You Heart Me Season 2

You Heart Me Season 2
You Heart Me ~Part 46



Maxim mengusap bibir Maggie dengan ibu jarinya,bibir Maggie bengkak karena ulahnya.Maxim semakin gemas saat melihat Maggie menatapnya dengan wajah masam.


Mengapa Kau menggigit bibirku? Maggie memukul bahu Maxim.


Salahkan Saja bibir mu Sendiri, mengapa Kau menyalahkan ku? Maxim menatap Maggie dengan hangat.


Maggie sendiri menelan Saliva nya dengan susah payah.Mengapa mendadak dirinya menginginkan Maxim saat ini juga.


"Kak Maxim, aku menginginkan mu". Maggie menunduk malu saat mengucapkan kalimat yang begitu berbeda dari biasanya.


Maxim mengulum senyum, dia mengangkat wajah Maggie dengan mempertahankan senyum miliknya pada Maggie.


"Aku milikmu, Kau berhak atas diriku " Maggie tersenyum mendengar ucapan Maxim, dengan menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya itu.


Mengapa Kau selalu saja tersipu seperti ini?


Kau membuat ku semakin gemas, Maxim tak menghiraukan apapun. dia membawa Maggie ke ruang istirahatnya yang berada di kantor, Maggie menatap Maxim dengan senyum bahagia.


**


Tiffany mondar mandir di depan ruang kerjanya, dia begitu terkejut saat mendadak Emma menghubunginya dan memberitahukan bahwa Maxim memiliki pertemuan dengan rekan bisnisnya yang akan diadakan dua hari lagi.


Tiffany sendiri berdiri dengan kaku, pasalnya saat dia hendak mengetuk pintu ruangan Maxim.Tiffany mendengar suara aneh yang membuatnya membatalkan niat untuk masuk ke ruangan itu.


Tiffany menggigit jarinya sendiri, dia tidak bisa duduk dengan tenang. Suara aneh itu terus saja berkeliaran di telinganya.


"Astaga, ada apa dengan otakku?


Mengapa juga Suara itu begitu mengusik telingaku, aku sungguh bisa gila jika seperti ini?" Tiffany mengeluh dan menggerutu dibalik meja kerjanya sendiri.


**


"Tiffany Apa yang kau lakukan? " Seketika Tiffany yang merasa memiliki nama itu pun menoleh, dia membelalakkan matanya mendapati bibinya Emma berdiri di belakangnya.


"Bibi Kau.. Kau di sini",Tiffany berbicara dengan terbata.


Emma mengangguk, matanya menelusuri raut wajah keponakannya yang terlihat mencurigakan. seolah tiffany adalah pencuri yang sedang menyembunyikan sesuatu.


"Apa Kau sudah memberitahukan hal penting itu pada tuan Maxim? ". Emma menepuk dahi tiffany saat gadis itu malah terdiam dan mengabaikan ucapannya.


Tiffany,


Apa Kau sudah menyampaikannya?


"Ah.iya bibi, aku.. aku belum sempat memberitahu tuan Maxim". Tiffany menggigit bibirnya sendiri, dia tidak berani menatap wajah bibinya Emma.


"Mengapa tidak Kau sampaikan Tiffany? ini pertemuan penting, lagi pula ini hari pertamamu. Kau harusnya bisa lebih cekatan, jangan bermalas-malasan seperti ini.


"Bibi, aku tidak berniat untuk bermalas-malasan. Hanya saja, aku tidak berani menganggu tuan Maxim yang sedang sibuk dengan wanita di ruangannya''. Tiffany menautkan jemarinya sendiri dengan gelisah.


Emma mengerutkan dahinya, dia menatap keponakannya dengan alis menyatu.


Emma sedikit tertarik mendengar ocehan Tiffany, baru kali ini tuan Maxim sibuk dengan wanita di jam Kerja yang selalu tak pernah dibuangnya sejak dulu.


***


Ah, Bibi Sakit!


Tiffany mengeluh, saat Emma menarik telinganya.


Emma menjewer telinga Tiffany karena ucapan gadis itu hampir membuatnya malu tadi.


Maxim dan Maggie berjalan keluar dari ruangan. Mereka berpapasan dengan Emma dan Tiffany yang hendak ke ruangan Maxim.


Emma tersenyum canggung saat melihat Maggie berada di sebelah Maxim, seketika dia mengutuk Tiffany dalam hati dengan kesal.


"Emma, apa ada hal yang tertinggal hingga Kau datang kemari? ". Emma menorehkan senyum untuk mengatasi rasa bersalahnya karena sempat terlintas buruk di pikirannya karena ucapan Tiffany.


