WHAT'S WRONG WITH MY BODYGUARD?

WHAT'S WRONG WITH MY BODYGUARD?
#20



"Mama ingin bicara denganmu, Lisa."


Oh.


Aku merasa sedikit terkejut ketika melangkah masuk ke dalam ruang tamu dan mendapati mama sedang duduk di atas sofa. Ia tampak menungguku. Hal seperti ini memang jarang terjadi mengingat kesibukan mama yang luar biasa sebagai seorang pengacara. Terlebih akhir-akhir ini. Kami bahkan tak bertemu beberapa hari belakangan.


"Tapi sayangnya aku tidak ingin bicara dengan mama," balasku dengan sengaja. Memangnya apa yang ingin dibicarakannya denganku selain tentang hubunganku dengan Bram? Paling-paling perbincangan kami nantinya akan berujung pada perdebatan sengit seperti yang sebelumnya sering terjadi.


"Apa wanita itu datang menemuimu?"


Pertanyaan mama seketika menahan gerakan kakiku yang hendak melangkah meninggalkan ruang tamu.


"Apa Jathayu yang memberitahu mama?" tanyaku seraya mengarahkan pandangan padanya. Satu-satunya orang yang layak untuk dijadikan tersangka utama adalah Jathayu karena ia adalah kaki tangan mama. Dini dan Eka tidak mungkin berani berkhianat di belakangku. Lagipula mereka berdua tidak tahu menahu dengan siapa aku menjalin hubungan.


Mama tak menjawab pertanyaanku. Wanita itu mengangkat tubuh dari atas sofa lalu mendekat ke arah tempatku berdiri.


"Apa itu penting buatmu?" tanya mama dengan nada rendah. Ia menelusuri wajahku untuk mencari seberapa banyak perasaan bersalah yang bisa kutunjukkan di depannya.


Memang Jathayu-lah orangnya. Sepasang mata mama membenarkannya.


"Apa mama senang jika pada akhirnya wanita itu datang menemuiku?"


"Mama sudah memperingatkanmu agar menjauhi laki-laki itu, kan?"


"Aku mencintainya, Ma."


"Jangan bertindak bodoh, Talisa!" Suara mama melengking menggema di segenap penjuru ruang tamu. "Kamu tidak tahu siapa yang sedang kamu hadapi sekarang."


"Wanita itu?" tanyaku tak yakin. Istri Bram memang mengancamku dan sejujurnya aku sedikit takut jika ia benar-benar melakukan sesuatu terhadapku. Namun, ketakutan terbesarku adalah kehilangan Bram.


"Dia punya segalanya, Talisa. Wanita itu punya harta dan kekuasaan. Dan dia tidak akan segan-segan bertindak tegas pada orang yang berani mengusik kehidupannya," ungkap mama membuatku tercekat. Istri Bram memang tidak tampak seperti kebanyakan wanita biasa. Barang-barang bermerk nan mahal yang menempel di tubuhnya sudah cukup menjelaskan dari kalangan mana ia berasal. Tak heran jika ia sanggup melakukan apapun dengan harta dan kekuasaan yang ia miliki.


Aku bergeming, menerawang ke satu sudut di belakang punggung mama. Bagaimana jika istri Bram benar-benar serius dengan ancamannya?


"Mama takut dia akan menyakitimu, Lisa." Mama bersuara, kali ini dengan nada rendah. Sepasang matanya menyiratkan rasa cemas yang tak terukur seberapa dalam.


"Tapi ada Jathayu... "


"Meski ada Jathayu, bukan berarti kamu aman dari wanita itu."


"Lalu untuk apa mama membayar Jathayu jika dia tidak bisa melindungiku?"


"Dengar," Mama menarik napas panjang. "mama membayar Jathayu untuk menjauhkan kamu dari laki-laki itu, kamu masih ingat, kan?"


"Dan usaha mama berhasil," sahutku dengan setengah bergumam. Berkat pengawalan ketat Jathayu, aku tidak bisa menemui Bram.


"Aku tahu," timpalku kesal. Mendengar kalimat itu membuatku mual.


"Lalu kenapa kamu tidak segera mengakhiri hubungan kalian, hah?" seru mama tak kalah kesal. "Jangan katakan kalau kamu mencintainya. Mama sudah muak mendengarnya."


Aku tahu. Saat ia mengucapkan kalimat itu, bahkan mama membuang wajahnya. Ia sangat membenci Bram.


