
"Aku ingin pulang," ucapku lemas. Aku telah berdiri di depan mobil dan tak ingin menoleh lagi ke belakang. Apa gunanya menatap harapan yang telah berubah menjadi abu?
Jathayu terdiam sebentar sebelum akhirnya melepaskan jaketnya dan memasangkan benda itu di tubuhku. Udara sepertiga malam terakhir cukup menggigit persendian dan tadi aku sama sekali tidak melakukan persiapan sebelum keluar rumah. Pikiranku hanya tertuju pada butik saja.
Isi kepalaku kosonh dan aku hanya membuang tatapan ke sampaing ketika mobil yang dikemudikan Jathayu bergerak pelan meninggalkan lokasi kebakaran. Aku tak peduli sisa air mata yang masih membekas di pipiku. Angin pasti akan mengeringkannya nanti.
Apakah ini adalah hukuman untukku? batinku. Tapi kenapa seberat ini? Aku bahkan nyaris tak sanggup untuk menerima kenyataan bahwa hasil kerja kerasku selama bertahun-tahun lenyap tak bersisa hanya dalam hitungan beberapa jam. Pakaian-pakaian hasil rancanganku, gambar-gambar desain, koleksi pribadi, barang-barang pajangan, semuanya telah berubah menjadi abu. Tak ada jejak sama sekali yang tertinggal. Semuanya menghitam, hangus terbakar api yang asalnya entah dari mana.
"Kita sudah sampai."
Lamunanku belum tuntas ketika Jathayu memberitahu jika kami telah tiba di rumah. Perjalanan pulang kali ini terasa lebih cepat ketimbang saat kami berangkat menuju butik tadi. Mungkin itu hanya perasaanku saja.
"Apa yang terjadi, Lisa?" Mama menyambut kedatangan kami di depan pintu dengan wajah panik.
Aku mengamati wajah mama tanpa melontarkan sebaris jawaban pun. Lidahku seperti kelu. Dan pandangan mama beralih ke arah Jathayu. Ia bertanya pada laki-laki itu dalam diam.
"Butik terbakar." Jathayu angkat bicara.
"Apa?!" Wanita itu menjerit histeris. Ia lalu ganti menatapku dengan pandangan iba. "Benarkah itu?" Mama bertanya padaku. Padahal Jathayu sudah memberinya jawaban yang sesungguhnya.
Tanpa sadar kepalaku mengangguk pelan.
"Astaga... " desis wanita itu sambil menarik tubuhku ke dalam pelukannya. Aku bahkan sudah lupa kapan terakhir mama memelukku seperti ini. Mungkin belasan tahun silam. Namun, aku tak butuh perlakuan seperti iti sekarang.
"Aku tidak butuh dikasihani," ujarku seraya melepaskan pelukan mama. Wanita itu tampak terkejut melihat reaksiku.
"Talisa?" Ia bergumam lirih. Pandangannya sarat dengan pertanyaan. "Kenapa kamu berkata seperti itu, hah?"
"Aku sudah terbiasa melalui semuanya sendirian dan aku juga akan melewati semua ini sendirian," tandasku. Tak ada yang pernah menguatkan aku di saat aku terpuruk sekalipun. Sejak kecil aku dipaksa untuk bersikap tegar menghadapi apapun. Dan di saat aku kehilangan segalanya, aku juga akan bersikap sama. Meski aku tidak sekuat batu gunung, tapi aku berpura-pura baik-baik saja di depan mama.
Sepasang mata mama melebar menatapku. Ekspresi tak percaya kentara jelas tergambar di wajahnya.
"Bagaimana kamu bisa berkata seperti itu, Talisa? Mama tahu, mama memang tak banyak memiliki waktu untuk kamu, Lisa. Mana mungkin mama akan membiarkan kamu melewati semua ini sendirian?" Wanita itu mendesah pelan sebelum melanjutkan perkataannya. "Mama ingin memperbaiki hubungan kita, Lisa. Mama berusaha semampu mama. Tapi kamu tahu sendiri, mama tak memiliki banyak waktu luang. Mama ingin berhenti berdebat denganmu, Talisa."
Aku bergeming di tempatku berdiri. Kata-kata di kepalaku telah menguap, terbang entah ke mana.
