WHAT'S WRONG WITH MY BODYGUARD?

WHAT'S WRONG WITH MY BODYGUARD?
#44



Selama ini aku terlalu nyaman berlindung pada masa laluku yang penuh dengan kekosongan. Aku menjadikan kekurangan itu sebagai alasan untuk membenarkan setiap tindakan burukku. Aku mengasihani diriku sendiri layaknya seorang pengemis kotor yang kekurangan makan dan mengenaskan. Aku berusaha untuk mendapatkan apa yang ku mau meski dengan cara mencuri sekalipun. Aku seorang wanita angkuh yang percaya diri bisa mengikat laki-laki beristri dengan cintaku. Namun, kenyataan pahit harus kutelan ketika laki-laki itu tak memilihku. Aku dicampakkan. Aku seorang wanita yang terbuang.


Namun, seseorang datang tiba-tiba dalam hidupku. Ia adalah seorang laki-laki yang kuat dan memiliki tatapan tajam. Wajah tanpa ekspresinya bisa menilu semua orang. Jauh di dalam hatinya ia hangat meski terkadang sikapnya dingin dan menyebalkan. Kurasa aku mulai menyukainya.


Sejak kembali dari vila dua hari yang lalu, perlahan aku mengubah pemikiranku tentang Jathayu. Dan hari ini, naluri membawaku bangun lebih pagi. Aku ingin memulai hidup yang baru terhitung hari ini. Entahlah, aku belum memikirkan rencana apa yang akan kulakukan. Membuka butik baru seperti saran mama atau mencari pekerjaan di tempat lain. Aku masih belum memutuskan. Yang pasti, aku berusaha untuk bangun lebih awal dari biasanya.


"Tumben sudah bangun," tegur Bik Inah dengan tatapan penuh curiga. Wanita itu mengalihkan perhatiannya ke arahku dan sejenak mengabaikan segerombolan udang dalam sebuah wadah.


"Kurasa aku tidak bangun kepagian. Sekarang sudah jam enam, kan?" Aku bermaksud membela diri. Bik Inah pandai menyindir orang.


Wanita itu tersenyum licik. "Bukannya Nona selalu bangun di atas jam delapan?" Ia menyindir. Kali ini Bik Inah memilih untuk menyatukan fokusnya pada segerombolan udang yang hendak ia cuci.


"Apa aku tidak boleh bangun pagi?"


"Boleh, memangnya siapa yang akan melarang? Tapi sarapan belum siap." Kemahirannya berkata pedas masih sama seperti biasa.


"Oh,ya," Aku berusahan mengakhiri obrolan tanpa guna itu dan mengedarkan pandangan ke sekeliling ruang makan dan ruang tengah yang menyatu tanpa sekat. "apa Jathayu belum bangun?" Sedari tadi aku tak melihat penampakan laki-laki itu. Biasanya ia berolahraga sepagi ini.


Bik Inah telah selesai mencuci udang-udangnya. Wanita itu berbalik dan menunda untuk menjawab pertanyaanku.


"Apa Nona belum tahu sesuatu?" Raut wajah Bik Inah terlihat serius.


"Tahu apa?"


"Jathayu sudah pergi dari rumah ini. Nyonya memberhentikan dia... "


"Apa?!" kejutku. Aku sungguh kaget mendengar pengakuan Bik Inah. "Jathayu pergi?" ulangku untuk memastikan meski Bik Inah sudah menegaskan jika Jathayu telah pergi.


Wanita itu mengangguk.


"Pagi-pagi sekali dia pergi. Bibik bertemu dengannya di depan rumah tadi. Dia hanya bilang, dia menitip salam untuk Nona Talisa."


Oh.


Mendadak kepalaku berdenyut. Sebuah guncangan hebat tiba-tiba menyerang dadaku. Tangan-tanganku gemetar.


Jathayu pergi?


Aku tidak bisa membiarkan laki-laki itu pergi begitu saja. Bagaimana mungkin Jathayu pergi tanpa seizinku? Lancang sekali dia. Ini tidak boleh terjadi!


Aku bergegas menuju ke kamar mama dengan setengah berlari. Aku harus memastikan sesuatu pada mama. Tentang Jathayu. Benarkah ia telah memberhentikan laki-laki itu sebagai pengawal pribadiku?


"Ma!"


Aku mendorong pintu kamar mama dengan paksa seraya berteriak kasar.


