maggie mencoba menawarkan bantuan.
Maxim mengernyit, dia memang perlu lembur untuk menyalin beberapa file yang akan ia kirim pada klien nya.
Maxim mengangguk, dia lantas memberikan file nya pada Maggie sedangkan dirinya sibuk mengetik di atas Keyboard laptop yang ada di pangkuannya.
Cukup lama Maxim dan Maggie mengerjakan file itu. hingga Maxim melihat Maggie menguap, mata gadis itu terlihat mengecil karena sudah mengantuk.
Maxim membereskan semua file nya, ia selesai mengirimnya lewat email.
Maggie mengernyit saat melihat Maxim membereskan isi koper mereka, Maggie turun dari ranjang dan menyusul Maxim.
Kenapa kau berkemas Kak? Maggie ikut mengemas pakaian mereka.
.
"Kita akan pulang besok ".Maxim menarik resleting koper dan menyisakan beberapa baju ganti untuk besok pagi.
Maxim menoleh ke arah jendela, ia berdecak kesal saat melihat hujan turun dengan lebat.
Kak Maxim aku sangat mengantuk sekali!
Maggie tahu Maxim tidak akan menyahuti,jadi
Maggie melangkah ke arah ranjang.dia tidur dengan memunggungi Maxim,Maggie yang sudah mengantuk. terlelap begitu saja, saat kepalanya menyentuh bantal wanita itu telah pulas bermimpi.
Maxim berjalan ke arah balkon,pria itu menutup pintu balkon tak lupa ia menguncinya.Maxim memandang punggung Maggie ,Maxim masuk ke dalam selimut ia tidur dengan memandangi punggung Maggie.
Maxim merasa suasana malam ini sangatlah dingin, AC kamarnya membuat ruangan ini begitu dingin .sedangkan hujan seakan menambah kedinginan nya menjadi berkali lipat.
Maxim menghembuskan napasnya ia benar benar butuh sesuatu untuk menghangatkannya.
Maxim meneguk kasar sisa kopi yang belum ia minum. Maxim mengisi gelas kosong yang ia letakan di nakas sebelahnya .
Maxim membaringkan dirinya, dia merangsek ke dekat Maggie. Maxim memiringkan tubuh Maggie, Maxim menelan kasar ludahnya saat kancing kemeja Maxim yang di kenakan Maggie terbuka . gundukan kembar itu seolah mengintip dari balik bra yang Maggie kenakan.
entah karena suasana yang memang dingin atau Maxim memang mulai tertarik dan tergoda oleh tubuh ranum Maggie.
Maxim menyusupkan tangannya menaikan selimut ke atas kemeja yang di kenakan Maggie,Maxim menghirup aroma buah Surau Maggie yang seperti Morphine untuknya.Bagaimana bisa aku mengendalikan diriku saat berada di dekatnya?
Maggie menggeliat, ia berubah posisi terlentang dengan begitu Maxim semakin mudah menatap apa saja yang ada di wajah Istrinya itu
Maxim kini menjelajahi wajah anggun Maggie, sesekali Maxim mengecup hidung pipi bahkan bibir Maggie karena gemas. Maggie sedikit menggeliat karena ulah Maxim pada wajahnya. Maggie lalu memeluk Maxim karena Maggie juga kedinginan. Maxim tersenyum ,ia dengan mudah membawa Maggie ke dalam rengkuhannya. Maxim memeluk Maggie sesekali Maxim mencium puncak kepala Maggie, ia tertidur dengan Maggie yang lagi lagi dalam pelukannya.
💋💋💋
(Dr. Sarah Bang Leon nanti kita ketemu lagi)
Like sama Voment nya ditunggu 💋
See You ❤