You Heart Me Season 2

You Heart Me Season 2
You Heart Me Part ~61



"Astaga, hari ini rasanya malas sekali pergi ke toko" Maggie dengan setengah hati mengayuh sepedanya menuju Toko bunga milik Nyonya Sarah.


Maxim meregangkan otot ototnya,Maxim mengucek kedua matanya. dahinya mengernyit saat melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 07.00 pagi.


Maxim membuka tirai jendela kamarnya,dia memandang jauh ke arah langit yang masih terlihat mendung. Seolah langit itu mengikuti suasana hati Maxim yang masih dirundung keresahan, karena belum juga menemukan Maggie.


"Aku harus mencoba mendatangi alamat wanita itu,mungkin aku akan mendapatkan petunjuk di sana" .Maxim melenggang pergi membersihkan dirinya.


Maggie bersenandung kecil, sembari jemarinya mulai menata buket bunga pesanan pembeli.


Maggie menyerahkan pesanan itu pada sang pembeli, Maggie tersenyum ramah dan kembali ke tempat duduknya.


Maggie memegangi dadanya, dia menghembuskan napasnya pelan.


"Ada apa dengan hatiku, tiba tiba aku merasa gelisah dan resah seperti ini.


ada sesuatu yang mengganjal hatiku?"Maggie berdecak malas karena suasana hatinya mendadak tidak tenang.


Maxim menghentikan kendaraannya, dia berhenti tepat di pelataran toko bunga milik wanita gempal yang memintanya untuk datang kemari.


Maxim membuka pintu mobilnya, Maxim keluar dari mobil.angin menerpa wajah Maxim,Maxim mengamati toko bunga di hadapannya, tidak ada yang istimewa dalam pemikirannya saat melihat toko bunga itu.


Maxim berjalan pelan ke arah pintu masuk toko, Maxim berjalan dengan gagah lengkap dengan kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya, yang semakin menambah kesan elegan untuknya.


Maggie menoleh saat mengetahui, ada pembeli yang kembali menyambangi toko.


Maggie tersenyum ramah pada pria yang memasuki toko bunganya. sedangkan pria yang berkacamata hitam itu, tertegun melihat Maggie tersenyum ke arahnya.


"Maggie " batin Maxim .


Apa benar dia Maggie?" Maxim terus melangkah mendekati Maggie yang masih mempertahankan senyum di wajah bening bak embun pagi miliknya.


Maggie, lihatlah!


Seketika pandangan Maggie teralihkan oleh suara Edward yang memanggil namanya.


Maxim mengikuti arah pandang Maggie,Maxim dibuat terkejut untuk satu hal ini di hadapannya.Mata Maxim hampir saja keluar dari tempatnya,Seketika oksigen seakan berkurang di sekitar Maxim.


Seorang pria memeluk Maggie di hadapannya, tentu saja itu membuat singa dalam diri bangkit.Maxim mengepalkan kedua tangannya, dia menggertak kan giginya menahan amarah.


Siapa Lelaki itu?


Apa Maggie sudah memiliki pengganti ku?


Isi kepala Maxim dipenuhi praduga praduga yang belum tentu kebenarannya. Maxim mengambil napas lalu membuangnya, kali ini iya akan mencoba tidak gegabah dalam bertindak.


Maxim diam memperhatikan tingkah Maggie dan pria yang tak di kenalnya.


**


"Aldrich mengapa Maxim tidak memberi kabar pada kita? " Jasmine mondar mandir di depan cermin riasnya.


Aldrich melipat koran yang tengah di bacanya, dia meletakkan koran itu dan mendekati Jasmine.


"Kau terlalu banyak berpikir sejak kepergian Maxim,duduk dan beristirahatlah.


Jangan terlalu banyak berpikir Jasmine, aku tidak mau kesehatanmu terganggu karena terlalu memikirkan masalah ini" Aldrich menuntun Jasmine duduk di depan meja rias.


Lihatlah dirimu di cermin,Apa Kau bisa melihat sesuatu ?


Aldrich apa yang kau bicarakan, tentu saja aku melihat diriku sendiri!


Pertanyaan mu konyol sekali,Jasmine memalingkan wajahnya dari cermin.Jasmine berusaha menyembunyikan senyumnya.


Aldrich tersenyum melihat tingkah Jasmine yang terkadang masih merajuk seperti gadis muda, itulah yang membuat seorang Aldrich Orlando menyukai Jasmine.


"Kau masih terlihat muda jika tersenyum seperti ini " Aldrich memandangi wajah Jasmine dari balik cermin.


Jasmine menatap balik Aldrich dari cermin yang sama.


Jadi maksudmu, aku terlihat tua begitu! Jasmine mulai merajuk kembali karena ejekan Aldrich terhadapnya.


Aldrich menahan tawanya ,dia masihlah seorang Aldrich Orlando yang tak kalah jahil dari kedua putranya.


Aku dan Kau mungkin tidak lagi muda,tapi lihat saja wajahku.


Aku masih tampan bukan, untuk ukuran pria seusiaku!


