
Papa benar-benar memanjakanku hari ini. Setelah boneka, laki-laki itu membelikanku seuntai kalung lengkap dengan liontinnya. Papa memutuskan untuk mengambil sebuah liontin inisial namaku. Lalu setelah itu, kami menjelajah seisi mal. Butik demi butik kami datangi. Papa terus saja memaksa untuk membelikanku pakaian, padahal aku tidak membutuhkan pakaian baru. Isi lemariku sudah penuh dan aku tak yakin masih ada ruang di sana untuk menyimpan pakaian baru. Lagipula aku adalah seorang perancang busana. Jika aku mau, aku bisa mendesain dan menjahit pakaianku sendiri. Namun, aku belum sempat mengatakan hal itu pada papa.
"Kamu sudah pulang?"
Langkahku melambat ketika suara itu terdengar menyapa. Dan aku benar-benar menghentikan langkah setelah menemukan sosok Jathayu sedang berdiri bersandar pada pagar besi. Ia cukup membuatku kaget karena laki-laki itu berdiri tepat di tempat yang tak tersentuh cahaya lampu.
"Kamu...apa yang kamu lakukan di situ?" tanyaku bingung. Setelah turun dari mobil papa, aku tidak merasakan firasat apapun. Namun, siapa sangka Jathayu sedang berdiri mengawasiku dari balik kegelapan.
"Aku menunggumu," tandas Jathayu seraya mengangkat punggungnya dari pagar dan berjalan menghampiriku. "Apa kamu bersenang-senang hari ini?" Jathayu melirik ke arah boneka dan barang belanjaan di tanganku. Senyum tipis samar menghias bibirnya.
"Ya," sahutku pendek. Aku dan papa sangat menikmati momen kebersamaan kami sampai lupa waktu. Kami baru tersadar jika jam sudah menunjuk angka delapan dan papa berinisiatif untuk mengantarku pulang. Aku yakin Bik Inah sudah menyampaikan pesanku pada Jathayu tadi siang. "Aku sangat lelah. Aku ingin istirahat," ucapku bermaksud segera angkat kaki dari hadapan laki-laki itu.
"Silakan."
Oh.
Aku cukup terkejut melihat reaksinya. Jathayu bahkan tak ingin melanjutkan untuk bertanya sesuatu padaku. Aku merasakan sikapnya berubah dingin. Begitu juga dengan tatapan matanya. Namun, aku tak ingin peduli. Aku kembali melanjutkan langkah dan tak ingin berpikir tentangnya lagi. Pertanyaan-pertanyaan di dalam kepalaku tentang Jathayu belum terjawab sama sekali. Bagaimana aku bisa menambahnya dengan dugaan-dugaan lain?
Begitu tiba di dalam kamar, aku melempar tas-tas belanjaku ke atas tempat tidur, kecuali boneka beruang ungu yang sejak tadi tak pernah lepas dari pelukanku. Aku meletakkan benda itu di atas bantal lalu menjatuhkan kepalaku di sampingnya. Tubuhku perlu beristirahat setelah seharian mengeluarkan banyak energi. Namun, aku sangat menikmati hari ini. Kuharap papa juga lebih bahagia dariku. Apa ia sudah tiba di rumah?
"Nona."
Suara itu membuatku hampir terkena serangan jantung. Aku buru-buru mengangkat kepala dari atas bantal.
"Jathayu!" teriakku kesal. Laki-laki itu tiba-tiba masuk ke dalam kamarku tanpa mengetuk pintu. Kebiasaan lancang itu sudah pernah ia lakukan beberapa kali dan aku sudah memperingatkannya untuk tidak melakukan hal yang sama. Namun, agaknya laki-laki itu lupa. "Apa kamu tidak bisa mengetuk pintu dulu, hah?" hardikku tanpa canggung. Meski kami saling menyukai satu sama lain, tetap saja aku tak bisa menahan diri untuk tidak menghardiknya. Ia pasti tidak tahu betapa kacaunya degup jantungku saat ini. Aku takut benar-benar terkena serangan jantung suatu hari nanti.
"Apa kamu sengaja ingin melakukan ini padaku?"
