WHAT'S WRONG WITH MY BODYGUARD?

WHAT'S WRONG WITH MY BODYGUARD?
#24



Dari balik selimut, aku bertanya-tanya pada diri sendiri, apakah ini sebuah kutukan? Atau karma sedang berjalan melakukan tugasnya untuk menghukum atas perbuatanku? Ah, tidak mungkin. Rasanya sangat berlebihan saat pikiranku menjangkau sejauh itu. Ini hanya demam biasa. Suhu tubuhku menanjak naik karena kehujanan kemarin dan tidak ada sangkut pautnya dengan kutukan atau karma.


Namun, sepertinya aku terkena tulah atas ucapanku sendiri. Bukankah semalam aku mengatakan pada Jathayu kalau aku akan baik-baik saja meski tak meminum obat flu yang ia berikan? Dan siapa sangka aku benar-benar terkena demam tinggi sekarang.


Kepalaku terasa berat pagi ini. Suhu tubuhku melebihi ambang batas normal dan memaksaku untuk tetap bergelung di balik selimut tebal. Tidak ada aktifitas yang bisa kukerjakan hari ini dengan kondisi tubuh yang tak baik. Aku perlu istirahat seharian ini. Setidaknya sampai keadaanku lebih baik.


Apa yang akan dilakukan Bram jika ia tahu aku sedang sakit? Apakah ia akan menyesal telah mengabaikan kedatanganku kemarin ke kantornya?


"Nona, apa kamu sudah bangun?"


Itu bukan suara Jathayu. Rasanya melegakan bisa mendengar suara Bik Inah saat aku sedang terbaring demam seperti ini.


"Masuk, Bik." Aku menguatkan suara agar telinga wanita itu bisa menjangkau suaraku.


"Kenapa Nona masih berbaring di tempat tidur? Apa Nona sakit?" Setelah menunggu beberapa detik, akhirnya Bik Inah masuk dan menghampiri tempat tidurku. Aku masih belum melihat jam ketika wanita itu masuk, tapi sepertinya sudah cukup siang. Gorden di kamarku juga masih menggantung menutup jendela. "Astaga, Nona demam," decak wanita itu saat menempelkan telapak tangannya di dahiku demi mendeteksi suhu tubuhku.


Seandainya Bram segera menemuiku kemarin, mungkin aku akan pergi lebih cepat dari gedung kantor itu dan tak perlu kehujanan. Seolah ia benar-benar ingin membuangku dari kehidupannya. Namun, aku masih belum tega menumpahkan segenap kesalahan pada laki-laki itu. Bisa saja ia melakukan hal itu karena terpaksa. Jauh di dalam hatinya masih tersimpan diriku. Ya, aku yakin pasti seperti itu.


"Bibik akan membuatkan bubur dan membawakan obat untukmu," ucap Bik Inah setelah selesai memeriksa keadaanku. Wanita itu tampak tergopoh-gopoh keluar dari kamar.


Aku tahu, meski Bik Inah terdengar kasar sesekali saat bicara padaku, tapi ia baik. Wanita itu peduli denganku. Bahkan ia jauh lebih memerhatikanku ketimbang mama.


Aku nyaris tertidur ketika mendengar suara pintu didorong dari luar. Pikirku, Bik Inah sudah kembali setelah beberapa lama. Aku tak bisa menentukan berapa lama waktunya, tapi sepertinya cukup untuk memasak seporsi bubur hingga matang.


"Apa kamu sakit?"


Ah, ternyata tebakanku salah. Bukan Bik Inah yang datang, tapi laki-laki itu, Jathayu. Mungkin ia disuruh Bik Inah karena wanita itu harus mengerjakan pekerjaan lain.


"Makan buburnya biar kamu bisa minum obat," suruh Jathayu kemudian.


"Kenapa kamu yang datang?" Aku membuka mata lebar-lebar dan mengarahkan pandangan padanya. Aku jauh lebih suka jika Bik Inah yang datang di saat seperti ini.


"Banyak yang harus dikerjakan Bik Inah, jadi dia menyuruhku untuk mengantarkan bubur untukmu," ucap Jathayu. Laki-laki itu tampak sedang berdiri di sebelah tempat tidur. Sepertinya ia tadi sudah bersiap mengantarku pergi sebab aku tak melihat celana training melekat di bagian bawah tubuhnya.


"Apa mama sudah berangkat?"


"Ya, Nyonya sudah berangkat pagi tadi."


