
Pada akhirnya, tanpa pernah kami duga sebelumnya, aku menemukan ayah kandungku dan Jathayu menemukan ibu kandungnya. Saat itu gerimis turun di luar vila dan kami menghabiskan waktu dengan bercerita tentang masa kecil kami yang tak pernah dihiasi dengan kebahagiaan. Aku tumbuh tanpa sosok seorang ayah, sementara Jathayu tumbuh bersama anak-anak yatim piatu lain di sebuah panti asuhan. Ia bahkan kerap menerima perlakuan kurang menyenangkan dari teman-temannya di sekolah. Dan aku lebih suka mengisi masa kecilku dengan mengucilkan diri dari teman-teman sebayaku. Namun, takdir mempertemukan kami saat kami telah tumbuh dewasa. Kami jatuh cinta dan saling melengkapi satu sama lain. Kami berbagi luka dan saling menyembuhkan. Kehidupan selalu begitu, tak bisa diprediksi oleh manusia.
"Apa sakit kepalamu sudah sembuh?"
Aku senang ketika membuka mata, hal yang pertama kali kulihat adalah seraut wajah Jathayu yang berhiaskan senyum terbaik. Laki-laki itu duduk di atas kursi riasku dan sepertinya ia sedang menungguku terbangun.
"Ya, sedikit," jawabku sambil mengangkat kepala dari atas bantal dan duduk bersandar pada tepi tempat tidur. Kurasa aku terlalu lama tidur tadi. "Sejak kapan kamu di situ?" Aku agak khawatir jika selama tidur aku mengigau atau meneteskan air liur. Bukankah itu akan sangat memalukan? Talisa yang cantik dan agak angkuh harus tetap cantik meskipun sedang tidur.
"Sejak tadi. Bik Inah bilang padaku kalau kamu sakit kepala dan dia juga bilang kalau kamu belum makan siang. Jadi dia menyuruhku untuk mengantarkan makan siangmu," jelas Jathayu dengan gamblang. Ia menunjuk nampan makan siangku di atas meja rias.
"Aku sudah lebih baik sekarang," ucapku tak ingin membuatnya khawatir. "Apa kamu sudah makan?"
"Ya. Sekarang giliranmu untuk makan," suruh Jathayu seraya mengangkat nampan makan siangku ke atas tempat tidur. Sikapnya tampak normal seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Seakan-akan Nyonya Penny tidak pernah datang dan mengajaknya berbincang. Apa Jathayu baik-baik saja? Laki-laki itu tidak amnesia, kan?
Aku mencicipi makan siangku diam-diam sambil berpikir tentangnya. Masih belum ada tanda-tanda Jathayu ingin menceritakan segalanya padaku. Apa jangan-jangan ia memang sengaja ingin menyimpan kisah itu sendirian dan tak ingin membaginya denganku? Tapi Jathayu sudah berjanji padaku akan menceritakan segalanya saat ia telah siap.
"Apa makanannya tidak enak?" usik Jathayu. Mungkin ia curiga karena cara makanku yang agak berbeda dari biasanya. Aku hanya menyuap sedikit demi sedikit sambil bertanya-tanya dalam hati.
"Enak. Ini enak," jawabku agak gugup. Aku buru-buru melahap makan siangku dengan cara seperti biasa.
"Kalau begitu habiskan makananmu," suruhnya.
Apa setelah aku menghabiskan makan siangku, Jathayu akan menceritakan segalanya?
"Kapan kamu akan bercerita padaku? Kamu sudah berjanji padaku tadi..."
"Setelah kamu selesai makan."
Oh. Aku kaget mendengar ucapannya. Bahkan aku tak perlu bersusah payah untuk membujuknya.
Aku tertegun menatap seraut wajah tampan di hadapanku. Ya, aku menemukan sekilas kemiripan dirinya dengan Nyonya Penny. Mereka memiliki alis serupa dan aku baru menyadarinya.
"Kalau begitu aku akan menghabiskan makananku..."
"Tidak perlu buru-buru. Nanti perutmu sakit, Nona."
Aku tidak peduli. Aku harus segera menghabiskan makananku agar bisa mendengar kisah Jathayu secepatnya. Tapi kenapa Bik Inah mesti memberiku nasi dengan porsi melebihi biasanya? Rupanya wanita itu ingin membuat berat badanku bertambah.
