You Heart Me Season 2

You Heart Me Season 2
You Heart Me~Part 67



Selamat pagi tuan Maxim!


Saya senang bisa melihat anda setelah cukup lama anda tidak masuk ke kantor" Tiffany menyambut kedatangan Maxim.


Terima Kasih Tiffany, tolong buatkan kopi untukku seperti biasa ! " Maxim memasuki ruang kerjanya .


Tiffany berjalan menuju Pantry untuk membuat minuman.tidak memakan banyak waktu Tiffany telah menyelesaikan kopi yang di pesan Maxim.


Tiffany tidak sengaja berpapasan dengan Daniel yang terlihat keluar dari toilet Karyawan yang terletak bersebelahan dengan Pantry.


Kedua manik hitam mereka tak sengaja bertemu, Daniel memalingkan wajahnya terlebih dulu dan mempersilahkan Tiffany untuk melewatinya.Tiffany melangkah tanpa sepatah katapun, dia membawa nampan berisi kopi untuk atasannya Maxim.


"Seperti inikah rasanya menjadi asing kembali!


Jika aku tahu Kau akan menjauh karena pernyataan cintaku waktu itu, aku lebih memilih untuk memendam dan menguburnya rapat rapat dalam kantung hati terdalam ku Tiffany" . Batin Daniel berkeluh kesah.


"Daniel, Mengapa rasanya Aneh saat melihatmu hanya diam tanpa menyapa atau berbasa-basi denganku! " pikiran Tiffany berkecamuk, hatinya mulai merindukan sapaan Daniel yang kini bak orang asing di matanya.


Daniel merapikan Jasnya, dia kembali menuju parkiran untuk menunggu Maxim pulang dan Daniel berharap semoga kali ini Maxim mengizinkan dirinya meminta maaf secara langsung pada Istri Maxim. Maxim yang tak lain rival Kakaknya David.bagi seorang Daniel, penting sekali rasanya mendapat Maaf dari Istri Maxim itu.


*


Maggie melepas Appron yang melekat di tubuhnya, dia tersenyum sembari mengusap keringat yang bermunculan di dahinya.


"Astaga, panas sekali! " Maggie mendudukkan dirinya sendiri di kursi, dia menatap kotak makan siang Maxim yang telah ia siapkan.


"Lebih baik Aku mandi,lalu mengantarkan makan siang untuk Kak Maxim!" Maggie berjalan membersihkan dirinya.


Maggie merapikan pemerah bibir yang terlukis di bibir dengan jarinya, dia meneliti penampilannya di cermin. setelah merasa cukup rapi, Maggie meraih ponsel dan memasukkannya ke dalam tas. Maggie yang terburu buru, tidak meletakan ponsel dengan benar .ponsel Maggie tertinggal di meja rias, Maggie kembali ke dapur membawa serta kotak makan siang untuk Maxim.Maggie menggunakan Taxi untuk mengantarkannya ke kantor Maxim.


*


Tiffany memainkan ballpoint di tangannya, dia tidak terlalu fokus dengan meeting yang tengah berjalan hingga Tiffany mendapat teguran dari Maxim.


Tiffany !


Suara Maxim membuyarkan lamunan Tiffany akan pertemuannya dengan Daniel.


"Iya, Tuan " Tiffany tersenyum canggung karena Maxim terlihat kesal,sepertinya sedari tadi atasannya itu memperhatikan gerak geriknya.


"Apa Kau menyimak semua yang Aku ucapkan tadi Tiffany? " Maxim memasang wajah yang tidak bersahabat pada Tiffany.


"Hm iya, iya Tuan . Aku mencatat semuanya! "ucapnya gugup.


Tiffany bernapas lega setelah Maxim kembali melanjutkan meeting, kali ini Tiffany menfokuskan dirinya untuk mendengarkan Maxim yang tengah memberi arahan pada karyawan lainnya.


Tiffany mengusap wajahnya, dia menjadi satu satunya yang tertinggal di ruangan meeting.Tiffany merapikan berkas dan kembali ke meja kerjanya.


Tiffany menepuk dahinya ,dia membuka mulutnya saat dirinya hampir melewatkan jam makan siang.Tiffany meraih ponsel dan berjalan keluar kantor, dia akan makan di kedai yang terletak di seberang kantor.


"Hampir Saja, Aku lupa mengisi perutku ini! " Tiffany berjalan dengan mata yang terus melihat sekelilingnya. Tiffany berharap bisa melihat Daniel sebentar saja, agar otaknya tidak selalu terisi oleh pria yang kini mengacaukan isi kepalanya.


*


Daniel yang tengah duduk diam dalam mobil melihat seorang wanita yang hampir terserempet mobil, Daniel bergegas keluar dari mobil dan menarik wanita itu agar terhindar dari mobil yang akan menabraknya.


Jantung Maggie berdebar hebat saat seseorang menarik tangannya, dan menyelamatkan Maggie dari sebuah mobil yang mungkin akan mengenainya.


Daniel mengatur napasnya, dia bersyukur karena bisa menyelamatkan wanita di hadapannya ini dari kecelakaan mobil.


"Apa Kau baik baik saja nona? " tanya Daniel saat deru napasnya telah kembali normal.


Maggie mengangguk mengiyakan, dia lantas memegangi kepalanya yang tiba tiba seperti berputar.


Daniel mengernyit saat melihat wanita yang di tolong nya, akan kembali jatuh menyentuh aspal jalanan. Daniel dengan sigap, menahan tubuh Maggie.


