
Apa Nyonya Penny tahu kalau aku akan mencuri dengar pembicaraan mereka sehingga wanita itu mengajak Jathayu pergi dengan mobilnya untuk berbincang di suatu tempat? Padahal ruang tamu rumah kami cukup nyaman dan mama juga sedang tidak ada di rumah. Mereka bisa leluasa bicara di sana. Aku juga akan menyuruh Bik Inah agar tetap berada di dapur. Atau aku bisa menyuruhnya untuk berbelanja ke pasar. Tapi, sayangnya rencanaku untuk menguping pembicaraan mereka gagal total. Alhasil, aku harus mondar mandir di ruang tamu sendirian setelah mereka pergi.
Sudah dua jam dan mereka belum juga kembali, batinku setelah melihat ke arah jam dinding. Pasti banyak yang harus mereka perbincangkan. Tapi kenapa selama itu? Semoga tidak terjadi kesalahpahaman di antara mereka berdua. Dan Jathayu, semoga ia bisa mengendalikan emosinya dengan baik.
Aku menjatuhkan tubuh di atas sofa beberapa menit kemudian. Kedua kakiku terasa pegal setelah berjalan mondar mandir tak jelas di ruang tamu. Aku kelelahan.
Apa saat itu Jathayu juga merasakan hal seperti yang kurasakan sekarang sewaktu menungguku berbincang dengan papa? Apa ia juga resah selama menungguku kembali?
"Nona?"
Aku hampir ketiduran saat suara Jathayu terdengar menyapa gendang telingaku. Laki-laki itu muncul dari pintu depan dan aku yakin sedang tidak bermimpi ketika melihat kemunculannya.
"Kamu sudah kembali?" tegurku seraya bangkit dari tempat dudukku. Aku sangat senang melihatnya telah kembali. Namun, betapa terkejutnya aku karena tiba-tiba Jathayu berangsur mendekat lalu menarik tubuhku ke dalam pelukannya. Laki-laki itu memelukku cukup erat dan sejujurnya aku senang diperlakukan seperti ini olehnya. Meski aku sedikit bingung dengan ulahnya, tapi aku berharap ia merasa lebih baik setelah memelukku.
"Kamu adalah kelemahanku, Nona," bisik laki-laki itu di dekat telingaku. Sungguh, bahasanya terdengar jelas olehku, hanya saja aku belum bisa mencerna maksud kalimatnya dengan baik.
Apa itu berarti ia akan menceritakan semuanya tanpa aku harus bertanya?
"Apa yang terjadi?" tanyaku setelah laki-laki itu melepaskan tubuhku beberapa detik kemudian.
Ia mencoba mengurai senyum dengan susah payah dan menggelengkan kepala sekadarnya.
Aku menatapnya dan mendapati sorot matanya memancar dengan redup. Raut wajahnya tak lagi dipenuhi dengan amarah. Jathayu yang sedang berdiri di hadapanku sekarang bukanlah Jathayu yang biasa kulihat. Bagiku ia tidak tampak baik-baik saja. Setidaknya yang dapat kusimpulkan darinya adalah Jathayu sedang terguncang. Laki-laki itu sedang terpuruk. Entah kisah apa yang didengarnya dari Nyonya Penny. Semoga bukan kisah yang buruk, harapku.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanyaku ingin memastikan keadaannya.
"Uhm." Ia mengangguk, mencoba meyakinkanku, tapi tatapan mata Jathayu mengatakan sebaliknya. Ia tak pernah terlihat seperti ini sebelumnya.
"Benarkah?"
"Ya, jangan mencemaskanku," tandasnya seraya menyentuh kedua pipiku.
"Tapi..."
"Aku akan beristirahat dulu sebelum menceritakan semuanya padamu," janjinya seolah bisa membaca isi pikiranku.
Padahal aku ingin mendengarnya sekarang, batinku. Aku ingin mendengar alasan kenapa Nyonya Penny meninggalkan Jathayu saat itu di depan pintu panti asuhan. Apakah dugaan Jathayu bahwa ia adalah anak yang tidak diharapkan benar adanya? Mungkinkah kebenaran itu yang membuatnya terlihat tidak baik-baik saja? Tapi, sekali lagi aku tidak bisa memaksakan kehendakku padanya. Jathayu berhak untuk mengutarakan kisah itu padaku kapan saja ia siap.
