
Aku memaksakan diri untuk turun dari atas tempat tidur pagi ini meski kepalaku terasa berat dan membuatku hampir tak bisa menyeimbangkan tubuh saat berdiri. Sesuatu yang tak kasatmata seolah sedang menindihnya tanpa ampun.
Setelah menguras habis air mataku semalaman, aku jatuh tertidur sekitar dua jam yang lalu karena kelelahan. Akan tetapi, lambungku tiba-tiba terasa perih dan memaksa kedua mataku kembali terbuka. Jika dibiarkan terus, aku bisa berakhir di rumah sakit seperti kejadian beberapa tahun lalu.
Hari masih pagi, tapi aroma roti panggang menguar ke segenap penjuru ruangan dan berhasil menyentuh indra penciuman ketika aku menapaki anak tangga turun. Tampaknya Bik Inah telah memanggang roti sepagi ini. Apa wanita itu ingin sarapan sendirian sebelum memulai aktifitasnya?
Aku terperangah ketika kedua kaki telanjangku hampir mencapai ruang makan. Tinggal lima langkah lagi untuk sampai di meja makan. Tapi, pemandangan yang kulihat di ruangan itu seketika membuat tubuhku membeku seperti boneka salju di musim dingin.
Jathayu?
Aku memanggil nama laki-laki itu dalam hati tepat di saat ia mengalihkan pandangan kepadaku. Roti panggang dalam genggamannya terjatuh ke atas piring tanpa sengaja.
"Nona, kamu sudah bangun?" Sapaan Bik Inah tak lebih dari angin yang bertiup lalu pergi begitu saja.
"Kamu?" Aku mengangkat telunjukku dengan tangan gemetar. Bagaimana aku harus menyambut laki-laki itu di saat aku sedang tidak sehat dan terluka? Aku sudah tidak berharap bisa bertemu dengannya lagi setelah kepergiannya beberapa waktu lalu.
Jathayu bangun dari tempat duduknya lalu melangkah menghampiriku. Laki-laki itu mengurai senyum ramah dan mengulurkan jabat tangannya padaku. Padahal dulu saat ia datang pertama kali ke rumah ini, wajahnya sama seperti topeng. Tanpa ekspresi. Dingin layaknya es yang tak pernah mencair di kutub selatan.
"Apa kabar?" tanya laki-laki itu mencoba beramah tamah denganku.
"Kenapa kamu di sini? Siapa yang mengizinkanmu menginjak rumah ini?" Aku tak berusaha meninggikan suara. Jujur, aku kekurangan energi untuk sekadar berteriak padanya.
Jathayu menatapku dengan kerut yang tiba-tiba tercetak di kening. Ia terlihat bingung.
"Nyonya yang memanggilnya ke sini." Justru suara Bik Inah yang kudengar. Ya, aku tahu mereka berdua cocok dalam segala hal. Tak heran jika wanita itu mewakili Jathayu untuk menjawab pertanyaanku.
Jadi, mama mengubah rencananya? Wanita itu benar-benar ingin melibatkan Jathayu dalam kehidupanku setelah mengusirnya jauh-jauh.
"Apa lagi yang kalian rencanakan padaku?" Aku menatap sepasang mata Jathayu. Sorotnya masih setajam dulu dan aku mencoba mengenyahkan segenap perasaanku saat menatapnya.
"Apa maksudmu, Nona?" Laki-laki itu memasang tampang bingung.
"Kamu tidak ingat? Kamu pergi begitu saja tanpa pamit setelah mengatakan kamu menyukaiku. Lalu sekarang kamu muncul tiba-tiba seperti tanpa dosa. Sebenarnya apa yang kamu inginkan? Uang-kah? Berapa banyak yang mama janjikan padamu sekarang?"
Jathayu masih bergeming setelah sekian detik lamanya. Hanya sepasang bola matanya yang bergerak mencermati setiap detail wajahku.
"Kamu tampak kacau, Nona," ucapnya pelan. Ucapannya adalah sebuah upaya untuk menghindar dari pertanyaanku. Gelagatnya sangat kentara.
"Jangan pura-pura peduli padaku," tukasku cepat. Kenangan kami saat berada di vila melintas cepat di kepalaku dan aku berusaha untuk segera mengusirnya jauh-jauh. Aku tidak ingin tertipu lagi dengan skenario yang dibuat mama.
