WHAT'S WRONG WITH MY BODYGUARD?

WHAT'S WRONG WITH MY BODYGUARD?
#51



"Apa kamu tidak suka makanannya?"


Aku berhenti memainkan sendok dan garpu dalam genggaman lalu melirik ke arah mama. Aku menggeleng sekadarnya.


"Mama bisa memanaskan lagi sayurnya untukmu," tawarnya seolah ingin membujukku lebih keras dari sebelumnya.


"Tidak usah, Ma." Aku tidak ingin membuat wanita itu repot.


"Apa terjadi sesuatu?" tanya mama. Tatapan curiga bisa kutangkap dari sorot matanya, tapi wanita itu jelas tak bisa menebak apa yang sedang menghuni pikiranku sekarang. Bayangan laki-laki pemilik cafe yang dipenuhi dengan barang-barang antik itu terus menghantui benakku. Entah apa sebabnya. Ia begitu saja menarik perhatianku.


"Tidak ada." Dustaku tak akan mempan. Wanita itu tidak bisa kubohongi dengan mudah. Gelagatku kali ini terlalu mencolok.


"Kenapa dengan lenganmu?"


Dengan gerakan refleks, aku menarik lenganku dari atas meja. Seharusnya aku memakai pakaian lengan panjang tadi dan bukan selembar kaus tanpa lengan seperti ini.


"Hanya luka kecil," sahutku cepat. "Ada insiden kecil di cafe tadi." Aku menambahi kalimatku.


"Kamu bertemu dengan seseorang?"


"Ya," anggukku. "Aku bertemu Nyonya Penny tadi siang. Dia menawarkan bantuan padaku."


"Bantuan?" delik mama. Wanita itu sedikit melebarkan kedua matanya. "Bantuan apa?"


"Dia menyarankan aku agar membuka butik lagi," ungkapku. Tanganku kembali mengaduk isi piring dan mulai menyuap perlahan. "Tapi mama tidak perlu cemas. Aku tidak akan menerima bantuannya."


Mama terlihat menarik napas lega mendengar pernyataanku.


"Aku tidak bisa menerima kebaikan hati orang lain," tandasku kemudian.


"Jadi, apa kamu akan membuka butik lagi dengan bantuan mama?"


Aku menggeleng pelan. Kali ini aku menyuap kembali dan mencoba untuk lebih menikmati makananku. Rasanya sedikit lega saat aku dan mama tak perlu berbagi argumen seperti dulu saat berada di meja makan. Mungkin ini adalah jalan untuk kami berbaikan. Namun, entah ini akan bertahan lama atau sebaliknya.


"Aku belum memutuskan," tandasku.


"Bukannya cita-citamu dari dulu adalah menjadi seorang perancang busana?"


"Memang," jawabku.


"Apa kamu takut wanita itu akan menghancurkanmu lagi?"


Pertanyaan mama sedikit menyinggung perasaan. Namun, aku membalasnya dengan sebuah gelengan.


"Selama kamu tidak mengusik rumah tangganya, mama rasa wanita itu juga tidak akan mengganggu hidupmu," ujar mama memberikan pendapat. Tapi menurutku itu bukanlah sebuah jaminan. Tak ada yang tahu apakah wanita itu masih menyimpan dendam padaku atau tidak.


"Apa mama yakin?"


Mama menatapku lekat-lekat. Wanita itu menyimpan sebuah keraguan, sama sepertiku. Namun, ia terlihat tak ingin mengatakannya secara gamblang.


"Bukannya hubungan kalian sudah berakhir?" Mama kembali melanjutkan acara makannya setelah puas menatapku.


Ya, tapi belum lama ini kami bertemu tanpa sengaja di pinggir jalan. Saat itu hujan dan Bram keluar dari mobilnya lalu menghampiriku. Bahkan laki-laki itu mengantarku pulang meski tak sampai depan rumah. Aku yakin perasaan Bram tidak berubah padaku. Namun, aku akan merahasiakan pertemuan itu sampai kapanpun. Kisah tentang Bram sudah kututup rapat-rapat dan aku tidak ingin membahas laki-laki itu lagi.


"Apa mama mau menjualkan mobilku?" Aku sengaja beralih tema.


"Kenapa? Kamu mau ganti yang baru?"


"Tidak."


"Aku sudah tidak membutuhkannya."


Pernyataanku seketika membuat mama berhenti dari segala aktifitas makannya. Wanita itu kemudian menatapku.