Selalu seperti itu, batinku. Bahkan kami nyaris tak pernah berkomunikasi. Hanya sesekali saat mama benar-benar ingin membahas sesuatu denganku.


"Kamu bisa makan sendiri, kan?" Jathayu menggugah kebisuanku.


"Ya," sahutku agak ketus. Lagi pula siapa yang akan minta disuapi? batinku sembari mengangkat tubuh lalu menyandarkan punggung pada tepi tempat tidur.


"Setelah makan pastikan kamu minum obatnya," pesan Jathayu. Padahal aku belum bergerak untuk menyentuh mangkuk bubur di atas meja rias.


"Apa kamu juga akan mengawasiku makan?" delikku.


"Ya."


"Terserah."


"Kamu juga harus minum obatnya jika ingin sembuh."


"Aku tahu," sahutku cepat. Lagi-lagi Jathayu ingin menceramahiku. Aku juga tidak akan memintanya untuk membawaku pergi ke rumah sakit meski aku dalam keadaan sakit sekalipun.


"Kamu ingin menyalahkanku?" Aku melotot padanya.


"Tidak."


Aku mengembuskan napas kasar. Lelah berdebat dengan Jathayu. Tanganku bergerak meraih mangkuk bubur lalu mulai menyuap perlahan. Rasanya sedikit hambar, mungkin Bik Inah tak menambahkan sesuatu di dalam buburku. Atau lidahku saja yang tak beres.


"Apa kamu benar-benar tidak mengatakan pada mama soal kemarin?" Di saat aku sibuk menelan bubur, tiba-tiba aku teringat kembali peristiwa kemarin.


"Tidak," geleng Jathayu dengan mimik serius. Harusnya wajah dengan ekspresi seperti itu menampilkan sebuah kesungguhan.


Namun, aku tidak akan berterima kasih pada Jathayu meski ia tak mengatakan pelarianku kemarin pada mama. Toh, upayaku sama sekali tak membuahkan hasil. Jadi, biarkan semuanya berjalan seperti biasa seperti tak pernah terjadi apa-apa.


"Apa kamu sudah selesai makan?"


Teguran Jathayu membuatku tersadar. Tanganku masih menggenggam sendok, tapi belum menyuap.


"Ya." Aku memutuskan untuk berhenti karena mendadak selera makanku hilang.


"Habiskan makananmu. Paling tidak tambah dua atau tiga suap lagi," suruhnya membuatku tersenyum geli.


"Kamu seperti pengasuh bayi," olokku.


"Apa kamu merasa seperti seorang bayi sekarang?" tanya laki-laki itu seolah ingin membalas olok-olokku.


"Harusnya kamu menjadi seorang pengasuh bayi daripada menjadi seorang pengawal pribadi," ejekku kemudian. "Aku sudah selesai. Bawa pergi nampan itu keluar," suruhku.


"Minum obatnya, Nona. Apa kamu lupa?"


Hampir, batinku sambil menatap Jathayu yang sekarang mengulurkan sebutir obat ke hadapanku.


"Kamu harus minum dua butir obat lagi nanti," ucapnya saat aku menerima obat dari tangannya.


"Ya. Aku tahu."


"Baiklah. Aku akan kembali nanti," kata Jathayu setelah aku selesai minum obat yang diberikan olehnya.


"Kenapa tidak Bik Inah saja yang mengantarkan makanan untukku nanti?" tanyaku sebelum laki-laki itu mengangkat nampan dari atas meja dan bersiap pergi dari kamarku.


"Aku sudah bilang kan, kalau banyak yang harus dikerjakan Bik Inah? Lagipula aku sedang tidak ada pekerjaan karena kamu tidak pergi ke butik. Dan aku tidak mau menggantikan tugas Bik Inah mengerjakan pekerjaan rumah tangga," tandasnya.


Oh.


Jawaban yang bagus, pujiku dalam hati.


"Pergilah," suruhku.


"Kalau kamu butuh sesuatu, telepon saja aku."


"Tidak akan. Aku tidak akan butuh bantuanmu," tegasku. "Pergi sana!"


Jathayu membalik tubuh segera setelah aku mengusirnya dengan kasar. Akan lebih baik jika ia tidak datang lagi ke dalam kamarku. Aku sungguh-sungguh butuh istirahat. Bukan hanya tubuh, tapi hati dan pikiranku juga butuh istirahat sejenak dari memikirkan tentang Bram. Rasanya aku terlalu lelah dengan hubungan kami.


***