
Selepas kepergian Maxim, Maggie menyusul Maxim ke kamarnya. Maxim yang masih menonton televisi mengabaikan kehadiran Maggie, Maggie duduk di sofa dan memandangi wajah Maxim dari tempat duduknya.
"Mengapa Maggie terus menatap ke arahku?" batin Maxim bergumam.
Maggie tak melepaskan sedetik pun tatapannya pada Maxim, Maggie ingin menikmati karya Tuhan di hadapannya.
Maxim yang terus menerus di tatap seperti itu merasa kesal, Maxim membaringkan dirinya dan Memunggungi Maggie.
Maggie menghembuskan napas yang begitu berat, dia memperhatikan punggung Maxim. Maggie menunggu hingga Maxim benar benar terlelap, dengkuran Maxim seolah menandakan jika tidur pria itu telah cukup pulas.
Maggie mendekati Maxim, Maggie mengulurkan tangannya menyentuh wajah Maxim. Maggie memejamkan matanya, dia merasakan sesak yang teramat sangat.
Mata Maggie sudah berkaca kaca sejak tadi, Maggie segera melepas tangannya yang menyentuh wajah Maxim. Maggie menundukkan kepalanya, di ciumnya pipi Maxim .Maggie segera mengangkat kepalanya, saat air mata Maggie hampir mengenai wajah Maxim. Maggie takut Maxim akan terbangun, jika terkena air matanya.
Maggie berjalan menuju walk in closet, dia mengganti bajunya dengan baju hangat. Maggie keluar dari kamar dengan mengusap air bening yang tak henti mengalir, Maggie meninggalkan ponselnya .
Maggie menatap ke arah dapur, dia teringat jika dirinya dulu pernah tertawa bersama dengan Maxim di sana. Semua itu seakan tinggal kenangan, kini Maxim yang bersama Maggie bahkan tidak ingin melihat wajah Maggie.
Maggie menyeret gontai langkah kakinya. Maggie berjalan sangat pelan, dia sungguh berat memilih keputusan ini. namun, Maggie akan berusaha mendapatkan Maaf dari Maxim, dan ini lah Cara yang Maxim minta saat itu.
**
Tiffany memeluk Maggie, dengan berat hati dia dan Emma terpaksa menuruti keinginan Maggie. Tiffany telah menyiapkan Semuanya, dan Emma ikut ambil bagian dalam rencana Maggie.
Emma hanya berharap Maxim atasannya, akan segera menyadari kesalahan atas caranya bersikap selama ini.
Emma dan Tiffany menangis bersama selepas keduanya mengantar Maggie. Tiffany tidak tahu harus berkata apa, dia begitu menyayangkan peristiwa ini. Melihat rumah tangga atasannya hancur, membuat hati Tiffany dan Emma ikut hancur.
"Bibi, Bagaimana Jika Tuan Maxim bertanya pada kita?" Tiffany merasa takut, mengingat sifat tegas Maxim ".
"Kau harus menepati Janjimu pada Nyonya Maggie, bersikaplah tenang jika Tuan Maxim menanyakannya padamu. Katakan Saja jika Kau tidak apa apa ".Emma menenangkan keponakannya itu ".
"Astaga, apa aku bisa melakukannya "gumam Tiffany .
Kau pasti bisa Tiffany, setidaknya Kita harus membantu Nyonya Maggie untuk mendapatkan Maaf dari Tuan Maxim. Meskipun..
Emma menghentikan ucapannya, hingga membuat Tiffany Mengerutkan dahinya.
Meskipun apa bibi?.
Meskipun kita melakukan kesalahan dengan membantu Maggie.
Maksud bibi?
Cara Maggie untuk mendapatkan Maaf dari Maxim dengan pergi seperti ini mungkin salah.namun,Tuan Maxim juga salah karena mengabaikan Nyonya Maggie selama satu bulan ini.
Yang Kau Katakan benar bibi, Tuan Maxim begitu menyalahkan nyonya Maggie untuk semua kesalahan ini. sedangkan nyonya Maggie berusaha keras mendapatkan Maaf dari Tuan Maxim.
Kita hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk keduanya, benar begitu kan bi?
Emma tersenyum mengiyakan, iya lantas mengajak Tiffany untuk beristirahat.
**
Maxim membuka matanya, dia mengernyitkan dahi saat melihat jam yang sudah memasuki pukul 09.00.Untuk pertama kalinya, Maxim melewatkan sunrise.
Maxim mendapati Tirai jendela kamarnya masih tertutup, Maxim berdecak malas. Pantas saja dirinya tidak menyadari, jika sinar matahari saja tidak menembus kamarnya.
Maxim membersihkan diri, Seperti satu bulan ini. Maxim tak pernah terlibat percakapan apapun dengan Maggie. namun, pagi ini Maxim teringat, jika semalam Maggie begitu berbeda. Maggie berdandan begitu cantik untuk dirinya,tanpa Maxim sadari dia tersenyum saat memikirkan tentang Maggie.
