
Aku yakin, kebanyakan orang suka bermimpi indah, tapi tidak denganku. Tidur nyenyak tanpa sepotong mimpi apapun jauh lebih baik ketimbang bermimpi indah. Bagiku seperti itu. Mimpi indah hanya akan membuatku sedih karena ketika aku bangun dari tidur aku dihadapkan pada kenyataan yang sama. Masa kecil yang kurang bahagia dan diliputi dengan perasaan sepi akan kembali muncul dalam pikiranku. Membuat suasana hatiku seketika menurun. Masa lalu tak akan pernah bisa kembali dan diperbaiki.
Aku juga ingin hidup bahagia seperti yang lain. Namun, aku sudah mengubur harapan itu sejak kemarin malam. Saat aku bertemu Bram dan istrinya di pesta ulang tahun suami Nyonya Penny. Pertemuan tak terduga itu seolah ingin menyadarkan bahwa aku berada di posisi yang salah. Seharusnya aku tak pernah hadir dalam kehidupan mereka dan mengusik rumah tangga yang sekian tahun mereka bina. Semestinya aku tak pernah muncul di depan Bram bagaimanapun caranya. Itu adalah sebuah kesalahan yang akan kusesali sepanjang hidupku.
"Nona Talisa!"
Sungguh, aku paling tidak suka mendengar seseorang memanggil di saat aku sedang tertidur lelap. Gina yang paling sering melakukannya, tapi kali ini bukan ia yang sedang berusaha membangunkanku.
"Aku tidak ingin pergi ke butik hari ini." Aku bergumam pelan dengan kepala masih lekat di atas bantal. Untuk membuka separuh mataku pun terlalu sulit kulakukan. Aku ingin tidur lebih lama lagi dan melupakan semuanya. Hanya itu satu-satunya cara yang bisa kulakukan demi melindungi hatiku.
Sudah dua hari aku tidak mengunjungi butik dan hari ini aku juga berencana untuk tidak datang ke sana. Tapi, apa sekarang sudah pagi?
"Bangunlah, ada sesuatu yang harus kamu ketahui... "
Sesuatu yang harus kuketahui? batinku berpikir. Sepenting apa hal itu?
"Apa? Katakan saja."
"Butik terbakar... "
Apa?!
Aku spontan membuka mata begitu mendengar sepotong kalimat 'butik terbakar' yang meluncur cepat dari bibir Jathayu. Laki-laki itu berdiri di sebelah tempat tidurku dengan wajah tegang. Ekspresi yang tak biasa kulihat sebelumnya.
"Apa kamu bilang?" gagapku. "Butik terbakar?"
Kepala Jathayu mengangguk. Dengan kalimat sederhana ia mengatakan jika polisi baru saja datang dan mengabarkan jika butik milikku mengalami kebakaran.
Aku melompat turun dari atas tempat tidur tanpa berpikir panjang usai mendengar sekelumit informasi dari Jathayu dan menuruni anak tangga dengan langkah tergesa. Aku harus pergi ke butik sekarang dan melihat dengan mata kepalaku sendiri mengenai kebenaran berita itu.
"Biar aku yang menyetir!" Tiba-tiba saja Jathayu menarik lenganku sebelum sempat menjangkau kunci mobil yang berada di atas meja ruang tengah.
Aku tertegun sesaat, tapi kemudian melanjutkan langkah. Siapapun yang menyetir bukan masalah, asalkan aku bisa segera tiba di butik.
Jalanan masih tampak gelap ketika mobil yang kami tumpangi melaju dengan kecepatan tinggi menuju ke arah butik. Tadinya kupikir hari telah pagi, tapi nyatanya aku salah. Matahari akan terbit sekitar empat jam lagi.
"Apa kamu bisa menyetir lebih cepat?" Aku mencecar laki-laki di sampingku. Jalanan cukup lengang dan ia bisa memacu kendaraan lebih cepat dari yang sekarang. Maksudku agar kami lebih cepat sampai di butik dan segera mengetahui apa yang terjadi di sana. Namun, Jathayu masih bergeming di tempat duduknya dan fokus pada kemudi. Ia bahkan tak menunjukkan reaksi apapun. Laki-laki itu berhasil membuatku panik setengah mati. Apa ia tidak tahu bagaimana perasaanku sekarang?
