
"Hei, kamu yang kemarin, kan?" Seorang pelayan Retro Cafe menyambutku dengan nada riang. Telunjuk tangan kanannya menunjuk tepat ke arah hidungku. Ia yang menabrakku kemarin. Ingatannya tentang wajah dan penampilanku masih utuh. Aku juga masih mengingatnya dengan sangat baik.
"Ya. Itu aku," balasku dengan senyum lebar. Anehnya aku merasa bangga dengan diriku sendiri yang terkena insiden kecil kemarin. Agaknya berkat kejadian itu aku menjadi tamu istimewa di tempat ini.
"Bagaimana lukamu?" cecar laki-laki itu beralih menatap lenganku yang terbungkus cardigan tipis berwarna ungu. Aku sengaja mengenakan benda itu demi menyembunyikan bekas lukaku.
"Sudah lumayan membaik." Aku mengedarkan tatapan ke sekeliling ruangan cafe, tapi tak menemukan sosok laki-laki tua itu di sudut manapun. "Apa ada tempat kosong?" Aku tak langsung menanyakan keberadaan laki-laki itu dan berpura-pura mencari tempat duduk demi menyamarkan gelagatku.
"Oh, ya. Maaf. Silakan duduk," suruh laki-laki itu seolah baru teringat sesuatu. Ia menunjuk ke arah meja kosong yang paling dekat dengan pintu masuk. Tempat itu tak seramai kemarin. Hanya ada dua meja yang terisi. Suasana di dalam cafe juga masih sama seperti sebelumnya, tenang dan nyaman.
Aku bergegas menempati salah satu kursi di dekat meja kosong yang ditunjuk pelayan tersebut.
"Apa aku bisa menagih janji bosmu kemarin?" tanyaku setelah meletakkan tas tangan milikku di atas meja dan duduk senyaman mungkin.
"Bisa." Laki-laki itu menyahut dengan cepat. "Kamu mau minum apa?" tawarnya tanpa berpikir panjang.
"Es cokelat?" Cuaca panas di luar membuat kerongkonganku kering. Aku juga sedikit berkeringat.
"Baiklah. Akan kubuatkan es cokelat spesial untukmu. Tunggu sebentar."
Aku tersenyum kecil melihat gerakannya yang begitu sigap menuju ke arah belakang meja kasir. Firasatku benar, aku memang tamu istimewa di cafe ini pasca ketumpahan kopi kemarin. Tapi, sejak aku menginjakkan kaki di cafe ini, aku tak melihat laki-laki itu. Apakah ia memang tidak sedang berada di tempat ini?
"Pesanan es cokelat sudah datang."
Lamunanku buyar. Hanya beberapa menit berselang, pelayan itu telah kembali dengan membawa sebuah nampan di tangan. Di atasnya ada sebuah gelas bening agak tinggi berisi cairan cokelat kental dengan beberapa balok kecil es batu di dalamnya. Titik-titik embun tampak jelas menempel di permukaan gelas.
"Apa kamu mau sesuatu yang lain? Kudapan mungkin?" tawarnya setelah meletakkan pesananku di atas meja.
Aku menjawab dengan sebuah gelengan kecil. "Apa kamu sibuk? Bisa menemaniku ngobrol?"
"Uhm... " Laki-laki itu bergumam seraya memutar bola mata. Sepertinya ia perlu berpikir sebelum memutuskan untuk menerima atau menolak penawaranku. Namun, setelah ia melirik ke sekeliling ruangan, akhirnya ia mengabulkan permintaanku. "Boleh. Tapi jangan lama-lama. Bos sedang tidak ada di sini," beritahunya seraya mengambil tempat duduk di seberang kursiku.
"Oh." Aku membulatkan bibir. Dugaanku tepat. Laki-laki itu tidak ada di sini, batinku. "Memangnya ke mana dia?" Aku mulai menggali informasi sambil mengaduk isi gelasku menggunakan sedotan plastik.
Tadinya aku tak memperhatikan, tapi setelah laki-laki itu duduk di seberang kursiku, barulah aku menyadari sebaris nama yang tercetak di kaus seragam miliknya. Andi Prasetya.
Andi mengangkat bahu. Isyarat bahwa ia tidak tahu keberadaan laki-laki yang dipanggilnya 'Bos' kemarin.
"Sepertinya dia sedang sibuk mencari seseorang," jawabnya.
"Apa selain sebagai pemilik cafe, dia juga detektif?" tanyaku asal. Namun, kepala Andi menggeleng sedetik kemudian.