Aku bangun dari atas tempat tidur dan melangkah beberapa jengkal untuk mencermati raut wajah laki-laki itu sedikit lebih dekat.
"Apa maksudmu?" tanyaku seperti orang linglung. Tak ada yang bisa kubaca dari wajah Jathayu kecuali rasa cemas.
"Kamu sengaja pergi tanpa memberitahuku secara langsung lalu pulang malam seperti ini karena kamu marah padaku, kan?" Nada suara Jathayu terdengar rendah, tapi sarat dengan emosi. "Apa kamu ingin membalasku dengan cara seperti ini?"
Aku tercekat melihat reaksi laki-laki itu. Padahal saat di depan rumah tadi ia tampak baik-baik saja dan tidak keberatan saat aku pamit ingin segera beristirahat. Tapi lihat sikapnya sekarang. Ia seperti sedang mencemburuiku karena baru saja berselingkuh dengan laki-laki lain.
Aku sudah paham duduk persoalannya. Tadi pagi saat Jathayu dan mama akan pergi melakukan transaksi jual beli tanah, aku menolak untuk ikut dengan mereka. Namun, kenyataannya aku malah pergi dan pulang sampai larut malam. Jathayu berpikir jika aku membalas dendam padanya karena ia sudah membuatku mencemaskannya kemarin malam. Mungkin ia mengira aku sengaja melakukan hal itu agar ia ganti mencemaskanku.
"Tapi kenapa kamu tidak menjawab teleponku, Nona?"
"Kamu meneleponku?"
"Lebih dari 20 kali," jawabnya.
"Benarkah?" Aku tak bisa memercayai ucapan Jathayu begitu saja dan buru-buru mengambil ponselku dari dalam tas untuk membuktikan kata-katanya. Aku terkejut bukan main setelah menemukan ada 27 panggilan tak terjawab di sana. Betapa bodohnya aku sampai tidak menyadari jika ponselku bergetar sebanyak itu. Namun sungguh, aku tidak sengaja untuk mengabaikan panggilan-panggilan Jathayu. "Tadi aku meletakkan ponselku di dalam tas, jadi aku tidak tahu ada panggilan masuk," ucapku dengan penuh rasa malu sekaligus bersalah.
"Aku tahu." Jathayu menimpal dengan suara rendah. Laki-laki itu berangsur maju dan langsung mengusap kepalaku dengan gerakan lembut. Ia sedikit membungkukkan tubuhnya agar bisa mendekatkan wajahnya padaku. "Lain kali sempatkan untuk periksa ponselmu, Nona. Kamu tidak tahu ada orang yang sangat mencemaskanmu, kan?" ucapnya kalem.
"Apa kamu secemas itu padaku?" tanyaku ketika tatap mata kami saling bertemu. Atmosfer di sekitar tubuhku terasa memanas dalam sekejap.
"Uhm." Ia mengangguk. "Jangan lakukan itu lagi, mengerti?"
Aku menganggukkan kepala dengan gerakan pelan.
"Sekarang istrahatlah," suruhnya seraya menarik kembali tangannya. Ia berdiri tegak seperti semula. Wajahnya telah kembali tenang, tak ada lagi rasa cemas bersarang di sana.
"Baiklah."
"Selamat malam."
Aku hanya berdiri mematung seraya menatap sosok Jathayu yang bergerak mendekat ke arah pintu. Tubuhnya menghilang sejurus kemudian di balik pintu, tapi laki-laki itu meninggalkan begitu banyak tanda tanya dalam pikiranku.
Apakah sikapnya ini tulus? Kasih sayang dan cinta yang ia tunjukkan padaku begitu dalam, tapi sungguh-sungguhkah perasaannya padaku? Lalu bagaimana dengan kebohongan kecilnya malam itu? Mungkinkah aku saja yang salah memahami situasi?
Agh.
Terjadi perdebatan di dalam kepalaku tentang laki-laki itu dan entah bagaimana cara untuk mengatasinya. Haruskah aku mendatangi Jathayu dan bertanya langsung padanya? Tapi itu sangat bertentangan dengan hati nuraniku. Tapi aku juga tidak bisa terus menerus menyimpan rasa penasaran ini lebih lama lagi.
Siapa sebenarnya Jathayu?
***