
"Menginap di sini?!" pekik Risa sembari melotot. Bola matanya seperti ingin melompat keluar.
"Uhm." Aku mengangguk tanpa keraguan sedikitpun. Mestinya Risa mengiyakan, karena ia tak punya alasan untuk menolak keinginanku. Dua kantung kresek belanjaan dari minimarket harusnya sudah cukup untuk membuatnya merasa sungkan padaku.
"Tapi kenapa mesti menginap di sini? Rumahmu hanya sepuluh menit dari sini, Talisa," tegasnya. Tampaknya sogokan dariku tak jua membuat hatinya tergerak untuk meluluskan permintaanku untuk menginap.
"Lima belas menit," ralatku dengan bersungut-sungut. Aku masih duduk santai bersandar pada sebuah sofa panjang di dalam salon seraya menatap kesepuluh kuku tanganku yang sudah terpoles cat warna-warni. Hasil kerja keras Risa sejam yang lalu. Gadis itu mengerjakannya dengan sangat teliti dan rapi.
"Karena kamu lamban," balasnya sewot. "Kalau kamu tidak memakai sepatu setinggi itu, kamu bahkan bisa berlari ke rumahmu, Talisa. Dan kamu bisa sampai di rumah dalam waktu tujuh menit saja."
Aku tersenyum miring. "Memangnya aku atlet?" gumamku sambil membuang pandangan ke arah pintu salon yang telah terkunci rapat. Lampu utama juga telah dimatikan. Ruangan itu tampak remang-remang, karena hanya ada satu lampu kecil yang dibiarkan menyala.
"Memangnya ada apa sampai-sampai kamu tidak mau pulang ke rumah? Kamu bertengkar lagi dengan mamamu?" deliknya curiga.
Aku mengembuskan napas kesal. Risa sudah bisa menebak dengan pikirannya sendiri dan tak ada gunanya bertanya.
"Kamu tidak mau menampungku meski hanya semalam saja?" balasku mengabaikan pertanyaan sahabatku itu.
"Tidak," gelengnya tegas.
"Kenapa? Kita masih sahabat, kan?"
"Dengar," Gadis itu mengambil napas sejenak. "tempat ini sangat sempit, Talisa. Tidak ada ruang bernapas untuk dua orang di sini. Kasurku juga tidak akan muat untuk kita berdua. Kamu mengerti, kan?"
Aku mengembangkan senyum miris.
"Aku bisa tidur di mana saja. Di sofa ini juga bisa," timpalku berusaha membujuk gadis itu.
Namun, ia justru mengembangkan seringai tawa angker.
"Kamu yakin?" Sorot matanya mengarah padaku dan sarat dengan ejekan. "Apa kamu bisa tidur tanpa kasur yang empuk dan selimut yang hangat? Jangan lupa, di sini tidak ada penyejuk ruangan, Talisa. Kipas angin hanya akan membuatmu masuk angin dan aku tidak akan pernah bertanggung jawab kalau kamu sakit. Paham?"
"Apa kamu pikir aku semanja itu, hah?" Ucapan Risa sedikit berlebihan menurutku.
"Itu kenyataan, Talisa. Kamu masih ingat saat kita ada kegiatan Perjusami di sekolah, kan? Kamu bahkan menangis karena tidak bisa tidur... "
"Cukup!" Aku mengangkat tangan kananku dan menyuruh Risa agar tak melanjutkan kalimatnya. "Baiklah, aku menyerah. Aku akan pulang," ucapku sambil mengangkat tubuh dari atas sofa. Lebih baik menyerah daripada ia terus mengungkit masa laluku dan menjadikanku bahan olok-olokan.
"Itu bagus. Mau kupesankan ojek? Tapi kamu harus bayar sendiri... "
"Tidak usah," tolakku sambil memungut tas tanganku dari atas meja. Kurasa aku memang harus kembali ke rumah setelah melewati hari ini dengan berkunjung ke beberapa tempat. Suasana hatiku juga berangsur membaik.
Aku melempar senyum getir pada gadis itu sebelum pergi meninggalkan salonnya yang menurutku belum ada perkembangan sama sekali. Aku melangkahkan kakiku kembali di jalanan yang masih tampak ramai meski hari telah malam. Hawa dingin cukup terasa mengusik persendian, tapi itu bukan masalah buatku. Rumahku tak seberapa jauh dari salon Risa.
