
Jangan terlalu keras menekannya Kak Maxim!
Baik, aku akan memperlambat gerakannya.
Astaga, rasanya sakit sekali!
Kak Maxim, Sakit!
Tiffany kembali mengingat dan terngiang suara saat ia hendak masuk ke ruangan kerja Maxim.
"Ah, seandainya aku tidak berpikiran yang aneh aneh pasti semuanya tidak berakhir seperti ini". gerutunya
Aku sungguh membenci pikiranku, Istri tuan Maxim memang sedang tidak enak badan. Tuan Maxim pasti membantu Istrinya.
Tiffany kini mengerti mengapa Maggie dan Maxim berdialog seperti itu. Maggie yang hendak muntah, di bantu oleh Maxim yang terus memijat leher Maggie namun Maxim memijatnya dengan keras dan itu menganggu Maggie.
Tiffany ikut bahagia saat Maxim tadi menyampaikan pada Emma, akan berita kehamilan Maggie.
Tiffany menertawakan pikiran konyolnya, dia malu pada cara kerja otaknya yang tidak bisa menyaring kotoran yang mengendap di sana.
*
Maggie dan Maxim menjauhkan ponsel mereka, menyelamatkan gendang telinga mereka dari teriakan Elsa yang seketika meledak saat Maxim dan Maggie memberinya kabar kehamilan Maggie.
ini Ke -3 kalinya Maxim dan Maggie menjauhkan ponselnya sebelum nya Jane dan Louis serta Jasmine dan Aldrich pun melakukan hal yang sama.
Semua orang yang mendengar kabar bahagia itu berlomba lomba mengucapkan kalimat paling bermakna untuk kedua pasangan ini.
Jasmine bahkan ingin segera melakukan penerbangan untuk menemui keduanya, namun dia harus bersabar karena Aldrich sedang sibuk dengan para klien barunya. sehingga mau tidak mau, Jasmine menunggu Aldrich menyelesaikan semua pekerjaannya.
Jane dan Louis juga ingin berkunjung ke Singapore.namun, mereka tidak bisa meninggalkan toko bunga dan kebun bunga mereka, karena tidak ada yang bisa menggantikan pekerjaan mereka.
Jane dan Louis akan mencari karyawan terlebih dulu, setelah itu mereka akan mengunjungi Menantu dan putrinya di Singapore.
**
"Bibi apa aku boleh mengenakan setelan ini untuk berangkat ke kantor?." Tiffany menunjukkan setelan kemeja dengan rok selutut yang memiliki corak abu muda pada Emma.
Kau bisa mengenakan apapun, selama Kau nyaman dengan yang kau pakai.
Emma menatap ramah pada Tiffany, dia tidak mau melarang gadis itu yang penting pakaiannya tidak terlalu terbuka, Emma tidak masalah dalam hal itu.
Tiffany yang mendengar jawaban Emma lantas bergegas bersiap mengganti pakaiannya dan segera ke kantor pagi itu.
Maxim memundurkan tubuhnya saat Maggie hendak membuang muntahannya. Kali ini Maxim tidak terkena karena Maggie mendorongnya menjauh, Maxim sendiri mulai mengerti tanpa bertanya ia tahu maksud istrinya.
Astaga,Maxim mengusap wajahnya setengah frustasi. Maxim berniat membantu Maggie, namun setiap ia mendekat Maggie malah semakin banyak memuntahkan isi perutnya.
Apa Kau baik baik saja? Maxim meletakan gelas berisi air putih di meja, dia menjaga jaga jarak dari Maggie agar Maggie tidak kembali mual karena dirinya .
Aku baik baik saja, Kak Maxim ini sudah waktunya Kau berangkat ke kantor.Sebaiknya Kau berangkat saja,aku bisa mengatasi ini sendiri.
Maxim menggelengkan kepalanya, dia menatap Maggie dengan kerutan di dahinya serta tatapan cemas yang luar biasa.
Aku tidak akan ke kantor, Aku akan menemanimu.
Kak Maxim Kau memiliki pertemuan yang penting, aku akan baik baik saja. percayalah!
gelengan kembali Maxim berikan, dia menolak meninggalkan Maggie sendirian disaat seperti ini.
Perlahan Maxim mendekati Maggie, dia berdoa dalam hati agar perut Maggie berhenti merasakan mual saat ia mendekat.
Maxim menghembuskan napasnya dengan lega, biji kacang yang sempat terasa menyumbat tenggorokannya, kini seolah sudah terlepas.
Kali ini Maxim tidak harus menjauh karena Maggie ternyata tidak kembali mual seperti tadi.
Maxim mengusap perut Maggie yang masih datar, dia sedikit berjongkok .Maxim mengecup perut datar Maggie yang kini tengah memiliki penghuni di dalam sana, ada anggota baru yang akan mereka nanti kedatangannya.
Maxim menatap Maggie, Maggie mencetak senyum damai yang kian menambah pesona calon ibu yang sedang dia rasakan.
Kak Maxim, Jangan seperti ini. Kau harus mengurusi pekerjaanmu bukan.
Tapi aku tidak mau, dan aku tidak bisa meninggalkanmu dalam kondisi seperti ini.
Sudahlah, jangan terlalu berlebihan Kak Maxim. aku baik baik saja,rasa mual nya akan hilang jika sudah siang.
Kau yakin?
Maggie mengangguk dengan mantap, ia berusaha keras membuat Maxim tidak melalaikan pekerjaannya .
