
"Kamu dari mana?"
Wajah yang biasa kulihat tanpa ekspresi itu terlihat berbeda pagi ini. Aku mendapati kesan panik bercampur dengan khawatir tergambar di sana begitu laki-laki itu menghadang langkahku di depan pintu gerbang vila. Sepasang matanya melebar seolah tak percaya saat melihatku datang.
"Aku hanya berjalan-jalan di sekitar sini," jawabku santai. Tanganku bahkan sempat menunjuk ke arah ujung jalan beraspal yang sepi. Mungkin karena masih pagi dan wilayah itu sedikit berkabut, makanya orang-orang belum keluar rumah untuk beraktifitas.
"Aku tadi mencarimu," ucap Jathayu setelah membuang napas lega.
"Apa kamu benar-benar secemas itu padaku?" pancingku dengan meneliti perubahan ekspresi wajah Jathayu.
"Sedikit."
"Sedikit?' ulangku dengan intonasi berbeda. Siapa yang akan percaya jika melihat ekspresi panik yang sempat terpasang di wajahnya? Jadi, aku terpaksa melepaskan tawa geli karena laki-laki itu. "Banyak juga tidak masalah," gurauku.
"Apa hobimu membuat orang cemas?"
"Tidak juga." Aku menggeleng sekadarnya. "Kamu tidak perlu cemas seperti itu. Mengerti?" Pundak Jathayu kutepuk-tepuk perlahan.
Ia tersenyum simpul.
"Apa kamu lapar?" tawarnya seolah tak ingin membahas kecemasan yang tadi sempat dirasakannya. Aku tahu ia sengaja menghindar.
"Tapi aku tidak mau makan mi instan lagi," ucapku.
Jathayu mengembangkan tawa lebar. Laki-laki itu seakan ingin menebar pesona di hadapanku. Ia pasti sadar sepenuhnya jika dirinya terlalu tampan saat tertawa seperti sekarang.
"Bagaimana kalau nasi goreng?" Ia menawarkan menu lain dan aku harus mengerutkan kening.
"Bukannya kamu bilang tidak bisa memasak?" Aku curiga jika Jathayu berbohong padaku semalam.
"Uhmm... " Laki-laki itu memutar bola matanya sambil menggumam tak jelas. "sebenarnya aku pernah membuat nasi goreng, tapi aku tidak yakin soal rasanya," lanjutnya.
"Benarkah?" Jadi karena itu ia bilang tidak bisa memasak semalam? Firasatku sedikit ada benarnya juga soal Jathayu. Tapi, sikapku malah tampak seperti seseorang yang sedang terpukau. Jathayu memang tampan dan memesona. Aku tak bisa menampik daya tariknya yang memikat, tapi sejauh ini aku belum merasakan suka padanya. Harus kuakui Bram masih menghuni pikiranku hingga detik ini. Entah bagaimana aku bisa mengenyahkan laki-laki tua itu dari benakku. "Tidak masalah kalau nasi gorengmu tidak enak. Kita masih bisa menambahkan telur dan bahan lainnya. Tapi, memangnya kita punya nasi?" Percuma ia bisa memasak nasi goreng kalau kami tak memiliki nasi, kan?
"Tadi istri Pak Dayat datang dan memasak nasi untuk kita," papar Jathayu. "Mungkin sekarang sudah matang."
"Kenapa dia tidak memasak lauknya sekalian?"
"Tadinya dia ingin memasak, tapi tidak jadi. Dia mau tanya dulu apa makanan yang kamu suka. Mungkin dia takut kamu tidak suka masakannya nanti," ujar Jathayu seraya mengangkat kedua bahunya.
Aku tersenyum miris. Apa istri Pak Dayat pikir aku orang yang pilih-pilih soal makanan?
"Baiklah, kalau begitu kamu yang harus memasak untukku."
Setelah menepuk bahu Jathayu, aku melenggang masuk ke dalam vila sambil mengulum senyum geli.
Awalnya aku ingin membersihkan diri usai berjalan-jalan pagi, tapi suhu air di kamar mandi tampaknya tak bersahabat dengan kulitku. Seharusnya ada pemanas air di vila ini, tapi nyatanya fasilitas itu tak tersedia. Mungkin aku harus memberitahu teman mama agar memasang pemanas air.
"Apa kamu perlu bantuan?" tegurku pada Jathayu yang tampak sibuk di depan kompor. Aku tadi urung untuk mandi dan hanya mencuci muka serta menggosok gigi.
