WHAT'S WRONG WITH MY BODYGUARD?

WHAT'S WRONG WITH MY BODYGUARD?
#64



"Bagaimana kalau kita beli kaus pasangan?" usulku seraya menarik tangan Jathayu masuk ke dalam sebuah toko yang memajang berbagai macam pakaian dengan model terbaru dan didominasi gaya anak muda. Aku sengaja ingin memaksakan kehendakku kali ini.


"Kaus pasangan?"


Aku mendengar ia bergumam, tapi sama sekali tak kugubris. Kulepaskan lengannya dan mulai berjalan berkeliling di dalam toko demi mencari sesuatu yang menarik untuk dibeli.


"Apa ada kaus untuk pasangan?" Setelah berkeliling dan tak menemukan apa yang kucari, aku memutuskan untuk bertanya pada seorang pramuniaga muda yang sejak tadi memperhatikan kami, bahkan sejak aku dan Jathayu memasuki toko. Sekilas ia mengingatkan aku pada Dini dan Eka. Bagaimana kabar mereka berdua sekarang? Rasanya sudah bertahun-tahun aku tidak berjumpa dengan mereka.


"Maaf, tidak ada."


Mengecewakan, batinku kesal. Kupikir kami harus mencari di tempat lain. Namun, ketika aku hendak berbalik, kulihat Jathayu sedang menyentuh sehelai hoodie hitam bertudung yang dipajang di sudut toko. Pandangannya seperti terhipnotis oleh benda itu.


"Apa hoodie itu ada satu lagi yang sama persis?" Aku kembali bertanya pada sang pramuniaga karena baru saja mendapat ide bagus. Tak ada kaus pasangan, hoodie pun jadi, pikirku.


"Ada."


Ah, syukurlah.


"Kalau begitu aku akan ambil satu lagi," putusku tanpa berkonsultasi lebih dulu pada Jathayu.


"Baiklah."


Aku menyunggingkan senyum senang sembari berjalan mendekat ke arah Jathayu.


"Aku akan membelikan ini untukmu," ucapku seraya merebut hoodie itu dari tangan Jathayu lalu memberikannya pada sang pramuniaga.


"Tapi..."


Aku melotot ke arah Jathayu dan laki-laki itu diam seketika. Jangan sampai ia berkata atau berbuat sesuatu yang membuatku malu di depan para pramuniaga dan beberapa pengunjung di dalam toko itu.


"Sekali ini saja jadilah seperti parasit, mengerti?" bisikku ke dekat telinganya. Penuh pemaksaan.


Laki-laki itu entah mendesiskan kata apa, aku tak peduli. Aku bergegas meninggalkannya untuk membayar belanjaan di meja kasir.


"Apa kamu mau makan? Atau membeli sesuatu yang lain?" tawarku setelah menerima kantung belanjaan dan kami berjalan berdampingan keluar dari toko.


"Kamu mau menjadi inang dari parasit sepertiku?" Jathayu menatapku lekat-lekat. Kedua alisnya nyaris bertaut. Tapi ia masih tampan seperti biasa. Aku berjanji untuk tidak membiarkannya berjalan di belantara mal seperti ini sendirian dan mengundang berpasang-pasang mata para gadis pramuniaga mencuri tatap ke arah Jathayu.


"Dengan senang hati," cengirku manja. "Apa kamu keberatan?"


"Nona, kalau hanya untuk membeli pakaian, aku masih bisa melakukannya sendiri. Jangan membuatku merasa menjadi pecundang seperti ini," ucapnya dengan wajah kesal. Ia mendengus sambil membuang muka ke arah lain.


"Anggap saja aku sedang pamer kekayaan, bagaimana?"


Laki-laki itu melengkungkan senyum lalu merebut kantung belanjaan dari tanganku dan melanjutkan langkah kakinya tanpa berkata apa-apa.


"Bagaimana kalau kita makan kentang goreng?" tawarku seolah tak ingin menyerah. Aku tahu ia tidak bersungguh-sungguh marah padaku.


Laki-laki itu seolah sengaja melambatkan langkah kakinya agar aku tidak kepayahan mengejarnya. Aku berhasil menjajari langkahnya tanpa perlu menemui kendala.


"Apa kamu sudah lupa kalau kamu baru saja bangkrut, Nona?" tanya laki-laki itu sembari menatap ke depan. Senyum samar masih tersungging di bibirnya. "Kamu masih sama angkuhnya seperti dulu."