"Ya, silakan." Akhirnya aku mengangguk. Mungkin Jathayu perlu waktu untuk menenangkan pikirannya sebelum menceritakan semuanya padaku. Ia juga butuh untuk menata suasana hatinya. Karena tidak mudah untuk menerima kenyataan yang mungkin sama sekali tidak ia harapkan. Aku juga pernah mengalami hal yang sama dengannya.
Jathayu berjalan ke arah pintu kamarnya sesaat setelah aku menganggukkan kepala. Langkah-langkahnya terkesan gamang seolah beban berat sedang menindih pundaknya. Tanpa sadar aku merasa iba pada laki-laki itu. Padahal Jathayu bukanlah tipe orang yang suka untuk dikasihani.
"Apa yang terjadi, Nona? Memangnya siapa wanita yang ingin menemui Jathayu tadi?"
Oh. Bik Inah hampir saja membuatku terkena serangan jantung lagi.
"Jangan berteriak, Nona," ucap wanita itu seraya menempelkan jari telunjuknya ke bibir.
"Apa Bik Inah ingin aku cepat menghilang dari dunia ini, hah?" hardikku sambil mengatur napas. Degup jantungku masih tak beraturan akibat ulahnya. Rasanya aku harus memeriksakan diri ke rumah sakit jika ia terus melakukan ini padaku.
"Tentu saja tidak, Nona. Maafkan aku," Bik Inah akhirnya meminta maaf juga. "aku tadi hanya penasaran, Nona."
"Memangnya pekerjaan Bik Inah sudah selesai?"
"Sudah. Makan siang sudah siap. Makanya aku ke sini untuk memberitahu Nona," ucapnya membuatku kehilangan alasan.
Dan Bik Inah mengintip kami secara tidak sengaja. Begitukah?
"Aku akan makan sebentar lagi," ucapku seraya menjatuhkan kembali tubuhku di atas sofa. Sekarang bukanlah saat yang tepat untuk makan siang. Perutku juga belum terlalu lapar.
"Apa wanita itu tadi ibunya Jathayu? Apa dia mencari Jathayu karena kabur dari rumah?"
Astaga! Aku melotot ke arah Bik Inah setelah wanita itu membisikkan sesuatu di dekat telingaku lagi. Bisa-bisanya ia berpikir Jathayu kabur dari rumah. Tapi, apa terlalu kentara jika Nyonya Penny adalah ibu Jathayu?
"Apa Nyonya Penny mengatakan kalau dia ibu Jathayu?" tanyaku bermaksud menguji wanita itu.
"Tidak."
"Lantas dari mana Bik Inah tahu kalau Nyonya Penny adalah ibu Jathayu?" desakku.
"Aku hanya menebak. Wanita itu terlalu tua kalau harus menjadi istri Jathayu. Jadi dia lebih pantas jadi ibu Jathayu. Lagipula dia pasti mewarisi wajah tampan itu dari ibunya," celutuk Bik Inah. "Aku tidak mengira Jathayu adalah putra dari seorang wanita kaya. Kamu beruntung jika menikah dengan Jathayu, Nona."
"Memangnya Bik Inah menganggapku apa? Aku menyukai Jathayu apa adanya..."
"Aku tahu. Tidak usah marah-marah seperti itu, Nona." Wanita itu malah memasang wajah cemberut.
"Pergilah, Bik. Kepalaku pusing." Aku mengusir wanita itu agar segera pergi dari hadapanku. Persoalan tentang Jathayu saja sudah menguras pikiran dan sekarang Bik Inah seolah ingin menguji kesabaranku dengan kata-katanya.
"Apa perlu kuambilkan obat sakit kepala, Nona?" tawar Bik Inah.
"Tidak usah. Aku akan tidur sebentar," ucapku sambil mengangkat tubuh dari atas sofa lalu berjalan ke arah tangga. Kurasa aku akan memejamkan mata barang beberapa menit.
Jathayu yang sedang memiliki masalah, kenapa aku yang lebih pusing darinya?
Kuharap setelah bangun nanti, aku akan merasa jauh lebih baik.
***