"Oh." Laki-laki itu menoleh sebentar lalu kembali memunggungiku. Pekerjaan mengupas bawang telah mengalihkan perhatiannya dariku. "Apa kamu bisa menggoreng telur?"
"Bukannya kamu yang bertanggung jawab memasak untukku?" balasku sedikit menyudutkannya.
"Lalu kenapa kamu menawarkan bantuan?" Ia menoleh sejenak.
Aku mendengus. Jathayu berhasil mengalahkanku kali ini.
Untuk membuktikan kemampuan memasakku pada Jathayu, aku bergegas mengambil dua butir telur dari dalam kulkas. Kebetulan ada daun bawang, batinku. Aku akan menambahkan irisan daun bawang ke dalam telur dadar kami.
"Kenapa kamu menyukaiku?" Sembari mengiris daun bawang, aku mencoba menyodorkan tema obrolan yang tak biasa. Jathayu berdiri di sampingku, mustahil ia bisa menghindar dari pertanyaan yang baru saja kuajukan. Namun, berada di sebelah laki-laki itu membuatku agak canggung. Pasalnya tinggi tubuhku hanya sebatas pundak Jathayu. Rasanya aku butuh sepatu hak tinggi sekarang. Benda itu terbukti bisa mendongkrak tingkat kepercayaan diriku.
"Kenapa bertanya?'' Ia sengaja tak mengalihkan pandangan dari atas penggorengan.
"Jawab saja.''
"Apa perlu alasan untuk menyukai seseorang?" Ia malah balas bertanya.
"Tentu saja," sahutku cepat. "Saat kamu melihat sesuatu yang bagus, otomatis kamu akan menyukainya, kan?"
"Mungkin karena kamu cantik," ucapnya sambil berpikir.
Jawaban klasik, batinku. "Kalau begitu, setiap kamu melihat wanita cantik, kamu akan menyukainya, iya?"
"Tidak seperti itu."
"Lalu seperti apa?"
"Karena kamu seperti magnet." Jathayu menoleh lalu menatapku tanpa berkedip selama beberapa detik. "Apa jawabanku membuatmu puas?"
Aku menggeleng pelan lalu melanjutkan mengocok telur yang sudah kutambah dengan irisan daun bawang.
Aku tak melanjutkan obrolan dan mulai sibuk dengan tugas yang diberikan Jathayu.
Tanpa kusadari perasaan canggung yang tadi kurasakan perlahan berubah menjadi rasa aman dan nyaman. Aku sendiri bingung, kenapa perasaanku bisa seperti ini pada Jathayu. Sungguh, ini berbeda dari yang kurasakan pada Bram. Berada di sisi Jathayu membuatku merasa terlindungi.
"Kamu sudah selesai?"
Teguran Jathayu membuatku tersadar dan segera membalik telur dadar di atas penggorengan.
"Sebentar lagi."
Laki-laki itu mematikan kompor lalu berniat mengambil dua buah piring dari dalam rak.
"Apa seperti ini rasanya punya seorang kakak?"
"Apa?" Jathayu memutar kepalanya dan tampaklah seraut wajah polosnya. Keningnya mengerut samar dan bibirnya sedikit terbuka.
"Tidak ada." Lebih baik jika ia tidak mendengar suaraku tadi. "Cepatlah, aku sudah lapar."
Mungkin perasaan aman dan nyaman yang kurasakan sekarang sama halnya dengan perasaan seorang adik terhadap kakaknya. Pasti begitu.
Agh.
Nyaris saja kami bertubrukan. Pasalnya aku hendak mengambil sesuatu dari dalam rak dan Jathayu tiba-tiba membalik tubuh. Suasana canggung meradang seketika. Bahkan laki-laki itu membeku di tempatnya berdiri.
Terlalu dekat dengannya seperti ini sungguh membuatku merasa terintimidasi. Rasanya oksigen di sekitar tubuhku mulai berkurang drastis, membuatku kesulitan bernapas. Atmosfer di sekitar kami juga ikut memanas.
Untuk beberapa saat aku bisa mengeluarkan bayangan Bram dari dalam kepalaku. Kenangan tentangnya turut memudar tak berbekas. Segala hal yang menimpaku belakangan ini juga terlupakan ketika sepasang mata elang milik laki-laki itu menelusuri wajahku dengan tatapannya.
Apakah saat ini aku sedang mencoba untuk jatuh cinta lagi?
***