
"Apa Bik Inah tahu siapa wanita itu?" Aku ingin memastikan terlebih dulu sebelum meyakini dugaan bahwa wanita itu adalah benar Nyonya Penny. Pasalnya Nyonya Penny, meskipun ia teman baik mama, wanita itu sama sekali belum pernah datang ke rumah kami. Mungkin ia tak punya banyak waktu untuk mengunjungi rumah orang lain karena Nyonya Penny adalah wanita yang sibuk. Ia lebih suka membuat janji bertemu di tempat umum, seperti cafe atau semacamnya. Tapi, belum tentu juga wanita yang Bik Inah maksud adalah Nyonya Penny. Bagaimana jika ibu panti yang datang?
"Dia bilang namanya Nyonya Penny," ucap Bik Inah seketika membuatku kembali terguncang. Jathayu juga pasti sama terguncangnya denganku. Diam-diam aku melirik laki-laki yang masih duduk bergeming di sebelahku.
"Tolong buatkan minuman untuknya. Jathayu akan menemuinya sebentar lagi," ucapku menengahi suasana tegang di teras belakang.
"Baiklah."
Bik Inah menurut perintahku tanpa mengajukan sebaris protes sama sekali. Ia memutar tubuh dan berlalu dari hadapan kami sejurus kemudian.
"Aku tidak mau bertemu dengannya," tegas Jathayu masih juga memegang teguh pendiriannya. Padahal aku belum mengatakan apapun padanya. Ia seolah tahu kalau aku akan mengatakan sesuatu untuk menggoyahkan pendiriannya.
"Dia sudah jauh-jauh datang kemari, Jathayu," ucapku mencoba untuk membujuknya. "Paling tidak, temui dia sebentar dan dengarkan apa yang ingin dia katakan padamu. Setelah itu kamu bisa membiarkannya pergi..."
"Jangan coba membujukku, Nona."
"Tapi kamu juga pernah membujukku akan hal yang sama, Jathayu. Kamu bersikap sok bijak saat membujukku saat itu. Apa aku salah kalau sekarang aku mengatakan hal yang sama padamu?"
"Tapi kasusmu berbeda..."
"Perbedaannya hanya sedikit, Jathayu." Aku menimpal dengan cepat. Salah satu keahlianku yang lain adalah bermain kata dan berdebat. "Tapi pada intinya kita sama-sama dicampakkan dengan sebuah alasan yang tidak bisa mereka hindari."
"Tapi alasannya membuangku sudah jelas, Nona. Wanita itu tidak pernah menginginkanku dalam kehidupannya. Aku hanyalah aib baginya."
"Apa kamu mendengar hal itu langsung darinya?"
Jathayu harusnya merasa terpojok dengan ucapanku. Laki-laki itu tak punya jawaban atas pertanyaanku. Sudah jelas bahwa ia hanya menyimpulkan hal itu atas pemikirannya sendiri.
"Bagaimana kalau dia punya alasan yang lain?" sentakku sengaja ingin mengusik kebisuannya.
"Dia datang hanya karena merasa menyesal," gumam Jathayu.
"Bukankah itu jauh lebih baik daripada tidak menyesal sama sekali?" tukasku sedikit menaikkan nada suara. "Awalnya aku juga sangat membenci ayah kandungku, tapi..."
"Kumohon jangan membandingkan masalahku dengan masalahmu, Nona," tandas Jathayu seraya mengangkat tubuhnya dari atas kursi. Wajah laki-laki itu terlihat tegang dan sepasang mata elangnya tampak memerah memendam amarah. Sepasang tangannya mengepal seolah bersiap ingin melayangkan sebuah pukulan telak ke wajahku. Namun, aku yakin ia tak akan pernah melakukan hal itu padaku.
"Setiap orang pantas diberi kesempatan, Jathayu." Aku berdiri dan mencoba untuk mencekal salah satu lengan Jathayu. Aku takut ia akan kabur dan tak akan bersedia menemui Nyonya Penny. "Satu kali saja, temui wanita itu. Setelah itu kamu boleh tidak menemuinya," ucapku setengah memohon.
