
"Apa kamu mau mendengarkan ceritaku?"
Suara itu terdengar menyapa gendang telingaku bersamaan dengan embusan angin yang menerpa ke arah kami berdua. Beberapa lembar daun kering jatuh berguguran ke atas tanah. Hawa dingin terasa menggigit persendian.
Aku sama sekali tidak tertarik mendengar cerita apapun. Apa lagi yang diharapkan dari pertemuan yang tidak pernah kuharapkan ini?
"Saat itu," Laki-laki itu mulai angkat bicara meski aku belum menyatakan persetujuan. "papa jatuh cinta pada seorang wanita yang papa pikir jauh lebih baik dari mamamu."
Apakah cerita ini semacam sebuah 'pengakuan dosa'? batinku seraya melepaskan pandangan ke arah tanaman hias yang seluruh daunnya berdaun merah di bawah lampu taman yang menyorot redup.
Papa melanjutkan ceritanya kembali,
"Wanita itu sangat baik dan penuh perhatian. Dia selalu ada di saat papa dirundung banyak sekali masalah. Bisa dikatakan dia adalah tempat papa mencurahkan segenap keluh kesah," paparnya.
"Apa papa ingin menyalahkan mama karena tidak pernah perhatian pada papa?" selaku sembari mengalihkan pandangan ke arah samping. Laki-laki itu balas menatapku usai tertunduk cukup lama. "Jadi, akar dari semua permasalahan ini adalah karena mama kurang memperhatikan papa. Begitukah?" desakku.
Namun, laki-laki itu menggeleng perlahan. Aku menangkap gelagat aneh dari sikapnya.
"Papa tidak pernah menyalahkan siapa-siapa. Semua ini adalah murni kesalahan papa," ucapnya.
Diam-diam aku mengulum senyum getir. Aku bukan anak kecil yang mudah untuk dikelabui.
"Papa lah yang tidak pernah bisa menjaga hati untuknya," tandas papa sejurus kemudian. Pandangannya beralih ke suatu tempat, tapi bukan lagi di dekat kakinya berpijak. "Papa memutuskan untuk bercerai dan menikah dengan wanita itu."
Saat itu aku masih berusia dua tahun dan sama sekali belum mengerti tentang dunia. Tak ada satupun ingatan yang tertinggal di kepalaku dari kejadian itu. Otakku masih dalam tahap perkembangan kala itu.
"Di awal pernikahan kami, semuanya baik-baik saja. Kami merasa sangat bahagia saat itu," lanjut papa kembali.
Kalimatnya membuatku tercenung. Bukankah salah seorang karyawan cafe pernah mengatakan padaku jika laki-laki itu telah bercerai?
"Lalu?" Akhirnya aku bertanya juga karena rasa ingin tahuku terlalu besar dan tak bisa dipendam lebih lama lagi.
"Seiring berjalannya waktu, dia mulai berubah. Terlebih setelah sepuluh tahun berlalu dan kami belum memiliki anak, kehidupan kami terasa bagai di neraka."
Aku terenyak mendengar pengakuan laki-laki itu. Kehidupan seperti apa yang sampai membuat papa menyebutnya seperti di neraka?
"Tidak ada satupun hari yang kami lalui tanpa pertengkaran," ucap papa menjawab sebagian rasa penasaran dalam benakku. "Selalu saja ada permasalahan yang menyulut perdebatan hebat di antara kami berdua. Dan puncaknya kami memutuskan bercerai setelah sepuluh tahun menikah. Belakangan papa baru mengetahui jika wanita itu berselingkuh," lanjutnya.
Benarkah?
Aku seperti tertohok mendengar pemaparan yang meluncur dari bibir papa. Kisah itu tidak jauh beda dengan yang kualami, hanya saja aku berada di posisi yang berbeda dengan papa.
"Apa Papa menikah lagi setelah itu?" tanyaku dengan nada rendah. Letupan amarah yang tadinya membuncah di dalam dadaku perlahan menyusut tanpa kusadari.
"Tidak," jawab laki-laki itu tegas, tanpa menggeleng. "Papa memutuskan untuk tidak menikah lagi setelah itu. Papa memulai hidup papa lagi dan membangun bisnis demi bisa tetap bertahan hidup."
Oh.
Padahal, selama ini kupikir hidup papa sangat bahagia di luar sana. Namun, faktanya aku salah besar. Kehidupan yang papa jalani bahkan lebih buruk dari yang kubayangkan.