"Ada apa, Lisa?" tanya wanita itu seraya meletakkan krim anti penuaan dini miliknya di atas meja. Aku berencana akan memakai krim yang sama sepuluh tahun lagi demi menjaga kelembaban kulitku agar bisa selalu terlihat awet muda seperti mama. Meski harganya selangit, aku akan tetap membelinya. Aku yakin mama akan mendukungku kelak.


"Kenapa Mama memberhentikan Jathayu tanpa seizinku?" protesku. Aku berangsur menghampiri tempat duduknya.


Mama bangkit dari kursi riasnya dan menatapku dengan kedua mata yang dibingkai oleh bulu-bulu lentik nan cantik. Riasannya tampak natural, tak mencolok. Cocok dengan wajah ayu mama. Juga setelan berwarna ungu tua yang kontras dengan warna kulitnya, tampak serasi dengan sebuah bros berbahan perak yang terpasang di bagian bawah lehernya. Wanita itu membuatku selalu merasa iri dengan keanggunan yang melekat pada dirinya. Aku tak pernah tampil secantik itu.


"Bukannya kamu yang ingin Jathayu berhenti? Lagipula mama yang mempekerjakan dia, kenapa mama harus meminta izinmu?" Serangan balik yang mama lancarkan cukup mengena di hatiku.


Benar. Aku memang pernah menginginkan agar mama memberhentikan Jathayu dari pekerjaannya, tapi itu beberapa waktu yang lalu. Dan pagi ini aku menginginkan sebaliknya. Aku ingin laki-laki itu tinggal di sisiku untuk jangka waktu yang lama. Mungkin selamanya.


"Mama sudah memberhentikannya kemarin. Apa dia tidak memberitahumu?"


"Apa?" Aku seperti baru diingatkan sesuatu. Jika mama sudah memberhentikan Jathayu kemarin, harusnya ia memberitahuku setelahnya atau paling lambat semalam. Bahkan laki-laki itu pergi begitu saja tanpa menemuiku. Apa-apaan ini?


"Apa mama harus memintanya agar kembali ke sini?" sentak mama di tengah-tengah kekalutanku.


"Tidak perlu." Gelenganku mungkin sarat dengan keraguan. Tapi sikap Jathayu lebih membuatku tak mengerti. Kenapa ia tidak memberitahuku? Bahkan laki-laki itu juga tidak mengucapkan selamat tinggal padaku. Lalu kenapa ia pernah menyatakan rasa suka padaku? Apa semua itu hanya sebuah kebohongan belaka? Atau rasa suka yang hanya bersifat sementara? Cinta lokasi yang akan pudar dengan sendirinya kemudian akan digantikan cinta yang tumbuh di tempat lain, dengan wanita lain tentunya.


"Sepertinya dia sudah mendapat pekerjaan di tempat lain. Mama mendengarnya bicara di telepon dengan seseorang," ucap mama menambahkan satu informasi lain.


"Oh."


"Kamu baik-baik saja, kan?"


"Ya, aku baik-baik saja. Lagipula tugasnya sudah selesai, kan?" Tanpa sadar aku mengurai senyum getir.


Perlahan aku menutup pintu kamar mama dan melangkah ke kamarku sendiri dengan langkah yang nyaris tanpa tenaga, tanpa semangat.


Apa yang dipikirkan laki-laki itu sebenarnya? Saat ia mengatakan ia menyukaiku, bersungguh-sungguhkah ia? Lalu kenapa ia meninggalkanku tanpa sepatah kata?


Jathayu bodoh!


Makian itu menggema di segenap penjuru hatiku. Apa ia sengaja ingin menghancurkan hidupku setelah aku kehilangan semuanya? Bram, butik, harapan, harga diri, lalu sekarang ia pergi meninggalkanku. Bukankah ini terlalu kejam untukku?


Di balik pintu, tubuhku perlahan merosot ke lantai. Aku lemas. Tenagaku seperti habis tak bersisa. Wajahku tiba-tiba memanas dan air bening berhamburan keluar dari kedua mataku. Pipiku basah dalam sekejap.


Rasanya aku sedang dikutuk sekarang. Hukum karma sedang berlaku padaku. Padahal hari ini aku bangun lebih awal ketimbang biasanya meski belum memutuskan akan melakukan apa. Namun, seseorang yang kuharapkan ada di sampingku justru pergi tanpa pamit.


Aku jadi berpikir, mungkinkah aku memang tidak berhak untuk bahagia?


***