WHAT'S WRONG WITH MY BODYGUARD?

WHAT'S WRONG WITH MY BODYGUARD?
#83



Kenapa mesti Nyonya Penny yang menjadi ibu kandung Jathayu? Kenapa bukan orang lain saja? Lalu aku bisa apa jika kenyataannya memang seperti itu?


Perdebatan di dalam kepalaku terus terjadi bahkan sampai tiga hari setelah aku mengetahui fakta yang sesungguhnya tentang Jathayu. Aku masih terguncang sampai sekarang dan Jathayu pasti lebih terguncang lebih dari yang kurasakan. Ini mengingatkanku pada saat-saat pertama kali aku mengetahui kenyataan tentang ayah kandungku.


Aku bisa memahami apa yang Jathayu rasakan. Aku juga pernah berada di posisinya saat itu. Sulit untuk menerima kenyataan yang sama sekali tidak sesuai dengan harapan. Aku bahkan sempat berpikir akan jauh lebih baik jika aku tidak pernah bertemu dengan ayah kandungku. Tapi, setelah bertemu dan berbincang dengannya, pemikiran seperti itu memudar dengan sendirinya. Aku tak pernah menyesal telah menerima papa, justru aku merasa bahagia dipertemukan kembali dengannya. Ada banyak hal yang bisa kami perbaiki sama-sama. Kami juga membangun kembali momen-momen bahagia yang telah terlewatkan bertahun-tahun lalu.


Aku tak berpikir jika Jathayu harus bersikap sepertiku dan papa. Masa lalu kami sedikit berbeda dan aku tidak bisa memaksakan kehendakku agar seseorang bersikap seperti apa yang kuinginkan. Terlebih lagi pada Jathayu.


Aku hanya bisa mengawasi punggung Jathayu dari kejauhan sambil melamun tentangnya. Beberapa hari belakangan laki-laki itu tampak menyibukkan diri mengurus halaman belakang dengan membersihkan rumput dan mengatur tanaman sedemikian rupa. Ia seperti sengaja membuat dirinya sibuk demi melupakan segala persoalan tentang hidupnya, terutama ibu kandungnya. Mungkin ia sedang melarikan diri. Entahlah, aku tak ingin mengusik dan membuat bebannya bertambah.


"Kenapa kamu melihat Jathayu seperti itu, Nona?" Sebuah tepukan kecil mendarat di atas pundakku berbarengan dengan suara Bik Inah menyapa gendang telingaku. Wanita itu berhasil membuatku kelabakan gara-gara kepergok sedang memperhatikan Jathayu dan saking asyiknya melamun aku jadi tak sadar jika ia telah berdiri di sebelahku dengan membawa sebuah nampan.


"Bik Inah..." geramku kesal. Tapi aku tak bisa menyuarakan kekesalanku lebih keras lagi karena takut terdengar telinga Jathayu. "jangan tiba-tiba mengejutkan orang seperti itu. Aku bisa terkena serangan jantung gara-gara Bibik."


Wanita itu meringis.


"Kenapa kalian tidak menikah saja? Itu jauh lebih baik daripada Nona terus-terusan melamun padahal Jathayu ada di depan mata," seloroh Bik Inah seolah tak peduli dengan serangan jantung yang baru saja kukeluhkan padanya.


"Menikah?" gumamku. Di saat seperti ini, apa mungkin aku membicarakan tentang pernikahan pada Jathayu? Apa itu tidak akan menambah beban pikirannya?


"Ya, tentu saja. Daripada Nona berpikir macam-macam..."


"Memangnya apa yang kupikirkan, hah?"


Agh. Tadinya aku menjaga suaraku agar tetap stabil di tingkat yang paling rendah, tapi Bik Inah seperti sengaja memancing reaksiku sehingga mengundang perhatian Jathayu. Laki-laki itu menoleh ke arahku dengan tatapan penuh tanya.


Bik Inah mengurai senyum ketika menyaksikan reaksi Jathayu. Wanita itu meletakkan dua gelas bening berisi cairan berwarna oranye ke atas meja lalu berlalu begitu saja tanpa berkata sepatahpun.


Aku melempar senyum ke arah Jathayu dan memberi kode agar ia segera meneruskan pekerjaannya membersihkan rumput di sekitar tanaman hias milik mama. Namun, laki-laki itu malah meninggalkan pekerjaannya dan berjalan menghampiri tempat dudukku di kursi teras. Ia mengusap peluh yang mengalir di pelipis kiri dan kanan sebelum mengambil tempat duduk di sebelahku.


