
Maxim duduk menunggu Maggie di balkon kamar sembari menghisap rokok. Maxim menatap jarum jam yang membuatnya semakin gusar.
"Tidak mungkin Maggie pergi dan berbelanja selama ini? " gumam Maxim.
"Aku harus segera mencari Maggie, Aku takut terjadi sesuatu dengan Maggie".Maxim mematikan rokok dan meraih kaos untuk menutupi tubuh polosnya.
Maxim baru saja akan keluar Mansion. Tepat saat Maxim membuka pintu,dia dibuat terkejut.Maxim membuka lebar kedua bola matanya saat melihat Maggie berdiri bersama Daniel di hadapannya.Maxim menatap penuh kecurigaan pada Daniel, Maxim tidak mengerti mengapa Maggie bisa bersama dengan Daniel.
Maggie yang tidak tahu identitas Daniel yang sebenarnya,tidak berpikiran aneh pada Daniel. Maggie hanya bisa merasakan aura tidak bersahabat dari Maxim pada Daniel.Seolah dari tatapan Maxim pada Daniel itu, ada amarah yang telah lama berkobar.
Maggie memegangi bahu Maxim, dia membawa Maxim untuk duduk di ruang tamu terlebih dulu.
Daniel bahkan jauh lebih terkejut dari Maxim. Daniel tidak mengingat dengan jelas wajah istri Maxim saat di pesta itu ,karena memang pada saat pesta semua tamu undangan mengenakan topeng.
Daniel merutuki kebodohannya sendiri, dia tidak bisa mengingat wajah Maggie dengan baik. Daniel benar benar tidak tahu, jika Wanita yang di tolong nya ini.adalah seseorang yang selama ini ingin ia temui. jika Daniel tahu, pasti ia akan langsung meminta maaf pada Maggie sejak di Rumah Sakit tadi, sayangnya semua telah terlambat.Daniel tidak tahu, apa Maggie masih akan bersikap baik padanya, saat Maxim telah menjelaskan pada Maggie siapa dia sebenarnya.
Daniel, Ayo masuklah!
Lamunan Daniel tersentak, saat mendengar suara Maggie. Daniel melihat ke arah Maxim, Maxim benar benar menatapnya dengan tatapan membunuh.namun, Daniel mencoba bersikap tenang di hadapan Maggie untuk saat ini.Daniel tidak ingin membuang kesempatan emas ini.Kesempatan untuk Daniel meminta maaf secara langsung pada Maggie, atas kesalahan di masa lalunya.
Daniel mengangguk, saat Daniel hendak melangkahkan kakinya .Suara Maxim menghentikan langkah Daniel.
"Aku tidak mengizinkan pria itu masuk Maggie "Maxim memasang wajah kesal yang ia tunjukkan pada Maggie.
"Kak Maxim, Kau tidak boleh bersikap seperti ini?" Maggie menggelayuti lengan Maxim, membawa Maxim menjauh dari Daniel.
Maggie,Lepaskan aku!
Maxim mengibaskan tangan Maggie yang menggelayuti lengannya, tenaga Maxim saat mengibaskan tangan Maggie membuat Maggie hampir terjatuh.
Daniel yang melihat pertengkaran itu,seketika mencegah tubuh Maggie yang akan terantuk dinding. Daniel menjadikan lengannya untuk mengamankan punggung Maggie, Maxim yang melihat kejadian itu seketika merasa bersalah.
"Maggie aku tidak berniat mendorongmu seperti tadi" Maxim mengulurkan tangannya pada Maggie.
Maggie menepis tangan Maxim, dia melewati Maxim begitu saja.
Daniel duduklah dulu, aku akan membuatkan minuman untukmu! "Maggie mencoba tersenyum pada Daniel menutupi rasa sedihnya.
"Maggie, Aku rasa Kau tidak perlu repot repot membuat minuman. Aku masih memiliki keperluan lain,Aku harus pergi sekarang. " Daniel melenggang pergi tanpa menunggu jawaban Maggie ataupun Maxim.
"Baguslah jika dia pergi,Aku benar benar tidak menyukai kehadirannya! "gumam Maxim yang di dengar oleh Maggie.
Maggie yang mendengar ucapan Maxim, meninggalkan Maxim begitu saja ke kamar.
**
Tiffany menguap, dia mengucek kedua bola matanya yang berair karena mulai mengantuk.
Tiffany meregangkan otot ototnya, dia membereskan berkas berkas yang telah selesai ia kerjakan.
"Akhirnya, Semuanya telah selesai! " Tiffany menengok arloji di pergelangan tangannya.
"Astaga, Ini sudah hampir larut malam.Aku harus secepatnya kembali ke rumah,Bibi Emma pasti menungguku !"
Tiffany hendak memesan taxi online ,namun ponselnya kehabisan daya. Tiffany tidak membawa power bank,dia berdiri kebingungan di pinggir jalan.
