
"Biar Jathayu yang mengantarmu pulang. Mama harus pergi ke rumah Nyonya Penny. Semalam ayahnya meninggal," ucap mama dengan tangan menyentuh pundakku yang terbungkus mantel hangat.
"Aku pulang dulu, Ma."
"Sampai di rumah kamu harus istirahat, mengerti?"
Aku mengangguk pelan seraya mengurai senyum.
Gerimis tipis mengiringi perjalananku dan Jathayu kembali ke rumah. Rasanya setelah liburan di vila, gerimis dan hujan menjadi sesuatu yang berbeda untukku. Karena tetes-tetes air yang jatuh dari langit akan membawa ingatanku kembali pada seseorang yang saat ini duduk di sampingku. Aku pernah memeluk punggungnya kala itu, saat gerimis tipis berjatuhan ke atas kepala kami berdua.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?"
Jathayu menoleh sekilas dan berhasil mengusik lamunanku tentangnya. Sepuluh menit berlalu sejak kami meninggalkan pelataran rumah sakit. Mobil mama juga sudah tak tampak lagi karena jalur kami berlawanan arah. Ia harus pergi ke rumah Nyonya Penny. Harusnya aku juga datang ke sana, tapi kondisiku benar-benar tidak memungkinkan.
"Tidak ada." Aku tidak berkata jujur lagi padanya. Aku masih terlalu malu untuk mengakui jika laki-laki itu telah mengontaminasi pikiranku.
"Lalu kenapa diam? Apa kamu pusing? Apa perutmu sakit? Atau kamu lelah?" cecar laki-laki itu tanpa mengurangi kecepatan mobil yang kami tumpangi.
"Aku baik-baik saja," tegasku seraya menatapnya. "Bukannya kamu tidak suka ngobrol saat mengemudi?" Aku balik tanya. Jangan-jangan ia sudah lupa akan prinsip yang selama ini dipegangnya.
"Memang, tapi kalau kamu diam seperti itu malah membuatku khawatir."
Aku melepaskan tawa geli. "Aku baru saja keluar dari rumah sakit, Jathayu. Kamu juga melihat bekas jarum infus ini, kan?" Aku mengangkat tangan kananku untuk ditunjukkan padanya. "Aku masih dibawah pengaruh obat, kamu mengerti kan?" Obat-obatan rumah sakit selalu memberi efek kantuk, tapi sebenarnya aku belum merasakannya. Itu hanya sebuah alasan untuk menghindar darinya. Aku akan malu setengah mati kalau ketahuan sedang memikirkannya.
"Kalau begitu istirahatlah. Aku akan membangunkanmu saat kita sudah sampai di rumah nanti," suruhnya.
"Aku akan istirahat di rumah."
"Baiklah. Terserah kamu."
Justru setelah berkata seperti itu, rasa kantuk yang hebat menyerang kedua mataku. Aku tak kuasa melawan pengaruh obat dan jatuh tertidur di atas jok. Perjalanan kami mestinya tersisa sekitar 20 menit lagi, tapi bisa lebih karena masih banyak persimpangan dengan lampu merah di depan sana.
"Nona, kita sudah sampai."
Aku terbangun ketika telingaku menangkap suara Jathayu. Lenganku juga diguncangnya pelan-pelan.
Oh.
Meski cuma beberapa menit, tidurku sangat pulas tadi. Aku bergegas melepaskan sabuk pengaman dari tubuhku dan turun dari atas mobil.
"Apa kamu baik-baik saja, Nona?" sambut Bik Inah menghadangku di depan pintu. Tampaknya wanita itu bergegas keluar setelah mendengar suara mobil berhenti di depan rumah.
"Ya, seperti yang Bik Inah lihat. Aku baik-baik saja," ucapku.
"Syukurlah, aku sempat cemas saat kamu pingsan kemarin," ungkapnya dengan ekspresi tidak bersungguh-sungguh. Wanita itu berjalan pelan mengikuti langkahku masuk ke dalam rumah.
"Benarkah?" delikku. Aku menghentikan langkah dan sengaja memasang tampang tidak percaya di depan wanita itu.
Itulah kenapa aku tumbuh seperti dirinya. Tanpa wanita itu sadari, ia telah mewariskan beberapa persen sifatnya padaku.
