
Rencanaku untuk bersenang-senang dengan Jathayu bisa dikatakan gagal total. Bagaimana tidak, tadi saat kami tengah asyik berjalan berdua, tiba-tiba saja istri Bram muncul dan mengacaukan segalanya. Hati, pikiran, dan momen bahagia yang sedang kami nikmati seolah menjadi hari terburuk sepanjang hidupku. Namun, untungnya Jathayu menggenggam tanganku dengan erat sehingga aku tertolong berkat dirinya. Tanganku yang gemetar tersamarkan dan tubuhku yang mendadak lemas menjadi lebih kuat karena dukungannya.
Lalu sekarang, Dini dan Eka juga muncul seolah baru saja keluar dari pintu ke mana saja. Bukannya aku tidak senang bisa berjumpa dengan mereka berdua, hanya saja waktunya sangat tidak tepat. Suasana hatiku sempat menurun sesaat lalu dan aku belum berhasil memperbaikinya.
Namun, aku tidak menyesal bertemu mereka di sini. Diam-diam aku juga merindukan mereka.
"Kebetulan kami sedang jalan-jalan tadi," jelas Dini menjawab pertanyaanku sebelumnya.
"Dan tanpa sengaja kami melihat Nona di sini," imbuh Eka dengan gaya polosnya. Mereka masih sama seperti dulu. Mungkin hanya aku saja yang banyak berubah di sini.
Aku menarik napas dalam-dalam. Tidak ada yang tidak mungkin jika Tuhan sudah berkehendak, batinku sambil meredakan segenap gejolak didadaku. Mal adalah serupa magnet, terutama bagi kaum Hawa. Pintunya juga dibuat selebar dan sebanyak mungkin. Lahan parkirnya juga luas. Di sana ada berbagai macam barang yang dijual dan harganya cukup bervariasi. Siapa saja bisa datang meski hanya sekadar membeli segelas es teh yang dibandrol berkali-kali lipat dibanding dengan jenis minuman yang sama di warung pinggir jalan. Dan bukan hal yang mengherankan jika di tempat itu tiba-tiba kita bertemu dengan teman, saudara, mantan pacar, atau bahkan orang yang sama sekali tidak kita suka, bukan?
Aku akan memaklumi pertemuan tidak terduga ini.
"Kalian mau makan juga? Duduklah, biar aku yang pesan," ucap Jathayu seolah sedang bertindak sebagai pahlawan. Ia bangkit dari kursi dan meninggalkan potongan ayamnya yang masih tersisa setengah. Laki-laki itu pergi tanpa seizinku usai mempersilakan Dini dan Eka agar duduk bersama kami.
"Apa kalian pacaran?"
Setelah Jathayu pergi, Dini menyeret sebuah kursi dari meja lain ke dekatku. Gadis itu berbisik di dekat telingaku, tapi sepasang matanya melirik ke arah Jathayu yang sedang mengantre. Eka juga ikut-ikutan menarik sebuah kursi kosong ke dekat kami.
Pertanyaan yang bagus dan aku sangat menyukainya.
"Apa kami tampak seperti sedang pacaran?" Aku balas bertanya pada Dini.
Dini dan Eka serempak mengangguk. Sikap yang mereka tunjukkan terlihat kompak dan sangat meyakinkan.
"Tanya saja Jathayu. Sebentar lagi dia kembali," ucapku santai. Aku menyeruput soda dingin di hadapanku seraya melempar lirikan ke arah punggung Jathayu yang nyaris tak terlihat karena tertutupi tubuh seorang pengunjung. "Oh, ya. Apa kalian libur hari ini? Di mana kalian bekerja sekarang?" cecarku karena tiba-tiba ingat pertanyaan yang seharusnya kutanyakan pada mereka. Bahasan tentang aku dan Jathayu bukan masalah penting untuk mereka berdua.
Dini dan Eka saling berbagi tatap setelah aku menutup mulut. Mereka tampak saling bertanya satu sama lain, entah apa yang membuat keduanya terlihat enggan untuk menjawab pertanyaanku.
"Sebenarnya," Dini memutuskan untuk angkat bicara setelah beberapa detik lamanya berbagi bimbang dengan Eka. "kami menganggur sekarang," ungkap gadis itu dengan wajah sedikit tertunduk. Ia membumbuinya dengan raut sedih demi menambah kesan menderita.