"Kepalaku sakit. Aku akan istirahat," ucapku sebelum memutuskan untuk berlalu dari hadapan mama. Kedua kakiku yang nyaris tak bertenaga mengayun dengan gontai masuk ke dalam rumah.
Namun, aku terenyak ketika akan menaiki tangga. Tanpa kuduga, lenganku tiba-tiba dicekal dari belakang.
Laki-laki itu mengiyakan. Tatapannya mirip kepunyaan mama. Penuh dengan rasa kasihan.
"Lebih baik aku membantumu, Nona," ucapnya ngotot saat aku berusaha untuk melepaskan cekalan tangannya.
"Baiklah jika kamu memaksa." Aku menyerah bukan karena tak ada pilihan, tapi situasi yang memaksaku menerima bantuan dari Jathayu.
Aku membaringkan tubuh begitu sampai di kamar dan membiarkan Jathayu membentangkan selembar selimut untukku.
"Tinggalkan aku sendiri. Aku ingin istirahat," ucapku setelah laki-laki itu selesai membentangkan selimut di atas tubuhku.
"Apa kamu baik-baik saja?"
Aku melepaskan tawa sinis. Ia sudah bertanya hal itu tadi dan aku masih ingat dengan jawabanku.
"Jangan hiraukan aku," ujarku kasar.
"Istirahatlah. Panggil aku jika kamu butuh sesuatu," balasnya menawarkan diri.
"Pergilah." Aku sama sekali tidak tertarik dengan bantuan yang ia tawarkan.
Aku memejamkan kedua mata saat Jathayu mengayunkan kedua kakinya keluar dari kamarku. Laki-laki itu tampak lebih manusiawi ketimbang sebelumnya. Mungkin hati kecilnya merasa iba melihat penderitaanku. Namun, aku sama sekali tidak butuh dikasihani.
Tuhan pasti sedang menghukumku atas apa yang telah kuperbuat selama ini. Mencintai laki-laki yang sudah menikah dan berharap ia bercerai dengan istrinya merupakan hal terkutuk di muka bumi ini. Dan aku pantas mendapatkan hukuman ini.
Haruskah aku menghilang dari dunia ini agar semuanya bisa kembali seperti semula? Bram bisa memperbaiki rumah tangganya yang sempat terusik oleh kehadiranku dan aku mendapatkan harga yang pantas untuk menebus kesalahanku. Dengan begitu, tidak akan ada yang terluka. Semua pasti akan baik-baik saja jika aku menghilang.
Aku mengangkat kepalaku dari atas bantal ketika teringat sesuatu. Di dalam laci meja rias ada sebungkus obat sakit kepala dosis tinggi. Jika tak salah hitung, jumlahnya masih ada belasan butir. Mungkin sudah cukup untukku menghilang dari dunia ini.
Namun, benarkah aku aku harus melakukan ini agar bisa menghilang dari muka bumi? pikirku setelah menemukan bungkus obat yang kumaksud. Rasa ragu tiba-tiba bergayut meracuni pikiranku. Bagaimana jika aku pergi jauh dan memulai hidup yang baru? Menjadi seseorang yang baru di tempat tinggal yang baru. Menanggalkan identitas Talisa yang angkuh dan keras kepala, dan berubah menjadi Talisa yang berani menghadapi hidup. Seorang Talisa yang dengan tegas bisa menerima kenyataan. Tapi apa aku bisa?
Aku tahu ini tidaklah mudah. Terlalu sulit untuk menghapus nama Bram begitu saja dari hatiku, meski kenyataannya laki-laki itu telah mengabaikanku sekarang. Bram pasti lebih memilih wanita itu demi mempertahankan posisinya. Ia tak akan bisa hidup dalam kesederhanaan setelah sekian lama bergelimang kemewahan. Laki-laki itu telah menentukan pilihannya dan bukan aky yang ia pilih untuk menemani sisa hidupnya. Aku hanyalah mainan baginya, yang akan ia buang begitu saja saat telah bosan. Aku tak lebih berharga dari apapun juga. Seperti itulah diriku.
Hatiku terlalu sakit. Bagaimana aku akan menjalani hidup setelah hari ini? Jika aku pergi ke tempat yang jauh, apakah aku bisa melupakan semuanya seolah tak pernah terjadi apa-apa? Apakah hari-hariku tidak akan tampak lebih mengenaskan dan kesepian ketimbang sebelumnya?
Manakah yang harus kupilih?
***