
Aku berjalan mondar mandir di depan pagar rumah seraya mengusap-usap kedua lenganku ketika hawa dingin mulai turun menyapa. Hari telah malam dan angin berembus agak kencang mengusik persendian. Seharusnya aku memakai sesuatu yang lebih tebal dari yang kupakai sekarang. Jaket atau cardigan pasti bisa sedikit menahan dinginnya udara malam. Atau hoodie pasangan yang kubeli saat jalan-jalan di mal waktu itu? Pasti akan menyenangkan saat memakainya bersama-sama dengan Jathayu.
Sesekali kedua mataku mencuri tatap ke ujung jalan dengan diliputi perasaan resah tak keruan. Pasalnya sejak siang tadi Jathayu belum kembali dan aku tak bisa untuk berhenti mencemaskannya.
Beberapa menit yang lalu aku sudah mencoba untuk menghubungi nomor teleponnya, tapi tidak aktif. Meski mama mengatakan jika Jathayu mungkin masih berada di bengkel, tetap saja hatiku merasa tidak tenang. Terlebih lagi ponselnya mati. Aku takut jika sesuatu terjadi padanya. Sungguh, aku tidak tahu bagaimana harus hidup jika tanpa Jathayu.
Apakah perasaan ini terlalu berlebihan padanya?
Harapanku seketika membuncah ketika ekor mataku menangkap kilatan cahaya dari ujung jalan dan perlahan mendekat ke tempatku berdiri mematung. Itu pasti dia, batinku optimis. Aku hafal betul bentukan mobil mama meski dari kejauhan sekalipun. Ada sebuah boneka beruang kecil berwarna ungu yang menggantung di kaca depan mobil mama. Dulu aku yang menggantung benda itu di sana dan mama masih membiarkannya tetap menggantung di sana sampai sekarang.
Dan aku benar. Itu memang mobil mama.
Jathayu menepikan mobilnya lalu turun begitu melihatku berdiri di depan pagar.
"Apa yang sedang kamu lakukan di sini? Kamu menunggu kurir makanan?" sapa laki-laki itu setelah sampai di depan tempatku berdiri menunggunya. Ia bahkan sempat mengedarkan pandangan ke sudut jalan seperti yang tadi kulakukan seakan benar-benar sedang menunggu seorang kurir makanan datang.
"Aku menunggumu," ujarku tanpa menutupi fakta yang sebenarnya. Tidak ada waktu untuk berbasa basi di saat seperti ini.
"Menungguku?" ulangnya dengan nada heran.
"Uhm." Aku mengiyakan dengan satu gumaman kecil.
"Kenapa mesti menungguku? Aku tadi menunggu mobilnya diperbaiki jadi agak lama," tandasnya. Ya, bahkan hampir seharian. Ia pasti tampak seperti orang bodoh saat menunggu mobil mama diperbaiki selama berjam-jam lamanya.
"Itu bukan agak lama, Jathayu. Tapi sangat lama. Kamu tahu, aku sangat mencemaskanmu."
Kenapa ia belum paham juga? batinku kesal.
"Nona," Ia mencengkeram lenganku dan menusukku dengan tatapan elangnya. "Tidak perlu mencemaskanku. Kalau terjadi sesuatu denganku, aku pasti akan memberitahumu."
"Benarkah?" tanyaku menyangsikan ucapannya.
"Ya, tentu saja."
"Tapi kenapa kamu mematikan ponselmu?"
"Oh...tadi baterai ponselku habis," ucapnya setelah melepaskan kedua lenganku.
"Kenapa tidak mengisi daya di bengkel kalau baterai ponselmu habis?" desakku karena ucapannya tak bisa kupercayai sepenuhnya. Pemilik bengkel atau karyawan di sana pasti bisa membantu jika hanya untuk mengisi daya ponsel.
"Aku tidak sadar kalau baterai ponselku habis," ucapnya.
Begitukah? Namun, kenapa hatiku merasa janggal dengan apa yang diucapkan Jathayu?
"Lalu kenapa kamu tidak pulang saja daripada menunggu di sana seharian? Kamu bisa memberitahu mama kalau mobilnya sedang diperbaiki." Aku masih terus mendesaknya. Apa ia sesabar itu hanya untuk menunggu mobil mama diperbaiki? Lagipula mama juga tidak mungkin marah meskipun Jathayu meninggalkan mobilnya di bengkel.
