
Mungkin ada benarnya pepatah yang mengatakan 'setiap orang berhak atas kesempatan kedua'. Tak terkecuali papa.
Selama kami duduk berhadapan dan menikmati makan siang, binar bahagia terus terpancar dari sepasang telaga milik papa. Rautnya juga tampak lebih baik dari yang kulihat malam itu.
"Apa kamu mau tambah lagi?" tawar papa ketika pandangannya jatuh ke atas piringku yang nyaris kosong. Pasta di tempat ini cocok dengan seleraku, lagipula sudah lama aku tidak mencicipinya. Tapi bukan berarti aku mau menambah satu porsi lagi. Makanan penutup yang baru saja disajikan seorang pelayan sudah cukup membuatku kenyang nanti.
"Tidak," jawabku.
"Apa yang kamu lakukan selama ini? Apa kamu bekerja?"
Setelah berbasa basi sebentar pada awal pertemuan kami, selanjutnya tak ada perbincangan berarti karena selain masih merasa canggung, aku juga bingung harus membahas apa. Percakapan malam itu sudah lebih dari cukup bagiku. Dan aku memilih untuk menikmati makan siangku sebagai cara untuk menghilangkan rasa canggung.
"Sebelum ini iya," balasku usai meletakkan sendok dan garpu di atas piring. Aku meneguk air bening di dalam gelas sebelum melanjutkan kata-kataku. "Aku punya sebuah butik, tapi sekarang sudah tidak ada lagi," tuturku.
Ucapanku membuat laki-laki itu urung untuk menyuap. Sejumlah kerutan tercipta di keningnya.
"Apa yang terjadi? Kamu menjual butikmu?" tanya papa usai meneruskan suapannya.
"Butikku terbakar," ungkapku.
"Astaga!" Ia memekik pelan. "Benarkah itu?"
Aku mengangguk seraya membisikkan kata 'ya'. Jika aku tidak pernah bermain api, butikku mungkin masih tetap berdiri sampai detik ini.
"Jangan khawatir, Talisa. Kalau kamu ingin membuka butik lagi, papa akan membantumu. Atau kamu bisa mengelola cafe milik papa jika kamu mau," tawar laki-laki itu membuatku harus tersenyum.
Untuk orang sepertiku, nyatanya masih memiliki keberuntungan. Selain papa dan mama, Nyonya Penny juga pernah menawarkan bantuannya padaku.
"Aku sudah berencana akan membangun butik lagi," tandasku.
"Oh...kamu bisa mengandalkan papa, Talisa. Apapun yang kamu butuhkan, katakan saja pada papa. Papa akan membantumu dengan sekuat tenaga," ucap laki-laki itu tampak bersemangat.
"Tentu."
"Makanlah," suruh papa seraya menyodorkan piring berisi sesuatu mirip kue dengan lelehan cokelat dan butiran warna warni ke hadapanku. Karena terlalu asyik ngobrol, kami nyaris mengabaikan makanan penutup di atas meja.
Nyatanya makanan penutup yang dipesan papa sangat lezat. Aku sungguh menikmatinya. Tekstur makanan itu sangat lembut dan manisnya pas meski ada sedikit sensasi pahit dari lelehan cokelat di atasnya.
"Apa kamu suka nonton film?" tanya papa beralih tema. Ia juga tampak sangat menikmati makanan penutup kami.
"Aku jarang nonton film," jawabku tanpa berhenti menyuap. "Paling-paling aku nonton drama Korea..."
Papa tergelak mendengar kalimatku. "Ternyata putri papa penggemar drama Korea seperti anak gadis lain," celutuk laki-laki itu masih dengan tawa menghias sudut bibirnya. "Seandainya papa mengenalmu lebih awal..."
Setelah melihat sisa tawa, aku melihat seraut wajah itu dihiasi secercah kesedihan. Penyesalan bertumpuk di sudut matanya.
"Apa papa masih mencintai mama?" pancingku penuh rasa ingin tahu. Aku sengaja keluar dari jalur perbincangan kami sebelumnya.
Laki-laki itu tampak berpikir sebentar.
