WHAT'S WRONG WITH MY BODYGUARD?

WHAT'S WRONG WITH MY BODYGUARD?
#77



"Bagaimana, Talisa? Kamu suka filmnya?"


Aku dan papa keluar dari gedung bioskop paling terakhir. Laki-laki itu menggandeng tanganku untuk pertama kalinya sejak kami bertemu beberapa waktu lalu. Tangan papa yang lebih besar dari tanganku terasa hangat dan ia berhasil membuatku merasa terlindungi. Jika saja ketika itu ia memegang tanganku seperti ini, aku tidak akan pernah merasa kesepian sepanjang hidupku.


"Suka," balasku sambil tersenyum. Berbeda dengan film drama yang terkadang berakhir dengan sedih, film petualangan pasti berakhir bahagia. Aku tak terlalu sering menonton film petualangan, tapi aku sangat menikmati film yang baru kami tonton beberapa menit lalu.


"Papa juga," sahut papa. "Lain kali kita akan nonton film lain, bagaimana? Kamu masih mau nonton bersama papa, kan?"


"Ya, tentu," jawabku senang. Ternyata seperti ini memiliki seorang ayah, batinku.


"Kamu mau beli sesuatu, Talisa?" Papa melepaskan tanganku ketika kami berdua berdiri di depan lift. "Mumpung di mal, kita bisa jalan-jalan sebentar. Kamu tidak keberatan, kan?"


Aku belum sempat menjawab penawaran yang diberikan papa karena tiba-tiba pintu lift terbuka dan beberapa orang keluar dari kotak besi itu. Papa segera bertindak cepat untuk mengamankan tubuhku sebelum tertabrak orang-orang yang baru saja keluar dari pintu lift.


Aku dan papa masuk ke dalam lift dan penawaran laki-laki itu terabaikan begitu saja. Namun begitu, aku dan papa meneruskan perbincangan kami dengan menjelajah pusat perbelanjaan itu.


"Apa kamu suka boneka, Talisa?" tanya papa seolah memberi kode. Ekor mataku langsung menemukan sebuah toko boneka yang berada tepat di depan tubuh kami. Beragam bentuk boneka dalam berbagai warna dan ukuran dijual di toko itu.


Aku tertawa sebelum menimpal ucapan papa.


"Aku sudah terlalu tua untuk bermain boneka, Pa," gelakku.


"Tapi papa belum pernah membelikanmu boneka. Papa ingin membelikanmu satu," ucapnya sebelum menarik tanganku mendekat ke arah pintu masuk toko. Padahal aku sama sekali belum memberikan persetujuan. Memang, sebagian orang dewasa masih suka mengoleksi boneka, tapi rasanya aku malu untuk melakukannya. Boneka milikku saat masih kecil masih banyak tersimpan di dalam lemari dan sebagian telah dibuang mama. Namun, kali ini pasti akan berbeda karena papa yang membelikannya untukku.


Aku melepaskan tanganku dari genggaman laki-laki itu ketika kami memasuki toko. Aku tidak ingin orang-orang berpikir negatif tentang kami karena aku tidak mungkin menjelaskan pada mereka jika laki-laki itu adalah ayah kandungku dan kami belum lama ini bertemu.


"Apa kamu suka ini?"


Aku tertegun menatap sebuah boneka kelinci berwarna merah muda dengan sebuah wortel di tangan.


"Itu terlalu kekanak-kanakan, Pa," bisikku karena malu akan didengar pengunjung lain. Boneka seperti itu lebih cocok dimainkan anak-anak SD.


"Benarkah?" Papa langsung mengembalikan benda itu ke tempatnya semula lalu beralih ke rak lain. Dalam waktu singkat, ia kembali sibuk memilih dan aku hanya memperhatikan tingkahnya. Papa terlihat sangat serius mencari boneka yang cocok untukku.


"Apa papa masih lama?" Aku mulai tak sabar menunggunya memilih. Pasalnya tempat itu mulai disesaki para pengunjung yang baru saja memasuki toko.


"Sebentar..." Papa hanya bergumam kecil tanpa benar-benar melihat ke arahku. "Bagaimana kalau ini? Apa kamu suka?"


Sebuah boneka beruang ungu bertopi dan memeluk bantal hati berwarna merah diulurkan laki-laki itu ke hadapanku.


"Lumayan," sahutku.


"Aku tunggu di luar, Pa," ucapku setelah melihat ke arah meja kasir. Sepertinya papa harus mengantre karena ada beberapa pengunjung yang kebetulan juga akan membayar barang belanjaan mereka.