Jathayu mengangkat nampan itu dan meletakkannya kembali di atas meja rias setelah aku menandaskan semua masakan Bik Inah. Perutku merasa kekenyangan, tapi aku masih bisa menahan siksaan ini demi Jathayu. Sekarang aku siap untuk mendengarkan penuturannya.
"Sekarang ceritakan semuanya dari awal sampai akhir. Jangan sampai ada yang terlewat."
Jathayu mengambil napas dalam-dalam sebelum memulai kisahnya.
"Kakekku memiliki sebuah perusahaan yang memproduksi berbagai macam makanan olahan. Di awal-awal usahanya semua berjalan dengan lancar. Tapi setahun sebelum aku dilahirkan, usahanya mengalami masalah. Dia hampir bangkrut dan terpaksa merumahkan sebagian karyawannya." Jathayu memulai penuturannya, sementara aku berusaha menjadi pendengar yang baik dan berjanji tak akan menyela.
Lanjutnya,
"Lalu bagaimana Nyonya Penny tahu kalau kamu adalah putranya?" Aku menyalahi janjiku sendiri untuk tidak menyela.
"Beberapa waktu yang lalu kakek meninggal..."
"Ya, aku ingat," celutukku. Otakku dengan cepat mengingat hal satu ini. Saat aku akan keluar dari rumah sakit setelah pingsan waktu itu, mama tidak bisa mengantarku pulang karena harus pergi melayat ke rumah Nyonya Penny. Jadi saat itu kakek Jathayu meninggal dunia.
"Dia mendengar kalau kakek meninggal dunia. Mungkin dia merasa bersalah, jadi dia datang ke rumah untuk meminta maaf. Dan dia juga mengakui semua perbuatannya."
"Dan setelah mengetahui kebenarannya, Nyonya Penny segera mencari putranya yang hilang diculik?" sambungku cepat. Ini seperti sebuah skenario sinetron yang sangat mudah ditebak jalan ceritanya.
"Kamu benar," ucap Jathayu setengah mengangguk.
Aku menarik napas lega. Akhirnya terungkap juga kebenaran asal usul Jathayu. Setelah menduga-duga tak jelas, akhirnya kami tahu jika Jathayu bukanlah anak yang tidak diinginkan kedua orang tuanya. Ia diculik oleh seseorang yang memiliki dendam pada kakeknya dan ditinggalkan di depan pintu panti asuhan.
"Apa kamu merasa lega setelah mengetahui kebenarannya?" tanyaku seraya mencermati wajah laki-laki itu. Sebenarnya aku juga ingin mengatakan jika apa yang kukatakan pada Jathayu semuanya benar. Bahwa ia akan merasa lebih baik setelah memberi kesempatan pada Nyonya Penny untuk mengungkapkan segalanya.
"Belum."
"Belum?" ulangku dengan setengah memekik. Aku tak percaya sama sekali dengan pengakuannya. Ia tampak jauh lebih baik dari yang kulihat pertama kali saat ia datang usai berbincang dengan Nyonya Penny.
"Aku perlu mencocokkan DNA-ku dengan wanita itu dan menanyakannya langsung pada polisi. Aku yakin mereka akan membantuku mencari laporan tentang penculikan itu."
"Apa?!" Aku benar-benar menjerit kali ini.
"Nona, kumohon jangan berteriak," pinta laki-laki itu setengah memohon.
"Tapi kamu sungguh-sungguh keterlaluan, Jathayu."
"Aku hanya ingin mengumpulkan bukti dan saksi sebelum memercayai semuanya, Nona. Apa aku salah?"
"Ya, ya. Kamu benar," sahutku seraya membuang tatapan ke arah lain. Apa ia tidak suka menjadi putra Nyonya Penny? Aku curiga ia lebih suka menjadi pengawal pribadiku ketimbang menjadi putra seorang wanita kaya raya.
"Apa kamu marah padaku?"
"Tidak. Aku hanya kesal."
Jathayu malah mengusap kepalaku sambil tertawa geli. Apa ia masih berpikir kalau aku kekanak-kanakan?
"Aku akan membawa nampannya ke dapur," ucapnya sejurus kemudian.
Dasar pembohong! Laki-laki itu baru saja tertawa padahal tadi ia bilang belum merasa lega setelah mengetahui kebenarannya.
***