"Apa kamu bertengkar lagi dengan Bik Inah?" tegurnya setelah berhasil meletakkan pantat di atas kursi.


"Tidak. Memangnya kapan kami pernah bertengkar?" elakku bermaksud membela diri sendiri. "Aku dan Bik Inah memang selalu seperti itu, kan?"


Jathayu mengangguk samar. Ia sudah pernah melihatku berdebat dengan Bik Inah dan kurasa bukan hanya sekali Jathayu melihatnya.


"Minumlah, kamu haus kan?" tawarku demi mengalihkan perhatiannya. Membahas tentang Bik Inah bukanlah sesuatu yang penting saat kami duduk berdua seperti ini.


Jathayu meneguk jus jeruk yang dibuat Bik Inah segera setelah aku menyuruhnya. Laki-laki itu terlihat lelah dan sesungguhnya aku tidak tega melihatnya bermandi keringat seperti itu. Ia bukan tukang kebun, tapi Jathayu terus mengambil alih pekerjaan itu sesuka hatinya. Aku agak kesal, tapi tak bisa untuk mencegah keinginannya.


Apakah ini saat yang tepat untuk bicara tentang pernikahan padanya? batinku gamang. Mungkin tidak.


"Apa ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan denganku?" sentak Jathayu membuatku harus mengalihkan tatapan dari tanaman hias milik mama ke wajah Jathayu.


"Apa wajahku berkata seperti itu?" pancingku tak mau gegabah.


"Aku tahu beberapa hari ini ada sesuatu yang terus mengganggu pikiranmu," ucapnya berlagak sok tahu. Tapi mungkin saja ia benar-benar tahu apa yang menghuni kepalaku.


Aku mengumbar tawa hambar.


"Apa kamu paranormal, hah?" gurauku.


"Kalau itu tentang ibu kandungku, lebih baik kamu tidak mengatakan apapun, Nona," tandasnya membuatku terperanjat.


Aku memang sempat berpikir seperti itu, tapi aku sudah berkomitmen dalam hati untuk tidak membujuk atau berkata apapun tentang ibu kandungnya. Jathayu berhak menentukan keputusan tentang ibu kandungnya dan aku tidak akan ikut campur dalam masalah ini.


Aku menelan saliva. Jathayu terlihat menakutkan saat mengutarakan kalimat itu. Bagiku, itu seperti sebuah ancaman dan aku tak berkutik di depannya.


"Apa aku mengganggu kalian?"


Saat aku memutuskan untuk tak menanggapi kalimat Jathayu, Bik Inah muncul tiba-tiba. Tapi kali ini ia telah menyelamatkanku dari tema perbincangan yang sama sekali tidak menguntungkan diriku.


"Ada apa, Bik?"


"Ada tamu di depan," sahut wanita itu seraya menunjuk ke ruang tamu dengan ujung jempol kanannya.


"Siapa?"


"Bukan untuk Nona," ucap Bik Inah cepat. Aku nyaris mengangkat tubuh dari kursi saat itu. "Dia mencari Jathayu."


Aku mengerutkan kening dan ikut mengarahkan pandangan ke arah Jathayu seperti yang Bik Inah lakukan.


"Siapa yang mencariku?" tanya Jathayu.


"Seorang wanita." Sebuah petunjuk diberikan Bik Inah dan pikiranku langsung tertuju pada Nyonya Penny. Mungkin juga Jathayu berpikiran sama denganku. Karena kening laki-laki itu juga mengerut sepertiku. "Ada hal penting yang ingin dia bicarakan denganmu," imbuh Bik Inah sambil menatap tegas ke arah Jathayu.


Diam. Laki-laki itu bergeming tanpa memberi jawaban pada Bik Inah yang menunggunya selama beberapa detik. Namun, wanita itu segera berlalu tanpa menunggu kepastian dari laki-laki itu.


Lalu apa yang harus kulakukan? Jathayu yang keras kepalanya melebihiku, apa aku sanggup untuk membujuknya agar bersedia menemui Nyonya Penny? Sungguh, aku merasa bingung harus berbuat apa.


"Dia menunggumu, Jathayu. Cepat temui dia."


Bik Inah kembali muncul di hadapan kami saat aku dan Jathayu sama-sama diam larut dalam kebimbangan.


***