
Terhitung sudah 4 hari sejak Maxim tak terlihat, akhirnya Maggie kini bisa sedikit tersenyum karena tadi pagi pagi sekali Maxim kembali ke Mansion.
Mungkin kedatangan Maxim tidak akan membuat Maggie lupa pada kehilangannya, namun setidaknya kehadiran Maxim bisa menjadi pelipur lara untuknya. Maggie tidak bisa menampik, jika dirinya begitu merindukan kehadiran Maxim.
Sebesar apapun luka di hati Maggie,Cinta Maggie pada Maxim jauh lebih besar dari semua rasa yang pernah Maggie rasakan.
Kehadiran Maxim bisa membuat ia sedikit melupakan rasa sakitnya kehilangan.
Hari ini Maggie merasa tidak tega melihat wajah kusut Maxim, keadaannya sungguh jauh dari kata baik baik saja.
"Kak Maxim kan baru kembali,Sebaiknya aku membuatkan sarapan untuk Kak Maxim".Maggie melangkah menuju dapur.
Maggie begitu antusias menjalankan kegiatannya hari ini. Maggie yang beberapa hari lalu bak mayat hidup, kini kembali beraktifitas seolah dirinya baik baik saja.Kedatangan Maxim sedikit membuat ia jauh lebih baik, dan dengan adanya Maxim Maggie tidak merasa sendirian lagi.
**
Maxim terlihat duduk di teras balkon, hal sederhana yang selalu Maxim sukai adalah menikmati Sunrise.
Maggie berpikir jika Maxim akan tidur, namun tidak seperti yang ia lihat. Maggie memicingkan matanya, saat melihat putung rokok berceceran di lantai kamar.
Maxim terbatuk-batuk karena asap rokok yang sedikit terhirup.Maggie dengan sigap berlari ke arah Maxim untuk memberikan air putih untuk Maxim.
Kak Maxim minumlah!
Maggie tersenyum dengan memberikan gelas berisi air putih itu pada Maxim.Maxim menatap Maggie dengan tatapan yang entah apa artinya. Maggie bisa merasakan jika ada Luka dan rasa Sakit dalam manik hitam Maxim, Maggie bahkan bisa merasakan amarah terpendam yang di sembunyikan Maxim.
Maggie terkejut saat Maxim menolak air yang dibawanya, Maxim bahkan menepis tangan Maggie yang berusaha merebut sebungkus rokok yang ada di tangan Maxim.
"Kak Maxim, Jangan terlalu sering menghisap Rokok Seperti ini, itu tidak baik untuk kesehatanmu Kak".
"Jangan mengatur hidupku, Ini yang aku lakukan untuk melupakan rasa sakit ku".
Apa maksudmu Kak?
bukannya menjawab pertanyaan Maggie, Maxim berlalu begitu saja meninggalkan Maggie yang mematung di tempat.
Maggie sedikit tersentak saat Maxim membanting kasar pintu kamar mandi, Maggie segera menghapus kasar air mata yang menetes di pipinya.
**
"Kak Maxim Kau mau kemana? aku sudah menyiapkan sarapan untuk mu " .
Maggie tersenyum manis pada Maxim, namun Maxim melenggang pergi saat Maggie menawarinya makan.
Maggie tersenyum kecut, dia tahu dirinya salah.namun, apakah Maxim tidak memiliki simpati kepada dirinya.
Maggie menghapus air matanya, dia tidak ingin lagi terlihat lemah. Maggie akan berusaha berbicara pada Maxim, Setidaknya Maggie harus meminta penjelasan pada Maxim. Maggie ingin memastikan tentang hal yang selama ini membayangi hatinya.
**
Maggie menunggu kepulangan Maxim, bahkan Maggie belum menyentuh makanan apapun sejak pagi.
Maggie tidak akan makan jika Maxim juga tidak ikut makan,Maggie duduk memainkan piring kosong.Maggie menoleh saat mendengar suara pintu dan derap langkah. suara langkah itu semakin mendekatinya, Maggie tersenyum saat Maxim memasuki dapur, Maggie berpikir Maxim akan duduk dan mengajaknya makan.
Kembali Maggie menelan kecewa, saat Maxim diam dan berlalu begitu saja tanpa sepatah katapun.
Kak Maxim tunggu, Aku ingin bicara denganmu Kak.Maggie menatap punggung kokoh Maxim, Kembali Maxim mengacuhkan ucapannya.
Maxim melanjutkan langkahnya, dia meninggalkan Maggie.
Hiks... Hiks...
"Sebegitu besarnya kah kesalahanku padamu Kak?"Maggie menundukkan kepalanya di meja makan.
Maggie berdiri dan meraih semua makanan yang ia masak, Maggie membuang semua makanan yang seharian ini ia siapkan untuk Maxim.Maggie menahan sekuat tenaga agar tangisnya tak lagi pecah, Maggie yang selesai membersihkan dapur berniat menyusul Maxim.
