
"Sebaiknya kamu di sini saja," ucapku sebelum membuka pintu mobil. Aku melirik laki-laki yang saat ini duduk di belakang kemudi. Tak peduli betapa rapi penampilannya hari ini. Setelan jas dengan dasi kupu-kupu yang membuat penampilannya terlihat menawan ketimbang hari-hari biasanya. Aku tidak akan membawanya bersamaku masuk ke dalam tempat pesta dan membuat orang-orang di sana berpikir jika Jathayu adalah kekasihku. Cukup Nyonya Penny saja yang salah paham dengan hubungan kami, jangan sampai orang lain berpikiran sama dengannya. "Aku tidak akan lama."
"Kalau kamu tidak berniat mengajakku masuk, kenapa tadi kamu menyuruhku agar berpakaian seperti ini?" protes Jathayu.
"Hanya untuk berjaga-jaga." Aku membalas dengan kalimat santai.
Laki-laki itu setengah tersenyum mendengar alasanku.
"Kenapa?" tanyaku tak terima. Aku urung membuka pintu mobil gara-gara senyum yang tak kumengerti itu. "Tadinya aku berpikir akan mengajakmu masuk, tapi tiba-tiba saja aku berubah pikiran. Aku takut orang-orang akan salah paham dengan hubungan kita. Jadi, lebih baik kamu tetap tinggal di dalam mobil. Oh... atau kamu memang ingin masuk ke dalam sana? Tapi jangan masuk bersamaku," ocehku panjang.
"Baiklah. Aku akan tetap di sini sesuai seperti perintahmu," ucap Jathayu menurut.
"Itu lebih baik." Aku bergegas membuka pintu dan turun dari mobil setelah menyelesaikan perbincangan kami.
Kali ini aku mengenakan gaun berwarna ungu dengan desain sederhana. Sepatu hak tinggi berwarna senada dan sebuah clutch putih melengkapi penampilanku. Aku tidak terlalu suka menghadiri pesta dan tak ingin menjadi sorotan di antara kerumunan orang banyak. Sejujurnya aku tidak begitu nyaman berada di tengah keramaian.
"Selamat datang, Talisa. Akhirnya kamu datang juga... "
Nyonya Penny menyambut kedatanganku di depan pintu masuk. Wanita itu terlihat anggun dan elegan dengan gaun hasil karyaku. Perhiasan yang ia kenakan terlihat mewah, kontras dengan gaun yang melekat di tubuhnya. Kupikir ia tak akan semencolok ini jika hanya mengundang keluarga besar dan beberapa orang kenalan saja. Tapi, saat aku mengedarkan pandangan ke segenap sudut halaman samping rumah Nyonya Penny, tempat itu telah dipenuhi tamu undangan. Memang tak sampai menyentuh angka seratus orang, tapi bagiku lumayan banyak.
Aku segera menyalami Nyonya Penny dan memberi ucapan selamat ulang tahun kepada suaminya.
"Nyonya tampak cantik hari ini." Tak lupa, aku melontarkan sedikit pujian terhadap Nyonya Penny sebagai rasa hormatku pada wanita itu.
"Kamu terlalu memuji, Talisa. Kamu jauh lebih cantik daripada aku," balas wanita itu sambil terkekeh ringan. "Apa kamu datang sendiri? Di mana pacarmu?" desak wanita itu sembari celingukan mencari seseorang yang pernah ia lihat sedang bertengkar denganku di halaman butik.
"Oh, itu... " Aku benar-benar kikuk. Entah bagaimana aku akan menjelaskan situasi ini pada Nyonya Penny. Apa wajar jika aku mengatakan padanya kalau aku menyuruh Jathayu agar menungguku di mobil?
"Jangan katakan kalau kalian bertengkar lagi," ucap wanita itu seolah-olah tahu segalanya. Tebakannya tidak pernah tepat.
"Tidak seperti itu, Nyonya."
"Jangan mendesaknya seperti itu." Suami Nyonya Penny menukas dengan menyentuh lengan istrinya. "Silakan menikmati pestanya. Jangan pedulikan ucapan istriku," ucap laki-laki itu seraya mengukir senyum di bibirnya.
