WHAT'S WRONG WITH MY BODYGUARD?

WHAT'S WRONG WITH MY BODYGUARD?
#41



"Maaf, Non..."


Suara seorang wanita paruh baya seketika mencairkan situasi canggung yang menjebak aku dan Jathayu. Dengan gerakan kompak, kami menoleh ke arah sumber suara.


Seorang wanita bertubuh kecil yang memakai selembar kain jarik dan pakaian mirip kebaya tampak berdiri di samping meja makan. Di tangannya terdapat satu set rantang kuno berwarna putih dengan hiasan bunga pada bagian kedua sisinya. Kutebak ia adalah istri Pak Dayat.


"Ini saya bawakan lauk seadanya," ucap wanita itu seraya mengangkat sedikit barang bawaannya.


"Oh," Aku menatap Jathayu sekilas. "tapi kami sudah masak nasi goreng... "


"Tidak apa-apa. Kalau begitu, ini untuk kalian makan siang saja. Ada ayam bumbu kecap, tempe orek, dan tumis tauge." Wanita itu meletakkan rantangnya di atas meja makan sambil menyebutkan isi benda yang dibawanya.


"Terima kasih, Bu," ucap Jathayu sopan. Mereka sudah bertemu tadi pagu, jadi ini adalah pertemuan mereka yang kedua. Wajar jika Jathayu tak lagi canggung pada wanita itu.


"Sama-sama. Kalau begitu saya pamit dulu," ucap wanita itu berniat untuk segera angkat kaki dari hadapan kami.


"Silakan."


Jathayu terus menyahut wanita itu sementara aku hanya mematung dengan memegang spatula di tangan.


"Selamat menikmati bulan madunya. Tumis tauge bagus untuk pengantin baru," kata wanita itu ketika hendak membalik tubuh. Senyum kecil terbit di bibirnya saat mengucapkan kalimat itu.


Hah?


Aku melongo sambil menatap punggung istri Pak Dayat yang bergerak pergi meninggalkan ruang makan.


Apa itu tadi? batinku takjub.


Apa aku dan Jathayu tampak seperti pengantin baru yang sedang bulan madu?


"Apa kamu dengar itu?" Aku beralih menatap Jathayu demi melampiaskan protes. "Apa kamu bilang padanya kalau kita pengantin baru?"


Jathayu menggeleng tanpa ekspresi. "Tidak," ucapnya dengan tampang tak berdosa.


"Tapi kenapa wanita itu bilang kalau kita sedang bulan madu?"


"Aku tidak tahu."


Dasar wanita sok tahu, batinku kesal.


Aku bergegas memindahkan telur dadar buatanku ke atas piring lalu melangkah ke ruang makan. Sementara Jathayu mengikut perbuatanku tanpa banyak bertanya.


"Bagaimana rasanya? Enak tidak?" serbu Jathayu ketika acara sarapan pagi dimulai.


"Tidak terlalu buruk," ucapku setelah menelan suapan pertama. Sebagai koki amatir hasil masakannya tidak terlalu buruk, seperti ucapanku tadi. Nasi goreng buatannya masih bisa dinikmati meski rasa masakan itu biasa-biasa saja.


"Bilang saja kalau kamu tidak suka."


Bagaimana aku bisa bilang tidak suka kalau nasi goreng buatannya telah meluncur dengan selamat ke dalam lambungku? Tentu saja aku menikmatinya.


"Sudah kubilang kan, ini masih bisa dimakan," sahutku ketus. Aku baru menyadari jika kami mulai dekat akhir-akhir ini. Sikap Jathayu yang biasanya dingin sedikit melunak.


"Begitukah?" Laki-laki itu menatapku dengan kesan ragu.


Aku tak menjawab. Tak ada gunanya berdebat soal makanan yang hampir tandas kulahap. Mi instan yang kumakan semalam berimbas pada lambungku pagi ini. Apalagi kalau bukan rasa lapar yang teramat sangat. Untungnya maag-ku tidak kambuh.


"Apa rencanamu setelah ini?"


"Hah?" Aku mengangkat dagu. Pertanyaannya membuatku agak kaget, pasalnya aku tadi melamun sebentar. "Maksudnya?"


"Apa kamu akan membuka butik lagi?" Jathayu lebih mempertegas pertanyaannya.


Aku meneguk air bening di dalam gelas sebelum menjawab pertanyaannya.


"Sepertinya tidak," jawabku tak pasti. Memang, mama menawarkan sejumlah dana padaku untuk membuka butik baru, tapi aku masih belum memutuskan akan menerimanya atau tidak.