"Kamu ingat kan, mobil itu adalah hasil kerja kerasmu? Kenapa kamu tiba-tiba ingin menjualnya? Kalau untuk membuka usaha, kamu bisa mengandalkan mama," ucap mama dengan kening terlipat karena heran.


"Aku hanya ingin menjualnya, itu saja," tandasku enggan.


"Oh, ya?" Ekspresi curiga kentara jelas di wajah wanita itu.


"Aku sudah selesai," ucapku setelah meneguk air minumku sampai tak bersisa lalu bangun dari atas kursi. "Aku mau ke kamar."


"Apa kamu menyukai Jathayu?"


Aku urung untuk meninggalkan ruang makan demi mendengar pertanyaan mama yang begitu tiba-tiba. Sedari tadi kami sama sekali tidak menyinggung tentang laki-laki itu, tapi sekarang? Jathayu bukanlah tema obrolan kami selama di meja makan.


"Apa maksud mama?" Aku balas bertanya dan sengaja mengerutkan kening. Kupikir selama ini mama tidak tahu apa-apa tentangku, tapi aku saja yang tidak sadar jika wanita itu sedang memperhatikan sikapku dari waktu ke waktu. Firasat dan kecurigaannya nyaris tak pernah meleset.


"Kamu bertingkah aneh sejak Jathayu pergi dari rumah ini, Lisa." Ia mencoba memperingatkan.


"Apa aku seperti itu?" Aku tersenyum sinis. "Mama saja yang terlalu sensitif... "


"Apa kamu tidak menyadarinya?"


"Ma." Aku menukas. "Mama tahu sendiri kan, aku menyukai laki-laki yang jauh lebih tua dan Jathayu sama sekali bukanlah tipeku. Mama dengar itu?" tegasku. Kuharap mama belum melupakan bagaimana ia menyimpulkan penilaian terhadapku.


"Mama tahu. Tapi tidak ada salahnya menyukai seseorang seperti Jathayu. Dia jauh lebih baik dari laki-laki tua itu," tandas mama. Jika dirasa-rasa, mama tak jauh beda dari Risa.


Namun, kalimat yang baru saja mama lontarkan mengundang rasa curiga dalam benakku.


"Jadi, mama sengaja menjadikan Jathayu sebagai pengawal pribadiku agar aku jatuh cinta padanya? Jathayu hanyalah umpan untuk menyingkirkan Bram secara pelan-pelan? Begitukah?" Aku melebarkan mataku selebar-lebarnya saat mencecar mama.


Mama membisu di tempatnya. Kediaman wanita itu membuatku menyadari banyak hal. Entah kenapa tiba-tiba dadaku menjadi lebih sakit dari sebelumnya. Rasanya tubuhku limbung dan nyaris ambruk.


"Talisa... "


"Aku benar, kan?" timpalku tak ingin mendengar pembelaan apapun dari bibir wanita itu. "Mama sudah merencanakan semua ini dari awal, kan?" desakku.


"Bukan seperti itu, Talisa."


"Cukup!" Aku mengibas cepat. Apapun itu, aku tidak mau mendengarnya. Meski mama menyangkal, aku tidak akan pernah memercayainya.


"Talisa!"


Aku tak menggubris teriakan mama yang menggema di sekitar ruang makan dan meneruskan langkah. Tak ada yang bisa menghentikan gerakan kaki dan juga amarah yang seperti ingin meledakkan kepalaku.


Jadi, semua ini hanya rekayasa mama? Wanita itu melakukan segala cara untuk membuatku melupakan Bram dan setelah aku benar-benar masuk dalam perangkapnya, ia justru mengusir Jathayu pergi jauh dari hidupku. Rencananya berhasil. Sekarang aku hancur sehancur-hancurnya. Aku ragu aku masih punya hati untuk mencintai orang lain lagi.


Aku membanting pintu kamar dengan keras demi melampiaskan semuanya. Lalu beralih kepada barisan alat-alat kosmetik yang berdiri di atas meja rias. Pigura, bantal, selimut, dan hampir semua benda di dalam kamarku menjadi korban amarahku. Aku pasti sudah tidak waras sekarang.


Tubuhku merosot ke lantai ketika tenagaku habis terkuras setelah puas mengamuk. Kamarku berubah bak kapal pecah. Sementara air mataku meleleh tanpa bisa kutahan. Dadaku sesak. Rasanya sakit sekali.


Malam itu aku menangis sejadi-jadinya hingga jatuh tertidur karena kelelahan.


***