Bagaimana ini, jika seperti ini bagaimana aku bisa pulang? Tiffany mulai merasa takut berada di pinggir jalan sendirian seperti ini.Bahkan, jalanan mulai terlihat sepi.
**
"Astaga, Tidak ada minuman apapun ! " Daniel berdecak kesal, karena lemari pendinginnya kosong karena ia lupa untuk berbelanja.
Daniel bersenandung kecil dengan menghidupkan pemutar suara, Daniel sesekali ikut menyanyikan lagu yang tengah diputar.
Tiffany memutuskan berjalan kaki hingga menemukan kendaraan,namun dia tidak menemukan kendaraan yang melintas meski telah berjalan cukup jauh.
Tiffany berharap ada kendaraan yang melintasi jalanan sepi ini, rasanya angin malam ini semakin membuat Tiffany bergidik ngeri.Tiffany tidak takut pada hantu atau semacamnya,melainkan takut ketika dirinya harus berpapasan dengan orang jahat.
Membayangkannya saja membuat Tiffany ketakutan setengah hidup, Tiffany segera menepis kemungkinan terburuk yang bersarang di otaknya itu.
**
Sesampainya di minimarket, Daniel segera mengisi troli dengan semua keperluan yang dia butuhkan. Daniel tidak membuang banyak waktu, dia ingin segera pulang dan mengisi perutnya lalu tidur dengan nyenyak.
Daniel membawa dua kantung penuh berisi cemilan, minuman serta buah dan sayuran. Daniel adalah pecinta sayuran, katakanlah ia Vegetarian.
Daniel telah membeli semua yang dia perlukan, Daniel lantas hendak kembali pulang ke rumah.
Tiffany melambaikan tangannya pada sebuah kendaraan yang melintas di hadapannya, Tiffany mencoba menghentikan mobil yang melintas itu.namun,mobil itu enggan berhenti lalu melewatinya begitu saja.
**
Maxim menahan setengah hidup amarahnya, sebenarnya Maxim tidak tahan saat Maggie mendiamkannya seperti ini sejak kepulangan Daniel.bahkan, Maggie tidak memberinya kesempatan untuk menjelaskan identitas Daniel.Maxim tidak bisa memaksa Maggie, karena dirinya juga merasa bersalah hampir membuat Maggie terluka karena ulahnya.
"Maggie, Aku bisa jelaskan padamu alasanku tidak menyukai Pria yang bersamamu tadi! " Ucap Maxim yang berharap Maggie mau mendengarkan penjelasannya.
Maggie yang telah memejamkan matanya,lalu tertarik akan ucapan Suaminya itu. Maggie membuka matanya, dia berbalik dan menatap Maxim.
"Katakanlah alasannya Kak? "Maggie menatap Maxim dengan tatapan merajuk yang masih kentara.
Maxim menghembuskan napasnya dengan berat, dia merasa terbebani dengan apa yang ingin dia katakan pada Maggie.namun, Maggie harus mengetahui kebenaran tentang Daniel.Maxim tidak ingin kembali memiliki kesalahpahaman antara dirinya dan Maggie.
Pria yang tadi bersamamu, dia-
Maxim menggantung ucapannya, hingga membuat Maggie semakin penasaran dengan penjelasan Maxim.
"Dia apa Kak Maxim?"Maggie akhirnya merubah posisinya menjadi setengah duduk.
Maxim memejamkan matanya, dengan satu tarikan napas.Maxim akhirnya berhasil mengatakan identitas Daniel pada Maggie.
Dia adalah Pria yang sama, yang pernah melakukan hal yang tidak pantas padamu saat di Pesta Tuan Victor.
"Apa Kau masih mengingat kejadian itu Maggie?
Sekarang Kau tahu alasan dibalik sikapku tadi bukan? " Maxim mengamati ekspresi wajah Maggie yang berubah datar.
Terlihat ada keterkejutan terpatri di wajah Maggie, juga ada sesuatu yang Maxim tidak mengerti saat mendengar jawaban Maggie yang terasa Aneh di telinganya.
"Oh, Jadi Karena itu! "
hanya itu yang Maggie ucapkan.
"Ada apa dengan Maggie?" batin Maxim bergumam.
Maggie hanya tampak sedikit berpikir lalu dia kembali merebahkan tubuhnya. Maggie memejamkan matanya, Maxim semakin tidak mengerti dengan tingkah Maggie. Maxim berfikir Maggie akan menangis karena telah mengetahui identitas Daniel yang sebenarnya. namun, Apa yang Maxim pikirkan ternyata salah.
Maxim menatap Maggie yang terlihat telah pulas, Maxim lalu ikut menyusul Istrinya. Maxim menahan rasa penasarannya tentang pertemuan Daniel dan Maggie.
"Lebih baik besok pagi saja aku tanyakan pada Maggie, bagaimana bisa Daniel yang mengantarkannya pulang? " Maxim mengecup dahi Maggie, Lalu kemudian dia menyusul Maggie memejamkan matanya dengan perlahan.
...