Tak banyak wajah yang kukenali di sana. Hanya beberapa teman mama yang terlihat tak asing dan mereka tampak sibuk berbincang dengan kenalan masing-masing. Mungkin selama ini aku terlalu sibuk mengurusi butik sehingga duniaku menjadi begitu sempit.
Aku memutuskan untuk berjalan menuju ke arah meja yang menyajikan gelas-gelas berisi sirup warna warni di salah satu sudut. Tak ada satupun orang yang ingin kuajak bicara di tempat itu. Aku juga ragu ada seseorang yang tertarik untuk menyapaku.
Menepikan diri dari kerumunan orang seraya menikmati minuman dan kudapan serta menghayati alunan musik yang terdengar pelan dari kejauhan mungkin menjadi pilihan terbaikku saat ini sembari menunggu acara puncak dimulai. Rasanya sudah lama aku tak menghadiri sebuah pesta semacam ini. Biasanya mama yang datang sendiri, tapi kali ini sebaliknya. Entah kesibukan macam apa yang membuatnya tak bisa meluangkan waktu sehingga aku terpaksa harus datang menggantikan mama.
Agh.
Di saat aku mencoba untuk menebarkan pandangan ke sekeliling, tanpa sengaja tatapan mataku menumbuk sesosok tubuh beberapa meter di ujung sana.
Bram!
Sama sekali tak ada yang berubah dari sosok Bram. Bagiku ia masih memesona seperti sebelumnya. Gurat-gurat halus di sekitar wajahnya tetap sama. Sejumlah uban yang menghias kepalanya juga belum bertambah lebih banyak. Dan aku menemukan jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya ketika menatap laki-laki itu. Perasaanku pada Bram bahkan belum berubah hingga detik ini. Aku masih mencintainya.
Aku hampir saja memekik memanggil nama laki-laki itu jika saja seorang wanita tidak muncul tiba-tiba dari balik punggung Bram. Wanita itu adalah wanita yang sama yang datang ke butik beberapa waktu lalu. Istri Bram.
Dengan gerakan spontan aku memalingkan wajah ke arah lain sebelum Bram atau istrinya menyadari kehadiranku di tempat itu. Akan jauh lebih baik jika mereka tidak melihatku, pikirku. Aku masih belum lupa bagaimana ekspresi wajah wanita itu saat melontarkan ancamannya padaku. Juga kalimatnya kala itu.
Wanita itu bukan orang biasa, begitu kata mama. Istri Bram punya segalanya, uang dan kekuasaan. Ia bisa melakukan apa saja menggunakan uangnya tanpa perlu mengotori kedua tangannya. Termasuk tindak kriminal sekalipun. Namun, aku masih enggan untuk memercayainya sampai sekarang.
Lalu apa yang terjadi dengan Bram? Apakah ia memilih kembali ke pangkuan istrinya ketimbang bercerai seperti yang kuharapkan?
Apa yang kulihat barusan seolah menjelaskan jika mereka baik-baik saja. Tak ada yang salah dengan hubungan mereka berdua. Bram dan istrinya tampak mengurai senyum saat menyapa tamu lain tanpa rasa canggung. Bahkan wanita itu sempat menggamit lengan Bram dengan mesra. Apakah arti dari semua itu? Mungkinkah mereka sudah saling memaafkan dan melupakan semua yang telah terjadi? Ataukah itu hanya sandiwara belaka untuk menutupi betapa rapuhnya hubungan mereka berdua?
Tidak.
Itu tidak tampak seperti sebuah sandiwara. Mereka melakukannya dengan sangat alami dan mereka terlihat bahagia. Entah itu nyata atau sandiwara, tapi yang jelas saat ini aku merasa patah hati. Bahkan ini lebih dari sekadar kecewa. Lututku juga mendadak terasa lemas seperti tak mampu lagi menopang berat tubuhku. Masih adakah aku di dalam hati Bram?
Aku tidak bisa berada di tempat ini lebih lama lagi dan melihat 'pertunjukan' itu dengan lapang dada. Aku tak bisa membiarkan hatiku semakin terluka karena harus melihat Bram bersama dengan wanita itu. Aku harus segera pergi dari sini. Secepatnya.
***