WHAT'S WRONG WITH MY BODYGUARD?

WHAT'S WRONG WITH MY BODYGUARD?
#30



"Kenapa kamu melakukan itu padaku?"


Aku sengaja tak menoleh ke arah laki-laki itu agar ia tidak balik menatapku dan mendapati raut wajahku yang masih dipenuhi rasa malu. Bahkan sampai detik ini, ketika kami telah menaiki mobil dan meninggalkan kediaman Nyonya Penny, bayangan wanita itu terus mengganggu pikiranku.


Jathayu tidak langsung menjawab. Laki-laki itu pernah bilang bahwa ia tak suka mengobrol selagi menyetir. Tapi, seharusnya ia melakukan pengecualian untuk masalah satu ini. Rasa ingin tahuku terlampau besar untuk sekadar diabaikan begitu saja.


"Bukankah tadi aku menyuruhmu untuk tetap tinggal di dalam mobil?" Karena tak sabar menunggu jawaban dari bibir laki-laki itu, aku terpaksa menoleh ke samping dan mencecarnya. "Tapi kenapa tiba-tiba kamu masuk ke dalam dan... "


"Untuk menyelamatkanmu," tukasnya. Kepalanya menoleh sebentar dan aku bisa melihat tatapan mata elangnya memancar ke arahku.


Aku tercekat. Apakah itu tadi bisa disebut sebagai penyelamatan? Omong kosong!


"Aku tadi melihat mereka lebih dulu masuk sebelum kamu," beritahu Jathayu sejurus kemudian. Memaksaku kembali menoleh ke samping. "Aku khawatir terjadi sesuatu denganmu, makanya aku ikut masuk dan mengawasimu dari jauh," lanjutnya.


Oh. Benarkah?


Aku tidak percaya Jathayu bisa melakukan semua ini. Tugasnya memang untuk melindungiku, tapi apa hal tadi termasuk di dalamnya? Apakah sebaiknya aku berterimakasih padanya?


"Tapi kenapa tiba-tiba kamu muncul dan memelukku, hah?" protesku kesal. "Apa kamu harus melakukan semua itu demi menyelamatkanku?"


Sepertinya protes yang kuajukan pada Jathayu tak sedikitpun menimbulkan reaksi pada laki-laki itu. Deru napasnya masih setenang tadi dan ekspresi wajahnya tampak biasa-biasa saja. Mungkin aku lupa kalau ia memang sedatar itu.


"Apa mama juga memberimu izin untuk melakukan hal apapun demi melindungiku?" tanyaku sekali lagi. Karena prinsipnya membuatku kesal. Selama ia bisa membagi fokus saat menyetir, bagiku tak masalah berbincang di dalam mobil.


"Hanya itu satu-satunya cara yang terpikirkan olehku," balas laki-laki itu akhirnya.


"Apa?!" pekikku tanpa sadar.


"Aku hanya ingin membawamu pergi dari tempat itu secepatnya, Nona," tandas Jathayu seolah ingin membenarkan tindakan lancangnya.


"Konyol!"


Seusai memakinya aku membuang wajah ke samping. Rasa kesal dan kecewa bertumpuk di dalam dadaku. Sejujurnya aku tidak marah pada laki-laki itu. Jathayu hanya ingin menolong meskipun aku tidak suka dengan caranya. Bagaimanapun juga ia telah berhasil membawaku pergi dari hadapan Bram dan istrinya sebelum aku lebih dipermalukan lagi oleh wanita itu. Namun, aku lebih suka untuk tidak mengakuinya.


Aku marah pada keadaan yang sama sekali tidak menguntungkan buatku. Seharusnya aku bisa menghindari situasi tadi dan pergi secepatnya dari tempat pesta. Namun, aku malah terjebak di sana dan harus mengalami hal yang menyedihkan.


"Seharusnya aku tidak pernah datang ke pesta itu," gumamku menyesali semua yang telah terjadi.


"Bukankah kamu yang memulai semua ini?"


Aku tercekat mendengar sahutan Jathayu. Suaranya memaksaku untuk menoleh padanya. Bisa-bisanya ia menyalahkanku atas semua yang telah terjadi.


"Apa?"


"Apakah jatuh cinta adalah sebuah kejahatan?" Suasana hatiku benar-benar buruk saat ini dan Jathayu malah mengajakku berdebat. Sempurna.