"Tentu saja aku belum lupa," tukasku. "Butikku terbakar dan sekarang aku jadi pengangguran," imbuhku melengkapi ucapannya. Aku tidak akan marah meski ia menyindirku sepedas apapun.


"Kenapa aku merasa kamu bangga menjadi pengangguran, hah?" tanya Jathayu.


"Kalau aku sibuk, aku tidak yakin bisa bersenang-senang seperti ini."


"Lalu apa kamu mau menghabiskan uangmu hanya untuk parasit sepertiku?"


"Tentu. Kalau uangku habis, aku bisa minta lagi pada mama. Lagipula mama sudah merestui kita," ujarku seraya melirik laki-laki yang berjalan di sebelahku. Meski mal lumayan ramai, tidak akan ada yang memperhatikan kami dengan teliti. Semua orang sibuk dengan urusan masing-masing dan barisan etalase kaca juga cukup mengundang perhatian para pengunjung mal. Mana sempat orang-orang itu memperhatikan ke arah kami?


"Benarkah?" Jathayu terdengar takjub sekaligus tak percaya.


"Ya, tentu saja. Apa kamu senang?"


Jathayu hanya tertawa renyah mendengar ucapanku tanpa meninggalkan komentar. Ia pasti tidak akan percaya jalan cintanya akan semudah itu.


"Bagaimana? Kita makan apa hari ini?" Aku kembali menawarinya makan karena Jathayu belum sempat menjawab pertanyaanku.


"Apa kamu selapar itu?"


"Kenapa kamu malah bertanya seperti itu? Aku yang menawarimu makan, bukan?"


"Ya, tapi sebenarnya kamu yang lapar. Aku benar, kan?"


"Uhm...mungkin."


"Dasar," desisnya sambil mengusap kepalaku perlahan. "Kalau begitu kamu mau makan apa, biar aku yang traktir," ucapnya kemudian.


"Tapi kamu parasitku, Jathayu," protesku tak sungguh-sungguh.


"Tapi aku parasit yang baik, Inangku," balasnya dengan memasang mimik lucu.


"Baik, baik. Kalau begitu kita akan makan kentang goreng. Bagaimana?"


"Tapi aku tidak akan bertanggung jawab kalau tenggorokanmu sakit karena makan kentang goreng," ucapnya seketika membuatku meledakkan tawa cukup keras. Tapi aku buru-buru menutup mulut dengan telapak tanganku.


"Kamu masih seperti pengasuh bayi," ucapku masih dengan tergelak. "Aku bukan anak kecil, ingat itu."


Jathayu hanya mengulas senyum tipis di bibir dan mengabaikan olok-olokku. Laki-laki itu meraih tanganku dan menggenggamnya kemudian. Harusnya ia melakukan hal itu sejak tadi selama kami berjalan beriringan di dalam mal.


"Kalian tampak bahagia."


Di antara suara musik yang mengalun dari sana sini dan berbagai genre musik, riuh orang-orang yang lalu lalang di dalam mal, aku mendengar seseorang menyapa. Semula aku tak yakin jika kalimat itu ditujukan pada kami, tapi begitu menolehkan kepala dan mendapati asal sumber suara, aku menjadi yakin sepenuhnya jika dugaanku benar.


"Lama tak jumpa, Talisa."


Wanita itu mengulum senyum penuh ejekan di bibirnya yang terpoles lipstik berwarna merah darah. Rambutnya yang sedikit kemerahan dibuat bergelombang dengan bantuan tangan-tangan profesional pekerja salon. Kuku-kuku runcingnya juga dicat senada dengan warna bibir. Pakaian yang ia kenakan, tas, sepatu, dan aksesori yang melekat ditubuhnya berharga puluhan juta.


Nyonya Andhara?


Hatiku seketika menciut melihat istri Bram itu sedang berdiri dengan pongah beberapa jengkal dari tempatku berdiri. Tatap matanya masih sarat dengan rasa benci dan cemburu padaku. Bukankah seharusnya ia senang karena Bram sudah kembali ke pangkuannya? Wanita itu juga telah membakar butik demi melengkapi balas dendamnya padaku. Aku juga sudah melupakan Bram dan memulai kehidupan yang baru tanpa mengusik rumah tangganya atau orang lain. Lalu apalagi yang ia inginkan sekarang? Tak cukupkah semua itu untuknya?


***