WHAT'S WRONG WITH MY BODYGUARD?

WHAT'S WRONG WITH MY BODYGUARD?
#75



Mungkin aku akan memberinya sebuah kesempatan.


Tanganku bergerak menjangkau ponsel yang sedari semalam bersembunyi di bawah bantal dan setelah berhasil menemukan benda itu, aku menimangnya dengan penuh keraguan. Apakah aku benar-benar akan melakukannya?


Aku menimbang beberapa saat sebelum akhirnya menjalankan niatku semula untuk menghubungi nomor papa.


"Talisa?"


Suara laki-laki itu terdengar dengan jelas di telingaku sedetik setelah panggilanku tersambung. Aku belum sempat mengucapkan sepatah kata pun, tapi papa menyambut panggilanku dengan penuh antusias.


"Apa papa sibuk?" tanyaku dengan setengah hati. Aku seantusias dirinya.


"Tidak. Papa tidak sibuk sama sekali." Jelas sekali jika papa sangat gembira mendengar suaraku. Meskipun ia sedang sibuk saat ini, aku yakin laki-laki itu akan mengatakan sebaliknya. "Ada apa, Talisa?"


"Apa papa punya waktu siang ini?"


"Tentu, tentu saja. Papa ada waktu." Laki-laki itu bahkan sampai mengulangi kata-katanya.


"Bisakah kita bertemu? Aku ingin mengajak papa makan siang bersama," tawarku seperti rencana semula. Rasanya mustahil jika papa akan menolak tawaranku ini.


"Ya, ya. Papa bisa. Di mana kita akan makan siang?"


"Aku akan mengirimkan alamatnya..."


"Apa papa perlu menjemputmu?"


"Tidak perlu. Kita bertemu di restoran sejam lagi."


"Baiklah. Sampai ketemu nanti."


Aku menutup telepon dan segera mengirimkan alamat sebuah restoran yang akan menjadi tempat pertemuan kami ke nomor papa. Dan laki-laki itu membalas dengan begitu cepat. Apakah ia sebahagia itu karena kami akan makan siang bersama? batinku seraya melempar ponsel ke atas bantal usai membaca balasan papa.


Usai membersihkan diri, berganti pakaian, dan merias wajahku dengan dandanan natural, aku segera turun setelah menyambar tas tangan yang biasa kubawa ke mana pun aku pergi. Aku memakai sehelai blus biru langit dengan dipadu celana pensil berwarna hitam dan tak lupa sepasang sepatu berhak tinggi. Rambutku yang masih setengah basah kubiarkan tergerai bebas. Biar nanti angin yang akan mengeringkannya. Pasalnya rambutku akan mengalami banyak masalah jika dikeringkan dengan menggunakan pengering rambut. Risa pasti akan senang hati menerima pelanggan dengan keluhan rambut bermasalah sepertiku, tapi aku tidak bisa duduk berjam-jam di salon seperti wanita lain demi mendapatkan rambut indah tanpa masalah. Jadi aku memutuskan untuk meninggalkan mesin pengering rambut ketimbang harus repot-repot pergi ke salon sekalipun itu milik sahabatku sendiri.


"Bik Inah!" Aku berteriak cukup keras sebelum langkah-langkahku mencapai lantai dapur.


"Kenapa mesti berteriak sekeras itu, Nona?" hardik Bik Inah dengan melempar tatapan kesal. Wanita itu membuatku terkejut pasalnya ia tampak sedang duduk santai di ruang makan sembari menikmati secangkir kopi ditemani dengan kudapan.


"Apa Bik Inah tidak bekerja?" sindirku seraya melipat kedua lengan dan menatapnya dengan mata memicing.


"Aku sedang beristirahat, Nona. Kamu tahu kan, umurku sudah tidak muda lagi. Aku sudah tidak sekuat dulu. Jadi, biarkan aku istirahat sebentar saja," ucapnya.


"Ya, aku tahu. Lakukan apapun sesukamu."


"Apa kamu akan pergi?"


"Uhm." Aku mengangguk. "Apa Jathayu belum kembali?" tanyaku hanya ingin kepastian. Sedari tadi aku belum mendengar pintu pagar dibuka atau suara mobil masuk garasi. Mungkin juga melakukan transaksi butuh waktu sedikit lebih lama. Atau bisa jadi mereka akan makan siang bersama setelah tercapai kesepakatan harga.