"Memang bukan." Laki-laki itu menukas dengan cepat. Rasanya ia telah lupa prinsipnya saat mengemudi. "Tapi tidak seharusnya kamu jatuh cinta pada laki-laki itu. Meskipun kamu menyukainya, dia bukan milikmu. Dia sudah menjadi milik orang lain dan kamu harus sadar itu, Nona. Jatuh cinta bukan berarti harus memiliki," tandas Jathayu menceramahiku.


Perkataan Jathayu mengundang senyum getir di bibirku.


"Jadi, sekarang kamu ingin menimpakan semua kesalahan padaku?!" Rasanya darahku mengalir deras ke ubun-ubun saat ini juga setelah mendengar ucapan laki-laki itu. Bagaimana mungkin ia bisa menyalahkanku seperti itu sementara ia bukanlah siapa-siapa untukku? Memangnya, apa hak Jathayu menghakimi semua tindakanku?


Jathayu tak merespon kekesalanku dan masih fokus pada kemudi. Apa ia ingin membuatku lebih marah karena telah mengabaikanku?


"Kalau aku bisa menentukan pada siapa aku harus jatuh cinta, aku juga tidak akan memilih laki-laki itu," tandasku setelah beberapa menit kemudian. Aku menatap nanar ke depan dengan kedua tangan mengepal di atas pangkuan. "Aku tidak akan pernah memilih laki-laki yang jauh lebih tua dan membuat mereka berpikir aku terobsesi pada figur seorang ayah yang selama ini tidak pernah kumiliki." Seperti yang mama selalu katakan padaku, aku terobsesi pada Bram karena mendambakan kasih sayang dari seorang ayah.


"Kamu masih bisa memperbaiki semua ini... "


"Memperbaiki apa?!" teriakku seraya menoleh ke samping. "Apa yang bisa kuperbaiki?" Aku menyeringai. Memangnya siapa yang bisa menyatukan kembali kepingan kaca yang telah pecah?


"Sikapmu." Laki-laki itu menjawab dengan lugas dan tegas. "Mulailah kehidupanmu yang baru tanpa laki-laki itu. Hubungan kalian hanya akan menciptakan bencana. Kamu ataupun dia sama-sama akan menyakiti orang-orang di sekitar kalian. Kamu pasti bisa melakukannya, Nona," ujar Jathayu seperti sedang memberi petuah bijak. Seolah-olah melakukan sesuatu segampang melontarkan ucapan.


Aku menghela napas panjang sebelum berkata, "Turunkan aku di sini."


"Apa maksudmu?"


"Kamu tidak mendengarku?" Aku mendelik ke arahnya meski laki-laki itu tidak melihatku. "Kubilang turunkan aku di sini," suruhku dengan nada ketus.


"Kenapa?"


"Aku sudah muak bicara denganmu."


"Kalau begitu biar aku yang turun," ucap Jathayu membuatku kaget. Laki-laki itu memutuskan untuk mengurangi kecepatan dan mulai menepikan mobil yang kami tumpangi.


Apa ia benar-benar akan turun seperti yang dimintanya? batinku seraya tak lepas mengawasi gerak geriknya. Sepertinya begitu.


"Menyetirlah dengan hati-hati," pesannya seraya melepaskan sabuk pengaman, lantas membuka pintu mobil dan melangkah keluar.


Oh. Aku sempat ternganga melihatnya berjalan menjauh dengan punggung yang seolah tak menanggung beban apapun. Tampaknya ia melakukan semua itu dengan senang hati. Benar-benar hal yang sulit untuk dipercaya.


Baiklah, jika ia mengambil keputusan itu. Aku juga tak akan keberatan meninggalkannya sendirian di jalan. Ada banyak pilihan angkutan umum yang bisa ia naiki nanti, pikirku sembari membuka pintu mobil. Mustahil ia tak membawa sejumlah uang di dalam dompetnya dan aku tak perlu cemas akan keselamatannya. Jathayu adalah seorang pengawal pribadi yang bisa diandalkan. Aku yakin kemampuan bela dirinya cukup bagus.


Aku akan berpindah ke posisi pengemudi sekarang. Rasanya sudah lama aku tak menyetir semenjak laki-laki itu resmi menjadi pengawal pribadiku. Aku ingin bermain dengan kecepatan dan menikmatinya selagi bisa.


***