WHAT'S WRONG WITH MY BODYGUARD?

WHAT'S WRONG WITH MY BODYGUARD?
#62



Sungguh, rasanya isi kepalaku penuh dan aku tidak dapat berpikir lagi. Persoalan tentang ayah kandungku membuatku jatuh dalam perasaan gamang. Rasa rindu padanya telah memudar, tapi kata-kata mama pagi tadi justru membuatku merasa dilema. Aku harus bagaimana? Haruskah aku menemui laki-laki yang sempat mencuri hatiku ketika pertama kali kami bertemu?


Aku pasti tampak seperti pecundang sekarang.


Dengan langkah tergesa aku bergegas keluar dari kamar dan menuruni anak tangga. Aku butuh sesuatu yang bisa menjernihkan pikiran.


"Hati-hati, Nona! Kamu bisa jatuh kalau berjalan seperti itu. Tangga itu bisa mencelakaimu, kamu dengar itu?!"


Baru saja kakiku menapak di atas permukaan lantai bawah, suara Bik Inah langsung menyambar indra pendengaranku. Wanita itu mengabaikan sejenak lap di tangannya demi bisa memasang wajah galak di depanku seraya berkacak pinggang. Entah ia telah selesai atau baru saja mengelap meja ruang tengah, aku sama sekali tidak peduli.


"Kamu kan baru saja sembuh, setidaknya jaga sikapmu, Nona. Apa kamu mau jatuh dari tangga itu?" omelnya lagi. Mungkin ia sudah lupa kalau aku bukan anak kandungnya yang bisa ia omeli sesuka hati. Aku adalah putri majikannya.


"Di mana Jathayu?" tanyaku tak ingin berbasa basi. Jika aku meladeni omelannya bakalan panjang urusan dengan wanita galak itu. Lebih baik aku menghindar demi terciptanya kedamaian dalam hatiku.


"Dia ada di taman belakang..."


Baiklah. Aku akan bergegas meluncur ke sana, batinku.


Benar saja, aku mendapati Jathayu tampak sedang sibuk mencabuti rumput yang tumbuh di sekitar tanaman di taman belakang rumah. Tempat itu hampir mirip seperti semak belukar karena tak terurus belakangan ini. Tukang kebun kami mengundurkan diri beberapa minggu yang lalu karena sakit. Sementara Bik Inah tak mungkin mengerjakan semuanya mengingat banyaknya pekerjaan rumah tangga yang mesti ia kerjakan.


"Kamu sedang apa?" tegurku. Aku tak ingin menunggunya sampai tersadar dengan keberadaanku di belakang punggungnya.


Jathayu langsung menolehkan kepala dan berdiri dari posisi jongkoknya.


"Sejak kapan kamu di sini?" Ia malah balik tanya.


"Baru saja." Meski begitu aku tetap menjawab pertanyaannya. "Apa yang sedang kamu lakukan?" ulangku.


"Hanya melakukan pekerjaan ringan," jawabnya. "Apa kamu butuh sesuatu?"


"Tidak," gelengku.


"Lalu kenapa kamu ke sini? Kamu bisa sakit kalau berdiri terus di situ, Nona," ucapnya sembari melirik ke atas. Matahari nyaris tepat di atas kepala. Sinarnya cukup terik dan bisa membuat warna kulit berubah drastis. Tapi sepertinya Jathayu tak khawatir karena laki-laki itu melindungi kepalanya dengan sebuah topi bisbol hitam.


"Kenapa? Kalau aku sakit, apa kamu tidak mau membawaku ke rumah sakit?" pancingku setengah menggoda.


Aku berhasil membuatnya melepaskan tawa renyah.


"Sebaiknya kita ke teras," usulnya seraya melepas sarung tangan yang dipakainya. "Lagipula aku juga sudah selesai."


Aku menuruti ajakannya dan segera mengayunkan kedua kakiku menuju ke teras belakang rumah. Aku atau mama nyaris tak pernah menggunakan tempat itu untuk sekadar duduk santai menikmati waktu. Mama terlalu sibuk dan aku lebih suka mengurung diri di dalam kamar jika sedang tak memiliki kegiatan.


"Ayah kandungku ingin bertemu denganku," beritahuku memulai perbincangan serius. Rasanya aku tak perlu menyembunyikan sesuatu dari laki-laki itu. "Bagaimana pendapatmu?" tanyaku seraya menatap ke samping, di mana Jathayu sedang menerawangkan pandangan ke arah sekumpulan tanaman mirip semak belukar yang beberapa saat lalu ia bersihkan dari rumput-rumput liar.


"Hah?" Laki-laki itu terkesan kaget saat aku meminta pendapatnya. Ia tertegun selama beberapa detik lamanya dan menatapku dengan tatapan aneh. "Kenapa kamu meminta pendapatku?"


Giliranku terkejut mendengar pertanyaannnya. Kupikir wajar jika aku meminta pendapatnya karena Jathayu menyukaiku. Begitu juga sebaliknya.