"Belum."


"Kenapa kamu tidak menunggunya? Dia bisa mengantarmu..."


Kenapa Bik Inah tidak mengiyakan saja permintaanku? Wanita itu malah berbelit-belit seakan-akan sengaja ingin menahanku lebih lama lagi agar bisa berbincang denganku.


"Aku harus pergi sekarang, jadi sampaikan saja pesanku."


"Baiklah. Tapi kamu mau pergi ke mana?" desak wanita itu menunjukkan rasa ingin tahunya. Seperti biasa, tak ada satu pun hal tentangku yang tidak diketahuinya. Kalaupun ia belum tahu, wanita itu pasti akan berusaha untuk mencari tahu.


"Bertemu dengan papa," jawabku jujur. Tak ada gunanya berdusta atau menutupi rahasia dari wanita itu.


"Oh..." Ia tampak kaget dan mengangakan mulutnya. "Benarkah kamu akan bertemu dengannya? Apa kamu sudah bisa menerima ayah kandungmu?"


"Aku hanya akan makan siang dengannya. Bik Inah tidak usah menyiapkan makanan untukku," beritahuku.


"Apa kamu sudah bisa berdamai dengan keadaan?" tanya wanita itu seperti ingin mengorek isi hatiku lebih dalam lagi.


"Entahlah," sahutku dengan mengedikkan kedua bahu. Aku tidak menyebut ini sebagai berdamai dengan keadaan, tapi aku lebih suka menganggap ini sebagai memberi kesempatan pada papa. "Aku pergi dulu..."


"Kenapa tidak menunggu Jathayu?"


"Jam makan siang akan terlewat kalau aku menunggunya!" teriakku yang sudah terlanjur membalik tubuh dan mulai mengayunkan tungkai kakiku. Jika aku terus-terusan menanggapi perkataan Bik Inah, aku bisa terlambat sampai di restoran.


Aku sudah memesan taksi sebelum turun beberapa menit yang lalu dan mungkin sekarang hampir sampai di depan rumah. Aku terlalu malas untuk menyetir sendiri beberapa bulan belakangan. Terlebih lagi setelah Jathayu kembali, aku lebih suka jika ia yang menyetir untukku.


Begitu aku menutup kembali pintu pagar, sebuah mobil berwarna hitam terlihat menepi dan tak lama kemudian seorang laki-laki bertubuh tambun tampak keluar lalu menghampiri tempatku berdiri.


"Nona Talisa?" Laki-laki itu menatap ke arah layar gawainya sekilas sebelum menyebut namaku.


"Ya, benar."


"Silakan..."


Aku mengikuti laki-laki itu masuk ke dalam mobil. Tujuanku telah tercantum pada aplikasi dan aku tak perlu menyebutnya dua kali.


Perjalanan ke restoran harusnya tidak butuh waktu lama, kecuali ada banyak hambatan di jalan. Papa pasti bisa menunggu barang sebentar jika aku terlambat tiba di sana.


Benar saja, aku terlambat sekitar sepuluh menit tiba di restoran yang sudah kutentukan sebelumnya. Harusnya aku yang lebih dulu tiba di sana karena aku yang memilih tempat itu, tapi lalu lintas tidak mendukung perjalananku hari ini.


Papa melambaikan tangannya begitu tatap mata kami bertemu. Aku masih berdiri tertegun di depan pintu masuk restoran saat itu dan kebingungan mencari keberadaannya. Namun, laki-laki itu telah lebih dulu melihatku.


Laki-laki itu mengumbar senyum bahagia ketika aku melangkah menghampiri meja yang ia tempati. Ia tampak rapi dalam balutan kemeja putih dan celana katun hitam. Sebuah dasi bermotif salur melengkapi penampilannya siang ini. Papa pasti sangat tampan saat ia masih muda dulu. Ia bahkan telah menarik perhatian dari beberapa pasang mata pengunjung restoran yang semuanya berjenis kelamin perempuan.


Meja itu tampak masih kosong. Rupanya papa belum memesan menu makan siang kami. Ia sengaja menungguku.


"Maaf, aku terlambat," ucapku seraya mengambil tempat duduk persis di depan kursi papa.


***