"Bagaimana jika diam-diam mama masih berharap pada papa? Selama ini mama tidak menikah lagi dan tidak pernah dekat dengan laki-laki manapun. Bagaimana jika mama masih mencintai papa?" ujarku berusaha ingin mengubah jalan pikiran papa.
"Tidak, Talisa." Kepala papa bersikukuh untuk menggeleng. Laki-laki itu mencoba mengalihkan perhatiannya sendiri ke atas piring di hadapannya. "Bagaimana kalau setelah ini kita nonton film?" usul papa sejurus kemudian. Ia tampak tidak suka aku memancing obrolan tentang mama.
"Boleh," anggukku setuju. Lagipula aku sudah lama tidak pergi nonton film. Aku pasti akan tampak konyol jika pergi ke bioskop sendirian. Dulu aku pernah sekali pergi ke sana bersama Bram, mungkin sekitar enam bulan lalu.
Setelah menuntaskan acara makan siang kami, aku dan papa langsung meluncur ke mal. Butuh sekitar setengah jam untuk pergi ke sana. Bukan karena letak mal yang jauh, tapi lalu lintas ke arah sana lumayan padat. Meskipun sekarang bukan akhir pekan, entah kenapa jalur ke mal cukup ramai siang ini.
"Kamu suka film genre apa?" tegur papa ketika kami sedang berada di jalan.
Pertanyaan papa mengalihkan pikiranku dari lamunan tentang mobil yang saat ini kami tumpangi. Aku baru tahu jika ayah kandungku adalah seorang kaya raya. Mobilnya sangat bagus dan nyaman. Harganya pasti juga sangat mahal. Penampilan papa di cafe waktu itu bisa menipu siapa saja yang melihatnya. Laki-laki itu terlihat sederhana dan biasa-biasa saja, berbeda dengan penampilannya hari ini. Aku yakin ia memiliki bisnis lain selain cafe itu. Papa belum memberitahuku semua tentang dirinya.
"Apa saja kecuali komedi," jawabku setelah berhenti mengagumi mobil itu beserta pemiliknya.
"Kenapa?"
"Karena aku tidak bisa tertawa seperti yang orang lain lakukan saat menonton film komedi." Aku cenderung diam saja meskipun film yang kutonton bertema komedi sekalipun.
"Benarkah?" Papa menatapku sekilas. Aku menangkap sejumput rasa iba dari sorot matanya yang mengarah lurus padaku.
"Kalau papa sendiri?" Aku juga ingin tahu apa yang ada di dalam benak laki-laki itu.
"Papa suka film misteri."
"Horor?"
"Bukan. Horor dan misteri beda, Talisa."
"Apa papa suka film horor?" Aku terus mengajaknya berbincang seperti yang biasa kulakukan saat bersama Jathayu. Ah, aku teringat laki-laki itu setelah satu jam belakangan melupakan dirinya. Apakah ia sudah tiba di rumah? Seandainya ia sudah sampai, semoga Bik Inah tidak lupa menyampaikan pesanku padanya.
"Tidak."
"Apa papa takut hantu?"
Tak kusangka laki-laki itu menderaikan tawanya cukup keras. Tangan kirinya terulur ke atas kepalaku. Ia mengusap kepalaku dengan gerakan lembut.
"Papa lebih takut kehilangan kamu, Talisa," ucap papa terasa hangat di dalam hati. "Kamu tahu, papa terus menyesal...kenapa papa tidak pernah menjumpaimu lebih awal. Papa sudah banyak melewatkan banyak hal. Papa tidak ada di sampingmu saat kamu tumbuh, Talisa. Papa sangat menyesali hal itu," ungkapnya membuat hatiku merasa trenyuh. Laki-laki itu mencoba mengukir senyum, tapi aku tahu ia sedang terluka di dalam hati. Aku juga sama sepertinya.
Bisakah kita sama-sama saling menyembuhkan luka satu sama lain?
"Pa..." Aku menatap laki-laki di sebelahku. "bukankah kita sedang menebus waktu yang pernah kita lewatkan? Aku tidak mau papa mengungkit hal yang menyedihkan seperti itu."
"Baiklah. Maafkan papa. Kita akan bersenang-senang hari ini. Bagaimana?"
"Setuju."
***