
Tetes-tetes air hujan berjatuhan ke atas kepalaku seperti sedang mengadakan perlombaan untuk menghukumku. Sementara kedua kakiku seolah tak bisa kukendalikan lagi. Keduanya terus bergerak menuntunku menapaki trotoar yang telah basah akibat hujan yang turun semenjak sepuluh menit lalu. Kepala dan seluruh pakaianku basah, tapi aku tidak peduli. Aku menerobos derasnya hujan bak orang yang telah hilang kewarasannya.
Setelah Dokter Sabrina pergi meninggalkan cafe, tak lama berselang aku juga angkat kaki dari tempat itu. Dan sandiwaraku telah berakhir. Bagaimana mungkin aku baik-baik saja setelah kehilangan semuanya? Omong kosong!
Semestinya aku tidak seperti ini. Aku sudah biasa terluka dan satu lagi luka harusnya tak masalah untukku. Tapi kenapa mesti sesakit ini? Jathayu adalah orang yang paling dalam menancapkan luka di hatiku. Laki-laki itu, tanpa kuduga bisa membuatku hancur seperti ini. Lalu di mana ia sekarang? Kenapa ia pergi setelah mengatakan bahwa aku adalah magnet?
Aku hanya ingin saat ini ia melihatku dan mengasihaniku. Air hujan yang sudah membuatku basah kuyup adalah alasan yang sempurna untuk membuatku terlihat menyedihkan. Tapi sejauh ini, Jathayu belum juga datang menghampiriku. Mungkinkah ia sudah tidak peduli lagi padaku?
Suara klakson yang berbunyi di antara derasnya hujan sedikit memberiku harapan. Mungkin Jathayu melihatku dari kejauhan dan hatinya tergerak untuk mendekat.
Kedua kakiku berhenti tepat di atas kubangan kecil yang menenggelamkan salah satu ujung hak sepatuku. Aku menoleh dan menemukan satu sosok tubuh keluar dari dalam mobil yang berhenti beberapa meter dari tempatku berdiri.
Laki-laki itu mengembangkan sebuah payung berwarna hitam dan menghampiriku dengan langkah tergesa. Wajahnya tak asing, tapi bukan ia yang kuharapkan sekarang.
"Apa yang kamu lakukan di sini, Talisa?" sentak laki-laki itu dengan nada marah bercampur heran. Sepatu bermerk nan mahal yang membungkus kedua kakinya dalam sekejap harus bercengkerama dengan air hujan yang bercampur dengan lumpur. Begitu juga dengan setelan jas mahal yang membalut tubuhnya harus rela terkena cipratan air hujan.
Bram?
Laki-laki itu menempatkan posisi payungnya tepat di antara kami berdua.
Sebuah keajaiban atau kebetulan kah ini? Yang jelas aku sangat membenci pertemuan ini.
"Di mana mobilmu?" cecarnya sambil menoleh ke sekitar. Tapi ia tak akan menemukan apa yang dicarinya. "Apa mogok?"
Aku meninggalkan kendaraanku di rumah. Aku tidak menyentuh benda itu semenjak Jathayu pergi seminggu yang lalu.
"Apa pedulimu?" tanyaku sinis. Aku hanya akan menunjukkan wajah memelas di depan Jathayu.
"Apa yang kamu bicarakan?"
"Berhentilah sok peduli, Bram. Kamu sudah bukan siapa-siapa untukku. Sebaiknya kamu pulang dan kembali ke pelukan istrimu... "
Tangan laki-laki itu melayang dengan cepat dan menarik lenganku. Usahaku untuk segera pergi darinya berhasil dicegah.
"Biar kuantar," tawarnya sambil menahan lenganku.
"Kenapa? Kamu masih menyukaiku?"
Bram menghela napas dengan kasar. Jelas ia masih menyimpan perasaan untukku, tapi tidak denganku. Tempatnya sudah digantikan Jathayu.
"Aku takut kamu sakit," tandasnya. Raut wajahnya tampak cemas dan aku malah menertawakannya.
"Harusnya kamu tidak mencemaskan orang lain."
"Apa yang terjadi denganmu, Lisa? Kenapa kamu seperti ini? Aku seperti tidak mengenalmu." Ia menatapku penuh keheranan.