Jathayu malah mengukir senyum di bibir.
"Maaf. Kalau aku tahu kamu akan semarah ini, aku pasti tidak akan menunggu mobilnya diperbaiki."
"Tapi nada suaramu meninggi, Nona."
"Ya, tapi aku tidak marah," tukasku tidak mau kalah.
"Baiklah, baiklah. Aku tidak akan menganggapmu marah padaku..."
Aku mendengus kasar. Laki-laki itu menyebalkan.
"Apa kamu sedang merayuku?" sungutku.
"Tidak, aku tidak sedang merayumu, Nona. Lagipula tanpa merayumu pun, kamu sudah jatuh cinta dengan sendirinya padaku. Aku benar, kan?" Jathayu malah menggodaku sekarang. Laki-laki itu berpura-pura sedang memasang wajah culas di hadapanku. Menggelikan.
"Ya, tapi kamu yang lebih dulu jatuh cinta padaku. Apa kamu mau menyangkalnya?" balasku tak kalah sengit. Aku juga terpancing memasang wajah angkuh di depannya.
"Tidak, aku tidak akan menyangkalnya. Lagipula tidak ada yang bisa menyangkal pesonamu, Nona," bualnya membuatku tergelak.
"Benarkah?" tanyaku setelah berhasil menyingkirkan tawa dari bibirku.
"Tentu saja."
"Baiklah. Aku percaya," ucapku menyudahi omong kosong di antara kami. "Masukkan mobilnya dan cepat makan," suruhku sebelum akhirnya membalik tubuh dan pergi dari hadapan Jathayu. Ia pasti lelah setelah seharian berada di bengkel. Mungkin juga ia kelaparan dan aku segera mengakhiri percakapan kami agar laki-laki itu bisa segera beristirahat.
"Baiklah, Nona."
Sebagian hatiku merasa lega setelah melihatnya kembali, tapi sebagian hatiku yang lain merasa ada sesuatu yang ia sembunyikan dariku. Namun, benarkah Jathayu berbuat seperti itu padaku?
Astaga!
Aku telah melupakan sesuatu. Bukankah tadi aku ingin bertanya pendapat Jathayu soal tawaran papa yang ingin mengajakku makan malam? Kenapa aku malah lupa setelah berbagi canda dengan laki-laki itu?
Aku memutar langkah dan kembali ke depan dengan maksud ingin menemui Jathayu dan meminta pendapatnya. Meski nanti ia akan menganggap pendapatnya tak penting, aku tidak peduli. Aku tidak bisa memutuskan hal ini sendiri. Apakah aku harus menerima tawaran papa atau tidak.
Langkahku melambat lalu akhirnya berhenti pada satu pijakan ketika aku gagal menemukan sosok Jathayu di sekitar pintu pagar. Padahal aku baru saja meninggalkannya dan belum semenit, tapi laki-laki itu seperti menghilang begitu saja dari tempatnya berdiri. Ia juga belum memasukkan mobil mama ke garasi. Lalu di mana laki-laki itu?
"Ja..."
Kalimatku tersendat di tenggorokan. Aku baru saja ingin berteriak memanggil nama laki-laki itu, tapi ekor mataku buru-buru menemukan sosok Jathayu sedang berdiri di tepi jalan. Ia berada beberapa jengkal dari pintu pagar dengan tangan sedang menggenggam ponsel. Tatapannya lepas ke satu titik di seberang jalan. Rautnya tak terlalu kentara karena cahaya lampu tak jatuh tepat di wajahnya.
Darahku terkesiap. Bukankah tadi Jathayu bilang baterai ponselnya habis? Tapi apa yang dilakukan laki-laki itu di sana? Apa ia telah membohongiku?
Tubuhku tiba-tiba lemas. Aku nyaris ambruk jika tak cepat menguasai diri dan menumpukan tanganku pada batang pohon yang tumbuh di halaman rumah kami yang sempit. Setidaknya batang pohon itu bisa menyangga berat tubuhku agar tak terjatuh ke tanah meski ia masih berusia beberapa tahun dan masih belum begitu besar. Dadaku kembali terguncang setelah beberapa waktu lalu seperti terkena serangan jantung karena kemunculan ayah kandungku.
Apa Jathayu sedang menipuku?
***