
"Dia mengalami stres berat dan kelelahan."
Suara pelan yang tertangkap indra pendengaran membuatku terjaga dari tidur panjang. Aku membuka mata dan hal pertama kali yang kulihat adalah sebuah lampu yang menempel di langit-langit ruangan dan sebuah tabung infus yang menggantung di atas kepala membuatku semakin meyakini jika tempatku berada sekarang adalah rumah sakit.
Tatapanku berlanjut ke sekeliling ruangan dan aku berhasil menemukan punggung Jathayu yang terbungkus selembar jaket abu-abu gelap. Dari sanalah sumber suara tadi berasal. Laki-laki itu berdiri persis di sebelah pintu. Posisinya membelakangi tempat tidur yang kutempati. Ia tampak sibuk berbicara dengan seseorang di telepon dan tidak sadar jika aku sudah membuka mata.
Aku ingat semuanya. Pagi tadi aku pingsan ketika akan menaiki tangga. Sedianya aku bermaksud ingin kembali ke kamar usai berbicara dengan Jathayu, tapi tubuhku tidak bisa kukendalikan. Aku ambruk sebelum sempat mencapai anak tangga. Tidak biasanya aku selemah itu. Energiku seperti terkuras habis setelah menangis semalaman.
"Ya, baik. Saya akan menjaganya."
Jathayu kembali berbicara sebelum mengakhiri sambungan telepon. Aku menebak ia baru saja berbincang dengan mama.
"Kamu sudah sadar?" sentak laki-laki itu setelah membalik tubuh dan menyadari kondisiku. Ia buru-buru memasukkan ponselnya ke dalam saku dan segera menghampiri tempat tidurku.
"Berapa lama aku pingsan?" tanyaku dengan nada paling rendah. Tenagaku belum pulih sepenuhnya meski cairan infus terus mengalir ke tubuhku. Namun, kepalaku sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Mungkin juga aku sudah bisa berjalan keluar dari ruangan ini tanpa khawatir akan keseimbangan tubuhku.
"Kamu pingsan seharian," beritahu Jathayu setelah menarik sebuah kursi lalu mendudukinya. "Apa kamu butuh sesuatu?" tawarnya cepat. Sisa-sisa kecemasan masih terlihat di wajah laki-laki itu.
Bahkan Jathayu sama sekali tidak berubah. Ia masih menyimpan tatapan elang itu di dalam sepasang matanya dan terkadang membuatku enggan untuk balas menatapnya. Laki-laki itu juga masih setampan dulu. Ah, jangka waktu sebulan tak akan bisa merubahnya sedemikian rupa. Perlu waktu bertahun-tahun untuk membuat fisiknya berubah.
"Apa yang dokter katakan padamu?" Aku hanya ingin memastikan jika pendengaranku masih berfungsi dengan baik. Bahwa seseorang yang ia katakan mengalami stres berat dan kelelahan adalah aku.
Aku tidak akan terkejut dengan diagnosa dokter. Sekalipun dokter mengatakan aku sudah tidak waras atau mengalami gangguan mental, aku bisa memakluminya. Aku tidak stabil. Aku sudah pernah mengatakan hal itu sebelumnya.
"Kamu hanya kelelahan, Nona," jawab Jathayu. Namun, ia menyembunyikan satu hal lagi dariku. Tampaknya ia tidak ingin menyinggung perasaanku. "Nyonya akan datang sebentar lagi," beritahunya.
"Pulanglah. Aku baik-baik saja di sini," ucapku sejurus kemudian. Karena setiap kali aku melihat laki-laki itu, hatiku akan patah lagi. Aku juga tak mau berdebat dengannya di tempat seperti ini. Kondisiku benar-benar tidak menguntungkan untuk mengumbar emosi.
"Aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian di sini. Aku sudah berjanji untuk menjagamu... "
"Apa semua tindakanmu atas perintah mama? Atau kamu bersedia melakukan semua itu demi uang?" desakku. Padahal tadi aku sudah bertekad untuk menjauhkan diri dari perdebatan, tapi nuraniku merasa terusik oleh kalimatnya.
Sesaat aku melihat ekspresi terkejut di wajah laki-laki itu. Sorot matanya bertanya dalam diam.