"Tidak tuan Maxim,hanya saja Tiffany melupakan pesan yang aku sampaikan padanya.Tiffany, dia berkata jika dia masih bingung, jadi aku memutuskan untuk mengatakannya padamu secara langsung karena kebetulan aku sedang berada di dekat kantor". Jelas Emma panjang lebar.


Maxim mengangguk mendengar penuh perhatian dengan penuturan Emma, namun Maxim lalu mengiyakan pertemuan yang sebenarnya tidak ingin ia sepakati itu.


"Apa tuan Maxim yakin? "Emma mencoba memastikan,Maxim mengangguk mantap.


Kalian boleh pergi,aku harus segera mengantar Maggie ke dokter !


Maxim keluar dari ruangannya setelah mengucapkan itu, dia ingin menemui Maggie yang sedang menunggunya di parkiran mobil.


"Tiffany ,lain kali bersikaplah yang sopan pada siapapun. Untung Saja Istri tuan Maxim tidak mempermasalahkan sikapmu".Emma setengah kesal pada Tiffany, namun dia juga tidak terlalu tega memarahinya seperti ini.


Bibi Maafkan aku!


aku sungguh tidak tahu, jika Wanita tadi adalah istri atasanku.


Tiffany hampir saja menangis, dia malu dan takut mempermalukan bibinya di hadapan Maxim atasannya, yang sudah banyak berjasa pada Seluruh anggota keluarga Emma termasuk Tiffany.


Jika Emma tidak bekerja pada Maxim, mungkin sampai saat ini Tiffany tidak akan pernah menamatkan kuliahnya.


Emma mengelus sebelah pipi Tiffany.


"Lain kali. Kau tidak boleh bersikap seperti itu lagi ya" .Kali ini Bibi memaafkan mu !


Tiffany mengangguk dia merengkuh bahu Emma agar bisa di dekap olehnya.


***


"Bagaimana? apa masih mual? "Tanya Maxim sembari memijat leher Maggie.


Wajah Maxim memucat saat lagi lagi Maggie menumpahkan isi perutnya tepat di tubuhnya dan membuat setelan jas yang dikenakan kotor karena terkena muntahan Maggie.


Maggie menyandarkan kepalanya di jok mobil, tangannya sibuk menyeka keringat yang mulai bermunculan di dahi Wanita bermata sewarna madu itu.


Maxim melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang, dia begitu menghawatirkan Maggie yang terlihat tidak enak badan.


***


Saat Jam kerja telah berakhir. Tiffany yang masih merasa bersalah, kembali meminta maaf pada Emma.


"Bibi aku janji tidak akan mengulangi kesalahan seperti ini lagi". Tiffany dan Emma kembali ke rumah setelah tadi Emma menceritakan tentang hubungan Maxim dan Maggie .


Emma mengangguk mengiyakan, dia memaklumi ketidaktahuan Tiffany keponakannya.


***


Kedua sudut bibir Maxim melengkung sempurna, Wajah bahagia Maxim tercetak jelas tidak bisa di tutupi, Maxim bahkan berteriak dengan lantang saat dokter mengatakan padanya bahwa Maxim adalah calon Ayah.


Maggie mempererat pegangannya pada pundak Maxim, saat pria itu mengangkat tubuh Maggie ke atas dan menatapnya dengan ribuan cinta yang terlihat di manik hitam Maxim.


"Kau akan menjadi ibu, dan aku akan mendengar seseorang memanggilku Ayah".Maxim menatap Maggie yang terlihat berkaca kaca, lalu diturunkannya perlahan Maggie, agar Maxim bisa menghapus air mata sialan yang membasahi paras indah Maggie.


Jangan menangis seperti ini, aku benci melihat itu !


Maggie menggeleng lalu, dia meraih wajah Maxim di sentuhnya wajah Tampan Maxim dan dikunci dengan tangannya.


ini tangisan bahagia Kak Maxim, Aku tidak menyangka dengan semua ini. Semuanya terjadi begitu cepat, aku sungguh bahagia.


Maggie semakin mempererat pelukannya pada Maxim, Maxim juga terhanyut dalam rona kebahagian yang tengah membuncah di hatinya.


"Kapan Kau akan mengatakan cintamu padaku kak Maxim?" Maggie bergumam dalam hatinya, dia berharap bisa mendengar kalimat cinta terucap dari bibir Maxim.


.....


Jangan lupa, like, komen dan bantu Vote juga boleh.


See You ❤