WHAT'S WRONG WITH MY BODYGUARD?

WHAT'S WRONG WITH MY BODYGUARD?
#89



"Memangnya ke mana kita akan pergi?"


Aku bertanya pada laki-laki bertubuh tinggi tegap dan berkacamata hitam yang sekarang duduk di atas kursi pengemudi usai menebarkan pandangan ke sisi jalan yang sedang kami lalui. Jelas ini bukan jalur ke rumahku atau rumah papa. Juga bukan jalur menuju rumah Nyonya Penny.


Laki-laki itu tak menggubris pertanyaanku. Ia bersikap seolah-olah tak pernah mendengar apapun dan sepertinya sengaja ingin membuatku bertambah penasaran.


Aku menyandarkan kepala dan mengembuskan napas keras-keras. Sebentar lagi aku juga akan tahu ke mana laki-laki itu membawaku. Sekarang aku hanya perlu menikmati betapa nyamannya duduk di kursi belakang pengemudi hingga perjalanan kami sampai di tempat tujuan. Toh, bertanya pun tak akan membuahkan hasil.


"Kita sudah sampai, Nona."


Aku baru mengangkat kepalaku dari atas jok ketika suara laki-laki itu terdengar. Ia memberitahu jika kami telah sampai di tempat tujuan. Perjalanan dengan mobil senyaman itu membuatku hampir lupa kalau aku sedang 'diculik'.


"Apa ini tempatnya?" tanyaku seraya menatap pemandangan sekitar sebelum akhirnya keluar dari dalam mobil. Laki-laki itu berbaik hati membukakan pintu untukku.


"Ya, silakan masuk. Saya akan mengantar Anda, Nona."


Aku masih tertegun di tempatku berdiri meski laki-laki itu mempersilakanku untuk masuk ke dalam gedung megah yang berada tepat di hadapanku. Bukankah ini hotel? batinku sambil menatap curiga ke arah laki-laki itu. Apa yang akan mereka lakukan padaku di tempat seperti ini?


"Kenapa kamu membawaku ke sini?" Aku tidak akan berpindah tempat sebelum laki-laki itu menjelaskan semuanya dengan jelas padaku.


"Tuan sudah menunggu Anda di dalam, Nona."


"Tuan siapa?" tanyaku heran.


"Tuan Jathayu."


Jathayu?


Mendengar laki-laki itu menyebut nama Jathayu membuatku sedikit terguncang. Aku sudah bisa menebak jika Jathayu adalah dalang di balik rencana 'penculikan' ini. Tapi kenapa ia memilih hotel sebagai tempat pertemuan kami dan bukan tempat lain?


"Kenapa dia membawaku ke tempat seperti ini?"


"Anda akan tahu setelah masuk dan bertemu dengannya, Nona."


"Bagaimana kalau aku tidak mau? Apa kamu akan menyeretku agar masuk ke dalam?" Aku melipat kedua lengan di depan dada.


"Tuan sudah menunggu Anda di dalam, Nona. Sebaiknya Anda cepat masuk."


"Kamu ingin memaksaku?" Melihat sikapnya yang mirip dengan Jathayu di masa lalu membuatku kesal bukan main.


"Tidak, Nona."


"Kenapa kamu masih di sini?"


Akhirnya suara lain menyela perdebatan antara aku dan laki-laki bertubuh tinggi tegap itu. Tanpa melihat pun aku sudah tahu siapa pemilik suara itu. Jathayu.


Laki-laki itu mendadak muncul dari arah pintu masuk hotel. Aku hampir tak percaya jika sosok itu adalah Jathayu. Ia tampak sangat jauh berbeda dari yang kukenal dulu. Setelan mahal yang membalut di tubuhnya mengukuhkan jika ia bukan lagi Jathayu si pengawal pribadi. Meski ia bukan putra seorang sultan, tapi Jathayu adalah putra dari keluarga kaya raya. Aura yang terpancar dari dirinya juga berbeda. Kekayaan bisa membuat orang berubah dalam sekejap. Mungkin uang bisa diserupakan dengan keajaiban.


"Aku menunggumu dari tadi," ucap Jathayu begitu langkah kakinya berhenti beberapa jengkal di depanku. Aroma wangi lembut yang menguar dari tubuhnya seketika menusuk indra penciumanku.


"Menungguku di tempat seperti ini?" balasku masih dengan nada kurang percaya.