"Kapan aku pernah berpura-pura padamu?" tanya laki-laki itu sejurus kemudian. Seluruh ekspresi yang sempat ia tunjukkan di hadapanku perlahan memudar. Wajahnya berubah dingin, sama seperti ketika aku melihatnya untuk pertama kali.
"Kalau kamu benar peduli padaku, kenapa waktu itu kamu pergi tanpa pamit?" desakku. Bahkan kepergiannya menyisakan luka yang sampai sekarang masih kurasakan. Berbagai cara telah kucoba untuk melupakan kepedihan itu dan aku merasa gagal. Sekeras apapun aku mencoba melupakannya, ketika aku memejamkan mata saat malam datang, bayangan Jathayu tetap hadir di benakku. Bagaimana aku bisa hidup dengan penderitaan seperti itu?
Laki-laki selalu tidak peka.
"Bukan hakku untuk menentukan kapan kamu bisa datang dan pergi, tapi mama," ucapku kesal. "Kamu juga tidak harus pamit padaku."
"Maaf," ucap Jathayu cepat. "Saat itu aku memang sengaja tidak pamit padamu."
"Kenapa?" tukasku. Aku tak punya hati yang sabar untuk menunggu penjelasannya. Jika ia merasa peduli padaku, harusnya ia pamit padaku sebelum pergi, kan?
Namun, laki-laki itu memilih untuk membungkam mulut. Hanya sorot matanya yang tak lepas menatapku dan seolah berbicara tentang banyak hal.
"Lalu kenapa sekarang kamu kembali, hah?" tanyaku sejurus kemudian. "Karena mama yang meminta. Aku benar, kan?" desakku hampir menangis. Memikirkannya saja membuatku patah hati. Ia datang dan pergi dari kehidupanku atas perintah mama, bukan atas keinginannya sendiri.
"Ya." Tak kuduga laki-laki itu menjawab pertanyaanku dengan tegas. Ia sangat jujur dan seharusnya aku menghargai kejujurannya.
"Sudah kuduga," gumamku kecewa. Rasanya aku tidak pantas untuk berharap apapun padanya.
"Apa kamu tidak suka aku kembali?" sentak laki-laki itu.
"Kalau aku tidak suka, apa kamu akan pergi?" pancingku.
"Tidak."
"Tentu," sambungku sambil membuang napas kesal. "Kamu melakukan semuanya atas perintah mama," gumamku.
"Nona," Tiba-tiba Bik Inah menyela setelah beberapa menit menjadi penonton yang baik. "Jathayu baru saja tiba. Dia pasti lelah," beritahu wanita itu seolah membela Jathayu. Ia tampak tidak rela aku memarahi laki-laki itu. Padahal masih banyak yang ingin kubicarakan dengan Jathayu.
Bik Inah tidak tahu apa-apa tentang perasaanku saat ini. Kenyataan tentang ayah kandungku saja sudah membuatku terguncang. Ditambah lagi kemunculan Jathayu yang tiba-tiba, seolah ingin meremukkan hati. Siapa yang lebih lelah di sini?
Laki-laki itu bertindak atas perintah mama. Ia datang dan pergi karena disuruh mama. Lalu bagaimana dengan pernyataannya waktu itu? Apa ia mengatakan menyukaiku juga atas perintah mama?
"Apa Nona juga mau sarapan?"
Tadinya seperti itu. Namun, begitu melihat Jathayu, keinginan itu lenyap begitu saja. Terus terang aku sangat kecewa dan patah hati. Andai saja mama membawa Jathayu ke dalam kehidupanku bukan untuk mengalihkan perasaanku dari Bram, mungkin aku tidak akan merasa sesakit ini.
Aku tak menggubris pertanyaan Bik Inah dan memutuskan untuk membalik tubuh. Awalnya aku ingin meminta obat sakit kepala dan sarapan pada wanita itu, tapi aku mengurungkan niat.
Oh.
Tiba-tiba saja aku merasakan kepalaku berdenyut begitu hebat. Benda-benda di sekelilingku terlihat seperti berputar dan hendak jatuh menimpaku. Penglihatanku mengabur perlahan lalu semuanya menjadi hitam pekat. Tubuhku benar-benar kehilangan keseimbangannya dan ambruk ke lantai.
***