WHAT'S WRONG WITH MY BODYGUARD?

WHAT'S WRONG WITH MY BODYGUARD?
#37



Sekarang aku baru percaya jika uang dan kekuasaan bisa mengubah hidup seseorang dalam sekejap. Kenyataan terkadang lebih menyakitkan dari yang kita duga.


"Setelah semua yang terjadi, kenapa kamu masih menemuinya?" tegur Jathayu mengusik kebisuanku.


Sejak meninggalkan cafe, aku terus menerus membuang tatapan keluar jendela sembari berpikir banyak hal. Aku tidak tahu bagaimana cara Jathayu bisa menemukanku padahal tadi aku keluar rumah tanpa sepengetahuannya. Mungkinkah ia memasang alat pelacak pada mobilku?


"Bukannya kamu tidak suka mengobrol saat menyetir?" balasku seraya melirik laki-laki itu.


"Jawab saja pertanyaanku," tegasnya. Nada suaranya seperti orang yang sedang marah. Tentu saja, karena aku tadi pergi diam-diam untuk menemui Bram.


Aku kembali menatap keluar jendela dan membuang napas dengan kasar.


"Aku tidak suka membahas hal itu sekarang." Aku bergumam malas.


"Kamu masih mengharapkan dia?" cecar Jathayu.


Mengharapkan apanya? batinku.


"Kamu tenang saja, aku sudah melepaskan obsesiku padanya," tandasku sambil mengarahkan pandangan ke wajah Jathayu sebentar. Laki-laki itu perlu kuyakinkan sebelum pikirannya berkembang ke mana-mana.


Ia diam selama beberapa detik. Tampangnya serius. Mungkin Jathayu sedang berusaha keras untuk mencerna maksud kalimatku.


"Kurasa aku telah mendapatkan harga yang pantas atas semua perbuatanku," ucapku kemudian.


Wanita itu benar-benar memenuhi ancamannya. Kupikir ia sedikit kejam, tapi ia sudah berhasil membuatku kalah telak. Bram akhirnya kembali tunduk pada wanita itu dan aku kehilangan butik. Semuanya telah kembali ke tempat semula.


"Apa kamu baik-baik saja?"


Sesungguhnya tidak. Selain itu aku masih belum memercayai semua ini bisa menimpaku.


"Jangan mencemaskanku. Aku baik-baik saja," ujarku tanpa menoleh. Sejujurnya aku takut Jathayu bisa menangkap secercah rasa kecewa dan putus asa yang tergambar di wajahku saat ini.


Tak terdengar sahutan sama sekali dari sebelah tubuhku. Laki-laki itu tidak menyambung obrolan kami dan memilih untuk diam sepanjang sisa perjalanan pulang.


Aku bergegas melangkah menuju ke kamar setelah mobil yang kami tumpangi tiba di depan rumah. Aku ingin segera mengurung diri sendiri di dalam kamar dan merenungkan semua yang terjadi. Mungkim juga mengenang momen-momen membahagiakan bersama Bram.


Namun, bisakah aku melewati hari-hariku tanpa kehadiran laki-laki itu? Meski aku pernah bilang jika aku sudah melepaskan obsesiku padanya, tapi tetap saja hatiku bisa mengatakan sebaliknya.


Oh.


Aku terperangah ketika tiba-tiba pintu kamarku didorong dari luar tanpa pemberitahuan sebelumnya. Jathayu bersikap lancang lagi entah untuk ke berapa kalinya. Sikapnya membuatku jengah.


"Bukankah aku sudah pernah bilang untuk mengetuk pintu dulu sebelum masuk?" hardikku kesal.


Namun, apa yang dilakukannya benar-benar mengejutkan. Laki-laki itu berjalan ke arahku dan tiba-tiba menarik paksa tubuhku ke dalam pelukannya.


"Kamu tidak tahu betapa aku sangat mencemaskanmu," ujar Jathayu setengah berbisik.


Apa-apaan ini? batinku bingung. Tapi, sejujurnya aku merasa nyaman berada dalam pelukan laki-laki itu. Dadanya terasa hangat dan aku bisa mendengarkan bunyi jantungnya yang berdentum begitu keras di telingaku. Sementara lengan-lengan kokohnya melingkar erat di punggungku.


"Apa kamu sudah tidak waras?" hardikku usai Jathayu melepaskan tubuhku dengan sukarela. Wajahnya terlihat lebih kalem ketimbang sebelum-sebelumnya.


"Aku hanya takut kamu akan kembali pada laki-laki itu meski dia sudah melukaimu."


