WHAT'S WRONG WITH MY BODYGUARD?

WHAT'S WRONG WITH MY BODYGUARD?
#82



Jathayu menepikan mobil yang ia kemudikan sebelum benar-benar menghentikannya tepat di tepi jalan yang terlihat sepi. Hanya ada areal persawahan yang tampak di kanan dan kiri jalan. Permukiman penduduk terlihat di kejauhan. Sementara matahari kian merapat ke garis horison barat. Sebentar lagi akan gelap dan bisa dipastikan kami akan kemalaman sampai di rumah. Perjalanan ini akan menemui banyak hambatan.


"Apa yang kamu lakukan, Nona?" tegur Jathayu tepat di saat tanganku telah menyentuh pegangan pintu.


"Aku akan keluar..."


"Kenapa?" timpalnya cepat. "Haruskah kamu marah di tempat seperti ini?"


Aku urung untuk membuka pintu mobil, tapi aku belum berniat untuk menarik tanganku kembali.


"Memangnya siapa yang membuatku marah, hah?"


"Apa yang membuatmu seperti ini, Nona?" tanya laki-laki itu seolah belum paham dengan maksud amarahku. Terkadang ia sangat tidak peka sekaligus menyebalkan.


"Apa kamu tidak merasa sedang menyembunyikan sesuatu dariku?" tanyaku masih mencoba untuk bersabar. Diam-diam aku sedang memberinya waktu untuk menjelaskan semuanya.


Sepasang mata laki-laki itu bergulir menelusuri setiap detail wajahku. Ia terlihat berusaha dengan susah payah memahami maksud perkataanku.


"Jadi, kamu ingin tahu apa yang kubicarakan dengan ibu panti tadi?" Ia berhasil menebak maksudku.


"Ya. Bukankah kamu sedang menyembunyikan percakapan kalian dariku?" Aku melepaskan pegangan pintu mobil dan bersikap seperti semula. Mungkin ini saat yang tepat bagi Jathayu untuk mengungkapkan semuanya.


"Percakapan itu tidak ada sangkut pautnya denganmu, Nona."


Oh. Ternyata aku salah besar. Jathayu bukanlah orang yang akan dengan mudah buka mulut. Meski ia mencintaku, tapi bukan berarti laki-laki itu akan mengumbar segalanya di depanku.


"Tapi aku mencintaimu, Jathayu. Dan kamu juga mencintaiku. Apapun yang menyangkut dirimu, menyangkut diriku juga. Apa aku egois jika berpikir seperti itu?"


"Bisakah untuk masalah ini biar aku saja yang menyimpannya?"


Dasar keras kepala!


"Baiklah. Simpan masalah itu untukmu sendiri," ucapku dengan penuh amarah. Aku langsung membuka pintu mobil usai melepaskan sabuk pengaman dari tubuhku dan keluar begitu saja.


Memangnya ia anggap aku sebagai apa? Apa susahnya berbagi masalah denganku? Aku memang tak pandai mencari solusi untuk permasalahan apapun, tapi setidaknya berbagi adalah salah satu cara mengurangi beban dalam hati seseorang. Tapi Jathayu bersikukuh ingin menyimpan masalah itu sendirian. Ya, ia memang laki-laki yang kuat dan hebat. Bahkan sejak kecil ia sudah berpengalaman menghadapi berbagai macam masalah. Dan persoalan yang ia hadapi sekarang mungkin tak ada apa-apanya.


"Nona!"


Tanganku ditarik dengan paksa dari belakang dan seketika membuat tubuhku berputar. Aku hampir saja menubruk Jathayu.


"Jangan bersikap kekanak-kanakan seperti ini..."


Kekanak-kanakan? batinku tak percaya. Sampai detik ini ia bahkan masih menganggapku kekanak-kanakan?


"Ya, aku memang kekanak-kanakan," sahutku dengan berseru di depan wajah Jathayu. Tak peduli aku harus mendongak demi bisa menatap wajah gusarnya. "Kalau kamu tidak suka dengan wanita kekanak-kanakan sepertiku, kamu bisa pergi sekarang. Jangan pernah muncul lagi di hadapanku, mengerti?!"


Aku berusaha menepis tangan laki-laki itu, tapi tak bisa. Ia semakin mengeratkan cekalan tangannya ketika aku mencoba untuk berontak.


"Kumohon, jangan seperti ini, Nona," pintanya. Ia tidak ingin melepaskanku meski aku telah mencoba untuk menepis tangannya. "Baiklah, aku akan mengatakan semuanya. Tapi tidak di sini. Aku akan menceritakannya di rumah..."