"Sejak cafe buka sebulan lalu, Bos sering pergi keluar. Yang kudengar, katanya dia sedang mencari seseorang. Tapi aku tidak tahu siapa yang sedang dicarinya. Mungkin saja dia sedang mencari calon istri," bisiknya di akhir kalimat. Senyum tipis turut menghias bibirnya. Ia jelas tak yakin dengan ucapannya sendiri.
Aku cukup tercengang mendengar penuturan yang baru saja disampaikan Andi. Kenyataannya, terlalu gampang mendapatkan informasi tentang laki-laki itu dari bibir Andi. Ini membuatku semakin ingin menggali lebih dalam lagi.
"Mencari calon istri?" ulangku hampir tak percaya. Di umur yang kuperkirakan setengah abad, ia masih ingin mencari pendamping hidup? "Memangnya dia tidak punya istri?"
Satu tambahan informasi lagi, batinku. Andi bukanlah orang yang bisa menjaga rahasia. Tapi ini sangat menguntungkan buatku. Aku bisa mencari tahu sebanyak yang kuinginkan.
"Oh. Tapi dia ada di sini kemarin... "
"Ya, kebetulan ada karyawan yang sakit kemarin. Jadi bos datang ke sini. Itu juga tidak lama. Setelah kamu pergi, bos juga pergi," ungkapnya. "Oh ya, apa kamu ke sini hanya untuk bertanya tentang bos kami?"
Aku melepaskan tawa kikuk mendapat sindiran seperti itu. Gelagatku pasti mencurigakan jika aku terus-terusan bertanya.
"Aku ke sini memang untuk mencarinya," tandasku santai dan jujur. Aku menyeruput es cokelatku sejurus kemudian.
"Kenapa? Apa kamu mau menuntut bos kami?" Sepasang mata milik Andi membelalak saat mencecarku.
"Tentu saja tidak." Aku mengembangkan tawa begitu melihat sedikit kekhawatiran yang terbayang di wajah Andi.
"Lalu?"
"Beberapa waktu lalu aku terkena musibah. Tempat usahaku terbakar habis. Dan aku ingin memulai usaha kembali. Sepertinya aku tertarik dengan bisnis cafe. Makanya aku ke sini untuk mencari ilmu pada bosmu. Barangkali dia bisa membantuku. Tapi sayangnya dia tidak ada," tuturku dengan diselipi dusta. Rasanya aku semakin mahir berpura-pura dan berdusta belakangan ini. Bahkan aku melakukannya tanpa berkedip.
"Oh... " Andi manggut-manggut. Laki-laki itu tampak sangat memahami kalimatku. "Aku mengerti. Mungkin kamu bisa datang lain kali," sarannya.
"Ya."
"Tapi aku akan bilang padanya kalau kamu mencarinya," ucap Andi menenangkan hati. "Ah, aku sampai lupa tidak menanyakan namamu. Padahal kita sudah akrab begini," laki-laki itu tergelak dan suaranya mengundang perhatian seorang gadis muda yang berdiri di belakang kasir. Sejak aku tiba, ia tak pernah melepaskan perhatiannya padaku.
"Aku Lisa," ucapku tanpa canggung.
"Lisa," ulangnya. "Nama yang bagus," puji Andi seolah namaku adalah nama yang paling indah di jagat raya ini. Ekspresinya mengatakan hal itu.
Aku hanya memberi senyum sebagai tanggapan atas pujiannya. Sebagus apapun namaku, tetap saja tak berpengaruh pada nasibku.
"Apa kamu sudah menikah?"
Aku tercekat mendengar pertanyaan mengejutkan itu. Rasanya tak percaya, tiba-tiba saja Andi yang baru kukenal beberapa menit yang lalu bertanya tentang status. Laki-laki seperti itu sama sekali bukanlah tipeku. Ia pasti hanya menilai seseorang dari fisiknya belaka. Aku berani bertaruh untuk itu.
"Menurutmu?" Aku sengaja memancing.
Ia tertawa. "Kalau aku tahu, aku tidak akan bertanya, Nona."
"Kalau begitu tebak saja sendiri," ucapku seraya mengangkat tubuh dari atas kursi. Aku mengambil selembar uang dari dalam dompetku dan meletakkannya di atas meja. Andi bukanlah pemilik cafe dan aku tidak bisa menerima minuman gratis darinya. "Aku harus pergi sekarang. Kalau bosmu datang, katakan padanya kalau aku mencarinya."
Aku buru-buru angkat kaki dari depan laki-laki itu, tak peduli raut wajahnya yang terlihat kaget dengan sikapku. Aku sudah jengah dengan percakapan ini.
***