"Kamu bilang kamu mencintaiku, kan?" Aku harus memakai siasat lain untuk melunakkan keras kepalanya. "Sekali ini saja aku mohon padamu, Jathayu. Demi aku, demi cintamu padaku...temui dia sekali ini saja. Setelah ini aku tidak akan meminta apapun darimu," pintaku bersungguh-sungguh.
Nyonya Penny adalah wanita yang baik dan kupikir ia berhak mendapatkan kesempatan itu. Terlepas dari semua yang terjadi di masa lalu, wanita itu tetaplah ibu kandung Jathayu. Tidak ada satupun yang bisa mengubah kenyataan itu.
"Jangan membawa-bawa cintaku padamu, Nona."
Agh. Siasatku tidak akan membuahkan hasil. Rupanya aku tak cukup pandai untuk membujuk laki-laki itu. Keahlianku bermain kata sama sekali tak mempan padanya. Cekalan tanganku pada lengan Jathayu terlepas perlahan tanpa kusadari. Aku tidak akan membujuknya lagi.
Aku jatuh terduduk di atas kursi dan membuang napas dengan kasar. Bagaimanapun juga Jathayu berhak untuk menentukan sikapnya sendiri. Apapun yang akan ia lakukan, bukan hakku untuk mencampurinya. Aku tak bisa memaksanya untuk melakukan hal yang tak ingin Jathayu lakukan.
"Aku hanya takut kamu akan menyesal tidak pernah mendengar alasannya secara langsung," gumamku dengan menerawang ke arah tanaman hias milik mama. Air mata perlahan merembes jatuh membasahi pipiku. Tiba-tiba saja aku teringat pada papa. Aku sangat merindukannya sekarang. Mungkin aku akan sangat menyesal jika tak pernah bertemu dan mendengarkan kisah hidup papa. Dan aku tak ingin Jathayu memendam penyesalan seumur hidupnya karena telah melewatkan kesempatan itu. "Aku tidak akan membujukmu lagi. Semua terserah padamu. Keputusan ada di tanganmu. Aku tidak berhak untuk mencampuri urusan orang lain." Aku mengusap air mataku sampai tak bersisa lalu menatap laki-laki itu dengan seulas senyum yang dengan susah payah coba kuukir di bibir.
Aku mengangkat tubuh dari atas kursi dan mulai berjalan pergi dari teras itu. Membiarkannya sendiri akan terasa lebih baik untukku dan untuk Jathayu. Perdebatan tidak akan menyisakan pemenang dan hanya akan mengukuhkan betapa kami memiliki ego masing-masing. Mungkin juga kami akan berdebat untuk hal lain suatu hari nanti. Tapi kemungkinan itu tidak serta merta membuatku ragu untuk tetap mencintainya. Aku ingin tetap melangkah bersama Jathayu.
"Jika aku memberinya sebuah kesempatan, apa aku akan merasa lebih baik?"
Pertanyaan itu seperti sebaris mantra yang membuat kedua kakiku seketika membeku di atas lantai. Dengan perasaan gugup aku menoleh ke belakang dan mendapati laki-laki itu masih berdiri di tempatnya semula. Sorot matanya meredup dan kedua tangannya tak lagi mengepal. Namun, amarah masih belum memudar dari wajah tampan itu.
"Mungkin," jawabku setelah membalik tubuh dan menghadap ke arahnya. "Aku merasa lebih baik setelah melakukannya."
Apa ia akan memberi kesempatan itu pada Nyonya Penny? Harapan seketika tumbuh dalam hatiku.
"Tapi aku akan menemuinya sekali ini saja..."
Benarkah? Aku hampir melonjak kegirangan mendengar keputusannya. Setidaknya ia bersedia menemui Nyonya Penny dan apa yang terjadi setelahnya semesta yang akan menjawab.
"Itu lebih baik daripada kamu tidak menemuinya sama sekali," ucapku.
Meskipun Jathayu melakukan semua itu dengan terpaksa, tapi itu jauh lebih baik daripada tidak menemui Nyonya Penny sama sekali.
"Cepatlah, dia sudah menunggumu," suruhku kemudian.
Laki-laki itu menatapku cukup lama sebelum akhirnya memaksakan kaki-kakinya untuk melangkah pergi. Dan aku hanya bisa menatap punggungnya seraya mengucapkan doa dalam hati.
***