
"Apa kamu tidak lapar?"
Teguran itu seharusnya didahului dengan ketukan pintu atau salam, tapi ini tidak sama sekali. Atau ia sudah melakukannya, tapi aku tak mendengar?
Kepalaku menoleh dan menemukan sosok Jathayu sedang berdiri kaku beberapa jengkal dari pintu. Aku bahkan tak mendengarnya mendorong benda itu.
"Pintunya terbuka tadi," jelas laki-laki itu seakan tahu apa yang menjadi persoalan di dalam kepalaku.
"Oh." Gumaman itu tanpa sadar keluar dari bibirku. Sebuah kesalahan yang akhirnya terulang kembali. Aku hampir memarahi laki-laki itu jika saja ia tak mengatakan hal sebenarnya. "Ada apa?"
"Apa kamu tidak lapar?"
Astaga. Kurasa aku sudah mendengar pertanyaan itu beberapa menit lalu. Dan aku pasti tampak bodoh karena melontarkan pertanyaan 'ada apa'.
"Aku sudah membuatkanmu makan malam," ucap Jathayu sebelum aku sempat menjawab pertanyaannya. Laki-laki itu pasti mengingat dengan baik tentang penyakit lamaku yang pernah diungkit Bik Inah dengan sengaja.
"Benarkah?" Aku menelengkan kepala menatapnya. Perutku memang sedikit lapar dan laki-laki itu menawarkan makan malam buatannya. "Kamu memasak untukku?" Aku masih tak percaya dengan pengakuannya.
Ia menggumam tak jelas sembari mengangguk.
"Baiklah." Aku mengiyakan. Hawa dingin yang menyelimuti tempat ini bisa membuatku masuk angin jika aku membiarkan perutku kosong. Penyakit maag-ku juga bisa kambuh kalau aku melewatkan makan malam.
Aku bergerak menyusul langkah Jathayu keluar setelah menutup daun jendela kamar. Namun, begitu sampai di ruang makan aku tertegun menatap ke atas meja. Apa ini yang Jathayu bilang sebagai hasil masakannya? batinku.
"Apa ini?" Setelah cukup puas melihat apa yang tersaji di atas meja makan, aku beralih menatap wajah laki-laki iti. Seraut wajah tanpa ekspresi itu balas menatapku dengan polos.
"Mi instan," jawab laki-laki itu tanpa dosa.
"Aku juga tahu itu mi instan," geramku kesal. "Bukannya di dalam kulkas ada banyak bahan makanan? Kenapa kamu hanya masak mi instan?"
Jathayu tertegun mendengar ocehanku. Sepasang bola matanya bergulir lamban ke kanan dan kiri.
"Maaf. Aku hanya bisa masak mi instan," akunya dengan nada pelan.
Oh, Tuhan...
Aku mendesis dalam hati. Rasanya aku ingin memukul wajah laki-laki itu, tapi di waktu yang bersamaan aku ingin tertawa geli melihat kepolosannya.
Dengan gerakan gontai aku mendekat ke meja makan dan menduduki sebuah kursi kayu. Jathayu mengikuti perbuatanku beberapa saat kemudian.
"Apa kamu ingin makan sesuatu yang lain? Aku bisa membelikanmu... "
"Tidak perlu," tukasku cepat. "Aku suka makan mi instan." Aku bergegas mencicipi isi mangkuk di hadapanku dengan antusias. Apalagi telur ceplok yang berada di atas mi tampak menggugah selera.
Selama ini aku nyaris tak pernah makan mi instan. Bukan karena tidak suka, tapi mama tidak mengizinkan aku mengonsumsi mi instan. Menurutnya mi instam kurang baik bagi kesehatan tubuh. Namun, aku tidak sependapat dengannya. Menurutku sesekali mengonsumsi mi instan tak masalah. Jujur saja aku suka mi instan.
"Apa kamu benar-benar tidak bisa memasak?" tanyaku ingin memastikan sekali lagi. Pasalnya naluriku mengatakan jika laki-laki itu pandai memasak. Setidaknya tampang sekeren itu pasti memiliki keahlian dalam bidang kuliner meski hanya beberapa menu saja.
"Tidak." Ia menjawab dengan tegas, tapi malah membuatku penasaran.
"Apa sekalipun kamu tidak pernah melihat ibumu memasak?"
"Tidak."
"Masa?" Jathayu memaksaku melebarkan tawa geli. Jawabannya terdengar konyol meski tampangnya terlihat serius. "Sekalipun kamu tidak pernah melihat ibumu memasak?"
Laki-laki itu menggeleng dengan tegas.
"Kamu pasti suka keluyuran saat kecil," tebakku sok tahu.
Wajah itu menampilkan seulas senyum kecil begitu aku selesai dengan kalimatku.