Daniel menepuk pelan pipi Maggie beberapa kali.Daniel berdecak kesal, dia tidak bisa mengabaikan wanita yang sedang membutuhkan pertolongan di hadapannya.Daniel yang dulu mungkin akan dengan mudah meninggalkan seseorang dalam keadaan sulit seperti ini.namun, Daniel yang sekarang tidak tega melakukan hal itu.


Daniel membawa Maggie menuju rumah sakit terdekat, dia mengabaikan tatapan orang orang sekeliling yang tidak ramah padanya.


*


Maxim mencoba menghubungi Maggie berkali kali, Maxim mengernyit saat tidak ada balasan apapun dari Maggie. bahkan pesan darinya belum terbaca hingga kini.


Maxim menyimpan ponselnya lalu bergegas menuju mobil, dia ingin melihat keadaan Maggie.


Tiffany mengernyit saat matanya menangkap sebuah mobil yang dia yakini adalah mobil Daniel.


"Daniel pergi secepat ini, biasanya dia menunggu hingga jam kerja berakhir?"dalam hati Tiffany bergumam.


"Astaga, Tiffany!


Ada apa dengan otakku ini, aku bisa gila jika seperti ini " Tiffany berdecak malas,dia melangkah dengan bibir menggerutu.


Tiffany juga melihat mobil Maxim yang menyusul setelah mobil milik Daniel melintas di hadapannya.


Tiffany memutuskan untuk segera mengisi perutnya dengan makanan, dan kembali menyibukkan pikirannya dengan menyelesaikan semua pekerjaannya.


*


"Semoga tidak terjadi sesuatu pada wanita itu? Aku tidak mau di salahkan untuk masalah ini? " Daniel menunggu di depan ruang pemeriksaan dengan perasaan cemas.


Maggie yang terbaring perlahan membuka matanya,indera penciumannya dipenuhi aroma obat obatan.


Maggie mengernyit saat melihat seorang Pria tidak di kenal,berjalan ke arahnya dengan Wanita paru baya yang memakai setelan Jas Dokter.


Selamat Sore Nyonya "Dr. paruh baya itu tersenyum hangat pada Maggie.


Maggie kebingungan tergambar jelas di raut wajah Maggie. dengan anggukan ragu ragu Maggie menjawab sapaan Dokter itu.


"Tuan, Anda tidak perlu Khawatir. Istri anda baik baik saja ! "Dokter itu tersenyum pada Daniel dan Maggie.


Ada kabar bahagia untuk kalian berdua! "Dokter itu masih memberikan senyum ramahnya pada Daniel dan Maggie.


Maggie dan Daniel saling bertukar pandang sebentar, Daniel tidak enak melihat tatapan tidak suka Maggie saat Dokter itu mengira keduanya adalah pasangan.


"Maaf Dokter, tapi saya bukan suaminya. Saya hanya kebetulan melihat wanita ini hampir pingsan, jadi saya membawanya kemari " Daniel terlihat tegas saat mengatakan semua itu, seakan ingin membuat Dokter itu percaya pada apa yang di katakan.


Kalau begitu saya minta maaf Tuan dan Nyonya atas kesalahpahaman tadi.


Daniel dan Maggie mengangguk bersamaan.


"Nyonya, Selamat untuk Anda. Anda akan menjadi seorang Ibu ". Dokter itu memberikan hasil tes milik Maggie.


Maggie mengerjapkan matanya, dia menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan.Maggie tidak tahu bagaimana harus mengekspresikan kabar bahagia ini, dia lalu teringat ucapan Dokter yang menyapanya dengan kalimat Selamat Sore.Seketika Maggie teringat Kotak makan siang Maxim yang entah dimana.


Dokter itu pergi setelah memberikan hasil tesnya pada Maggie.


Daniel memicingkan matanya saat melihat Maggie seperti tengah mencari sesuatu.


Maaf nona, Kalau boleh aku tahu. Kau sedang mencari apa? "Daniel memindai ekspresi Maggie.


"Ponsel,


Apa Kau melihat Ponselku, Saat Kau membawa ku kemari Tuan? " Maggie masih mencari keberadaan Ponselnya.


"Tidak, Aku tidak melihat Ponselmu. Saat aku menolong mu, Aku hanya melihat Kau membawa sebuah kotak makan dan tas itu saja " Jelas Daniel.


"Maafkan aku nona, karena aku tidak sempat mengamankan kotak makan mu!" timpal Daniel.


Maggie membuka tas yang di tunjuk Daniel dan membuka isinya. Maggie mengeluarkan semua isinya, namun tidak ada Ponsel di dalam tas itu.


"Sepertinya Ponselku tertinggal di rumah,Lalu bagaimana aku menghubungi Kak Maxim? " batin Maggie.


"Nona, Lain Kali jika menyebrang jalan berhati hatilah. Kau bisa membahayakan dirimu dan calon anakmu tadi jika saja Kau terserempet kendaraan lain" Ujar Daniel mengingatkan.


Terima Kasih Karena sudah menyelamatkan nyawaku !" Maggie tersenyum pada Daniel, rasanya Maggie tidak enak bersikap tidak sopan pada Daniel. Karena Daniel yang menyelamatkan Maggie ,hampir saja Maggie kembali kehilangan hal berharga untuknya.


"Nona, Aku akan mengantarmu pulang jika kau berkenan. ini sudah sore ,bahkan hampir menjelang malam.Suamimu pasti menghawatirkan keadaanmu! " Daniel melihat anggukan Maggie.


Daniel dan Maggie segera keluar dari Rumah Sakit. Daniel mengantar Maggie untuk kembali ke rumahnya.


...