WHAT'S WRONG WITH MY BODYGUARD?

WHAT'S WRONG WITH MY BODYGUARD?
#67



"Apa kamu juga sebaik itu pada gadis-gadis lain?" tanyaku tanpa menoleh ke samping. Toh, sekarang Jathayu bukanlah orang yang menganut prinsip 'tidak suka ngobrol saat menyetir' sehingga aku tidak perlu merasa khawatir akan diabaikan olehnya ketika berbicara di dalam mobil. Karena di kepalaku ada begitu banyak permasalahan yang ingin kubahas dengannya.


Hari mulai menggelap ketika kami meninggalkan mal. Usai makan di restoran cepat saji bersama Dini dan Eka siang tadi, kami menyempatkan diri jalan-jalan sebentar menjelajah lantai mal lalu menonton bioskop. Rasanya waktu berjalan begitu cepat hari ini. Padahal aku masih ingin bersenang-senang menghabiskan waktu dengannya.


"Maksudnya?"


Jathayu memang memiliki wajah yang tampan dan ia merupakan tipe laki-laki idaman setiap wanita, tapi ia kurang peka. Apakah semua laki-laki di dunia juga seperti itu?


"Apa kamu juga memperlakukan teman-teman wanitamu sebaik kamu memperlakukan Dini dan Eka?" Aku menegaskan maksud kalimatku. Jathayu akan paham dengan penjabaran seperti ini.


"Aku tidak punya teman wanita." Laki-laki itu menoleh sekilas saat memberikan pernyataannya. Sikapnya tenang dan sama sekali tidak kutemukan gelagat mencurigakan. Ia tampak bersungguh-sungguh dengan ucapannya.


"Benarkah?" Aku sengaja memasang wajah tak percaya. "Apa di panti dulu kamu tidak punya teman wanita?"


"Aku tidak pernah bicara dengan mereka. Lagipula saat itu kami masih kecil."


Oh. Jawabannya sangat melegakan.


"Tapi kenapa kamu memperlakukan Dini dan Eka sebaik tadi?" Nadaku terdengar seperti sebuah protes. Aku ingin menunjukkan rasa keberatan dengan sikapnya saat di restoran cepat saji tadi siang. Jathayu bersikap sangat baik dan laki-laki itu dengan sukarela mentraktir Dini dan Eka tanpa minta persetujuan dulu dariku. Bahkan menu makanan kami sama. Padahal seharusnya aku yang bersikap seperti itu karena mereka berdua adalah mantan karyawanku. Dan bisa saja mereka berdua kembali jadi karyawanku jika aku benar-benar membuka butik baru.


"Memangnya apa yang kulakukan?"


Selain tidak peka, Jathayu juga sangat mudah terkena amnesia tanpa sebab.


"Kamu mentraktir mereka dengan senang hati, kamu ingat sekarang?" Aku menggeram saking kesalnya.


"Kenapa? Apa aku salah? Apa mentraktir seseorang itu buruk?" tanyanya dengan nada dan wajah polos.


"Bukan buruk," timpalku. Jathayu membuatku gemas. Apa ia belum sadar juga kalau seharusnya aku yang berinisiatif mentraktir Dini dan Eka karena mereka berdua adalah mantan karyawanku?


"Lalu?"


"Sudahlah," dengusku seraya kembali membuang tatapan ke depan. Percuma saja jika perbincangan ini diteruskan. Jathayu tidak akan pernah memahami jalan pikiranku.


"Apa kamu cemburu?"


"Apa?" ucapku spontan. Kepalaku juga seperti tertarik ke samping. Pertanyaan Jathayu serupa magnet yang bisa menarik kepalaku agar segera menoleh ke arahnya. "Cemburu?" ulangku dengan nada tinggi.


"Uhm." Laki-laki itu mengangguk sembari mengulum senyum tipis di bibirnya.


"Enak saja," gerutuku. "Kenapa aku harus cemburu pada mereka?"


"Kalau kamu tidak cemburu, kenapa kamu marah-marah seperti itu, hah?"


"Siapa yang marah?" protesku. "Aku cuma ingin bilang, seharusnya aku yang mentraktir mereka, bukan kamu. Apa kamu tahu, jika kamu bersikap terlalu baik pada mereka, mereka akan berpikir kalau kamu sedang memberi harapan pada mereka. Kamu paham, kan?"


