WHAT'S WRONG WITH MY BODYGUARD?

WHAT'S WRONG WITH MY BODYGUARD?
#34



"Apa yang sedang kamu lakukan, Talisa?!"


Teriakan keras itu membuatku tersentak kaget. Tanpa sadar genggaman tanganku terlepas dan butiran-butiran obat jatuh berceceran di atas lantai. Kepalaku spontan menoleh ke arah pintu dan menemukan Jathayu sedang tergopoh-gopoh berlari menuju ke arahku. Wajahnya terlihat pucat, seperti kurang sehat. Sepasang matanya terbelalak seolah baru saja melihat kejadian mengerikan. Dan kalau aku tak salah dengat tadi ia memanggil namaku dengan tidak sopan.


"Apa ini?" tanya laki-laki itu setelah sampai di depanku. Pandangannya beralih ke atas lantai di mana butiran-butiran obat itu jatuh berserakan. Namun, aku yakin ia tidak sedang menghitung berapa banyak jumlah obat yang terbuang sia-sia. 'Kamu tidak sedang mencoba untuk mengakhiri hidupmu, kan?" Tatapannya beralih padaku setelah puas melihat betapa mengenaskannya butiran-butiran obat itu di atas lantai.


"Bukan urusanmu."


Agh.


Laki-laki itu menarik lenganku dengan paksa seperti tak memiliki perasaan ketika aku berusaha menghindar. Tadinya aku hendak kembali ke atas tempat tidur karena percobaan bunuh diriku gagal. Sesungguhnya aku masih belum yakin untuk melakukannya dan tiba-tiba saja Jathayu muncul. Harusnya ia tidak pernah kembali ke kamarku setelah kusuruh pergi beberapa menit yang lalu.


Aku menggeram seraya mencoba melepaskan cekalan tangannya. Ia terlalu sering melakukan hal ini padaku. Harusnya ia lebih bisa menghormatiku meski mama yang membayar gajinya.


"Nona... " Laki-laki itu mendesah jengah. "kamu tahu apa yang kamu lakukan, bukan?" Gesturnya seperti ingin memaksaku agar balas menatap sepasang mata elangnya yang memancar tajam ke wajahku.


Aku tidak ingin menjawabnya. Meski memiliki jawaban, aku sengaja memilih untuk diam. Tanpa bertanya pun, Jathayu sudah bisa menyimpulkan semuanya.


"Kumohon jangan melakukan hal itu, Nona," pintanya. Ia sudah menyadari bagaimana cara untuk memanggil namaku dengan benar dan penuh rasa hormat. Namun, cekalan tangannya benar-benar menyiksaku.


Andai saja ia tak datang tadi, mungkin semuanya telah berakhir, batinku. Mungkin juga tidak. Aku tidak yakin berapa banyak jumlah obat yang bisa membunuhku.


"Lepaskan aku," geramku kasar.


"Berjanjilah kamu tidak akan melakukan hal itu lagi," ucapnya membuatku tertegun sejenak.


Memangnya siapa Jathayu? Kenapa aku harus membuat perjanjian dengannya agar ia mau melepaskan cekalan tangannya?


Aku menghela napas dalam-dalam. "Baiklah," ucapku meluluskan permintaannya. Tapi, aku tak bersungguh-sungguh dengan ucapanku. Aku melakukan itu hanya agar Jathayu melepaskan lenganku. Cekalan tangannya benar-benar menyiksaku.


Laki-laki itu tak langsung melepaskan lenganku. Tatapan matanya seolah bertanya, sungguh-sungguhkah ucapanku? Rupanya ia bukan seorang yang mudah untuk dipengaruhi, batinku.


"Kamu ingin darahku berhenti mengalir?" sindirku sambil melirik ke arah lenganku yang hampir kebas karena laki-laki itu.


Jathayu melepaskan cekalan tangannya perlahan. Namun, tatapan matanya berubah menyiratkan seberkas keraguan padaku. Membuatku merasa tidak nyaman.


"Kenapa kamu kemari? Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk pergi tadi?" Usai mengibas-ibaskan lenganku bekas cekalan tangan Jathayu, aku mengambil tempat duduk di tepi tempat tidur. Aku melirik laki-laki itu yang masih berdiri kaku di tempatnya semula.


"Harusnya kamu tidak pernah datang tadi." Aku sengaja menggumam agar telinganya tak bisa menjangkau suaraku. Sebenarnya aku tak benar-benar menyesal karena Jathayu tiba-tiba muncul dan mengacaukan rencanaku.