"Baiklah. Tunggu papa, jangan ke mana-mana," pesannya.


Aku mengulum senyum mendengar pesannya. Mungkin papa berpikir jika aku anak balita yang harus diawasi dengan ketat jika tak ingin tersesat di dalam mal yang begitu luas dan eskalator serta lift adalah benda-benda yang berbahaya untuk didekati. Tapi rasanya sangat menyenangkan saat mengetahui papa memperhatikanku. Jadi seperti inilah rasanya memiliki seorang ayah, batinku.


"Jadi itu pacar barumu?"


Senyum di bibirku seketika memudar ketika suara itu menyapa dan membuyarkan lamunan di dalam kepalaku. Suara itu sangat familiar di telingaku, tapi aku masih belum ingin memercayai pendengaranku sebelum melihat pemilik suara itu dengan mata kepalaku sendiri.


Darahku terkesiap saat kepalaku berputar ke samping dan mendapati sosok Bram telah berdiri tak jauh dari tempatku mematung menunggu papa selesai membayar boneka. Laki-laki itu masih sama dengan terakhir kali aku melihatnya. Ia masih memikat di mataku, tapi hatiku sudah mati untuknya. Tak ada ruang tersisa lagi di hatiku.


"Apa laki-laki itu lebih kaya dariku?" tanya Bram dengan nada sinis. Tatap matanya seolah ingin menjatuhkan harga diri dan martabatku. Hanya penampilannya saja yang masih sama, tapi sikapnya sangat jauh berbeda dari dulu.


"Bukankah di antara kita sudah selesai?" Aku menanggapinya dengan sikap kalem. Hatiku sedang senang hari ini dan tidak ada yang boleh mengusik kebahagiaanku. "Kenapa kamu tidak pulang saja daripada berkeliaran di mal seperti ini? Siapa tahu istrimu tercinta sedang menunggumu di rumah. Apa kamu sudah meneleponnya untuk mengatakan bahwa kamu akan terlambat pulang?" Aku bisa lebih sinis dari yang Bram lakukan. Itu adalah keahlianku.


Bram tampak ternganga setelah mendengar sekelumit kalimat pedas yang kutujukan untuk dirinya. Selama ini ia hanya tahu sisi baik dariku dan laki-laki itu tidak akan pernah menyangka jika aku juga memiliki sisi terburuk dariku.


Di saat aku belum puas menikmati hasil olah verbal untuk menyakiti hati laki-laki itu, tiba-tiba saja seorang gadis muda muncul dan langsung bergayut manja di lengan Bram.


"Aku sudah selesai. Mari kita pergi," ajak gadis muda itu seolah tak peduli dengan keadaan sekeliling. Kuperkirakan usianya sekitar 20 an.


Apa-apaan ini? Ganti aku yang ternganga melihat Bram dan gadis muda itu. Aku akui gadis itu jauh lebih menarik dariku, tapi ini terlihat sangat konyol. Bagaimana bisa Bram melakukan hal ini setelah semua yang terjadi? Apa ia tidak takut istrinya marah? Atau jangan-jangan mereka sudah bercerai? Mungkinkah?


"Ini bonekamu."


Papa berhasil membuatku kaget setengah mati. Pandanganku dari sosok Bram dan gadis muda itu teralihkan seketika. Mereka sudah bergerak menjauh, tapi aku terus menatap keduanya dengan tanda tanya yang memenuhi isi kepala.


Aku meraih boneka itu dari tangan papa sembari menyunggingkan senyum kaku. Rasa penasaran masih tetap bercokol di dalam benakku meski kami sudah mengayun langkah pergi dari toko itu.


Aku masih ingat saat bertemu Nyonya Andhara di tempat ini. Wanita itu memergokiku berjalan bersama Jathayu dan sekarang Bram melihatku bersama papa. Tampaknya semesta telah mengatur segalanya untuk kami. Pertemuan-pertemuan tak terduga dan cukup membuat perasaan terguncang. Entah apa lagi yang diatur semesta setelah ini.


"Apa kamu mau membeli sesuatu yang lain?" tawar papa. Sepertinya ia ingin benar-benar memanjakanku hari ini.


"Kita pulang saja..."


"Tidak. Papa harus membelikanmu sesuatu," ujar papa seakan ingin memaksakan kehendaknya. Laki-laki itu menyeretku ke sebuah toko perhiasan sejurus kemudian.


***