"Apa aku salah meminta pendapatmu?"


"Tidak." Jathayu menggeleng kaku. "Hanya saja...kurasa itu tergantung pada hatimu sendiri. Apa kamu siap bertemu dengannya?"


"Sejujurnya tidak," balasku tak menutupi apapun darinya. "Tapi bagaimanapun juga dia adalah ayah kandungku." Aku mengulangi kalimat mama.


"Kamu terdengar tidak siap, Nona."


"Lalu?"


"Mungkin semua ini terlalu tiba-tiba untukmu. Kupikir kamu butuh waktu untuk mempersiapkan mental."


Mungkin Jathayu benar. Aku hanya belum siap dengan semua ini. Paling tidak, aku menemui laki-laki itu sekali seumur hidup seperti kata Jathayu.


"Kalau kamu sudah siap, aku akan mengantarmu menemuinya," tandas Jathayu sesaat kemudian. Membangunkan aku dari lamunan singkat.


"Ya," gumamku. Perasaanku sedikit lebih baik setelah berbicara dengan laki-laki itu. "Sebenarnya aku sudah pernah bertemu dengan laki-laki itu sekali. Tapi saat itu aku tidak tahu jika dia adalah ayah kandungku," ungkapku.


"Waktu itu aku bertemu dengan Nyonya Penny di sebuah cafe dan ternyata pemilik cafe itu adalah ayah kandungku. Bukankah itu sebuah kebetulan?" paparku. Kalau saja aku tidak mengalami insiden kecil itu, mungkin aku tidak akan pernah bertemu dengan ayah kandungku sebelum ini.


"Kurasa itu bukan kebetulan."


"Kalau bukan kebetulan lalu apa?"


"Takdir."


Takdir? Benarkah Tuhan menakdirkan kami untuk bertemu saat itu?


"Lalu seperti apa dia?" tanya Jathayu menyentak kebisuanku. Laki-laki itu terlihat penasaran dan terus mengajakku membahas tentang ayah kandungku.


Aku memejamkan mata sebentar karena harus membayangkan wajah dan penampilan laki-laki itu sebelum bercerita pada Jathayu.


"Dia tampak seperti orang baik-baik," ujarku setelah membuka mata kembali. Meskipun laki-laki itu tampak sebagai orang baik-baik, tapi ia pernah mengkhianati mama. Apa itu bisa disebut sebagai orang baik-baik? "dan tampan," lanjutku.


Namun, laki-laki yang duduk di sebelahku itu malah tertawa.


"Apa ada yang lucu?" tanyaku sambil mengamati ekspresi wajahnya. Perubahan dalam dirinya terlihat luar biasa. Ia sudah mulai banyak tertawa sekarang.


"Kenapa aku merasa kamu sangat bangga mempunyai ayah sepertinya..." Laki-laki itu sengaja mengangkat pandangannya ke arah langit yang bersih tanpa gumpalan awan.


Aku terenyak. "Apa aku tampak seperti itu?"


"Ya, kamu bahkan bilang kalau ayahmu tampan, Nona." Ia berganti menatapku.


Mungkin aku hanya terbawa perasaan tadi. Tapi kenyataannya memang seperti itu, kan?


"Harusnya kamu lebih siap bertemu dengannya, Nona. Bukannya kamu tadi bilang kalau kalian pernah bertemu sekali?"


"Ya, tapi suasananya kan berbeda, Jathayu."


"Pertemuan semacam itu akan sulit pada awalnya, Nona. Tapi lama-lama kamu akan terbiasa..."


"Aku tidak berencana akan terus bertemu dengannya," tukasku cepat.


"Ya, baiklah. Katakan padaku kapanpun kamu siap untuk bertemu dengannya." Laki-laki itu bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke arah gerombolan tanaman yang nyaris mirip semak belukar.


"Apa kamu marah?" Aku melompat dari tempat dudukku dan segera mengejarnya. Jathayu tiba-tiba saja pergi padahal kami masih terlibat dalam perbincangan.


"Tidak." Laki-laki itu terpaksa menghentikan langkah karena aku menarik ujung kausnya.


"Lalu kenapa kamu pergi?"


"Aku harus menyelesaikan pekerjaanku, Nona."


Benarkah seperti itu? batinku seraya terpaku menatap punggungnya.


"Apa kamu takut aku marah?" tanyanya.


Sangat takut, batinku sambil mengangguk pelan.


"Itulah yang kurasakan saat kamu marah padaku, Nona."


"Benarkah?"


"Tapi kamu tenang saja. Aku tidak marah padamu sekarang." Jathayu mengumbar senyum manis seraya menyentuh pipiku dengan lembut. "Aku hanya ingin segera menyelesaikan pekerjaanku lalu makan siang. Aku sudah lapar," bisiknya kemudian.


Oh.


Aku seperti baru saja kena jebakan.


***