Maxim menuruni tangga, matanya menelisik beberapa ruangan. Maxim tak mendengar suara apapun, tidak seperti biasanya saat dia mendapati Maggie berdiri di dapur atau tengah duduk menunggunya di meja makan.
Maxim mencoba mengabaikan ketidakadaan Maggie, Maxim mengira jika Maggie mungkin ada di ruangan lain.Maxim meninggalkan Mansion, dia segera menuju ke kantor.
**
Tiffany memutar malas bola matanya, saat lagi lagi dia melihat Daniel.
"Astaga,Tuan Daniel lagi lagi dia bersantai di kantor Tuan Maxim".
"Tuan Milyader itu ".gumaman Tiffany terhenti, Tiffany segera membulatkan matanya saat melihat kedatangan Maxim.
Tiffany tidak menangkap kesedihan di wajah Maxim, bahkan Maxim terlihat biasa saja. Tiffany tidak mengerti dengan apa yang dia lihat, benarkah atasannya ini tidak merasa sedih atas kepergian Sang istri.
Maxim tidak memperhatikan apapun selain pekerjaan, Maxim yang masih memikirkan alasan Maggie semalam berdandan pun kini otaknya di penuhi tanda tanya.
**
Di satu sisi seorang Wanita tengah menatap kosong, pagi pertamanya di negara yang tidak ada satupun orang yang dikenalnya.
Maggie bersandar pada jendela kamarnya, di tatapnya lalu lalang para manusia dengan kesibukan yang berbeda. Maggie mengeratkan mantel yang membungkus tubuhnya.
Maggie benar benar berada di negara yang begitu asing, dia tidak memiiki Saudara ataupun Kerabat disini.
"Kak Maxim Semoga dengan Kepergian ku ini, Kau bisa memaafkan kesalahan ku".
Maggie memejamkan matanya, sekelebat momen manis dirinya dan Maxim terputar di sana. Maggie menghapus kasar air bening yang kini rajin membasahi wajahnya,Maggie harus menjalani kehidupan baru di negara ini bukan.
Maggie membersihkan dirinya,dia merapikan dirinya sendiri. Maggie berniat mencari pekerjaan,Maggie ingin mengalihkan kesedihannya itu.Maggie sadar kini dirinya ,harus bertahan hidup dan membiayai dirinya sendiri.
**
Tidak Seperti biasanya Maxim kembali Ke rumah Sore hari,Maxim merasa ada sesuatu yang membuatnya ingin cepat pulang .
Maxim menuju ke dapur,tempat dimana biasanya Maggie memasak.Walapun semenjak itu dirinya tak pernah memakan masakan Maggie, dahinya mengerut saat Maxim sadar jika sisa peralatan semalam saat Maggie menyiapkan makan malam romantis masih tersisa. bahkan ,semuanya masih berada di tempatnya masing masing.
Mata Maxim menangkap sesuatu di balik piring yang masih tertelungkup .
Maxim menarik dan membuka lembaran kertas itu ,Maxim mulai membaca isi surat Maggie .Maxim terduduk lemas,dia mengacak kasar surau nya .
Maxim berlari ke kamar ,dia membuka pintu kamar dan keadaan yang di lihat hanya kekosongan ,Maxim berharap ini hanya gurauan Maggie.
"Kau pasti hanya bergurau Maggie, Aku tidak percaya Kau bisa menjauh dariku ".
"Aku yakin jika hari sudah gelap, Kau pasti akan kembali".Maxim tertawa, dia mengira jika Maggie hanya pergi sebentar saja dan akan kembali ke Mansion.
Waktu berlalu begitu cepat bagi Maggie,tak membutuhkan Waktu yang lama. Maggie bisa mendapatkan pekerjaan, Maggie kini melepas mantel hangatnya.
Maggie menggantung Mantel, dan membasuh wajahnya. dia membuka makanan yang tadi di belinya.
Maggie yang hendak menyuapkan makanan pada mulutnya,teringat pada Maxim.raut sedih itu kembali terpatri di wajahnya, Maggie tahu jika dirinya harus makan untuk memiiki tenaga dan bisa kembali menjalani kehidupan di negara orang lain.
Maggie menepis sebentar kesedihan itu, agar dirinya bisa menelan makanan yang harus masuk ke dalam perutnya.
Jika Maggie menangis lagi, sudah di pastikan dia hanya ingin tidur setelahnya untuk melupakan kesedihan yang ingin dia lupakan. namun, Maggie kini tahu jika hidupnya harus tetap berjalan. Tak peduli seberapa besar luka yang di miliki, Maggie harus terus melangkah menjalani hari harinya.
....
*Jangan lupa Like, Komen dan Vote nya.
Terima Kasih.