
"Bagaimana kalau kamu pergi liburan?" tawar mama seketika membuat daguku tegak.
Aku menatap wajah mama ragu. Sendok di dalam genggaman tanganku hampir terlepas.
"Teman mama memiliki sebuah vila di puncak. Kalau kamu mau... "
"Kenapa mama pikir aku butuh liburan?" tanyaku. Aku jadi mengerti sekarang, kenapa mama mengajakku makan malam bersama.
Hubunganku dengan Bram telah berakhir begitu saja. Tak ada kata putus atau salam perpisahan. Kami berpisah karena istri Bram sudah mengetahui skandal kami berdua. Dan tentu saja Bram lebih memilih istrinya karena laki-laki itu takut jatuh miskin. Aku memang sangat terluka dan rasanya ingin menghilang dari dunia ini, apalagi setelah tahu butik terbakar. Tapi, kenapa aku harus berlibur setelah semua yang terjadi? Andai mama tahu jika liburan tak akan membantuku melupakan semuanya. Sama sekali.
"Kamu perlu menjernihkan pikiran, Lisa." Mama meletakkan sendoknya di atas piring lalu menatapku lamat-lamat. "Setelah kamu kembali nanti, kamu bisa memulai semuanya dari awal. Kamu bisa membangun butik lagi dan memulai hidup yang baru. Mama akan mendukung kamu." Wanita itu menyentuh punggung tanganku yang terdiam di atas meja makan.
Aku menghela napas dalam-dalam. Tanpa bantuan finansial dari mama, mustahil aku bisa membuka usaha baru. Tabunganku jelas tak akan cukup.
"Kalau kamu setuju, mama akan memberitahu teman mama secepatnya."
Aku memilih untuk tidak menghabiskan makan malamku kali ini dan pergi meninggalkan meja makan lebih dulu ketimbang mama. Tanpa keputusan untuk menerima tawaran liburan di puncak atau tidak. Kupikir aku tak butuh hal semacam itu. Berada di sebuah tempat sunyi dan terpencil malah akan membuat pikiranku berkembang jauh ke mana-mana. Siapa yang bisa menjamin jika aku tidak akan menyakiti diriku sendiri saat berada di tempat seperti itu?
Apakah aku memang ditakdirkan untuk menjalani kesepian sepanjang hidupku?
Samar-samar telingaku menangkap suara ketukan pintu. Mungkin mama, pikirku.
"Masuk," suruhku malas.
Dugaanku salah. Bukan mama yang mengetuk pintu, tapi Jathayu. Harusnya setelah semua kejadian ini, masa tugasnya untuk mengawalku telah berakhir. Toh, aku dan Bram sudah selesai. Tanpa perlu bersusah payah pun sebenarnya takdir memisahkan kami berdua.
"Ada apa?" tanyaku begitu Jathayu tiba di hadapanku. Aku tidak terlalu peduli dengan gaya pakaiannya malam ini. Keseluruhan penampilannya berwarna gelap.
"Tadi Gina menelepon," lapornya.
Aku bahkan tak ingat untuk mengisi daya ponselku dan membiarkannya kehabisan baterei. Gina pasti sudah mencoba menghubungi nomorku, tapi gagal. Mungkin sebab itu ia menghubungi nomor Jathayu.
"Kapan dia akan kembali?" tanyaku. Setidaknya Gina bisa menjadi teman dalam kesepianku meski aku tak pernah mengakuinya secara verbal.
Namun, yang kudapati adalah gelengan kepala Jathayu.
"Dia tidak bilang kapan akan kembali... "
"Lalu?"
"Ayahnya meninggal tadi pagi," beritahu Jathayu membuatku terenyak. Aku juga mengalami musibah sebelum pagi hari tadi dan siapa sangka Gina juga kehilangan ayahnya di waktu yang hampir bersamaan.
"Benarkah?" gumamku. Entah komentar apa yang harus kukatakan saat ini, tapi aku juga merasakan kesedihan untuk Gina.
"Dia tidak bisa berjanji kapan akan kembali lagi ke rumah ini," ucap Jathayu membuatku tertegun.
Seandainya Gina tak ingin kembali dan Jathayu juga pergi, lalu bagaimana denganku? Tiba-tiba saja kekhawatiran itu muncul dalam benakku. Tugas Jathayu untuk menjauhkanku dari Bram telah tuntas. Dan seharusnya ia pergi setelah misinya selesai, bukan? Kurasa aku akan sangat kesepian setelah ini.