"Kenapa?" tukasku cepat. Aku memicing curiga ke arahnya. Jathayu tampak sangat berbeda dari yang kulihat biasanya. "Jangan katakan kalau kamu menyukaiku... " Aku berharap ini tidak benar seperti dugaanku, tapi anggukan kepala Jathayu seakan-akan ingin mematahkan pemikiranku tentangnya.


"Ya, aku menyukaimu," tandasnya tanpa rasa canggung sama sekali. Ia pasti sudah lupa kalau aku adalah majikannya.


"Aku bersungguh-sungguh... "


"Tapi kamu bukan tipeku." Aku menukas kembali.


Jathayu memang tampan dan memiliki postur tubuh yang sempurna. Ia tinggi dan atletis. Lengannya juga kokoh. Aku yakin banyak yang mau menjadi kekasihnya. Tapi bukan aku.


Aku menyukai sosok seperti Bram. Laki-laki itu dewasa, lembut, dan hangat. Memang, aku merasa aman ketika berada di dekat Jathayu, tapi aku merasa jauh lebih nyaman saat bersama Bram. Entah itu obsesi atau bukan, aku tidak tahu.


"Aku tahu" balasnya dengan wajah tenang.


Syukurlah jika ia tahu, batinku. Akan lebih baik kalau Jathayu tidak menaruh harapan padaku.


"Tapi... sejak kapan kamu menyukaiku?" Aku memang tak memiliki perasaan spesial pada Jathayu, tapi aku juga mempunyai rasa ingin tahu yang harus dipenuhi.


"Sejak pertama kali aku melihatmu."


Kurasa laki-laki itu terlalu terbuka soal perasaannya sekarang. Pengakuannya juga cukup mengejutkan.


"Apa mama tahu hal ini?" Aku masih ingin menggenapi rasa ingin tahuku.


Jathayu menggeleng sambil menggumamkan kata tidak. Lagi-lagi aku bersyukur karena mama masih belum mengendus perasaan Jathayu.


"Sebaiknya jangan berharap banyak padaku," tandasku.


"Apa terlalu sulit untuk menyukaiku?"


Laki-laki itu berhasil membuatku ternganga dengan kalimatnya. Apa ia terlalu percaya diri dengan penampilan fisiknya sehingga aku harus menyukainya? Orang lain mungkin akan jatuh cinta begitu melihat sosok Jathayu, tapi iti tidak berlaku bagiku.


"Kenapa aku harus menyukaimu?" tanyaku dengan nada sinis.


Jathayu bergeming. Bibirnya terkatup rapat.


"Apa baru pertama kali ini kamu ditolak?" tanyaku karena tak tahan melihat sikapnya.


"Aku tidak pernah menyatakan perasaanku pada siapapun sebelum ini," ujarnya. Entah pengakuannya bohong atau jujur, kurasa hanya Jathayu dan Tuhan saja yang tahu. Karena laki-laki setampan Jathayu mustahil tak memiliki pasangan. Jika ia mau, banyak wanita di luar sana yang rela menyerahkan hidupnya demi seseorang seperti Jathayu.


"Kamu membuatku geli," ujarku sambil mengembangkan tawa hambar. "Tidak ada satupun yang akan percaya dengan ucapanmu, kamu tahu? Mana mungkin kamu tidak pernah menyukai seseorang.... "


"Apa aku tampak seperti seorang pembohong?"


"Bram juga tidak tampak seperti seorang pembohong, Jathayu. Perasaannya juga tulus padaku. Tapi, kamu lihat sendiri, kan? Akhirnya kami berpisah dan saling menyakiti. Bukankah cinta selalu seperti itu?"


"Tidak semua laki-laki seperti yang kamu pikirkan Talisa," tukasnya menyangkal pendapatku.


"Jadi... maksudnya kamu ingin bilang bahwa kamu berbeda, iya?" tebakku. Dan Jathayu diam tak memberi jawaban pasti. "Meskipun kamu berbeda dari Bram atau kebanyakan laki-laki lainnya, tapi aku sama sekali tidak tertarik untuk menjalin hubungan denganmu atau siapapun. Apa kamu mengerti?"


Laki-laki itu menghela napas berat. Bibirnya tetap diam, tak ingin menyampaikan sesuatu untuk menyanggahku.


"Sebaiknya kamu pergi sekarang. Aku ingin istirahat," usirku tiga detik setelah ia memilih untuk tetap diam. Ia membuat suasana hatiku bertambah buruk jika terus-terusan berada di sana.


"Panggil aku jika kamu butuh sesuatu," ucapnya sebelum membalik tubuh.


Tidak akan, jawabku dalam hati.


***