"Apa Papa ingin kembali pada mama?" tanyaku bersungguh-sungguh. Entah ini sebuah permintaan atau harapan, tapi aku benar-benar ingin tahu apa yang papa pikirkan sekarang. Mungkinkah ia telah merencanakan semuanya dengan matang sebelum datang menemui kami?
"Papa tidak pernah berharap bisa kembali pada mamamu." Laki-laki itu akhirnya menjawab, tapi jawabannya sungguh di luar dugaanku. "Kesalahan yang pernah papa lakukan di masa lalu tidak pantas untuk dimaafkan. Papa tidak layak untuk bersanding dengan mamamu."
Entah kenapa aku merasa kesal mendengar pernyataannya.
"Ya, mungkin lebih baik seperti itu," tukasku setelah berpikir sebentar. Mungkin lebih baik jika kami menjalani hidup masing-masing seperti sebelumnya tanpa harus mencampuri urusan satu sama lain. Selama ini aku dan mama hidup tanpa keberadaan papa di sisi kami dan kami merasa baik-baik saja. Kami terbiasa hidup berdua selama puluhan tahun.
"Apa kamu membenci papa?"
"Seandainya papa datang lebih awal, mungkin aku tidak membenci papa," tandasku sengaja ingin membuatnya lebih merasa bersalah lagi.
Laki-laki itu tampak terenyak mendengar kalimat kasar yang keluar dari bibirku.
"Papa tidak tahu kan, bagaimana aku menjalani kehidupanku selama ini?" ucapku dengan bibir gemetar. Bayangan masa kecilku yang penuh dengan kekosongan hadir kembali mengisi benakku. "Tidak mudah untukku menjalani hidup tanpa kalian. Aku sangat kesepian dan terkadang tidak tahu harus melakukan apa untuk menghibur diri sendiri."
"Maafkan Papa, Talisa. Harusnya papa menemuimu sejak dulu."
"Maaf saja tidak akan cukup, Pa," tukasku tak mengizinkannya untuk berbicara. Wajahku mendadak panas meski angin malam terus menerus menerpa tempat duduk kami.
"Papa tahu. Tapi papa harus melakukannya agar kamu tahu bahwa papa sangat menyesal." Ia balas menukas dan menyelesaikan kalimat yang ingin diutarakannya dengan cepat.
"Setelah aku tahu papa menyesal, lalu apa? Apa kata maaf bisa menyembuhkan luka dalam sekejap?"
Dadaku tiba-tiba sesak. Aku tidak bisa melanjutkan perbincangan ini lebih lama lagi atau tangisku akan pecah di hadapan laki-laki itu. Aku tidak ingin terlihat rapuh di matanya meski ia adalah ayah kandungku sendiri.
Aku mengangkat tubuhku setelah memutuskan untuk menyudahi pertemuan ini.
"Aku harus pulang sekarang."
"Biar papa antar," tawarnya. Ia buru-buru berdiri.
"Tidak perlu," tolakku tegas. "Papa tahu rumahku dekat."
"Bolehkah papa memelukmu sebentar saja?"
Kalimat itu terdengar seperti mantra hipnotis yang membuat tubuhku batal untuk bergerak.
Aku menoleh dan mendapati laki-laki itu sedang menunggu keputusanku. Rasanya aku jatuh dalam lubang dilema.
"Tak apa kalau kamu tidak mau. Papa tidak akan memaksa," ujar papa. Laki-laki itu bisa membaca segenap keraguan dari wajah dan sikapku. "Pergilah," suruhnya seraya mengulas senyum terbaiknya khusus untukku.
Aku masih berdiri di tempatku semula dan belum angkat kaki meski ia telah merelakanku pergi tanpa memenuhi permintaannya.
"Aku pergi," pamitku setelah berhasil menguasai diri.
"Jaga dirimu, Talisa. Jika kamu ingin menemui papa, kamu tahu harus pergi ke mana," ucap papa setengah berseru.
Aku tak merespon kalimatnya dan memutuskan untuk membalik tubuh. Langkah-langkah yang kuayun kali ini jauh lebih berat dari sebelumnya. Pikiranku juga penuh. Sementara diam-diam air mata merembes jatuh ke pipiku. Namun, aku terus memaksakan langkah ini pergi menjauh dari laki-laki yang dulu sangat kurindukan.
***