"Ya. Mari kita masuk," ajaknya. Tangan Jathayu yang nyaris menyentuh kulitku langsung kutepis.


"Aku tidak mau," tandasku tegas.


"Untuk apa kamu membawaku ke tempat seperti ini?" Nada suaraku sengaja kunaikkan satu level.


Jathayu menatapku lamat-lamat. Aku tahu ia kurang peka dalam hal apapun, tapi laki-laki itu tampak sedang berpikir.


"Memangnya apa yang sedang kamu pikirkan?"


"Apa yang kupikirkan tidak penting. Yang terpenting sekarang adalah apa yang kamu pikirkan tentangku," balasku tak ingin kalah darinya.


"Memangnya apa yang kupikirkan?" Ia seperti bertanya pada diri sendiri padahal tanpa bertanya pun Jathayu sudah tahu jawabannya. "Aku hanya ingin mengajakmu makan siang, Nona. Memangnya apa yang kamu pikirkan?"


Makan siang?


Astaga!


Wajahku seketika memanas begitu mendengar pengakuan Jathayu yang sama sekali tak pernah terpikirkan olehku sebelumnya.


"Aku sudah lapar. Apa kita bisa masuk sekarang?"


Dengan perasaan malu setengah mati aku mengangguk pelan dan menuruti ajakan Jathayu untuk segera masuk ke dalam gedung megah itu.


Kupikir Jathayu akan memesan semua meja di dalam restoran itu demi privasi kami berdua. Tapi, imajinasiku tidak pernah menjadi kenyataan. Mungkin pikiranku sudah terlalu banyak terkontaminasi drama Korea. Kenyataannya meja di restoran itu hampir penuh dengan pengunjung yang ingin menikmati makan siang mewah yang dimasak oleh koki-koki profesional.


"Maaf jika aku membawamu kemari dengan cara seperti itu," ucap Jathayu di sela-sela makan siang kami.


"Lakukan apapun sesuka hatimu," balasku tanpa menatap ke arahnya. Aku memasukkan irisan daging ke dalam mulut dan tak ingin peduli dengan apapun di sekitarku.


"Kamu marah padaku?"


"Aku sudah bilang kan, lakukan apapun sesuka hatimu," tandasku mengulangi ucapan sebelumnya. Uang memang ajaib. Ia bisa merubah orang yang kukenal menjadi orang asing. "Kamu sudah banyak berubah, Jathayu. Apa kamu sadar hal itu?" ujarku berterus terang sambil meletakkan pisau dan garpu di atas piring. Aku menajamkan tatapan ke arahnya.


"Aku masih menyukaimu sama seperti dulu, Nona."


Ia bahkan masih memanggilku dengan sebutan itu.


"Aku bukan lagi majikanmu, berhenti menyebutku 'nona'," tandasku. Tapi sejujurnya aku merasa nyaman dengan sebutan 'nona'. Kuakui sebagian diri Jathayu masih sama seperti sebelumnya, tapi sebagian dirinya yang lain sudah tak bisa kukenali. "Aku hanya takut kamu akan berubah, Jathayu," ucapku bersungguh-sungguh. Kuharap ia akan memahami perasaanku.


Laki-laki itu mengembangkan senyum seraya mengulurkan tangannya ke hadapanku. Jathayu meraih genggaman tanganku di atas meja sejurus kemudian.


"Jika kamu takut aku akan berubah, maka tinggallah di sisiku selamanya," ucapnya membuatku terpana.


Oh.


Rasanya jantungku berhenti berdetak saat ini juga usai mendengar ucapan laki-laki tampan itu.


"Apa maksudmu?" tanyaku terbata. Atmosfir di sekitar wajahku terasa menghangat. Aku sangat yakin jika penyejuk ruangan di restoran ini tiba-tiba mati. Anehnya seluruh tubuhku kaku dan tak bisa kugerakkan.


"Menikahlah denganku, Nona."


Tanpa keraguan sedikitpun, kalimat itu meluncur dengan lancar dari bibir Jathayu. Rupanya ia sudah merencanakan semua ini dari awal. Dan laki-laki itu berhasil membuatku terkejut dengan kejutan manisnya.


"Lakukan apapun sesuka hatimu, Jathayu," balasku seraya mengerling manja ke arahnya. Mendadak angin sejuk berembus dengan tenang menerpa wajahku. Agaknya penyejuk udara di dalam ruangan ini telah menyala kembali.


***