"Tidak!" timpalku cepat. "Aku mau kamu mengatakan semuanya di sini. Sekarang!" paksaku. Ini adalah satu-satunya cara yang bisa kuandalkan. Jika kami sudah tiba di rumah, Jathayu akan mengajukan banyak alasan demi mengingkari janjinya. Aku takut akan berakhir seperti itu.


Ia mengembuskan napas berat. Kurasa ia harus menuruti keinginanku karena tak ada pilihan baginya.


"Apa?" Aku melongo. Aku takut pendengaranku rusak sesaat tadi. "Ibu kandungmu mencarimu?" ulangku perlu memastikan sekali lagi. Dan laki-laki itu mengangguk demi meyakinkanku.


Setelah ayah kandungku datang mencariku, sekarang ibu kandung Jathayu datang mencarinya.


"Berkali-kali ibu panti memintaku untuk menemuinya, tapi aku terus menolak," ucap Jathayu kemudian. Perlahan tapi pasti, ia mulai terbuka padaku. Perjuanganku tidak sia-sia tadi.


Jathayu pernah bercerita perasaannya ketika kami berlibur di vila saat itu. Dan aku sangat paham jika ia enggan untuk menemui ibu kandungnya.


"Sekali saja kamu tidak ingin menemuinya?" tanyaku. Barangkali Jathayu berubah pikiran. Mungkin juga desakan ibu panti mampu meluluhkan hatinya. Meskipun dengan terpaksa, siapa tahu Jathayu bersedia menemui ibu kandungnya. Setidaknya sekali seumur hidup, ia menemui ibu kandungnya seperti yang pernah Jathayu sarankan padaku dulu.


"Tidak." Laki-laki itu menggeleng. Kepalanya setengah tertunduk ragu.


"Bagaimana jika ia menyesali semua perbuatannya dulu?" tanyaku hati-hati. Sekarang aku malah ingin menjaga perasaannya setelah melampiaskan amarah tak keruan padanya.


"Itu urusannya. Bukan urusanku," tandasnya terdengar tak berperasaan.


"Bagaimana jika kamu mendengarkan alasannya kenapa dia membuangmu? Awalnya aku juga enggan menemui papa, tapi setelah bertemu dengannya dan mendengarkan cerita papa, aku bisa sedikit mengerti dengan keadaannya saat itu."


"Ini berbeda dengan kasusmu, Nona."


"Memangnya kamu sudah mendengarkan alasannya kenapa dia meninggalkanmu di panti itu? Belum, kan?"


"Memang belum. Dan aku juga tidak ingin tahu alasannya."


Ternyata ia jauh lebih keras kepala dariku. Tapi aku tak berhak menyalahkan pendiriannya. Jathayu terlalu banyak menyimpan luka dalam hatinya.


Aku menarik napas diam-diam. Sungguh, aku tidak punya apa-apa lagi untuk dikatakan pada laki-laki itu. Aku belum menemukan padanan kata yang tepat untuk diungkapkan di hadapannya. Yang mampu kulakukan sekarang hanyalah menarik tubuh laki-laki itu ke dalam dekapanku. Bukannya aku ingin memanfaatkan situasi ini, tapi aku benar-benar ingin menguatkan dan mendukung orang yang kucintai. Semoga apa yang kulakukan bisa membuat perasaannya sedikit membaik.


"Kita pulang sekarang?" tawarku setelah melepaskan tubuh laki-laki itu. Meski aku ingin memeluknya lebih lama lagi, tapi aku harus ikhlas untuk melepaskannya. Matahari telah menghilang dari pandangan dan hanya semburat jingga di langit yang tampak oleh kami. Perjalanan yang harus kami tempuh masih panjang.


Jathayu mengangguk. Ia mulai mengayunkan tungkai kakinya sama seperti yang kulakukan sekarang.


"Apa kamu tidak ingin tahu siapa wanita itu?"


Aku menghentikan langkah dan menoleh ke arah Jathayu.


"Apa aku mengenalnya?" tanyaku tanpa terbersit rasa curiga. Aku juga belum menebak dalam hati.


"Ya."


"Benarkah? Memangnya siapa?"


"Nyonya Penny."


Telingaku seperti baru saja terkena sengatan listrik bertegangan tinggi begitu nama wanita itu meluncur dengan cepat dari bibir Jathayu. Tiba-tiba tubuhku lemas dan dadaku terguncang dengan hebat.


Benarkah wanita itu adalah ibu kandung Jathayu?


***