Sisa perjalanan ke butik kulalui dengan perasaan cemas yang datang bertubi-tubi. Sederet doa kupanjatkan diam-diam dalam hati, berharap butik masih bisa diselamatkan. Setidaknya masih ada barang yang tersisa. Semoga.
Namun, sepertinya harapanku sia-sia. Beberapa puluh meter dari kejauhan, mataku menangkap sebuah pemandangan yang cukup mengerikan. Kepulan asap hitam tampak membumbung tinggi ke angkasa malam dari arah deretan ruko di mana butikku berada.
Deretan bangunan ruko telah terbakar seluruhnya ketika aku dan Jathayu tiba di sana. Tak terkecuali butik. Para petugas pemadam kebakaran juga masih tampak sibuk memadamkan sisa-sisa nyala api dengan segenap peralatan dan kemampuaan yang mereka miliki.
Aku bergegas turun ketika Jathayu telah menepikan mobil agak jauh dari lokasi kebakaran. Pasti masih ada yang tersisa, batinku seraya bergerak mendekat. Tidak mungkin Tuhan akan mengambil semuanya dariku, bukan? Entah itu dua atau tiga potong pakaian, harusnya masih ada yang bisa terselamatkan.
"Jangan pergi ke sana!"
Teriakan itu berbaur dengan suasana riuh di sekitar tubuhku dan rasanya tak akan sanggup mengurungkan niatku untuk mendekat ke arah bangunan butik yang terlalap api. Namun, cekalan tangan Jathayu berhasil menahan langkahku.
"Lepaskan aku," suruhku seraya berusaha menyingkirkan tangannya. Aku harus melihat apakah ada sesuatu yang masih tersisa. Atau jika perlu aku akan menyelamatkan sepotong atau dua potong pakaian dari dalam sana. Manekin tak bernyawa itu juga mungkin masih belum tersentuh api.
"Itu berbahaya, Nona."
"Aku harus melihat apakah ada yang masih bisa kuselamatkan."
"Jangan bodoh. Kamu bisa celaka jika mendekat ke sana," tandasnya. Cekalan tangannya semakin erat dan tenagaku tak akan cukup untuk melepaskannya.
"Tapi... "
Kata-kataku terhenti. Mendadak lidahku kelu dan sepasang mataku memanas. Aku sungguh tidak ingin memercaya apa yang kulihat sekarang. Butik yang kubangun dengan susah payah selama bertahun-tahun hancur dalam sekejap. Nyala api telah membakar semuanya hingga tak bersisa.
Kepalaku seketika berdenyut. Lututku lemas dan aku nyaris tak bisa menjaga keseimbangan tubuhku sendiri.
"Kamu baik-baik saja, Nona?"
Bayangan wajah Jathayu tampak kabur. Namun, aku masih bisa mendengar suaranya dengan jelas. Juga saat tangannya yang lain menopang agar tubuhku tak jatuh ke tanah.
"Apa setelah melihat butikku habis terbakar aku bisa baik-baik saja?" geramku. Aku marah sekaligus sedih. Dan aku butuh pelampiasan untuk mengeluarkan semuanya. Namun, aku tidak tahu harus melampiaskan semua itu pada siapa. "Tidak ada lagi yang tersisa sekarang. Aku hancur, kamu tahu?!"
Laki-laki itu bergeming. Sepasang matanya terus mengawasi setiap gerak gerikku dan aku sangat membenci tatapan itu.
Mungkinkah Tuhan sedang menghukumku?
Aku memutar tubuh dan mencoba mengayunkan langkah dengan segenap kekuatan yang tersisa. Aku tak ingin melihat pemandangan itu lagi. Toh, tak ada yang bisa kuselamatkan. Pakaian-pakaian hasil desainku telah habis terbakar. Juga mimpi-mimpiku untuk menjadi seorang perancang busana, agaknya harus kukubur dalam-dalam. Mungkin Tuhan tidak suka melihatku menjadi seorang perancang busana.
Air mata perlahan merembes turun ke atas pipiku. Aku tak akan menahannya lagi sekarang. Biarkan air mata itu mengalir dengan bebas, sesuka hatinya.
***