Sejak seminggu yang lalu aku seperti ini, batinku. Dan Jathayu adalah satu-satunya orang yang bertanggung jawab atas perubahan sikapku.
"Tenang saja. Aku seperti ini bukan karenamu," tandasku dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi.
Dahi dengan sedikit kerut halus itu mengernyit.
"Apa kamu sudah makan?" alihnya. Pertanyaannya justru membuatku tersadar akan rasa nyeri yang sedari tadi menggigit dinding lambungku. Harusnya aku tidak memesan kopi moka saat di cafe tadi.
"Kita tidak sedang pacaran, Bram. Berhentilah bersikap seolah-olah kita adalah pasangan. Dan bisakah kamu lepaskan tanganmu?" Aku dengan sengaja menunjuk ke arah lenganku yang masih dicekalnya.
"Maaf," sesalnya sambil melepaskan lenganku dengan gerakan pelan.
Rasa nyaman yang dibicarakan Dokter Sabrina saat di cafe tadi kembali melintas di benakku. Entah karena bodoh atau apa, yang jelas aku merasakan perbedaan itu sekarang. Berada di dekat Bram dan Jathayu, rasa nyaman yang kurasakan berbeda.
"Ayo kuantar," ajak Bram menyentak lamunan yang satu per satu berkelebat di kepalaku.
"Bagaimana kalau ternyata pendapat mereka benar, bahwa aku menyukaimu hanya karena terobsesi pada ayah kandungku?" tanyaku setelah benar-benar tersadar sepenuhnya. Lamunan di dalam kepalaku telah menguap.
"Apa?" Bram tampak kaget. "Tapi hubungan kita bukan seperti ayah dan anak."
"Memang benar," sahutku. "Mungkin dulu aku salah mengartikan perasaanku. Dan aku baru menyadarinya sekarang."
"Maksudnya?"
Aku menatap wajah laki-laki itu yang berlindung di bawah payung hitam. "Aku menyukai seseorang. Dia lebih tua lima tahun dariku. Kurasa aku mencintainya. Dan sejujurnya perasaanku terhadapnya berbeda dengan apa yang kurasakan padamu."
Bram tampak tercenung mendengar kalimatku. Mungkin itu sebuah pukulan telak baginya.
"Apa kamu sedih mendengarnya?" Aku mencermati seraut wajah di hadapanku. Senang rasanya bisa membalas apa yang pernah ia lakukan padaku.
"Kamu pantas mendapatkan orang yang lebih layak untukmu."
"Tentu. Lagipula kamu juga tidak akan pernah bisa memilihku. Meski kamu bisa memilih, aku bukan pilihanmu," ucapku.
"Apa dia juga menyukaimu?"
"Ya."
"Tapi kenapa dia membiarkanmu berada di jalanan seperti ini?"
Aku membeku. Tak punya persediaan jawaban yang masuk akal untuk kulontarkan pada laki-laki itu.
"Berhentilah berbohong, Talisa. Jangan buat dirimu tampak menderita seperti ini."
"Aku tidak bohong, Bram."
"Sudahlah, mari kuantar kamu pulang." Bram menyeretku menuju ke mobilnya. Ia pasti meyakini kata-kataku hanya sebuah kebohongan belaka demi menyembunyikan luka pasca perpisahan kami. Tapi sungguh, bukan itu penyebab aku bertingkah seperti ini.
"Tidak," tolakku mentah-mentah. Aku berusaha mempertahankan diri untuk menggagalkan rencananya.
"Ayolah, Talisa. Kamu bisa sakit jika terus hujan-hujanan seperti ini. Kamu bukan anak-anak lagi."
"Aku tidak butuh dikasihani."
"Ini bukan rasa kasihan, tapi kepedulian."
Kepedulian apanya? batinku kesal.
"Istriku sedang ada di luar negeri," tandasnya setelah membuka pintu mobil untukku.
Oh, aku cukup terkejut mendengarnya. Jadi, Bram ingin berselingkuh lagi denganku? Memalukan!
"Apa kamu tidak takut dia memata-mataimu?"
"Masuk saja," suruhnya dengan setengah mendorong punggungku.
Terserah. Toh, aku tidak memiliki banyak pilihan. Aku mengikuti perintah Bram untuk masuk ke dalam mobilnya.
***