"Ya, aku tahu." Aku hanya tersenyum tipis dan kembali melanjutkan langkah. Aku masih perlu menaiki tangga menuju ke lantai atas, tapi tiba-tiba tanganku digenggam Jathayu ketika kakiku hampir menyentuh anak tangga pertama. Ia membuatku kaget dan terpaksa menghentikan pergerakan tubuhku. "Kamu takut aku tak bisa melewati tangga ini?" tanyaku. Ia pernah melakukan hal ini sebelumnya. Aku masih mengingatnya dengan cukup baik.
"Aku hanya berjaga-jaga," ucapnya. Padahal ia juga harus membawa tas jinjing di tangan kirinya, sementara tangan kanannya berniat membimbingku melewati tangga.
"Baiklah, kalau kamu memaksa," ujarku dengan senang hati. Menjagaku adalah bagian dari pekerjaannya.
Begitu tiba di kamar, aku bergegas melepas mantel tebal yang membungkus tubuhku sejak keluar dari rumah sakit lalu berbaring di atas tempat tidur. Jathayu membantuku menumpuk dua bantal sekaligus untuk membuat posisi tubuhku senyaman mungkin.
"Apa kamu mau kuambilkan sesuatu?" tawar Jathayu sembari membentangkan selembar selimut di atas tubuhku.
"Tidak. Nanti saja." Kurasa aku belum butuh sesuatu sekarang. "Apa kita bisa bicara?"
Jathayu menatapku dengan pandangan ingin tahu. Laki-laki itu menarik kursi riasku dan menempatkannya persis di sebelah tempat tidur lalu mendudukinya.
"Kamu ingin mengatakan sesuatu?"
Aku mengangguk samar. "Ayah kandungku datang untuk mencariku," ungkapku tak ingin menyimpan rahasia itu lebih lama lagi darinya. Jathayu perlu tahu karena ia adalah pengawal pribadiku. Selain itu kami memiliki hubungan yang istimewa meski belum resmi berpacaran.
"Benarkah?" selanya terlihat cukup terkejut. Terakhir kali kami berbincang di vila, aku dan Jathayu terus membahas tentang orangtua kami. "Apa kalian sudah bertemu?"
"Aku sudah pernah bertemu dengannya sekali, tapi saat itu aku tidak tahu jika dia ayah kandungku," paparku. Dan konyolnya aku nyaris menyukai laki-laki itu. Bahkan aku sempat bertengkar dengan mama. Perasaanku benar-benar kacau setelah Jathayu pergi. Aku seperti orang linglung yang hilang akal. Sejujurnya aku takut akan sendiri dan kesepian seperti saat aku masih kecil. Itu adalah trauma terbesar dalam hidupku. "Aku tidak pernah berharap akan bertemu dengannya. Aku sama sekali tidak merindukannya," ujarku pelan.
"Tapi dia tetap ayah kandungmu, Nona." Jathayu bersuara ketika aku sibuk menata perasaan. "Setidaknya kamu bisa menemuinya sekali seumur hidup meski kamu tidak menginginkannya."
"Kupikir aku tidak bisa melakukannya. Mungkin juga aku belum siap untuk bertemu dengannya."
Jathayu terdiam. Sepasang matanya beralih ke tempat lain. Pikirannya juga menerawang entah ke mana.
Aku sangat tahu jika saat ini ia sama sekali tak memiliki saran atau sekadar kalimat untuk diutarakan padaku. Jathayu tahu pasti apa yang sedang kurasakan saat ini. Kalau ia berada di posisiku sekarang, aku ragu ia akan bersedia menemui orangtua kandungnya meskipun itu hanya sekali seumur hidup.
"Sebaiknya kamu istirahat," ucapnya setelah terdiam dalam lamunan cukup lama. Aku benar, ia tidak punya solusi.
"Apa kamu akan pergi?" tanyaku saat ia telah berhasil mengangkat tubuh dari atas kursi.
"Aku akan mengambil air minum dan menyuruh Bik Inah untuk memasak sesuatu untukmu. Kamu tidak apa-apa kutinggal sendiri, kan? Aku tidak akan lama," ucapnya sebelum meninggalkan kamarku.
"Ya, aku baik-baik saja."
"Aku akan segera kembali," janjinya seraya mengusap kepalaku dengan lembut.
Aku tidak bisa membayangkan jika suatu hari nanti tiba-tiba orangtua Jathayu datang mencarinya. Ia pasti akan lebih terluka dari yang kurasakan sekarang. Entah bagaimana reaksinya jika hari itu benar-benar datang.
***