
Sejak kecil aku tumbuh tanpa pernah mendengarkan dongeng apapun. Tak ada seorangpun yang membacakan kisah seorang putri cantik dan pangeran tampan kepadaku sebelum tidur. Sehingga aku sempat berpikir jika kebahagiaan hanya ada dalam dongeng. Namun, hari ini aku menjelma menjadi seorang putri cantik yang mengenakan gaun paling indah di dunia. Dan sebuah tiara kecil menghias kepalaku. Sementara di sebelahku berdiri seorang pangeran tampan. Sedari tadi ia terus menggandeng tanganku. Untuk sehari ini saja, kami akan menjadi seorang putri dan pangeran dalam dunia dongeng.
Di sudut sana, tampak mama yang menatapku dengan binar-binar bahagia. Aku sempat melihat matanya basah sesaat tadi, tapi ia telah menghapusnya dan berusaha untuk tersenyum. Tak ada alasan baginya untuk bersedih karena putrinya telah menemukan cinta sejatinya. Perdebatan demi perdebatan yang pernah terjadi di antara kami hanyalah sebuah proses panjang untuk menemukan arti betapa kami saling menyayangi dan peduli satu sama lain.
Di sebelah mama tampak Bik Inah. Wanita yang kerap berkata seenaknya itu tidaklah setegar ucapannya. Sepasang matanya berkaca-kaca ketika melihatku keluar dari ruang rias. Aku tahu di tangannya terselip selembar sapu tangan yang basah. Berkat dirinya aku tumbuh menjadi wanita angkuh dan keras kepala. Aku berjanji akan memarahinya setelah acara resepsi ini selesai. Memangnya ia pikir ini acara pemakaman? Kenapa wanita itu tak berhenti meneteskan air mata?
Sementara papa tak pernah berhenti melepaskan senyum bahagia saat menatap ke arah putrinya yang telah tumbuh dewasa. Aku pernah kehilangan dirinya selama bertahun-tahun dan ada begitu banyak hal yang ingin kulakukan bersamanya demi menebus waktu yang telah kami lewatkan. Aku sempat membencinya, tapi ternyata aku tidak bisa terus menerus melakukannya. Darah yang mengalir di tubuhku adalah darahnya, bagaimana aku bisa mengingkari kenyataan bahwa aku adalah putri kandungnya? Aku dan dirinya terikat sehelai benang tak kasatmata yang tak bisa putus oleh apapun juga.
Sahabatku satu-satunya, Risa. Ia adalah tempatku meluapkan segalanya dan aku selalu memanfaatkannya dalam situasi terburukku. Entah berapa banyak cerita yang harus ia dengar ketika aku sedang merasa terpuruk. Namun, Risa tak pernah berhenti untuk mendengar semua ceritaku meski aku tak pernah mendengar keluh kesahnya sekali pun. Aku tak tahu apapun tentang dirinya tapi ia tahu segalanya tentangku. Aku merasa bukanlah teman yang baik untuknya. Namun, Risa tak pernah berpikir seperti itu. Ia selalu ada untukku.
Di sudut lain, ada Nyonya Penny dan suaminya. Wanita itu selalu baik padaku. Bahkan terlalu baik. Padahal aku selalu berpikir jika aku tak pernah pantas mendapat kebaikan secara cuma-cuma darinya. Saat ia menatapku aku menangkap sorot matanya memancar penuh rasa bangga seolah-olah menjadikanku sebagai bagian dari keluarganya adalah sebuah keberuntungan. Aku sangat berterima kasih padanya karena telah melahirkan Jathayu ke dunia ini. Aku pasti akan menjadi menantu yang baik untuknya.
Dini dan Eka. Kedua gadis itu juga bagian dari hidupku. Mereka baik, pekerja keras, dan tak pernah mengeluh meski aku kerap berkata kasar pada mereka. Aku yakin mereka sedang mencemburuiku sekarang karena pada akhirnya akulah yang memenangkan hati Jathayu.
Dokter Sabrina dan suaminya juga hadir di tempat ini. Pasangan suami istri itu tampak serasi dengan balutan batik pasangan. Mereka terlihat bahagia. Aku pernah mengecewakan Dokter Sabrina, tapi wanita berhati mulia itu tak menganggapku sebagai orang kurang waras. Ia tetap bersikap baik padaku. Seandainya aku diberi kesempatan untuk memiliki seorang kakak, aku ingin memiliki seorang kakak seperti Dokter Sabrina.
Satu-satunya orang yang tidak hadir adalah Gina. Aku sudah meneleponnya beberapa hari yang lalu dan memberitahukan padanya bahwa aku akan menikah hari ini. Tapi, aku tidak memaksanya untuk datang. Ia tak harus datang karena perjalanan kemari butuh waktu lebih dari lima jam. Gina memiliki tanggung jawab pada keluarganya usai ayahnya meninggal.
Agh.
Aku tercekat ketika mendapati tatapan mataku tertumbuk ke arah pintu masuk dan menemukan sesosok wanita yang sangat kukenal. Nyonya Andhara juga datang? Tapi, aku tak menemukan sosok Bram berjalan di sisi atau belakang tubuhnya. Wanita itu malah menggandeng seorang laki-laki yang usianya terlihat jauh lebih muda dari Nyonya Andhara. Mereka tidak tampak sebagai pasangan ibu dan anak. Kemesraan yang terjalin di antara keduanya pasti akan menimbulkan berbagai macam spekulasi di dalam benak orang-orang yang melihat mereka. Lalu di mana Bram? Apakah mereka berdua sudah bercerai? Benarkah Bram telah dicampakkan?
Ternyata tidak semua orang berhak untuk sebuah kesempatan kedua. Dan tidak semua orang bisa membuka hati untuk menerima kenyataan. Namun, aku bersyukur karena orang-orang di sekelilingku mencintaiku dengan segenap kekurangan dan kelebihanku.
...****************...
**NB:
Terima kasih kepada semua pembaca yang tetap setia mengikuti alur cerita ini dari awal sampai akhir. Jika kalian tidak menemukan adegan 'kissing' atau semacamnya, saya memang sengaja tidak menulis adegan semacam itu di sini. Karena adegan seperti itu sudah terlalu banyak bertebaran di novel-novel lain.
... -author**-...