Jathayu belum menyahut hingga beberapa saat lamanya. Dan ketika laki-laki itu mematikan mesin mobil, barulah aku sadar jika kami telah sampai di depan rumah.


Oh.


Kalimat per kalimat meluncur dengan tegas dan tepat menancap dalam hatiku. Membuat tubuhku membeku di atas jok. Laki-laki itu berhasil membuatku tak berkutik dengan kata-katanya.


"Kamu tidak mau turun?" Seulas senyum terukir di bibirnya dan laki-laki itu berhasil mengusik keterpakuanku.


"Ya, aku akan turun."


Aku segera menyadarkan diri sepenuhnya dan melepas sabuk pengaman dari tubuhku, tapi sepertinya aku tidak beruntung saat ini. Sabuk pengamanku macet.


"Kenapa? Kamu tidak bisa melepasnya?" tegur Jathayu yang mengetahui kesulitanku. Ia bergegas membantuku melepaskan kunci sabuk pengaman.


Aku turun dari mobil dengan menanggung rasa malu teramat sangat. Bahkan kata-kata 'kekanak-kanakan' masih melekat di benakku. Benarkah kecemburuanku hanya sebatas tingkah kekanak-kanakan baginya? Bukankah rasa cemburu merupakan sebuah perwujudan cinta kasih yang teramat dalam?


Kurasa aku saja yang tidak percaya pada laki-laki itu. Mungkin rasa cintaku terlalu egois padanya. Ah, aku tidak ingin ia merasa terbebani atau terkekang oleh perasaanku.


"Apa kamu tidak melupakan sesuatu?"


Aku menghentikan gerakan sepatu hak tinggiku dan menoleh dengan enggan. Apa lagi sekarang? Apa ia akan mengataiku kekanak-kanakan lagi?


"Apa?"


"Ini milikmu, kan?"


Jathayu mengeluarkan selembar hoodie dari dalam kantung belanjaan yang dipegangnya lalu mengulurkan benda itu ke tanganku. Jadi, ia tahu kalau aku membeli benda yang sama dengan yang ia pilih?


"Cepat mandi dan istirahat," suruhnya seraya mengusap puncak kepalaku dengan lembut tanpa merusak tatanan rambutku. "Aku akan memarkir mobil dulu," ucapnya sebelum berlalu dari hadapanku.


"Baiklah."


Aku mengurai senyum termanis sebelum membalik tubuh. Hatiku sudah berangsur membaik sekarang. Kecemburuan di dalam dadaku sudah tak berbekas lagi. Ya, mungkin aku sudah bersikap terlalu kekanak-kanakan tadi, batinku seraya memulai langkah kembali. Aku akan membersihkan diri lalu istirahat seperti perintah Jathayu.


"Talisa!"


Suara memanggil seperti itu selalu mengusik perasaan. Aku tidak suka hal-hal seperti itu terlebih di saat aku ingin mengistirahatkan tubuhku yang lelah. Namun, kali ini aku merasa suara itu terdengar sedikit asing di telinga. Bukan jenis suara yang kukenal. Dan rasa penasaran membuatku harus menolehkan kepala untuk mencari tahu siapa pemilik suara itu.


Aku tercekat dan seketika terpaku di tempat ketika pandanganku menumbuk ke arah sesosok laki-laki yang sedang berdiri di luar pintu gerbang rumah. Ingatanku masih sangat bagus tentangnya. Kami bertemu belum lama ini karena sebuah insiden kecil yang membuatku terkena luka bakar ringan. Memang tidak parah, tapi begitu aku mengetahui siapa sejatinya laki-laki itu, luka di dalam hatiku kembali terkoyak dan berdarah. Rasa sakit yang telah lama kutahan, tiba-tiba kambuh dan membuat hari-hariku dibayangi kesuraman.


Laki-laki itu tampak berusaha mengukir senyum di bibirnya dengan susah payah. Sorot matanya terlihat redup dan menyimpan begitu banyak hal yang ingin disampaikan. Wajahnya yang kian menua masih menyisakan sedikit ketampanan di masa muda. Sebagian besar kepalanya ditumbuhi uban, tapi tubuh itu masih terlihat kokoh. Lengannya juga masih tampak kuat.


Laki-laki itu adalah ayah kandungku.


***