"Mereka bisa mencari pekerjaan di tempat lain," jawabku enteng. Pasca kejadian itu aku belum menghubungi mereka, bahkan aku juga belum menghitung gaji keduanya. Apa aku tampak kejam? "Apa kamu sangat peduli dengan mereka?"


Jathayu bergeming.


"Apa mereka menghubungimu?" tanyaku setelah menunggu, tapi tak ada jawaban.


Jathayu mengangguk dengan kalimat pendek 'iya' keluar dari bibirnya.


"Lalu apa yang akan kamu lakukan setelah ini?"


"Entahlah," balasku seraya menyandarkan punggung ke kursi. Rasanya impianku untuk menjadi seorang perancang busana kian jauh dari jangkauanku. "Kamu sendiri?" Aku balas bertanya.


"Aku?"


"Apa kamu akan berhenti menjadi pengawal pribadiku?"


"Apa kamu ingin aku berhenti?"


Ia menyebalkan. Harusnya ia menjawab pertanyaanku, bukan malah balas bertanya.


"Kalau iya, apa kamu akan berhenti?" Aku mengujinya. Biar saja. Bukankah tadi ia membalasku dengan pertanyaan? Sekarang aku juga melakukan hal yang sama padanya.


"Apa kamu ingin aku pergi?"


Astaga! Ia membalasku dengan pertanyaa lagi!


"Lupakan." Aku mengibas dengan cepat. Percuma percakapan ini diteruskan.


"Kamu marah?"


Pertanyaan lagi, batinku sambil melotot kesal padanya. "Bukannya kamu sudah sering melihatku marah? Kenapa masih bertanya?" sindirku.


Jathayu mengembangkan senyum manis di bibirnya. Pemandangan seperti itu seketika menyejukkan hati. Dan ini aneh. Laki-laki itu sudah sering membuatku marah, tapi aku tak pernah bisa benar-benar membencinya meski aku sering mengatakan sangat membencinya.


"Apa kamu mau membantuku mencuci piring?" Laki-laki itu bangun dari kursinya dan mulai membereskan peralatan makan yang baru selesai kami gunakan.


"Kamu saja."


Jathayu mengambil piring kosong milikku lalu berjalan ke dapur. Tak lama kemudian aku mendengar suara gemericik air yang keluar dari keran.


Apa itu tadi? batinku sambil menoleh ke arah punggung Jathayu yang terbalut kaus panjang berwarna hijau tanah. Kenapa aku tiba-tiba merasa kami bersikap seolah-olah kami adalah pasangan? Pengantin baru? Ini gila!


"Apa kamu mau kubuatkan cokelat hangat?"


Aku bangun dari kursi dan urung untuk mengayunkan langkah begitu mendengar suara Jathayu. Jauh di dalam hatinya, laki-laki itu lebih hangat dari yang tampak dari luar. Ia tegas, tapi penuh kepedulian. Cinta lokasi seperti ini, apakah juga dirasakan Jathayu seandainya yang dijaganya bukan aku? Bila ia menjaga orang lain, apakah ia akan jatuh cinta padanya?


"Nona Talisa... "


Hah?


Aku terperanjat ketika bahuku tiba-tiba disentuh olehnya dari belakang. Rupanya laki-laki itu cukup mahir dalam mencuci peralatan makan. Tak butuh waktu lama untuk menyelesaikan pekerjaannya mencuci piring dan gelas.


"Apa?" tanyaku gugup. Pikiranku sedang berantakan sekarang dan laki-laki itu adalah sumber masalahnya. Ia sudah menjebakku dalam situasi canggung yang sama sekali tak bisa kupahami. Rasa aman dan nyaman yang ia tawarkan hampir saja mengikis habis momen-momen kebersamaanku dengan Bram. Sungguh, mereka berdua adalah dua pribadi yang berbeda. Namun, keduanya sama-sama membuatku merasakan perasaan nyaman yang sukar untuk kudefinisikan. Arti cinta yang sebenarnya tak bisa kutelaah dengan baik. Jathayu membuatku bingung pada perasaanku sendiri.


"Mau kubuatkan cokelat hangat?" Ia memberi penawaran ulang.


"Aku masih kenyang."


"Oh."


"Aku mau ke kamar," pamitku bermaksud kabur dari hadapan laki-laki itu. Aku buru-buru menaiki anak tangga menuju ke lantai dua tanpa memedulikan tatapan aneh Jathayu padaku.


***