
Laki-laki itu tampak sebagai orang yang baik. Kesan itulah yang akan dipikirkan orang-orang ketika pertama kali melihatnya. Aku juga memiliki pemikiran yang sama ketika melihatnya kala itu. Ia sama sekali tidak tampak sebagai seseorang yang tega mengkhianati istrinya sendiri dan memilih pergi bersama wanita lain. Sorot matanya yang teduh memancarkan kehangatan dan keramahan, pun begitu dengan sikapnya yang lemah lembut. Namun, laki-laki itulah yang meninggalkan kami. Ia lah yang menyiksaku dalam rasa kesepian dan keterpurukan selama bertahun-tahun lamanya. Semua orang tahu, terkadang penampilan luar seseorang tidak selalu berbanding lurus dengan sikapnya.
"Bisa kita bicara sebentar, Talisa?" tegur laki-laki itu mengusik lamunanku tentang dirinya. Untuk pertama kalinya setelah ia pergi meninggalkan kami 23 tahun lalu, laki-laki itu memanggil namaku. Mungkin juga ia yang memilihkan nama Talisa untukku.
Ia sudah berdiri dihadapanku sekarang. Ruang dan waktu seolah sepakat menjebakku agar tidak bisa membuat pilihan. Tidak ada alasan yang bisa kubuat untuk menolak permintaannya.
Jathayu tampak melangkah menghampiri dan menyentuh pundakku perlahan. Entah bagaimana nasib mobilku yang ia tinggalkan di luar pagar. Laki-laki itu tak mengeluarkan sepatah kata dari bibirnya, tapi aku tahu ia sedang menyuruhku untuk menuruti permintaan ayah kandungku. Meski hanya sekali seumur hidup, aku harus menemui ayah kandungku, ucapnya kala itu.
Meski aku tak ingin melakukannya, aku akhirnya setuju untuk berbincang dengan ayah kandungku. Kami memilih bangku taman sebagai tempat untuk berbagi kata. Letaknya tidak begitu jauh dari rumah. Kami hanya perlu berjalan kaki selama beberapa menit untuk sampai ke sana. Tempat itu sepi ketika hari telah gelap seperti sekarang sehingga memungkinkan kami untuk bicara dengan lebih leluasa dan nyaman.
Kami duduk bersebelahan di bangku panjang yang berbahan kayu. Warna catnya tidak begitu jelas, antara cokelat tua atau hitam. Lampu taman agak redup dan mengaburkan pandangan. Suasana dingin menyelimuti atmosfer di antara kami berdua. Rasanya sangat asing duduk berdampingan seperti ini meski ia adalah ayah kandungku. Meski kami pernah bertemu beberapa waktu lalu di cafe karena sebuah insiden kecil, tapi tetap saja ia orang asing bagiku. Dan suasana menjadi sangat canggung setelah kami sama-sama mengetahui kenyataan yang sebenarnya, bahwa kami memiliki ikatan darah. Aku adalah putri kandungnya dan laki-laki itu adalah ayah yang sepanjang masa kecilku kurindukan kehadirannya. Darah yang mengalir dalam tubuhku adalah darah laki-laki itu. Namun, aku punya alasan kenapa aku sengaja memberi jarak sedikit lebih lebar dengannya. Aku belum siap dengan semua ini.
" Bagaimana kabarmu, Talisa?" Laki-laki itu membuka perbincangan karena aku sama sekali tidak ingin melakukannya dan membiarkan waktu berlalu dengan percuma. Udara malam yang dingin menyapu wajahku sekilas seperti ingin menyapaku dalam kebisuan.
"Baik," jawabku dengan nada datar. Aku melepas pandangan ke depan tanpa keraguan sedikitpun. Bukankah seharusnya ia bertanya hal itu beberapa puluh tahun silam di saat aku merasa sangat kesepian dan membutuhkan kehadirannya?
"Maafkan Papa karena baru menemuimu sekarang," tandasnya seolah tahu kalau batinku sedang sibuk menyalahkannya.
"Apa itu penting sekarang?" tanyaku sedikit ketus. Aku masih belum ingin menatapnya hanya karena sebuah permintaan maaf yang terlambat.
"Papa tahu, itu sama sekali tidak penting buatmu.Tapi Papa merasa harus melakukannya," ucapnya dengan nada rendah seakan-akan sedang meminta belas kasihan dariku. "Kamu tidak perlu memaafkan papa. Papa tidak pantas untuk dimaafkan," imbuhnya dengan percaya diri.