Meski awalnya merasa ragu namun Maxim akhirnya menyerah.Maxim tidak bisa menolak permintaan Maggie,yang bersikukuh menginginkan dirinya berangkat ke kantor.
**
Tiffany yang sedang sibuk merapikan berkas berkas milik atasannya Maxim, terkejut saat mendadak ada pria yang tiba tiba masuk ke ruang kerjanya.
Siapa anda, berani sekali masuk tanpa mengetuk pintu!
Aku ingin menemui atasanmu, dimana Maxim?
Astaga!
Aku Daniel,
Tiffany menatap tangan pria di hadapannya yang terulur ,dengan sedikit takut Tiffany mengulurkan tangannya dan menjabat tangan pria yang dia ketahui bernama Daniel.
Tiffany tolong siapkan berkas yang ,
Maxim menghentikan ucapannya,Maxim menatap heran pada sosok pria yang sangat ia kenal, berdiri di kantor miliknya tanpa ia ketahui kedatangannya.
Hai Maxim, apa Kau terkejut?
Daniel melangkah mendekati Maxim ,dengan gaya arogan yang terpatri sebagai identitasnya.
Daniel tersenyum, dia memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana bahan yang di kenakan.
Kau, ya aku cukup terkejut dengan kedatangan mu yang mendadak seperti ini.
Dan ya, ini ruangan asisten ku. Kau seharusnya tidak berada di ruangan ini, Tiffany segera siapkan berkas yang di perlukan untuk rapat siang nanti.
baik tuan, Tiffany menatap Maxim dengan takut.Tiffany takut Maxim berpikiran buruk tentang dirinya.
Daniel mengedipkan sebelah matanya pada Tiffany, Tiffany bergidik ngeri melihat tingkah pria di hadapannya ini.
Daniel ,ikutlah ke ruangan ku !
Setelah mengucapkan itu, Maxim kembali ke ruangannya dengan Daniel yang mengekor di belakangnya.
**
Daniel duduk berhadapan dengan Maxim, dia tersenyum dengan seringai aneh yang bisa Maxim tangkap dari raut wajah Adik rivalnya David Contez.
Aku tidak suka berbasa-basi Daniel, jadi jelaskan saja inti kedatangan mu kemari?
Waw Maxim kau langsung menanyakan niatku kemari, tanpa menyapa kabar ku dulu.
Kau bukan keluarga atau temanku,jadi aku tidak merasa harus melakukan sambutan untukmu!
Baiklah, mulutmu itu memang pandai sekali membuatku merasa kesal.
Aku kemari mengganti Kakakku sekaligus aku ingin meminta maaf padamu .
Kau menggantikan David? memang David kemana, dan untuk apa kau meminta maaf padaku!
Sebenarnya, aku bukan ingin meminta maaf padamu. aku ingin meminta maaf secara langsung pada istrimu.
Maxim memicingkan matanya, dia mengamati ekspresi wajah Daniel saat mengucapkan kalimat yang terdengar aneh di telinganya.
Maxim aku tahu, ini terdengar sangat aneh. namun, aku benar benar ingin meminta maaf pada istrimu atas kejadian yang tak seharusnya aku lakukan di masa lalu.
Maxim termenung, dia sibuk mencerna ucapan Daniel yang terdengar penuh kamuflase di telinganya.
Keheningan menyelimuti ruangan Maxim, Daniel sendiri menunggu keputusan Maxim tentang keinginannya menemui Maggie untuk meminta maaf.
"Aku akan membicarakannya dengan Maggie terlebih dulu, jika dia mau bertemu dengan mu maka aku mengatur pertemuan kalian".
Daniel tersenyum mendengar keputusan Maxim, dia menganggukkan kepala.
**
Malam harinya, Maxim yang tengah sibuk menatap layar laptopnya dikejutkan dengan kedatangan Maggie yang langsung memeluknya dari belakang.
Maxim menatap Maggie yang memang bertambah cantik dari biasanya. Istrinya kini seperti memiliki dua kepribadian, jika pagi Maggie ingin menjauh darinya. namun, jika malam hari seperti ini Maggie akan bersikap manja dan kekanakan pada Maxim.
Maggie menggelitik hidung Maxim dengan jarinya mencoba mengusik konsentrasi Maxim, Maxim sendiri masih fokus pada layar datar di hadapannya.
Maggie mengerucutkan bibirnya saat Maxim tak merasa terganggu sedikitpun atas ulahnya.
Maggie menghentakkan kakinya ke lantai dengan keras, dia memilih berlalu ke kamar meninggalkan Maxim di ruang tamu dengan benda mati yang berhasil merebut perhatian Maxim sejak tadi.
Dasar menyebalkan!.
Maggie membaringkan dirinya di kasur dengan selimut yang menutupi hampir semua tubuhnya.
Sedangkan Maxim yang menyadari Maggie pergi ke kamar dengan kesal, terkekeh dengan tingkah Maggie yang membuatnya ingin sedikit menggoda Maggie.
"Seharusnya aku merekam nya tadi, wajah Maggie pasti lucu sekali. Astaga Maggie, Kau membuatku tidak bisa mengabaikan mu lebih lama".
Maxim membereskan sisa pekerjaannya, dia ingin segera menyusul Maggie ke kamarnya.
....
See you ❤
.
.
Maafkan author yang udah lama ngga up cerita, jujur author lagi seneng senengnya lihat Leslar di sosmed jadi kaya ngga mau ketinggalan gitu .sekali lagi maaf yah 🙏 .