Maggie berjalan dengan tatapan hampa, dia tidak sanggup jika Maxim terus saja mendiamkannya seperti ini. Maggie akan meminta Maxim memaafkan kesalahannya, Maggie akan berjuang untuk itu.
**
Kak Maxim aku ingin bicara padamu, aku ingin meminta maaf padamu Kak. Tolong Maafkan aku, Maaf telah membuatmu gagal menjadi seorang Ayah.
Maxim membaringkan tubuhnya, dia berbalik memunggungi Maggie.Maggie tidak tahan lagi di perlakukan seperti ini, dia menaiki ranjang dan menggoyangkan lengan Maxim meminta Maxim untuk mau bicara padanya.
Kak Maxim,Jangan bersikap egois seperti ini Kak? Bicaralah padaku Kak, Jangan mendiamkan ku seperti ini Kak.Hukum saja aku jika Kau Mau, aku akan melakukan semua yang Kau minta Kak. asal Kau tidak mendiamkan ku seperti ini.
"Kak Maxim ku mohon jangan abaikan aku". "Ku mohon maafkan aku Kak".
Maggie tak tahu lagi dengan cara apa dia bisa mendapatkan maaf dari Maxim, Jika Saja Maxim mau bicara padanya itu akan memudahkan Semua ini.
Maxim menoleh sebentar pada Maggie, dia menatap tajam ke arah Maggie yang kini memegangi lengannya.
"Jangan tunjukan wajahmu padaku, apa Kau bisa melalukan itu Maggie.
Jika Kau tidak bisa melakukan itu, maka Lupakan saja Maaf dariku ".
Dugh...
Lidah Maggie mendadak kelu,Ucapan Maxim bak tamparan keras untuk Maggie. Maxim mungkin tak melukainya dengan benda tajam atau memukulnya dengan tangan kosong. namun, ucapan Maxim mampu menembus pagar yang sudah Maggie bangun untuk menyakinkan dirinya jika Maxim akan menerima dan Memaafkannya.
**
Kesedihan itu berlangsung selama Satu bulan ,Selama itu juga Maggie berharap Maxim akan kembali bersikap seperti dulu. Maggie dan Maxim tidak pernah saling terlibat percakapan apapun sejak hari itu, hari dimana Mereka kehilangan Calon buah hatinya.
Apa yang Melihat lakukan seolah tak mampu memperbaiki kesalahannya, Maxim masih terus mendiamkannya.
Hingga di suatu malam, Maggie benar benar merasa dirinya tidak di cintai oleh Maxim.Selama ini Maggie yang terlalu berharap jika Maxim juga mencintainya, Maggie mengingat satu kalimat yang selalu terngiang di benaknya.
Satu satunya Kalimat yang keluar dari mulut Maxim selama satu bulan ini.
"Jangan Tunjukan wajah mu padaku,apa Kau bisa melakukan itu Maggie.
Jika tidak bisa melakukan itu, maka lupakan saja Maaf dariku".
Kalimat itu terus saja berputar di benak Maggie,bahkan terngiang suara Maxim di telinganya.
Maggie berjalan dengan lunglai, ia tidak pernah lagi memiliki semangat dalam hidupnya. Maggie dilanda kegelisahan yang membunuhnya setiap malam. Maxim membuatnya harus memutuskan sebuah pilihan cukup yang sulit untuk ia ambil karena pilihannya adalah dua hal yang sangat berarti dalam hidup Maggie.
Maggie mengetik di dalam laptop sepanjang malam, dia menghabiskan malam malamnya untuk sekedar membagikan rasa sakitnya.
Maggie merasa dengan menumpahkan semua bebannya dalam bentuk tulisan, akan sedikit membuat ia merasa lebih baik.Karena Maggie tidak ingin membagikan kesedihannya pada Orang lain.
**
Maggie yang sudah lama tidak merias diri, memutuskan berdandan secantik mungkin di hadapan Maxim.
Maggie menyiapkan makan malam dengan suasana yang begitu romantis, dia duduk dengan menggunakan baju tanpa lengan saat pertama kali dirinya menjadi sekretaris Maxim.
Maggie tidak meminta apapun, ia hanya ingin menjadikan malam ini malam yang paling indah untuknya.
Maggie meletakan selembar kertas di depan meja yang nantinya, akan di duduki oleh Maxim.
Maxim yang baru saja tiba, mengernyitkan dahi saat melihat suasana Mansion yang begitu gelap. Maxim bertambah heran saat matanya hanya mampu melihat cahaya dari ruang dapur.
Maggie tersenyum manis pada Maxim, Maggie sangat senang saat Maxim ternyata mendatanginya. Senyum Maggie luntur, saat lagi lagi Maxim hanya meraih minuman bersoda lalu meninggalkannya.
...
*Jangan Lupa Like, Komen dan Vote yah. :)
See you ❤