"Lalu kenapa menemuiku?" tanyaku kemudian.
Laki-laki itu menghirup udara dalam-dalam seolah dadanya sedang sesak dan butuh lebih banyak oksigen untuk melegakannya.
"Papa hanya ingin melihat putri papa sebelum meninggal," ucap laki-laki itu lagi-lagi seperti ingin meminta perhatian dan rasa iba dariku.
Namun, alih-alih merasa iba, aku malah menyunggingkan seulas senyum pahit di ujung bibirku.
"Papa sangat merindukanmu, Talisa."
"Apa sekarang Papa menyesal?" Aku memutar kepala dan melihat seraut wajah yang berangsur menua itu. Seandainya aku bertemu dengannya belasan tahun silam, aku pasti bisa menikmati ketampanan yang dimilikinya. Mungkin juga aku tak perlu bertualang mencari cinta seorang laki-laki berumur karena aku tumbuh dalam pelukan ayah kandungku.
"Tidak ada seorang pun yang tidak menyesal berpisah dengan anak kandungnya, Talisa," ucap laki-laki itu.
"Lalu kenapa papa baru datang sekarang?" Aku geram melihat sikap tenangnya padahal dadaku mulai bergemuruh menahan amarah. Mungkin baginya sangat mudah mengucapkan sebaris kata penyesalan, tapi semua itu tidak bisa serta merta mengikis luka di hatiku. Masa kecil yang suram akan selalu tertanam dalam pikiranku dan akan menjadi sebuah kenangan pahit yang tak bisa kulupakan sepanjang hidupku. "Apa Papa tahu, tidak ada gunanya papa datang menemuiku sekarang. Aku sama sekali tidak mengharapkan pertemuan ini. Aku tidak merindukan papa," tandasku tegas.
Laki-laki itu terdiam mendengar ucapanku. Bola matanya bergulir lambat menelusuri setiap detail wajahku. Ia tampak tidak terusik dengan kalimat kasarku.
"Kamu tumbuh menjadi seorang wanita yang cantik, Talisa," gumamnya seperti ingin mengalihkan tema perbincangan.
Aku melenguh kasar mendengar pujiannya. Kalimat seperti itu tak bisa melunakkan hatiku.
"Sayangnya aku tidak tumbuh menjadi wanita yang baik," imbuhku. Ia perlu tahu jika wajah cantikku menyimpan sejumlah keburukan yang tak bisa kujabarkan di depannya. Mungkin sebagian sifat itu juga berasal dari gen yang diturunkannya padaku. Bisa juga pelampiasan atas rasa kesepian yang mendera sepanjang hidupku. "Aku sudah terlalu banyak menyakiti hati orang lain," tandasku. Pandanganku mulai turun dan jatuh ke atas tanah di dekat kakiku berpijak. Aku selalu merasa menjadi pecundang yang kalah di medan pertempuran ketika mengingat semuanya. Petualangan cintaku yang tak lazim membawaku dalam sebuah kehancuran yang menyiksa. Namun, masih ada sedikit keberuntungan di balik semua penderitaanku. Jathayu adalah jimat keberuntungan bagiku. Laki-laki itu telah mengubah hidupku 180 derajat.
"Tidak ada hidup yang sempurna, Talisa."
Laki-laki itu seolah-olah ingin berkata bahwa dirinya juga sama denganku. Namun, bibirnya enggan untuk mengungkit masa lalu.
"Papa baru menyadari semua kesalahan papa setelah kehilangan semua yang papa miliki," tandasnya mengundang tanda tanya di pikiranku. Namun, aku memiliki harga diri yang tinggi yang membuatku tak bisa bertanya padanya.
"Apa jika tidak kehilangan apa yang papa miliki, papa tidak akan datang menemuiku seperti ini?" pancingku sengaja ingin menjebak laki-laki itu. Aku jadi meragukan penyesalan yang sempat ia ungkapkan beberapa menit lalu.
Benar saja. Laki-laki itu bergeming dengan sepasang mata mengarah lurus ke wajahku. Entah apa yang terendap dalam benaknya saat ini.
"Aku benar, kan?" Aku mencoba mengintimidasinya dengan caraku.
***