Laki-laki itu berangsur ke tepi tempat tidur dan meletakkan pantat di sebelahku. Ini adalah pertama kalinya Jathayu menjamah tempat tidurku. Semakin hari ia semakin lancang saja.


"Apa kamu tahu," Jathayu mulai angkat bicara dengan sepasang mata mengarah lurus ke arah gorden yang belum disingkap. Samar-samar sinar matahari tampak berupaya ingin menerobos masuk ke dalam kamar. "di dunia ini ada sebagian orang yang mengidap penyakit ganas dan mematikan. Beberapa jenis pengobatan hanya memperlambat berkembangnya penyakit, bukan mengobati. Tapi apa kamu tahu apa yang orang-orang sakit itu lakukan begitu tahu jika penyakit yang mereka derita tidak akan bisa disembuhkan? Mereka tetap berjuang melawan penyakit itu meski tahu hidup mereka tidak akan bertahan lebih lama lagi. Mereka tidak menyerah. Mereka percaya ada sebuah harapan untuk mereka suatu hari nanti. Mungkin mukjizat atau keajaiban yang bisa mengubah segalanya."


Apa Jathayu sedang menceramahiku? batinku sambil menoleh ke samping. Sungguh, aku melihat laki-laki itu berbanding terbalik dari yang biasa kulihat. Ia seperti sedang kerasukan!


"Namun, pada akhirnya takdir Tuhan lebih berkuasa di atas segala-galanya. Penyakit mematikam itu akhirnya menang," lanjut Jathayu beberapa saat kemudian. Ia menoleh ke arahku tiba-tiba dan aku kaget mendapat perlakuan mengejutkan seperti itu. Aku buru-buru membuang wajah ke arah lain. "Mereka juga ingin hidup lebih lama seperti yang lain. Jika mereka mendapat kesempatan itu, mereka pasti sangat gembira dan akan mempergunakan sisa hidup mereka dengan sebaik-baiknya. Tapi, Tuhan terlalu menyayangi mereka dan memanggil mereka lebih dulu. Dan kamu tahu apa yang baru saja kamu lakukan, Nona? Kamu hampir saja menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan Tuhan untukmu. Kamu tahu, harusnya kamu lebih bisa menghargai hidup karena kamu beruntung bisa mendapatkan kesempatan iti sementara mereka tidak. Masih banyak yang bisa kamu lakukan dalam hidup," tutur Jathayu masih dengan menatapku. Sedang aku memilih untuk menatap gorden yang masih belum disingkap. Namun, sejujurnya telingaku menangkap setiap perkataannya dengan baik. Laki-laki itu persis seperti seorang motivator.


"Apa kamu sudah selesai?" Aku berpaling ke arahnya beberapa detik kemudian.


"Ya." Tak kusangka ia akan menyahut meski dengan jawaban singkat.


"Kalau begitu pergilah. Aku mau tidur," suruhki bermaksud mengusirnya.


"Aku akan pergi setelah kamu tidur," ucapnya tegas.


"Apa kamu takut aku akan melakukan hal itu lagi?" delikku kesal. Ia tampak tak memercayai ucapanku sekarang. "Kamu lihat kan, obat-obatan itu sudah jatuh ke lantai? Aku tidak mungkin memungutnya kembali... "


"Aku tidak tahu kamu masih punya persediaan obat lagi atau tidak," ucap Jathayu. Laki-laki itu bangun dari tempat duduknya lalu mulai menggeledah isi laci meja riasku. Kemudian berpindah ke tempat lain demi mencari obat yang ia maksud


Namun percuma saja. Aku tak memiliki persediaan obat lagi.


"Apa kamu sudah puas sekarang?" tanyaku setelah laki-laki itu berhenti mencari dan ia tak mendapatkan hasil apa-apa.


"Sebaiknya kamu istirahat. Aku akan menunggu sampai kamu tidur." Jathayu berangsur ke arah sofa lalu menjatuhkan tubuhnya di sana.


Aku mendengus.


"Terserah," gumamku sambil menaikkan kedua kakiku ke atas tempat tidur lalu menarik selembar selimut. Aku akan tidur meski ia bersikeras akan menungguiku.


Aku hanya berharap setelah terbangun nanti, aku akan melupakan seluruh kejadian hari ini.


***