Perjalanan yang kulalui hari ini cukup melelahkan. Setelah terdampar beberapa saat di depan sebuah sekolah Taman Kanak-kanak tadi siang, aku mengunjungi cafe bernuansa kuno yang pemiliknya seorang laki-laki berusia sekitar 50 tahun. Namun, sayangnya aku tak mendapati laki-laki itu di sana. Ia pergi entah ke mana padahal aku sangat ingin bertemu dengannya. Aku ingin melihatnya lagi.
Jarak dari salon ke rumahku bukan sepuluh menit seperti perkiraan Risa, tapi dua puluh menit. Mungkin aku memang lamban seperti ucapannya. Harusnya aku bisa mencapai rumah lebih cepat dari yang kulakukan sekarang. Alas kaki memang menjadi faktor pendukung paling penting cepat atau lambatnya langkah seseorang.
Aku menghentikan langkah persis di seberang jalan. Meningkatkan kewaspadaan sebelum menyeberang menjadi kunci utama keselamatan, terlebih lagi saat malam seperti ini. Cahaya lampu terkadang menyamarkan pandangan dan aku perlu memastikan tak ada kendaraan melintas ketika akan menyeberang. Namun, ekor mataku menangkap sebuah bayangan seseorang ketika menunggu lalu lintas lengang. Aku menajamkan pandangan.
Dilihat dari postur tubuhnya, sudah jelas sosok bayangan itu berjenis kelamin laki-laki. Wajahnya tak begitu jelas karena jarak pandang dan cahaya lampu tak cukup mendukung indra penglihatanku. Ia baru saja keluar dari rumahku. Tapi, laki-laki itu bukan pencuri. Sebuah mobil putih terparkir di depan pintu gerbang dan kendaraan itu pasti miliknya.
Aku terperangah ketika datang sebuah kesempatan untuk melihat wajah laki-laki itu dengan jelas. Ia berdiri tepat di bawah lampu dan mengedarkan pandangan ke ujung jalan selama beberapa saat. Bukankah itu adalah laki-laki pemilik cafe yang ingin kutemui tadi siang?
Pertanyaan demi pertanyaan datang beruntun memenuhi kepalaku yang tadi sempat kosong. Tentang laki-laki itu.
Aku hanya tertegun di tempatku berdiri dan menunggu laki-laki itu masuk ke dalam mobil lalu melajukan kendaraannya pergi menjauh menembus kegelapan malam. Setelah ia dan mobilnya tak tampak lagi, aku menyeberang jalan dan segera berlari masuk ke dalam rumah. Pertanyaan yang memenuhi ruang di dalam kepalaku harus terjawab saat ini juga.
"Ma!"
Kepala mama langsung menoleh dan ekspresi kaget terlihat jelas di wajahnya. Wanita itu urung membuka pintu kamarnya demi mendengar teriakanku.
"Kamu sudah pulang?" tanya mama dengan suara berat.
Aku melangkah menghampiri tempatnya berdiri sebelum mengajukan sebuah pertanyaan prioritas di kepalaku. "Siapa laki-laki itu, Ma?" tanyaku dengan menatap ke dalam kedua mata miliknya.
"Laki-laki siapa maksudmu?" tanya mama berpura-pura bingung. Sikapnya membuatku kesal.
"Laki-laki yang baru saja dari sini. Aku melihatnya keluar tadi," jelasku meski tahu mama pasti mengerti maksud pertanyaanku.
"Kamu melihatnya?" tanya mama terlihat khawatir.
"Apa mama akan menikah dengannya?" desakku. Aku juga khawatir, sama seperti mama. Laki-laki pemilik cafe itu konon sudah bercerai dan mama menjadi janda hampir sepanjang usiaku. Bukankah persamaan nasib bisa membuat keduanya berpikir untuk menyatukan hati?
"Apa yang kamu bicarakan, Talisa?" Mama masih juga bersikap bingung.
"Jangan menikah dengan laki-laki itu," ucapku tegas. Selama ini aku tidak pernah melihat mama menerima tamu laki-laki di rumah. Ia selalu bertemu dengan kliennya di kantor atau tempat umum. Dan aku merasa ada sesuatu di antara mereka berdua. Sebelum terlanjur, aku ingin mencegah hal yang sama sekali tidak kuharapkan terjadi. "Aku menyukai laki-laki itu," tandasku kemudian.
"Talisa!" pekik mama dengan sepasang mata terbelalak. Tak kuduga, sedetik kemudian tangan kanannya melayang ke pipi kiriku dengan keras.
***