"Aku dibesarkan di panti asuhan," tandas Jathayu kemudian. Sontak saja pengakuannya membuat tanganku membeku.
Aku menajamkan pandangan ketika melihat seraut wajah tanpa ekspresi di hadapanku.
"Aku ditinggalkan oleh orangtuaku di panti asuhan ketika aku berumur sehari," ungkap Jathayu sejurus kemudian. Ia berhasil membuatku bergeming seperti patung. Aku urung untuk kembali menyuap.
"Lalu?"
"Lalu?" Laki-laki itu menaikkan alisnya dan mengulang pertanyaanku. "Apa yang ingin kamu ketahui dariku?"
Apalagi kalau bukan tentang kehidupannya selama ini.
"Apa saja," balasku. Keingintahuan tentang kehidupan Jathayu tiba-tiba menyurutkan selera makanku, padahal tadi aku sangat antusias ingin menyantap habis mi instan dan telur ceplok buatannya. "Aku ingin tahu tentangmu. Kamu tidak keberatan untuk menceritakannya, kan?"
Laki-laki itu mengulum senyum tawar. Ia turut menghentikan kegiatannya menyantap mi instan dan meneguk air putih di dalam gelas yang tadi disiapkannya sendiri.
"Tanpa kuberitahu pun, kamu sudah bisa menebak dari mana asal usulku," ucapnya setelah meletakkan gelas kosong di dekat mangkuk mi instan miliknya. Ia tampak menelan saliva dengan kasar.
"Aku ingin tahu setelahnya," tukasku cepat. Jathayu salah jika berpikir aku tertarik dengan asal usulnya. "Aku ingin tahu bagaimana kamu menjalani kehidupan tanpa orang tua. Tinggal di panti asuhan bukan sesuatu yang menyenangkan dan nyaman, bukan?"
Kepala laki-laki itu mengangguk pelan, membenarkan pernyataanku. Akan tetapi, jika dibandingkan denganku, hidupku jauh lebih beruntung ketimbang Jathayu. Aku masih memiliki mama, rumah, dan Bik Inah yang merawatku. Sedang Jathayu tak memiliki siapapun di dunia ini.
"Tidak ada yang menarik dari hidupku... "
"Ayolah," Laki-laki itu membuatku geram. "jangan terlalu pelit padaku. Bukankah kamu bilang menyukaiku?" Aku sedikit merayunya agar Jathayu bersedia berbagi kisah. Entah itu suka atau duka, aku siap mendengarnya bercerita.
Kali ini Jathayu benar-benar melepaskan tawa lebar. Seolah-olah rasa penasaranku hanya sebuah candaan belaka.
"Tidak ada yang menarik dariku, Nona."
"Apa yang membuatmu memilih pekerjaan ini?" Aku mencoba menginterogasinya
Karena ia tampak enggan jika disuruh berbagi informasi. "Tak banyak orang yang mau menjalani profesi sebagai pengawal pribadi, tapi kenapa kamu memilih pekerjaan berisiko seperti ini?"
Laki-laki itu menghentikan tawa sepenuhnya dan berdeham sebelum menjawab pertanyaanku.
"Saat kecil aku sering mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari teman-temanku... "
"Maksudmu perundungan?" selaku.
"Semacam itu." Kepala Jathayu mengangguk. "Mendapat perundungan seperti itu mendorongku untuk belajar bela diri. Awalnya aku ingin membalas perlakuan mereka, tapi semakin aku menguasai ilmu bela diri, keinginan itu perlahan mulai surut. Tidak selamanya kekerasan bisa dibalas dengan kekerasan. Aku memikirkan akibat yang akan kuterima nantinya jika aku membalas perbuatan mereka. Ibu panti juga pasti tidak akan senang jika aku berkelahi hanya demi balas dendam."
"Lalu kamu memanfaatkan kemampuan bela diri itu dengan menjadi pengawal pribadi?" Aku menyela lagi.
"Ya."
"Kamu laki-laki yang kuat, Jathayu," pujiku. Kalau saja aku terlahir sebagai laki-laki, mungkin aku juga akan kuat seperti dirinya.
"Apa itu sebuah pujian?"
"Anggap saja begitu."
"Baiklah." Ia menghela napas panjang setelahnya. "Habiskan makananmu," suruhnya kemudian.
"Aku sudah kenyang."
"Kalau begitu kembalilah ke kamar dan istirahat."
"Kamu terdengar seperti pengasuh bayi," olokku sebelum mengangkat tubuh dari atas kursi.
"Jangan lupa kunci pintu sebelum tidur!" teriaknya saat aku mulai berjalan menapaki anak tangga menuju ke lantai dua.
Tanpa disuruh pun aku akan melakukannya, batinku.
***