
Maxim menyugar kasar rambutnya, dia melihat ke arah Maggie yang masih terbaring tak sadarkan diri.
Maxim mengepalkan tangannya, dia pergi meninggalkan Maggie di kamar sendirian.
Maggie yang mulai mendapat kesadarannya, perlahan membuka kedua matanya. Tiffany dan Emma lah yang Maggie lihat pertama kali, Maggie mencari keberadaan Maxim.
Tiffany, Emma Kalian disini?
Nyonya Sebaiknya Kau jangan terlalu banyak bergerak!
Tiffany, apa Kau tahu dimana Maxim?
Tiffany dan Emma saling bertukar pandang. Emma akhirnya memutuskan untuk memberitahu Maggie.
Nyonya Maggie untuk saat ini, Jangan terlalu memikirkan hal lain. Kau harus memikirkan kesehatanmu dulu.
Maggie menangkap hal yang aneh, pasalnya Tiffany dan Emma terlihat bersedih.Maggie mengingat kejadian sebelumnya, dimana dia menunggu Maxim dan begitu gembira saat Maxim terlihat keluar dari mobil.
Maggie menutup mulutnya dengan satu tangannya, satu tangan yang lain meraba perutnya sendiri.
"Emma apa yang terjadi dengan kandunganku?" Maggie terbata dia benar benar takut, terlihat dari bahunya yang begitu tegang.
Tiffany menundukkan kepalanya, begitu juga dengan Emma. Maggie melihat mereka dengan dahi yang berkeringat, tangannya gemetar hebat. Pikirannya berkecamuk, napasnya terasa sesak.
Keheningan terjadi di kamar Maggie, Maggie semakin gelisah karena Emma dan Tiffany enggan menjawab pertanyaannya.
Prang...
Bugh...
Prang...
"Suara apa itu? " Maggie yang mendengar kegaduhan itu, berniat turun dari ranjang.
Aww, Astaga perutku sakit sekali!
Emma yang melihat Maggie berusaha untuk turun, akhirnya mencegah Maggie dan menawarkan diri untuk membantu nya.
"Bibi,ada apa? " Tiffany yang juga mulai ketakutan mendengar suara gaduh itu.
Tiffany tenanglah, kita akan melihatnya bersama sama.Sekarang, bantu aku memapah Nyonya Maggie.
Tiffany mengangguk dan mulai membantu Emma, Ketiga Wanita itu menuju ke arah sumber suara.
Maggie tak mampu menyembunyikan rasa terkejutnya, melihat Maxim memporak-porandakan Kamar yang akan di tempati calon anak mereka nanti.
Kak Maxim...
Maxim menoleh di tatapnya Maggie,yang di papah oleh Emma dan Tiffany.Maxim melangkah dan berhenti di depan Maggie.
Mengapa Kau lakukan semua ini Kak? Kau menghancurkan Kamar yang Kau siapkan Untuk calon anak kita?
"Kau yang membuat aku melakukan semua ini Maggie, Kau yang memaksaku melakukan ini".
Maggie tertegun saat Maxim meninggikan suaranya.Maggie yang tidak tahu apapun merasa kebingungan.Maggie merasa terluka karena Maxim membentaknya dihadapan Emma dan Tiffany.
Emma mengapa Kak Maxim begitu marah padaku?
Tiffany Kau pasti tahu, Katakan padaku. Apa yang Kalian berdua sembunyikan?
Nyonya Tenanglah!
Katakan yang sebenarnya Emma, Katakan apa yang tidak aku ketahui.
Nyonya Maafkan aku,
Emma begitu berat mengatakan kebenaran ini pada Maggie, Emma takut Maggie akan semakin terpuruk. namun, akan terasa sangat egois jika Maggie tidak mengetahuinya.
Ka.. Kandungan mu ,Ba..Bayi yang ada dalam kandungan mu tidak bisa terselamatkan. Kau, Kau Keguguran Nyonya.
bahu Maggie melemas, Kakinya terasa kehilangan tulang dan tidak mampu menahan berat tubuhnya. Kegelapan seakan menyelimuti dunia Maggie, Matanya tak kuasa menahan kabar mengerikan ini.
Maggie kini mengerti penyebab Kemarahan Maxim, dan semua itu karena Keguguran yang di alami Maggie.
Kepala Maggie terasa berdentum hebat, samar samar Maggie mendengar Emma meneriaki namanya hingga akhirnya kegelapan menyelimuti Maggie.
**
Maxim melajukan kendaraan dengan kecepatan tinggi. Maxim melajukan kendaraannya, dia memilih ke kantor untuk menenangkan diri.
Maxim membaringkan dirinya setelah menumpahkan emosinya, dengan menghancurkan kamar yang beberapa hari lalu ia berikan pada Maggie sebagai kejutan.
Maxim memejamkan matanya, dia ingin melampiaskan amarahnya pada Maggie. namun, dia menahan semua itu dan memilih menjauh dari Maggie.
**
Jika Kau sudah mengantuk tidurlah dulu Tiffany, aku yang akan menjaga Maggie.
Bibi, aku sungguh tidak menyangka dengan kejadian hari ini?