"Menganggur?" Aku cukup terkejut mendengar pengakuan mereka. Jeda waktu antara insiden kebakaran butik hingga sekarang sebulan lebih. Seharusnya selang waktu tersebut bisa mereka pergunakan dengan mencari pekerjaan lain. Atau jangan-jangan mereka tidak berusaha mencari pekerjaan?
"Maaf, menunggu lama. Tadi antre," sela Jathayu menengahi percakapan antara aku, Dini, dan Eka. Laki-laki itu membawa sebuah nampan dengan isi yang sama dengan milik kami sebelumnya.
"Terima kasih," sambut Dini dan Eka hampir bersamaan. Aku bisa merasakan binar-binar bahagia terpancar dari wajah keduanya ketika menatap hidangan yang baru saja diletakkan Jathayu di atas meja. Entah mereka benar-benar antusias dengan menu makanan cepat saji itu atau dengan Jathayu, hanya Tuhan dan mereka saja yang tahu.
"Apa kalian tidak mencari pekerjaan lain?" tanyaku tak sabar menunggu Dini menjelaskan semuanya. Kedua gadis itu tampak lebih suka mendahulukan makanan mereka ketimbang menjawab pertanyaanku. Mungkin juga karena Jathayu yang membelikan makanan itu, makanya Dini dan Eka merasa senang bukan kepalang.
"Ya, Nona." Dini bergumam sembari mengunyah. Dan aku terpaksa mendengus karena kesal diabaikan seperti itu.
"Lalu...kenapa kalian di sini sekarang?" desakku lagi. Aku bahkan sudah kehilangan selera makanku karena penasaran ingin tahu bagaimana kehidupan Dini dan Eka selama ini.
"Lantas?"
"Kami tidak betah bekerja di sana."
"Kenapa?" Aku mengerutkan kening sembari menduga-duga. "Apa pemilik butik itu jahat?"
Kedua gadis itu kompak menganggukkan kepala.
"Kami bekerja di sana cuma seminggu saja. Setelah itu kami mengundurkan diri," terang Dini.
"Benarkah?" Tanpa sadar aku menggumam pelan. Padahal selama ini aku juga bersikap kasar pada mereka berdua, tapi Dini dan Eka betah bekerja padaku. "Bukannya aku juga jahat pada kalian berdua?"
"Ya, Nona memang jahat. Tapi hanya sedikit," sahut Eka lalu gadis itu tersenyum lebar. Dini juga ikut menertawakan kalimat sahabatnya.
Miris. Mereka berani menertawakanku sekarang.
"Terus kenapa kalian tidak mencari pekerjaan lagi?" tanyaku kalem. Toh, mereka berdua bukan karyawanku sekarang, jadi aku tidak bisa bertindak sewenang-wenang pada Dini dan Eka. Aku melanjutkan makan sepotong ayam goreng ketika semua pertanyaan di benakku telah terjawab. Selera makanku perlahan kembali. "Di mal kan banyak lowongan pekerjaan."
"Kami sudah memasukkan banyak surat lamaran, tapi belum ada panggilan."
"Kenapa Nona tidak membuka butik lagi?"
"Apa?" Aku menoleh ke arah mereka berdua. "Kalian masih ingin bekerja padaku meski aku sudah bersikap kasar pada kalian?"
"Tentu saja," sahut Dini sambil mengangguk. "Kami senang bisa bekerja dengan Nona."
"Benarkah?"
"Tentu."
Setelah mama dan Nyonya Penny, kini giliran Dini dan Eka yang mengajukan dukungan agar aku kembali membuka butik. Apalagi mama sepertinya telah menemukan lahan yang cocok untuk dijadikan tempat usaha.
"Aku akan mempertimbangkannya," ucapku sejurus kemudian. Namun, bukan berarti aku benar-benar akan kembali membuka sebuah butik pakaian. Aku hanya perlu memikirkan ulang cita-cita dan tujuan hidupku.
"Kami sangat senang mendengarnya," decak Eka tampak gembira.
"Aku bilang aku akan memikirkannya. Jadi aku belum memutuskan," ucapku menjelaskan agar mereka tidak salah paham. Aku tidak mau memberi harapan kosong pada para mantan karyawatiku tersebut.
"Baik, kami akan menunggu kabar bagus dari Nona." Keduanya sepakat untuk melempar senyum padaku seolah aku baru saja memberi mereka permen loli.
***