Aldrich menyombongkan dirinya atau lebih tepatnya,wajahnya yang masih terlihat segar di hadapan Jasmine.


"Kau selalu berhasil menghiburku dengan lelucon murahan itu" Jasmine memukul lengan Aldrich.


Aldrich terkekeh akan tingkah Jasmine,Ibu dari kedua putranya itu.


"Aku memiliki kejutan untukmu! " Aldrich tersenyum penuh arti. namun, Jasmine tak bisa menangkap maksud dari ucapannya.


**


Maxim membuat suara agar Maggie dan Pria yang entah siapa itu menyadari kehadirannya.


Maxim yang berpura pura batuk pun akhirnya berhasil mendapatkan perhatian kedua orang yang membuatnya kesal itu.tidak ,bukan keduanya.hanya pria asing itu, yang membuatnya kesal setengah hidup.


Maxim kian bertambah kesal, karena Maggie pergi setelah membawakan segelas air untuknya.


"Tuan, apa kau baik baik saja? " Edward membantu Maxim, dia memberikan air minum pada Maxim.


Maxim ingin sekali memanggil Maggie,bahkan Maxim ingin sekali langsung memeluk Maggie. namun, niatnya harus dia urungkan. Maxim ingin Maggie menerima kehadirannya tanpa merasa tertekan, serta memaafkan kesalahannya yang telah membuat Maggie merasa tidak diinginkan.


"Tidak apa, aku baik baik saja! " Maxim melenggang pergi dari toko bunga setelah berkata seperti itu.


"Aneh Sekali, dia pergi begitu saja tanpa memesan ataupun membeli bunga " gumam Edward sembari kembali melanjutkan pekerjaannya.


Selang tak berapa lama Maggie yang baru keluar dari toilet, kembali menemui Edward.


"Edward dimana pembeli yang baru datang itu, bukankah dia baru saja tiba? " Maggie mengedarkan pandangannya di setiap sudut toko.


"Entahlah, dia pergi begitu saja. sepertinya, dia tidak berniat membeli bunga" Edward mengangkat bahunya acuh.


Maggie mengernyitkan dahinya, saat aroma khas yang sangat dia kenali menyengat indera penciumannya.


"Parfum ini " batin Maggie.


Maggie berlari keluar toko, dia mencari keberadaan pria yang tampak tidak asing. namun, tidak ia ketahui juga identitasnya.


"Apa mungkin Kak Maxim ada di sini?" Maggie bergumam.


"Tidak, tidak itu tidak mungkin.mungkin ini hanya khayalanku saja.lagi pula aroma parfum ini bisa dikenakan oleh siapapun,bukan hanya Kak Maxim" gumam Maggie meyakinkan dirinya sendiri.


Maggie yang tidak menemukan siapapun, kembali masuk ke dalam toko.


**


Maxim keluar dari persembunyiannya, dia tersenyum karena berhasil menemukan Maggie. namun, Maxim harus sedikit bersabar, dia harus menunggu Maggie selesai bekerja.Maxim khawatir jika Maggie belum siap bertemu dengannya, dan Maggie akan kembali menghindar darinya.


"Aku harus tahu dimana Maggie tinggal, barulah aku akan mencari cara untuk mendapatkan maaf darinya" tekad Maxim dalam hati.


**


Maxim dibuat terkejut saat melihat Maggie melangkah memasuki penginapan yang sama dimana dirinya juga menginap.


"Astaga, jadi selama ini aku dan Maggie sudah begitu dekat.


Sial,mengapa aku tidak menyadarinya!"Maxim merutuki kebodohannya.


Maxim mengernyitkan dahinya saat Maggie memasuki lift dan Maxim mulai menyadari jika Maggie dan dirinya tinggal di lantai yang berbeda.


Maxim menahan lift yang akan tertutup, dia ikut masuk bersama Maggie. Maggie tidak menyadari, jika pria yang menutupi wajahnya dengan kacamata dan topi adalah Maxim.


Maggie berjalan dengan tergesa, dia mulai merasa curiga pada pria yang sejak dia keluar dari toko bunga itu mengikutinya. Maggie mulai merasa terancam, karena menyadari jika Pria misterius yang mengikutinya adalah pria yang pagi tadi mendatangi toko bunga tanpa membeli atau memesan apapun.


Maggie menambah kecepatan langkah kakinya, dia dengan sedikit berlari berusaha agar segera sampai di kamarnya.


"Astaga,dia masih mengikuti " Maggie menelan kasar saliva nya.


Maxim terus saja mengikuti Maggie, Maxim takut kehilangan jejak Maggie.bagi Maxim ini adalah kesempatannya, untuk bisa memperbaiki semuanya.


Brukk.


"Maafkan aku tuan, aku sedang terburu buru!"


Maxim menabrak salah satu petugas yang tengah membersihkan lantai.


Maggie bernapas lega saat pintu kamarnya telah berada tepat dalam pandangannya,Maggie berusaha membuka kunci kamarnya, sialnya kunci kamar Maggie terjatuh.


Maggie bergegas masuk ke dalam kamarnya.


...