WHAT'S WRONG WITH MY BODYGUARD?

WHAT'S WRONG WITH MY BODYGUARD?
#26



Aku memandang sebuah kotak karton di atas meja yang baru saja diletakkan Nyonya Penny. Warna dasar karton itu didominasi kuning dan selebihnya putih. Gambar beberapa macam kue beserta tulisan sebuah nama toko tercetak pada salah satu sisi karton.


"Untukmu," ucap Nyonya Penny disertai seulas senyum cerah menghias bibirnya. Wanita itu terlihat bahagia hari ini.


"A-apa ini?" Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba gugup seperti ini. Itu jelas kue, kan? Dan aku seperti orang bodoh saat menanyakan hal itu pada Nyonya Penny.


"Hanya kue. Tadi kebetulan aku lewat depan toko kue dan tiba-tiba aku ingat kamu, Talisa. Jadi, aku mampir," papar Nyonya Penny menjelaskan.


Ya, dari kemasannya aku tahu jika isi karton itu adalah kue. Dan kue itu mengundang ingatanku tentang Bram hadir di benakku. Laki-laki itu juga mengirimkan sebuah kue tart padaku beberapa waktu lalu. Akan jauh lebih baik jika kue yang sekarang ada di hadapanku juga dikirimkan oleh Bram. Namun, sayangnya kue itu berasal dari orang lain.


"Oh... " Aku berlagak seperti orang linglung. "Kenapa Anda repot-repot seperti ini, Nyonya?" Melontarkan basa basi adalah pilihan terbaik saat ini.


"Tidak repot, Talisa." Wanita itu menepuk bahuku seperti pada temannya sendiri. "Itu hanya kue," ulangnya.


"Tapi, Nyonya. Itu berlebihan... "


"Tidak, Talisa. Itu sama sekali tidak mahal. Oh ya, apa kamu sudah baik?"


"Ya, Nyonya. Aku hanya demam saat itu," ucapku. Tapi aku harus beristirahat selama dua hari di dalam kamar karena Jathayu. Laki-laki itu melarangku untuk beraktifitas di luar rumah sampai aku benar-benar sembuh. "Silakan duduk, Nyonya. Maaf, saya sampai lupa untuk menyuruh Anda duduk." Aku terkekeh demi menutupi kebodohanku.


"Kamu harus banyak-banyak istirahat, Talisa. Juga kamu harus banyak makan. Kamu tampak kurus dari terakhir yang kulihat," tandas Nyonya Penny setelah wanita itu mengambil tempat duduk di kursi.


"Oh... " Aku agak terkejut mendengar wanita itu mengatakan jika aku lebih kurus dari sebelumnya. Apa aku sekurus itu? "Baik, Nyonya."


"Oh ya, apa gaunku sudah selesai dijahit? Aku sudah tidak sabar ingin segera mencobanya." Nyonya Penny mengatakan maksud dan tujuannya datang ke butik. Tentu saja wanita itu hendak mengambil gaunnya. Pesta kebun yang diadakan untuk merayakan hari ulang tahun suaminya akan diadakan beberapa hari lagi.


"Tentu."


Aku segera memanggil Dini dan menyuruh gadis itu agar membawakan gaun pesanan Nyonya Penny.


"Ini, gaun pesanan Anda, Nyonya."


Nyonya Penny terlihat antusias ketika menerima gaunnya. Kentara sekali jika wanita itu langsung menyukai gaun berwarna hijau hasil desainku. Sepasang matanya melebar dan senyum bahagia merekah di bibir berbalut lipstik merah tua.


"Wah... ini bagus sekali, Talisa. Aku sangat menyukainya," decak wanita itu seraya berjalan ke depan cermin dan mulai mematut diri dengan gaun barunya.


"Cobalah, Nyonya. Kalau ada bagian yang kurang pas, saya bisa segera memperbaikinya."


"Baiklah."


Nyonya Penny bergegas masuk ke dalam kamar pas dan beberapa menit kemudian, wanita itu keluar dengan mengenakan gaun barunya.


"Ini sangat bagus, Talisa." Wanita itu berdecak gembira ketika mematut diri di depan cermin. Ia memutar tubuh berulang kali demi melihat penampakan gaun itu dari berbagai sisi.


