WHAT'S WRONG WITH MY BODYGUARD?

WHAT'S WRONG WITH MY BODYGUARD?
#79



"Kumohon, Bu... Sudah berapa kali harus kukatakan, aku tidak ingin bertemu dengannya..."


Aku menempelkan telingaku pada daun pintu agar bisa mendengar suara Jathayu dengan lebih jelas. Laki-laki itu sedang berbicara di telepon dengan seseorang dan yang kudengar ia menyebut si penelepon dengan panggilan 'Bu'. Siapa yang ia maksud? Ibu panti ataukah ibu yang lain? Tapi, selama ini yang kutahu dan yang kudengar dari pengakuan Jathayu, laki-laki itu yatim piatu. Ia tidak memiliki ayah dan ibu. Ia ditinggalkan oleh orang tuanya di depan pintu panti asuhan ketika usianya masih sehari. Lalu siapa yang ia panggil dengan sebutan 'Bu' di telepon?


"Maafkan aku..."


Aku mendengar suaranya kembali usai terdiam beberapa saat. Sebuah permintaan maaf untuk sang penelepon. Tapi maaf untuk apa? Lalu siapa yang tidak ingin Jathayu temui?


Aku menunggu perbincangan selanjutnya, tapi tak ada suara lagi yang kudengar setelah itu. Mungkin percakapan mereka sudah berakhir. Jathayu tak memberi salam atau kata-kata perpisahan sebagai isyarat sebelum ia menutup sambungan telepon. Aku juga butuh sebuah kode agar aku tahu kapan waktunya untuk menjauhkan telinga dan tubuhku dari depan pintu kamar Jathayu.


Haruskah aku mengetuk pintu kamarnya lalu bertanya langsung pada laki-laki itu? Tapi dengan kalimat apa aku bertanya padanya? Apakah aku harus bertanya 'siapa kamu sebenarnya' atau 'apa selama ini kamu menipuku'?


Aku menjauhkan tubuh beserta tubuhku dari pintu kamar Jathayu yang tertutup rapat. Rasanya terlalu sulit untuk membuat pilihan. Bukannya aku tidak berani mengetuk benda itu lalu mengajukan pertanyaan padanya, tapi aku benar-benar tidak akan siap jika harus mendengar hal terburuk darinya. Katakanlah seandainya ia memang menipuku, maka kisah indah kami akan berakhir sampai di sini. Dan aku akan hancur untuk ke sekian kalinya. Aku sungguh tidak siap untuk itu.


Hati nuraniku menuntun langkah-langkahku pergi dari depan pintu kamar Jathayu. Mungkin aku harus menyiapkan mental sebelum menanyakan kebenaran padanya. Tapi tidak sekarang. Aku akan memilih waktu yang tepat. Mungkin aku harus menyusun sebuah strategi untuk menguak misteri ini perlahan.


Aku memutuskan beralih ke dapur ketimbang pergi ke kamarku sendiri. Malam ini akan menjadi malam yang berat untukku. Aku tidak akan mudah terlelap meski tubuhku lelah setelah seharian ini berjalan berkeliling mal bersama papa. Jadi, aku memutuskan untuk mengeluarkan sebuah kotak berisi puding dari dalam kulkas dan memindahkannya ke atas meja makan. Bik Inah sudah pulang sejak sore dan dapur akan menjadi sangat lengang di saat malam seperti ini. Jadi aku bisa leluasa menikmati puding buatannya tanpa khawatir akan terganggu.


Aku duduk dengan santai dan mulai menyuap puding cokelat buatan Bik Inah. Suasana sepi dan perut yang kenyang pasti akan membuatku segera mengantuk, pikirku begitu. Aku tidak perlu memikirkan banyak hal sebelum tidur nanti.


"Nona?"


Seperti biasanya, laki-laki itu akan mengejutkanku di saat-saat tidak terduga. Ia selalu muncul di saat aku sedang sendirian seperti sekarang.


"Kenapa di sini? Bukannya tadi kamu akan beristirahat?" tegur Jathayu yang kini telah berdiri di depan meja makan seraya menatapku dengan pandangan heran. Aku bahkan tak melihat ia keluar dari kamarnya karena terlalu asyik melamun sambil menyuap.


"Ya, tapi aku lapar," jawabku beralasan. "Kamu sendiri?"


