You Heart Me Season 2

You Heart Me Season 2
You Heart Me~Part 66



"Elsa, Sebaiknya Kau bersihkan dirimu dulu dan beristirahatlah!." Dr.Sarah mengusap wajah Elsa yang sembab karena terlalu sering menangis.


"Tapi, bagaimana dengan Kakak? Aku tidak mau meninggalkannya sendiri ." Saut Elsa.


"Aku akan disini untuk menjaga Leon,bukankah itu memang tugas seorang Dokter El".Dr. Sarah mencoba menguatkan serta menenangkan kekhawatiran Elsa yang tidak mengurus dirinya sendiri semenjak Leon kembali menurun kesehatannya.


"Aku takut terjadi sesuatu yang buruk pada Kak Leon Dr.Sarah! " Elsa kembali meneteskan air matanya.


Dr.Sarah mengelus perlahan bahu Elsa dan membuat Elsa merasa nyaman akan usapan di bahunya itu. Elsa perlahan memejamkan matanya dan tertidur.


Dr.Sarah membaringkan Elsa di kursi yang ada di ruangannya. dia meraih handuk kecil dan air hangat untuk membasuh wajah dan tubuh Elsa.


"Kau memang gadis baik El, betapa beruntungnya Leon memiliki adik sepertimu! "


Dr.Sarah mengganti pakaian Elsa, dan menyelimuti tubuh Elsa.


"Entah bagaimana Kau bisa tidak tidur selama 3 hari ini. Aku tidak bisa membiarkanmu seperti ini El, Aku akan membuatmu beristirahat beberapa hari. "


Dr.Sarah mengelus puncak kepala Elsa lalu meninggalkan ruangannya dan menjenguk Leon.


"Maafkan tindakanku ini El, tapi semua ini demi kesehatanmu !"batinnya bergumam.


Dr.Sarah membuka pintu ruangan Leon, dan mendekati pria berparas titisan dewa yunani itu.


"Bagaimana bisa Kau membiarkan adikmu sendirian selama ini? " Dr.Sarah mulai terisak, dia tidak tahan melihat keadaan Leon yang selalu berubah rubah.


Terkadang kesehatan Leon perlahan membaik, lalu beberapa bulan kembali menurun drastis. Dr.Sarah ingin melihat Leon kembali pulih seperti sedia kala, dimana saat itu untuk pertama kalinya pertemuan Dr.Sarah dan Leon sehari sebelum operasi Kanker otak Leon.


**


Maggie masih berkutat di dapur, dia tengah menyiapkan sarapan pagi untuk Maxim. Maggie bersenandung kecil di sela ritual memasaknya.


"Astaga, Kak Maxim. Kau mengejutkanku! ".


Maxim terkekeh, dia melingkarkan tangannya di perut ramping Maggie dan menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Maggie.


Maxim menghirup aroma fruit favoritnya yang berasal dari surau Maggie.Maggie memejamkan matanya saat Maxim kembali menggoda dirinya, Maxim dengan jahil mematikan kompor yang masih menyala.


"Kak Maxim Apa yang Kau lakukan?" Maggie melihat kompor dalam keadaan mati saat matanya terbuka.


"Sudahlah, Jangan mengganggu ku!" keluh Maggie.


Maxim tidak menghiraukan ocehan Maggie, dia dengan sekuat tenaga membalikkan paksa tubuh Maggie agar menghadapnya.


"Kak Maxim, Aku sangat lapar. ijinkan aku melanjutkan masakan ku! " Maggie memasang wajah memelas, hingga Maxim tidak tega untuk mengerjai Maggie kembali.


"Baiklah,lanjutkan saja! " Maxim melepaskan pelukannya pada Maggie.


Maggie mengerutkan dahinya, seharusnya dia senang bukan karena Maxim berhenti menggodanya.namun, Maggie malah tidak senang saat Maxim hendak pergi dari dapur.


Kak Maxim, tunggu!


"Iya, Ada Apa ? "dahi Maxim nampak mengerut.


"Kau mau kemana?" Maggie menggigit bibirnya sendiri dengan gelisah.


"Aku akan mencari wanita yang mau ku peluk saat memasak. " Ucapnya asal.


Maggie mendelik kaget, dia menautkan jemarinya dengan gelisah. Maggie mengira Maxim benar benar serius saat mengatakan itu dengan langkah Maxim yang akan keluar meninggalkan dapur.


Tepat Saat Maxim berada diambang pintu, Maxim berhenti melangkah saat mendengar isak tangis yang tiba tiba memenuhi ruangan.


Maggie menangis terisak dengan suara kecil namun masih bisa terdengar oleh Maxim.


Kerutan terlihat di dahi Maxim, dia lantas kembali mendekat pada Maggie untuk memastikan keadaan istrinya.


"Maggie, Ada apa?


Mengapa Kau menangis? ".


Maxim mengangkat dagu Maggie agar menatapnya,Maxim mendekati wajah Maggie dan mengecup setiap tetes air mata Maggie. Maggie tersentuh dengan perlakuan Maxim, seketika hatinya menghangat.Jemari tangan Maxim bahkan mengelus pelan punggung tangan Maggie yang ada dalam genggamannya.


Maxim merasakan Maggie sudah kembali tenang dengan punggung yang kini berhenti bergetar.


"Maggie, Mengapa Kau tiba tiba menangis? " Maxim memperhatikan guratan wajah Maggie dengan seksama.


Maggie terdiam lalu menggelengkan kepalanya.dia sendiri tidak mengerti mengapa dirinya kini selalu merasa emosional dalam beberapa hal. namun, Maggie tidak tahu apa penyebabnya.


Maxim tidak mau diam kali ini, dia ingin tahu alasan di balik tangisan Maggie.Pasalnya semenjak satu minggu yang lalu kepulangan mereka berdua dari Manchester. Maggie menjadi begitu aneh menurut Maxim.


"Maggie, Katakan mengapa Kau menangis?" Maxim mengangkat Maggie dan mendudukkannya di meja makan.


"Jawab aku Maggie!"ulang Maxim.


Maggie menggigit bibirnya sendiri, lalu dia menatap Maxim.Maggie dengan malu malu mengutarakan pemikiran buruk yang terlintas di benaknya.


"Aku,


Aku berpikir Kau akan mencari dan memeluk wanita lain saat aku menolak mu memelukku tadi! " Maggie menundukkan wajahnya.


Maxim nampak berpikir lalu tawa terdengar memenuhi ruang dapur. Maggie mengernyit saat Maxim tertawa terbahak bahak di hadapannya.


"Apa yang Kau tertawa kan Kak Maxim? " tanya Maggie dengan heran.


"Kau, " ucap Maxim sembari mengulum senyum.


"Aku,


Maggie menunjuk dirinya sendiri mengernyitkan dahi.


Kenapa aku?" tanyanya lagi.


"Kau ini menggemaskan sekali dengan wajah bingung seperti itu! " tukas Maxim sembari melenggang pergi.


Maxim meninggalkan Maggie yang tengah mengerucutkan bibirnya,serta hentakan kaki Maggie yang kesal karena Maxim pergi tanpa menjawab pertanyaannya .


...