Aku turut merasa senang melihat Nyonya Penny. Bagiku kepuasan pelanggan adalah sebuah kebahagiaan tersendiri.


"Tidak perlu berlebihan, Nyonya... "


"Tidak, Talisa. Ini tidak berlebihan. Aku selalu menghargai kerja keras orang lain. Kamu tidak perlu merasa sungkan," tandasnya.


Nyonya Penny memang memiliki kekayaan yang cukup banyak. Baginya uang tak ada masalah. Ia juga terbiasa menghamburkan uangnya untuk berbelanja.


"Oh ya," Nyonya Penny mengambil tempat duduk di atas kursi panjang setelah puas menatap dirinya dan gaun barunya di dalam cermin. "mamamu meneleponku kemarin. Dia mengatakan tidak bisa datang ke acara suamiku karena sibuk. Jadi, bagaimanapun juga, sesibuk apapun kamu, kamu harus datang ke pesta ulang tahun suamiku, Talisa. Kamu bisa, kan?" lanjutnya sembari menatapku dalam-dalam.


Apa kehadiranku sangat penting buatnya?


"Ya, Nyonya." Mau tak mau, aku mengiyakan. Lagipula aku tidak begitu sibuk. Aku masih bisa meluangkan sedikit waktu jika hanya untuk sekadar menghadiri pesta. Toh, aku tidak akan berlama-lama berada di tempat seperti itu.


"Bagus." Wanita itu menjentikkan jarinya ke udara. "Ajak juga laki-laki itu. Kalian sudah berbaikan, bukan?" Nyonya Penny melirik ke arah teras butik. Jathayu terlihat sedang duduk tenang di atas sebuah kursi plastik. Dini dan Eka yang meminta izin padaku untuk menempatkan kursi itu di sana.


"Oh... itu... " Aku kebingungan harus menjawab apa. Kesalahpahaman itu terlanjur tertanam di benak Nyonya Penny dan bagaimana aku bisa meluruskannya? Kurasa wanita itu tidak akan mendengar apapun yang akan kukatakan tentang kami sekalipun aku berkata sungguh-sungguh. Nyonya Penny pasti lebih memercayai apa yang ia lihat saat itu.


"Dia pasti sangat mencintaimu, Talisa. Dia bahkan sampai rela duduk di luar hanya untuk menunggumu," ucap Nyonya Penny.


Terserahlah apa kata Nyonya Penny, batinku. Biarkan saja ia berpikir dengan caranya sendiri.


Aku merasa sangat bersyukur ketika wanita itu memutuskan untuk pamit. Tak kurang dari dua jam ia berada di butik dan mengoceh ke sana kemari. Aku tahu ia adalah wanita yang baik, hanya saja terkadang ia menyebalkan karena terlalu banyak bicara. Namun, Jathayu jauh lebih menyebalkan ketimbang wanita itu.


"Apa kue yang waktu itu juga Nyonya Penny yang mengirimkannya?" tanya Dini sepuluh menit pasca Nyonya Penny meninggalkan butik. Wanita itu sempat memberi uang tip untuk Dini dan Eka sebelum pergi. Padahal kupikir itu tidak perlu karena hal itu tidak lazim dilakukan oleh pelanggan butik.


"Potong saja kuenya dan tidak usah banyak bertanya," sahutku kesal.


"Ya, Nona." Dini bergegas memotong kue pemberian Nyonya Penny menjadi beberapa bagian. Lelehan keju yang menyelimuti bagian atas kue tampak sangat menggiurkan, tapi entah kenapa rasanya tanganku enggan untuk menyentuhnya. Kue itu membuat ingatanku kembali melayang pada Bram. "Apa Mas Jathayu juga diberi kuenya, Nona?"


Aku menghela napas dan mengenyahkan bayangan Bram dari benakku.


"Terserah kamu," jawabku tanpa kepastian.


"Kuenya enak. Nona tidak mau makan?" Eka bersuara di saat mulutnya penuh dengan kue. Bahkan lelehan keju mengotori bibirnya.


"Kalian saja yang makan. Aku sudah kenyang."


"Tapi kue ini kan untuk Nona. Ah, kalau begitu saya sisakan sepotong untuk Nona. Siapa tahu nanti Nona ingin makan... "


Terserah.


***