Aku juga tidak menyangka Tiffany, sebaiknya Kau istirahat dan berhenti membicarakan hal ini.
Biarkan Nyonya Maggie beristirahat!
"Maaf bibi, baiklah aku akan tidur di sofa depan " Tiffany pergi setelah mendapat anggukan dari Emma.
Astaga, ini bahkan sudah sangat larut. Apa Tuan Maxim tidak akan pulang?
Emma yang sudah merasa kelelahan ikut terbaring bersama Tiffany di sofa, Emma memutuskan untuk menginap karena Maxim yang entah pergi kemana?
**
Maxim terbangun, dia mengecek jam yang melingkar di lengannya. Maxim meminta Satpam yang semalam berjaga untuk merahasiakan kedatangannya. Pagi ini Maxim tidak ingin menemui siapapun, dia ingin menenangkan dirinya sendiri.
Maggie mengaduk teh hangat pemberian Emma, Emma menyiapkan sarapan untuk Maggie sebelum kembali ke rumahnya.Tiffany ikut pulang bersama dengan Emma.
Maggie terus mengaduk teh itu, hingga tanpa di duga teh itu terjatuh karena tersenggol tangan Maggie, Maggie begitu terkejut saat tumpahan teh yang masih panas mengenai punggung tangannya.
Astaga rasanya sakit sekali!
Maggie membersihkan sisa pecahan gelas, dan mengingat kembali saat ini dirinya bersama Maxim membahas kehamilan Maggie.
Kak Maxim Kau dimana?
Disaat seperti ini Kau malah meninggalkan aku sendirian, aku bahkan tidak bisa menghubungimu.
Maggie menghapus kembali air bening yang terus menerus mengalir sejak Maggie tahu kebenarannya.
Kedua Mata Maggie bahkan bengkak, Karena terlalu banyak menangis. Maggie benar benar merasa dunianya hancur, di saat seperti ini Maggie merasa jika dugaannya selama ini mungkin salah.
Maxim tidak pernah mengatakan cinta padanya, dan tingkah Maxim hari ini seakan membenarkan pemikiran itu.
"Ayah, Ibu.... aku merindukan kalian".Maggie berjalan kembali menaiki tangga, langkah Maggie terhenti saat melihat sisa puing puing perabotan yang telah hancur.
Kaki Maggie melangkah memasuki ruangan dimana kamar ini adalah kejutan untuknya beberapa hari yang lalu,Maggie mengusap air matanya.
Ya tuhan, Semua ini begitu membuatku bahagia tapi semua ini kini terasa menyakitkan untukku.
Bayiku...
Mengapa Kau merenggutnya dariku Tuhan?
Mengapa?
Punggung Maggie kembali bergetar hebat, dia terduduk lemas. Kehilangan ini menghancurkan hati dan pikirannya,Rasa sakitnya begitu sulit untuk dijabarkan.
Kak Maxim pasti begitu marah padaku, dia bahkan meninggalkanku sendirian.Maggie terduduk lemas bersimpuh di lantai, tatapan matanya kosong. tidak ada yang tersisa dari Seorang Maggie, hanya ada kesedihan dan Luka yang begitu menganga di hati Maggie.
Tangis Maggie terus menerus pecah, hingga Maggie yang selalu menangis. tertidur di kamar bayi,bersama semua sisa sisa kehancuran yang di tinggalkan Maxim.
**
Maxim yang tengah memesan kopi di sebuah Cafe, termenung memikirkan dirinya sendiri yang gagal menjadi Calon Ayah.
Maxim tersenyum kecut, saat melihat seorang Wanita tengah menimang bayi dalam gendongannya.Beberapa hari yang lalu, dia sangat bahagia bahkan Maxim telah bermimpi tengah memangku seorang bayi dengan kedua tangan besarnya.
Mimpi Maxim hancur, Maxim menyalahkan Maggie. Maxim merasa Maggie lah yang membuat dirinya gagal menjadi seorang Ayah.
Maxim tidak tahu mengapa semua ini terjadi pada dirinya dan Maggie, yang Maxim tahu hanyalah melampiaskan amarah dalam dirinya sendiri. Maxim memilih menghindar dari Maggie untuk mencegah dirinya, tidak menyakiti Maggie dengan ucapan atau mungkin tindakan fisik.
**
Langit bahkan seolah ikut bersedih,Seperti kata pepatah Hujan adalah Cara langit menyampaikan rindunya pada bumi.
Ditengah derasnya hujan yang menyambangi bumi.dua manusia sedang merasakan patah hati yang begitu hebat.Cinta mereka seperti sedang di uji,Tuhan seolah ingin menguji cinta keduanya dengan sebuah kehilangan.
Tidakkah Kau ingin menghiburku Kak?
Dimana Kau berada Kak Maxim?
Aku membutuhkanmu Kak, aku membutuhkan mu...
Maggie kembali menangis tanpa menghiraukan dirinya sendiri, yang Maggie lakukan hanyalah menangis dan terus menangis.
Maggie selalu tertidur setelah kelelahan karena menangis, dan akan selalu seperti itu. apalagi saat mengingat jika kini Maxim tidak pernah menemuinya.
...
*Jangan Lupa Like, Komen dan Vote yah 😘.