"Apa maksudmu? Aku sama sekali tidak mengerti." Kali ini ia memasang wajah bingung.
Aku memaksakan seulas senyum pahit di bibirku yang terasa kering. Baiklah, aku memutuskan akan berterus terang kali ini.
"Mama menyuruhmu untuk mendekatiku, kan?"
"Apa?" Jathayu tampak kaget. Kedua matanya sempat melebar beberapa saat. "Kamu pasti salah paham, Nona."
"Lalu kenapa kamu bilang padaku kalau kamu menyukaiku? Dan setelahnya kamu pergi tanpa pamit. Bahkan kamu tidak pernah menghubungiku satu kali pun?" Aku menjerumuskan diri sendiri masuk dalam perdebatan. Emosi yang mulai merambat naik ke kepala, agaknya memberiku sedikit limpahan energi untuk menguatkan suara.
Jathayu tertegun. Mulutnya bahkan ternganga tanpa satu kata pun yang terucap.
"Bukannya kamu yang menginginkan aku pergi? Haruskah aku menghubungi seseorang yang sama sekali tidak mengharapkan kehadiranku?" Laki-laki itu melancarkan jurus tatapan elangnya ke arahku.
"Kamu juga tidak pernah menghubungiku, Nona." Jathayu berucap kembali di saat aku sibuk introspeksi diri. "Kupikir kamu benar-benar membenciku saat itu."
Apakah sikapku saat di vila sama sekali tak bisa terbaca olehnya? Di saat hatiku mulai melunak usai aku dan Jathayu berbagi kisah masa kecil kami yang penuh dengan kesuraman. Rasa simpati mulai tumbuh di hatiku untuk laki-laki itu. Hanya saja aku masih belum bisa menelaah perasaanku dengan baik. Namun, semua tampak lebih jelas ketika Jathayu pergi dari kehidupanku. Rasa sakit kehilangan dirinya teramat sangat menyiksa dan hampir membuatku kehilangan kewarasan. Dan aku memilih untuk membohongi diri sendiri demi bisa bertahan melewati semuanya.
"Lalu untuk apa mama menyuruhmu kembali?" Rasa ingin tahuku terlalu besar tentang ini. Tak ada yang perlu mama khawatirkan tentangku karena Bram sudah enyah dari pikiranku. Apa jangan-jangan mama memanggil Jathayu demi menjauhkanku dari ayah kandungku yang tiba-tiba muncul? Namun, mama pernah mengatakan aku bukanlah seorang anak kecil yang bisa dibawa pergi sesuka hatinya.
"Untuk menjagamu."
"Menjaga dari apa?" tukasku tak sabar. "Apa yang mama takutkan dariku?"
"Nyonya hanya mengatakan agar aku menjagamu."
"Itu saja?"
Laki-laki itu mengangguk penuh keyakinan.
"Jika mama tidak menyuruhmu untuk kembali, apa kamu juga tidak akan kembali? Apa kamu tidak ingin melihatku sekali saja?" desakku. Masih banyak pertanyaan di dalam kepalaku.
Jathayu mendesah. Sorot matanya masih terarah lurus ke wajahku.
"Apa kamu masih marah padaku?" tanya laki-laki itu seolah sengaja ingin menghindari pertanyaanku.
Aku mengembuskan napas kesal.
"Aku butuh jawaban, Jathayu," ucapku.
"Apa kamu ingin aku kembali?"
Astaga! Sifat lamanya muncul lagi ke permukaan. Di saat seperti ini aku hanya ingin penjelasan, bukan pertanyaan yang akan membuat darahku merambat naik.
"Kenapa aku harus menginginkanmu kembali?" balasku geram.
"Kupikir aku punya sedikit tempat di hatimu," tandasnya kalem. Ia terlihat sedang menebak-nebak.
Akhirnya senyum getir terbit di bibirku. Aku benar soal 'laki-laki selalu tidak pernah peka'.
"Apa kamu menginginkan sedikit ruang di dalam hatiku?" pancingku.
"Ya, tentu. Karena kamu sudah menempati seluruh ruang dalam hatiku. Jadi, setidaknya aku ingin punya tempat dalam hatimu, walaupun cuma sedikit."
Kamu sudah menempati ruang dalam hatiku, Jathayu.
***