"Berhentilah bertindak egois, Talisa." Akhirnya mama menyentuh pundakku setelah kami saling terdiam beberapa saat. Berperang dalam kebisuan. "Jangan berlindung di balik masa kecilmu. Semua orang tahu kalau kamu tidak mempunyai ayah sejak kecil, tapi jangan menjadikan itu sebagai alasan untuk membenarkan tindakanmu. Bukan hanya kamu satu-satunya orang menderita di dunia ini. Masih banyak orang yang memiliki masa kecil yang jauh lebih buruk darimu dan mereka tidak bertindak sepertimu. Jangan merebut kebahagiaan orang lain demi dirimu sendiri, Lisa. Kamu sudah menghancurkan perasaan orang lain, kamu tahu? Mama tidak ingin kamu menyakiti diri sendiri. Pada akhirnya kamu juga yang akan terluka, Talisa," urai mama panjang.


"Aku sudah terluka sepanjang hidupku dan satu lagi luka tidak akan banyak berpengaruh... "


"Astaga. Kenapa kamu berkata seperti itu, hah?" Mama mendesis geram. Wanita itu mencekal lenganku kuat-kuat seolah ingin menancapkan kuku-kukunya ke dalam kulitku. "Sadarlah, Talisa. Berapa kali mama harus katakan padamu, laki-laki itu bukan untuk kamu. Lupakan obsesimu untuk memilikinya, mengerti?"


"Kenapa mama masih berpikir kalau aku terobsesi pada Bram? Itu bukan obsesi, Ma," tandasku. Aku melepaskan cekalan wanita itu sebelum kulitku benar-benar terluka olehnya. Aku sudah tidak memerlukan sosok ayah dalam hidupku. Aku hanya perlu sandaran dan kasih sayang dari seorang laki-laki. Dan itu berbeda dari yang mama pikirkan selama ini tentangku.


"Obsesi atau bukan, kamu tetap harus melepaskan laki-laki itu dari pikiranmu, Lisa. Mama tidak ingin sesuatu terjadi padamu... "


"Bagaimana jika pada akhirnya Bram memilihku?" pancingku meski aku tahu ini akan memicu amarah mama. "Bagaimana jika Bram memutuskan untuk menceraikan wanita itu dan memilihku?" Aku memperjelas pengandaian yang terdengar mustahil itu. Namun, jika Tuhan berkehendak, kemungkinan itu bisa saja terjadi.


"Jangan pernah bermimpi," desis mama tampak kesal. Namun, yang melegakan adalah wanita itu tidak berteriak seperti yang ia lakukan tadi.


"Kenapa?"


"Mama tidak akan pernah merestui kalian berdua," tandasnya tegas. "Lagipula mustahil laki-laki itu bersedia melepaskan semuanya dan memilihmu. Dia harus berpikir seribu kali untuk meninggalkan wanita itu," ucap mama seolah tahu segalanya. Aku yakin ia hanya menduga-duga.


"Apa mama tidak ingin melihatku bahagia?"


"Mama sangat ingin melihatmu menikah dan hidup bahagia, Talisa. Tapi bukan dengan laki-laki itu, mengerti?"


"Apa menurut mama laki-laki itu tidak layak untukku meski dia sudah bercerai?" pancingku sekali lagi.


"Kumohon, Talisa... " Mama tampak jengah dengan pertanyaanku. "Kenapa kamu terus bicara tentang laki-laki itu, hah? Asal kamu tahu, mama tidak akan pernah merestui kalian berdua sekalipun dia sudah bercerai dari istrinya, mengerti?"


"Kenapa? Apa karena dia jauh lebih tua dariku?"


"Ya!" teriak mama. Wanita itu sudah kehilangan kesabaran. "Mama tidak suka melihatmu bersama laki-laki yang jauh lebih tua. Apa kamu sudah puas dengan jawaban mama?"


Aku mengangguk pelan. Aku tidak akan terkejut mendengar jawaban semacam itu.


"Pergilah ke kamarmu," usir mama dengan suara halus. "Kapan-kapan mampirlah ke rumah sakit. Dokter Sabrina ingin bicara denganmu," ucap mama saat aku berhasil menapaki anak tangga pertama.


Wanita itu berhasil membuatku membeku beberapa detik lamanya. Apa mama masih menganggapku tidak waras? batinku sebelum kembali melanjutkan langkah.


***