"Apa kamu baik-baik saja?" tegur laki-laki itu seakan-akan tahu apa yang sedang kucemaskan sekarang.
"Apa kamu mencemaskanku?" tanyaku memancing. Setelah beberapa minggu ia mengawalku ke mana-mana, apa ia benar-benar peduli padaku bukan atas nama profesinya, melainkan atas nama rasa kemanusiaan? "Bukankah tugasmu sudah selesai?" Mungkin saja ia lupa tugas utama yang diberikan mama padanya, yakni menjauhkanku dari Bram. Dan keinginan mama akhirnya terkabul.
"Kamu tidak kelihatan baik-baik saja, Nona," tandasnya kemudian. Ia sudah berbuat lancang dengan menyimpulkan sendiri keadaanku.
"Apa kamu juga berpikir kalau aku butuh liburan?"
"Tidak ada salahnya pergi liburan, Nona," ucap Jathayu sok tahu.
"Liburan tidak akan meredakan masalah, kan?"
"Setidaknya kamu perlu suasana yang berbeda untuk beristirahat. Tempat yang indah mungkin bisa membuatmu lebih nyaman."
Aku mengurai senyum hambar mendengar ucapan Jathayu.
Apa ia sudah pernah pergi ke banyak tempat yang indah demi menenangkan pikiran? Berapa banyak tempat wisata yang telah ia kunjungi?
"Lalu bagaimana jika berada di tempat yang indah itu aku malah merasa kesepian dan terasing dari dunia ini?" Aku ingin mematahkan teori liburan versi Jathayu. Tidak semua orang bisa menikmati liburannya, kan? "Bagaimana jika aku berbuat sesuatu yang mengerikan di sana?"
"Kenapa tidak mengajak mamamu untuk liburan bersama?"
Usul yang buruk. Mama tidak pernah punya waktu luang bahkan di akhir pekan sekalipun. Apalagi banyak kasus yang harus ditanganinya akhir-akhir ini.
"Aku tidak akan melakukannya," tandasku. Sejak kecil aku nyaris tak pernah pergi liburan bersama mama. Jadi, aku tidak akan berharap banyak.
"Kenapa? Kurasa sudah saatnya kalian memperbaiki hubungan... "
"Memangnya kamu siapa? Kenapa terlalu ikut campur dalam urusan keluarga kami?" tukasku cepat. Aku enggan untuk mendengar ocehan yang lebih panjang dari itu.
Jathayu diam. Seharusnya ia sadar diri dan bisa menempatkan posisinya di tempat yang tepat. Ia memang pengawal pribadiku, tapi ia tidak memiliki hak untuk mencampuri urusanku. Pekerjaannya hanya sebatas melindungiku, bukan terlibat dalam hal-hal yang menyangkut urusan pribadiku.
"Sebaiknya kamu pergi sebelum aku bertambah marah." Aku menurunkan level suaraku ke tingkat paling rendah. Kejadian demi kejadian akhir-akhir ini sudah cukup menguras emosi dan aku tidak mau terhanyut dalam suasana. Jantungku bisa meledak setiap saat jika tak bisa mengendalikan emosi.
"Maaf."
Aku menoleh demi mendengar sebaris permintaan maaf yang dilontarkan Jathayu. Laki-laki itu mengaku salah dan tanpa canggung meminta maaf padaku? Itu bukan seperti dirinya yang kukenal selama ini.
"Berhentilah peduli padaku," ucapku seraya mengalihkan pandangan darinya. Terlalu lama menatap laki-laki itu membuatku merasa tidak nyaman. "Bukankah tugasmu untuk melindungiku sudah selesai?"
Jathayu hanya menarik sedikit ujung bibirnya ke samping. Ia bukan sedang tersenyum. Entah apa maksudnya memasang wajah seperti itu.
"Aku akan keluar sekarang," pamitnya setelah terdiam sesaat.
Aku menyahut dengan gumaman kecil. Bukankah aku tadi sudah menyuruhnya agar tidak memedulikanku?
Jathayu berjalan mundur beberapa langkah sebelum akhirnya memutar tubuh dan keluar dari kamarku.
***