Setidaknya aku merasa bersyukur karena ia tak perlu memergokiku sedang menempelkan telinga di pintu kamarnya tadi.


"Aku tadi mendengar sesuatu dan ingin memeriksanya..."


Dan sesuatu itu adalah ulahku, batinku.


"Apa kamu mau juga?" tawarku demi melanjutkan obrolan. Aku melirik ke arah kotak puding di hadapanku yang telah berkurang setengah.


"Aku tidak suka cokelat," tolaknya.


"Oh." Aku tidak akan memaksa. Kupikir kebanyakan kaum wanita menyukai semua makanan yang mengandung cokelat dan laki-laki sebaliknya.


"Baiklah. Habiskan pudingnya dan cepat tidur," ucapnya bermaksud mengakhiri percakapan kami. Ia hendak membalik tubuh, tapi tiba-tiba terbersit keinginan di kepalaku untuk mencegahnya pergi.


"Apa ibu panti masih meneleponmu?" tanyaku dengan cepat.


Apakah ia sadar kalau aku sedang menjebaknya?


"Kenapa tiba-tiba bertanya tentang ibu panti? Apa kamu mau kukenalkan padanya?" Jathayu membalas pertanyaanku dengan sangat baik setelah terdiam beberapa saat. Ia tampak sedang berusaha keras untuk terlihat tenang.


"Ya, tentu saja. Aku akan merasa senang bertemu dengannya. Mungkin kita bisa berkunjung ke panti dan membawakan hadiah untuk anak-anak di sana," ucapku seraya mengulas senyum.


"Apa kamu tidak keberatan pergi ke tempat seperti itu?" tanya Jathayu terkesan ragu, tapi ia malah membuatku merasa tertarik untuk segera berkunjung ke panti asuhan tempat ia dibesarkan.


"Kenapa mesti keberatan? Aku belum pernah pergi ke panti asuhan sebelumnya. Jadi, aku sangat antusias untuk pergi ke sana. Kapan kita akan pergi?"


"Kapanpun kamu mau."


Benarkah ia memberiku kebebasan untuk menentukan waktunya? batinku kaget. Apa ia tidak takut rahasianya akan terbongkar olehku?


"Bagaimana kalau besok?" pancingku bersemangat. Aku akan tahu tentang sebagian kebenaran dari dirinya jika Jathayu benar-benar mengajakku pergi ke panti asuhan itu.


"Besok?" ulangnya dengan ekspresi setengah kaget. Ia pasti tidak menduga jika aku akan mengajaknya lebih cepat dari perkiraan.


"Ya. Bagaimana?"


"Tapi kita tidak akan sempat untuk membeli sesuatu. Bukannya kamu ingin membawakan hadiah untuk anak-anak panti?"


Itu hanya alasan, batinku geram. Jathayu tidak bersungguh-sungguh ingin mengajakku pergi ke panti. Kebohongan apa lagi yang ia sembunyikan dariku?


"Kita bisa membeli sesuatu sebelum berangkat ke sana," ucapku tak ingin kehilangan akal. Aku adalah seorang wanita dan salah satu keahlian kaum kami adalah berbelanja. Aku bisa berbelanja dengan cepat dan pilihanku selalu yang terbaik. Menghabiskan uang adalah sesuatu yang menyenangkan untukku. "Bagaimana?"


"Terserah kamu."


"Benarkah?" tanyaku masih kurang percaya. Dengan begitu mudahnya Jathayu memberi persetujuan untukku.


"Lakukan apapun yang akan membuatmu bahagia, Nona," ucapnya sambil tersenyum. Tanda-tanda mencurigakan sama sekali tak kutemukan di wajahnya.


"Baiklah," sahutku seraya mengakhiri acara makan pudingku. "Aku akan tidur sekarang karena besok aku harus bangun pagi," tandasku.


"Aku juga akan tidur sekarang," ucap laki-laki itu sebelum akhirnya memutar tubuh dan berjalan kembali ke kamarnya.


Sementara aku masih membeku di tempat dudukku dan belum mengembalikan kotak puding ke dalam kulkas. Pikiran dan mataku menerawang ke arah sosok Jathayu yang bergerak menjauh.


Besok aku akan tahu salah satu kebenaran, tentang asal usul Jathayu. Rasanya aku sudah tidak sabar menunggu hari esok tiba.


***